CEO, MY HUSBAND

CEO, MY HUSBAND
Extra Part 2



Malam semakin dalam dan sunyi. Suasana di sekitar Rumah mulai sepi. Rara ikut tertidur melihat bayinya sudah tertidur. Rendy masih sibuk di depan laptop tanpa menyadari sudah pukul sebelas malam.


Kiara terbangun dan menangis spontan Rendy bergegas menggendong anaknya. Dia membiarkan Rara Tertidur nyenyak. Tidak berselang lama Kiano juga ikut menangis membuat Rendy sedikit kewalahan menjaga bayi kembarnya.


Jam berlalu, Rendy mulai mengantuk, pinggang nya mulai terasa kaku, sedangkan Kiano dan Kiara belum juga tertidur. Bagaimana bisa istrinya tidak pernah mengeluhkan hal itu, sedangkan dia beberapa menit sudah ingin menyerah. Rendy mencoba berbagai cara untuk membuat anaknya tertidur mulai dari menyanyikan, menggoyangkan badan anaknya, menepuk-nepuk pantat sampai memberikan susu botol.


"Sayang" Rendy membangunkan Rara pelan-pelan


"Hhhmmm sayang"


"Aku....."


"Sayang aku hari ini masih haid. Maaf" ucap Rara dengan mata yang masih terpejam


"Bukan itu! Tapi aku menyerah" Rara membuka matanya dan melihat Rendy sedang menggendong kedua bayinya


"Astaga sayang sudah jam satu malam!! Kenapa kamu nggak bangunin aku"


"Aku lihat kamu kelelahan aku nggak tega bangunin.


Dan aku udah usaha tapi si kembar nggak tidur-tidur juga.


Maaf membangunkan kamu" Rara mengambil Kiara dari tangan Rendy dan menyusui putri kecilnya tidak menunggu lama Kiara langsung tertidur


"Waaah kamu hebat sayang Kiara langsung tidur" Rendy memberikan Kiano dan Rara menyusui pangeran kecilnya. Rendy mengusap-usap punggung Rara dengan lembut


"Sayang kamu pasti lelah?


Aku menyerah ingin mempunyai anak sepuluh"


"Sepuluh??? Kamu serius dengan perkataan kamu waktu itu" Rara memutar badannya ke arah Rendy


"Kiano sudah tidur?" Rara mengangguk


"Sayang kamu serius mau punya anak sepuluh?"


"Iya!! Tapi masih dua aja kita sudah kerepotan. Apalagi sepuluh,di tambah kamu yang sering sakit karena kelelahan"


"Kenapa kamu ingin sekali punya banyak anak?" Rendy terdiam mendengar perkataan Rara.


"Kenapa kamu diam?" Rara mengelus pipi suaminya dengan lembut


"Biar nanti saat kita menua dan beberapa anak kita sudah dewasa dan beberapa lagi masih menuju dewasa, dan kita tidak akan pernah kesepian"


"Baiklah mari kita buat sesuai keinginan kamu"


"Kamu tidak lelah mengandung dan melahirkan"


"Tidak"


"Kenapa"


"Karena aku tahu kamu selalu ada bersama aku.


Dan aku tidak akan pernah lelah dan ketakutan untuk melahirkan generasi penerus kita" Rendy tersenyum dan membawa Rara kepelukannya. Bibir Rendy mulai bermain dengan liar dia mencium bibir Rara dengan sangat lembut. Ciuman Rendy mulai menyusuri telinga Rara namun Terhenti mendengar tangisan Kiano


"Haaaah!!!!!" Rendy menghembuskan nafasnya kuat-kuat


"Kiano kenapa nggak bisa ngasih Daddy kesempatan untuk berduan dengan Mommy nak?" Rendy mencium kepala botak anaknya


"Iya Daddy, maaf Kiano cemburu melihat Daddy bersama Mommy" Rara menggerak-gerakkan tangan pangeran kecilnya


"Sayang kapan kita berduanya" keluh Rendy meletakkan kepalanya di paha Rara


"Kasihan suamiku" Rara memainkan Rambut Rendy dan tangan sebelah masih menggendong anaknya


"Kiano nggak mau mengalah dulu sama Daddy?


"Anak-anak kamu pintar sayang, tahu situasi dan kondisi untuk menggunakan kesempatan.


Dan tidak mengizinkan orangtuanya berduaan"


"Bakat yang turun dari Daddynya" Rara memberi kode ke Rendy untuk segera menggendong Kiara


"Sayang. Sepertinya kita perlu liburan ini" ucap Rendy seraya memainkan rambut Putri kecilnya.


"Nanti di tinggalin pesawat lagi" Ejek Rara


"Haa kamu masih ingat?"


"Sayang kamu tahu daya ingat seorang perempuan itu sangat kuat.


Mungkin lima puluh tahun lagi aku akan mengingatkan lagi"


"Waaah!! Kiara pura-pura nggak dengar ya nak!


Mommy lagi balas dendam sama Daddy" Rara tertawa lepas melihat Rendy menutup kedua telinga anaknya


"Sayang gimana kalau kita liburan ke LA?


Dan tinggal di apartemen aku"


"Apartemen kamu yang kecil itu? Kita ini sekarang sudah berempat sayang mana muat"


"Jangan meremehkan sesuatu yang kecil!! Kamu nggak ingat?


Malam pertama kita di tempat yang kamu bilang kecil itu" Rendy tertawa besar mengingat masa lampau yang menggelikan.


"Sayang kamu pernah membayangkan tidak kalau kita akan mempunyai anak?" Tanya Rara membuat Rendy terdiam


"Pernah dan selalu membayangkan! Kamu tahu?


Aku mulai mengagumi kamu di saat pertama kita bertemu.


Tapi semua di kalahkan ego.


Aku berpikir kamu sama dengan perempuan yang mendekati aku karena uang!


Tapi kamu beda. Bahkan aku lebih suka kita berantem karena di saat itu aku bisa berdekatan dengan kamu"


"Waaah suamiku"


"Kami sendiri bagaimana?"


"Aku tidak pernah membayangkan akan punya anak dari kamu.


Melihat kita yang selalu ribut dan tidak pernah ada ujungnya.


Dan aku mulai merasakan debaran di saat kamu mencari dan memeluk aku di halte" Rendy langsung memeluk Rara dengan erat tidak lupa senyum manis mengambang dibibir mereka.


Setelah cukup lama bercerita. Mereka berdua tertidur dengan tangan yang masih memeluk anak kembarnya.


.


.


.


Rara terbangun dan melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul empat pagi. Dia mengambil Kiara pelan-pelan dari tangan Rendy dan membenarkan posisi tidur suaminya. Rara mencium Rendy dan bergantian mencium bayi kembarnya. Rara tersenyum bahagia melihat keluarga kecil yang di selalu di impikan akhirnya terwujud.


Akh sekarang bayi kecil ku bukan dua melainkan tiga, aku menyayangi kalian selamanya. Untuk suami aku terimakasih, sudah memilih aku dan untuk Pangeran kecil dan Putri kecil Mommy terimakasih sudah menjadi anak Mommy dan Daddy.