
Rara dan William sama-sama saling berpandangan, Rara mengingat dimana hari ia menyatakan cinta dengan pria itu. Memalukan tetapi mampu membuat Rara tersenyum. Sedangkan William juga ikut tersenyum mengingat beberapa kenangan mereka.
William tidak ada yang tidak mengenal dia, seisi kampus tahu siapa dia. Hanya saja gadis-gadis di kampus tidak tertarik untuk mendekatinya. Bukan ia memiliki pacar, hanya saja William tidak pernah membuka celah untuk perempuan lain di hatinya.
Ia dan Rania seperti prangko yang tidak bisa di pisahkan. Dimana ada William disitu juga ada Rania.
Hanya saja mereka berbeda jurusan. Rania lebih menyukai Ilmu Kedokteran sedangkan William menyukai Ilmu Bisnis.
Rania, adalah sahabat William di Los Angeles.
William dan Rara bertemu satu kelas ketika ia berada di kelas yang sama. Berbeda dengan William, Rara hanya sederetan gadis biasa di kampus itu. Ia biasa soal nilai dan ketenaran.
Kampus yang terkenal gudangnya anak sultan itu tidak membuat Rara menyombongkan diri.
Bahkan ada yang lebih kaya dari dia.
Rara gadis ceria sama halnya dengan Angel dan Laura. Ketiga anak pengusaha itu memiliki otak yang tidak cukup pintar. Namun, mereka tidak pernah mepermasalahkan itu.
Berada di kelas yang sama dengan William, satu kalipun Rara tidak pernah berbicara dengan pria itu ,bahkan Rara juga mengetahui William juga berdarah indonesia. Tetapi diam-diam Rara mencuri pandang dan mulai menyukai William. Itu berlangsung selama satu tahun. Dan ketika mereka naik tingkat semester, Rara memberanikan diri mengungkapkan perasaannya.
Tepat di jam pulang kampus. Rara menghampiri William yang sedang duduk sendirian di taman dekat parkiran.
Tidak ada keraguan dan tidak memikirkan konsekuensi ke depannya Rara berdiri di depan William yang sedang tersenyum memainkan ponselnya.
"William aku mencintai kamu" Tutur Rara tersenyum manis menatap pria itu
"Mungkin kamu berfikir aku tidak waras, tidak apa!...
Aku benar-benar menyukai kamu!"
"Anda siapa?" Tanya William tersenyum ejek
"Aku Rara teman sekelas kamu dan juga satu negara dengan kamu"
"Lalu kamu berharap saya akan menerima kamu?" Tanya William dan langsung membuat Rara menatap wajah kejamnya
"Saya tidak tertarik" Sambung William dan berlalu meninggalkan Rara yang terdiam kecewa
Kaki terasa lemah, tulang-tulang penopang badan terasa remuk. Rara duduk berjongkok menutup matanya menahan amarah bercampur kecewa, sedih dan memalukan.
Dalam hitungan menit cintanya di tolak.
Entah sudah berapa lama Rara terduduk di sana. Sampai ia tersadar ketika mendapatkan panggilan dari Laura.
Hal memalukan baru saja di mulai.
Tidak hanya Rara, Angel baru saja mengucapkan kata putus kepada Brian yang tidak kunjung berubah. Brian selalu membuka hati kepada setiap perempuan, Ucapan Angel tidak sesuai dengan hati kecilnya. Ia tidak ingin melepas tetapi itu harus dilakukan demi kebaikan.
"Aku nggak mau putus" Teriak Brian yang begitu menyayangi Angel
"Aku juga lelah, aku lelah setiap hari cemburu melihat kamu bersama wanita lain"
"Angel kamu tahu, aku hanya mencintai dua wanita"
"Pertama Mama dan kedua kamu Angel"
"Tetapi aku membenci lelaki yang mencintai aku saat ini" Balas Angel meninggalkan Brian yang masih di liputi emosi
Dan tanpa sengaja, Angel menabrak Rara yang juga bersedih. Niat hati ingin bercerita tentang ia yang baru saja di tolak. Namun, malihat sahabatnya menangis Rara memendam untuk menceritakan kisahnya
"Angel kamu kenapa?"
"Aku benci Brian dan aku sudah putus..."
"Angel, kita tidak akan menangis jika kita membenci dia"
Angel menatap Rara yang tiba-tiba saja sedikit berubah perihal urusan cinta
"Kamu menyayangi Brian, hanya saja kamu lelah menahan cemburu yang berlebihan"
"Dan segala yang berlebihan itu tidak baik Angel"
Angel langsung memeluk Rara dan menangis sekencang mungkin. Begitu juga Rara ia ikut menangis di dalam pelukan sahabatnya. Bukan menangisi perihal hubungan Angel tetapi menangis karena cintanya yang baru saja di tolak.
Mereka berdua seperti berlomba mengeluarkan air mata terbanyak.
Satu menit, dua menit, dan sepuluh menit sudah berlalu. Angel melepaskan pelukannya dan menatap iba melihat Rara ikut menangis.
"Maaf membuat kamu ikut menangis" Ucap Angel tersenyum lirih menyeka air mata di pipi sahabatnya
Dan ketika melihat William kembali, Rara menepis air matanya merindukan kedua sahabatnya yang tinggal di negara nan jauh disana. Rara menghentikan lamunannya dan tanpa berfikir Rara berlari ke arah William dan memeluk pria itu. Namun, tiba-tiba sebuah tangan menariknya.
Bersambung