CEO, MY HUSBAND

CEO, MY HUSBAND
CHAPTER 42



Hari berganti. Menit berlalu. Setiap detik tidak terhitung. Siang ke malam sangat cepat terasa.


Hari ini hari pernikahan Angga dan Raisa.


Dua orang yang pernah mencintai satu sama lain dan hari ini akan menjadi pasangan hidup, hari yang mereka tunggu-tunggu. Pernikahan merupakan suatu acara sakral dimana dua anak manusia mengikrarkan janji suci untuk mengarungi hidup bersama-sama dalam suka maupun duka.Berbagi hal indah dan menyedihkan, akan mereka lewati.


Pernikahan yang di adakan di sebuah hotel berbintang. Dekorasi yang mengusung konsep mewah sesuai permintaan kedua keluarga. Hal-hal mewah dan gemerlap memenuhi setiap sudut ruangan itu. Mulai dari display setiap ornamen utama dalam gedung hingga penampilan tamu yang tentu saja tidak jauh dari kesan mewah. Perpaduan warna-warna yang mereka pilih adalah putih, silver, dan gold.


Tidak lupa juga konsep pernikahan yang bertema romantis.


Bak putri dongeng Raisa mengenakan Ball Gown yang di permanis dengan Veil, mahkota dan anting berlian.


Raisa benar-benar terlihat cantik. Begitu juga Angga yang sudah tampan terlihat mengenakan kemeja putih yang dipadu-padankan dengan jas berwarna putih juga. Warna yang memberikan kesan elegan dan mewah.


Kaki jenjang Raisa berjalan secara perlahan, di sampingnya sudah ada Papanya yang akan mengantarkan dirinya ke arah Angga yang sudah menunggu.


Untuk beberapa menit Angga terdiam menatap pemandangan indah di depannya. Namun, tetap saja wajah gugupnya tidak hilang.


Raisa dan Papanya berjalan perlahan. Namun pasti, Raisa, melihat Angga beberapa detik saja lalu tersenyum manis.


Sedangkan Rara tersenyum bahagia. Hari ini adalah hari kemenangan sahabatnha. Ternyata menikah dengan orang yang kita cinta sungguh membahagiakan pikir Rara di sela-sela ia mengelus perutnya.


Papa Raisa yang tadi tersenyum perlahan matanya mulai berkaca-kaca. Putri kecilnya sekarang sudah menjadi seorang istri dan akan meninggalkannya.


Semakin melangkah, Raisa semakin mendekat ke arah Angga. Tiga langkah Raisa langsung di sambut oleh Angga. Papa Raisa menitikkan air mata begitu memberikan tangan anaknya ke tangan pria yang akan menjaga anaknya nanti.


"Sayangi, jaga dan jangan sakiti anak Papa" Bisik Papa Raisa ketika ia memeluk menantunya. Angga mengangguk dan tersenyum.


Setelah Papa Raisa turun, Angga dan Raisa duduk di singgasana mereka.


Tamu-tamu mulai menikmati makanan yang di sediakan.


Beberapa rekan bisnis Angga berdatangan begitu juga teman-teman SMA Raisa.


"Kamu cantik sayang" Ucap Angga membuka obrolan mereka. Raisa  membalas dengan anggukan kecil dan tersenyum bahagia


Mereka berdua mulai melayani tamu yang memberikan ucapan selamat dan doa yang baik-baik. Sebagian dari tamu meminta untuk berfoto bersama.


Setelah setengah jam berlalu, keluarga Bu Silvi datang, bahkan Aurel juga kecipratan undangan Angga.


Melihat Rara seorang diri, Aurel dengan gaya sok akrabnya menghampiri Rara.


Senyuman jahat selalu terlukis di wajahnya.


"Bagaimana melihat orang yang kau sukai menikah dengan sahabat sendiri " Tanya Aurel tersenyum ejek


Sabar Rara


"Dan begitu juga kalau aku dan Rendy menikah" Aurel terus mengoceh tanpa henti


Rara mencoba menahan semuanya. Ia ingin menjaga nama baik sahabatnya. Jika saja tidak, mungkin dia sudah menampar wanita jahat itu.


Mata Rara melirik keluarganya yang sedang menikmati makanan bersama mertuanya.


Baru saja Rara melangkah menuju keluarganya, Aurel menginjak bagian gaun belakang Rara yang menguntai. Saat ini Rara menggunakan gaun panjang nan elegan.


Bruuuk. Rara langsung terjatuh, kakinya tidak sanggup menahan badan Rara.


Semua mata melirik ke arah wanita yang sedang terjatuh seperti tidak berdaya. Kaki Rara terkilir sampai ia tidak sanggup berdiri. Sebagian orang tersenyum ejek menatap Rara yang menahan sakit. 


Aurel tersenyum licik seraya kaget dan berpura-pura membantu Rara.


Tidak hanya di kaki, Rara juga merasakan sakit di bagian perut dan ketika Pak Adit mendatangi anaknya dan Gerin mengangkat adiknya. Mereka kaget ketika lantai sudah di penuhi darah.


Bersambung