CEO, MY HUSBAND

CEO, MY HUSBAND
CHAPTER 21



Rendy mencoba bangkit dan Pak Joko yang mendengar tangisan Rendy segera menyusul tuan mudanya ke kamar Rara.


"Ini semua hanya mimpikan?" Tanya Rendy menatap Pak Joko, Pak Joko hanya membalas dengan gelengan kepala.


Sedangkan Clara yang mendengar kabar itu. Langsung terduduk diam. Ia seperti sudah membunuh Rara. Clara merasakan debaran dan ketakutan yang kuat. Ia dan sopir pribadinya langsung mengunjungi pemakaman sopir truk itu. Pemakaman yang di katakan kepunyaan Rara.


Sesampai disana Clara menangis melihat tanah yang masih basah itu. Clara juga berkali-kali meminta maaf kepada Rara.


Tidak berselang lama, Rendy dan Pak Joko juga sampai di pemakaman itu. Rendy berdiam diri dan matanya yang bengkak di tutupi oleh kecamata hitam.


Ia menatap gundukan tanah itu.


"Ini semua gara-gara aku!" Ucap Clara menyalahkan dirinya


"Jika saja malam itu aku tidak menghubunginya, Rara tidak akan meninggalkan kamu Rendy"


"Aku egois, demi kepentingan sendiri, aku membunuh istri kamu" Keluh Clara sambil menangis


Rendy hanya terdiam dan tak berselang lama ia terduduk di pemakaman itu. Semua benar-benar terasa menyakitkan bagi Rendy. Ia yang dulu ingin menghancurkan Rara dan di saat ia sudah melihat Rara hancur. Rendy juga ikutan hancur. Rendy merasa telah membunuh wanita itu.


Clara meninggalkan Rendy, ia tidak ingin mengganggu Rendy saat ini. Rendy butuh sendiri begitu juga dirinya.


Satu jam, dua jam, lima jam sudah berlalu. Rendy masih terduduk di tanah itu.


Pak Joko mengajak Rendy untuk pergi dan Rendy hanya mengangguk setuju.


Mereka tidak pulang, Rendy mengunjungi rumah Ibu mertuanya.


Dan di rumah itu, baru saja Bu Shireen pulang dari rumah sakit.


Satpam di rumah itu membukakan gerbang ketika melihat Rendy datang. Rendy turun dari mobil dan ketika ia melangkah masuk ia melihat Ibu Mertuanya baru saja menepis air matanya.


"Ma!" Ucap Rendy


Bu Shireen hanya nenatap sekilas dan kembali menatap ke arah lantai.


"Pulanglah Rendy, kami sedang tidak ingin menerima tamu!" Sahut Bu Shireen merasa kesal kepada Rendy


"Istirahatkan tubuh kamu dan maafkan semua kesalahan Rara" Sambung Bu Shireen bangkit dari tempat duduknya.


Ia meninggalkan Rendy seorang diri. Rumah orang tua Rara terlihat sepi, Pak Adit dan Gerin lagi di kantor. Dengan berat hati Rendy meninggalkan rumah mertuanya.


Sepanjang perjalanan pulang Rendy mengingat dimana Rara pernah cemburu karena ia di antar pulang oleh Clara. Entah kenapa saat itu, Rendy menyukai kecemburuan yang di perlihatkan Rara


"Apa ini sebuah kecemburuan?" Tanya Rendy dan ia berharap Rara akan menjawab iya


Namun, Rara memilih tidak menjawab pertanyaan yang diajukan suaminya. Jikapun cemburu, Rendy akan bertambah mempermainkan perasaannya.


Karena pada dasarnya perempuan adalah makhluk lemah perihal perasaan. Kadang kala ia memilih menyembunyikan amarah dan kecewanya, agar orang-orang disekitarnya tidak perlu menanyakan kamu kenapa?


Dan tidak ada juga perempuan yang baik-baik saja ketika ia melihat seseorang yang bersamanya saat ini memilih pergi demi perempuan lain. Laki-laki mengertilah, sebenci apapun wanitamu terhadap sikapmu, percayalah. Dia wanita akan memilih memaafkan kamu, karena pada hakikatnya ketika wanita memilih kamu, ia juga memilih menaruh sebagian hidupnya untuk kamu.


Perihal benci atau belum mencintai, sekali lagi tanyakan kepada hati kecilmu wahai laki-laki? Apa yang membuat kamu tersenyum kecil ketika ia wanita itu berjalan kearah kamu dengan bangganya? Lagi-lagi karena ia telah memilih kamu. Dan


Hakikat cinta itu sebenarnya, kamu hanya perlu melengkapi yang kurang, menghargai yang lebih dan berhentilah mencari yang terbaik. Jangan khawatir, karena yang mencintaimu akan menerimamu dengan benar.


Bersambung