
Rumah yang dulunya sepi kini berubah menjadi yang paling berisik. Dua orang anak sekaligus menangis dalam waktu yang bersamaan "Kiano Handoko dan Kiara Handoko" Anak dari pasangan yang masih terlihat muda.
Rara melirik ke arah Rendy yang masih tertidur pulas. Jam menunjukkan pukul dua malam membuat Rara harus terbangun melihat bayi kembarnya menangis.
"Kiano kenapa kamu kenapa nak?
Kan adeknya jadi ikut nangis.
Diam ya sayang daddy lagi tidur" Rara langsung menggendong kedua bayinya. Badannya yang Kecil membuat dia sedikit keberatan.
"Kenapa kamu nggak bangunin aku?" ucap Rendy melihat Rara berdiri sambil menggoyangkan badan anaknya. Rendy mengambil Kiano dari Rara, dengan cepat Rara menyusui putri kecilnya
"Maafin aku sayang" Rendy mengelus punggung Rara, ia terlihat sangat mengantuk. Rendy Tidak tega melihat istrinya setiap malam harus begadang
"Kenapa kamu minta maaf Ren?
Ini kan tanggung jawab aku.
Aku yang seharusnya minta maaf membuat kamu ikut terbangun.
Padahal kamu sudah lelah bekerja seharian" Rendy memeluk istrinya, tidak berselang lama Rara tertidur di pangkuannya. Rendy tersenyum melihat kedua anaknya ikut tertidur. Seperti doa Rendy, kedua anaknya benar-benar mewarisi sebagian dari wajah tampannya.
.
.
.
Pagi mulai menyapa dunia dengan sinarnya yang menghangatkan. Rara bangun terlebih dahulu. Menyiapkan baju kerja Rendy dan bersiap-siap juga memandikan kedua bayi kembarnya.
"Sayang apa baiknya kita cari Babysitter?
Aku kasihan melihat kamu kerepotan harus mengurus aku dan bayi kita"
"Tidak usah sayang!
Kan aku juga nggak kemana-mana, di rumah juga udah banyak pembantu" Rendy merapikan rambutnya dan tersenyum kecil ke arah kaca yang memperlihatkan keindahan wajahnya. Punya anak dua tidak mengurangi ketampanan nya, setiap hari Rara mengagumi suaminya.
"Sayang aku masih tampankan?
Walaupun sudah menjadi Daddy muda" Rara tersenyum manis mendengar perkataan suaminya.
"Masih. Kamu selalu tampan!
di lihat dari sudut mana saja tetap tampan"
"Kamu juga selalu cantik.
Bahkan lebih cantik setelah mempunyai anak"
"Waah. Terimakasih Daddy"
"Sayang sudah lama kamu tidak merapikan dasi yang aku pakai?
Biasanya setiap aku berangkat kerja. Kamu selalu membenarkannya" Rendy meminta dengan manja
"Manjanya suamiku" Rara membenarkan dasi dan rambut Rendy. Mereka sama-sama tersenyum manis. Layaknya orang yang sedang Kasmaran.
Jam menunjukkan pukul tujuh pagi, Rendy menikmati sarapan dengan lahap. Sedangkan Rara terlihat kerepotan. Tentu saja para asistennya setiap pagi mempunyai tugas masing-masing.
"Sayang bantu aku dulu" teriak Rara dari dalam kamar. Rendy bergegas menuju istrinya
"Kenapa?"
"Aku mau mandi dulu.
Kamu belum berangkat kan? Tumben si kembar rewel pagi-pagi.
Maaf ya sayang mengganggu sarapan kamu" Rendy mengangguk dan membawa bayi kembarnya keluar dari kamar.
"Kok cepat mandinya?" tanya Rendy melihat jam tangan
"Nanti kamu telat kalau aku lama" mereka berdua menikmati sarapan pagi dengan tenang.
07.30 Rendy berangkat dan Rara selalu mengantar suaminya keluar.
"Hati-hati Daddy"
"Iya sayang.
Pangeran dan Putri kecil Daddy nggak boleh nakal! Nurut sama mommy ya"
"Siap Daddy" Rendy mencium anak dan istrinya dan berlalu pergi meninggalkan mereka.
.
.
.
Seperti ibu muda lainnya Rara mulai terbiasa mengurus dua bayi kembarnya. Dia menikmati masa-masa menjadi ibu muda. Menyenangkan dan penuh tantangan. Entah kenapa hari ini Rara terlihat pucat dan banyak mengeluarkan keringat dingin
"Bi bisa jaga Kiano sama Kiara sebentar? Saya mau istirahat" ucap Rara di sela-sela jam siang
Tidak berselang lama Rara langsung tertidur pulas seraya menarik selimut, badannya sangat dingin.
Jam empat sore Rendy pulang dari kantor, dia melihat anak-anaknya bermain di ruang tamu tanpa di dampingi Istrinya
"Mana mommy sayang?" Rendy bergantian mencium anaknya
"Non Rara belum keluar dari kamar tuan dari siang tadi" Rendy langsung bergegas melihat istrinya. Khawatir, itu lah yang dirasakan
Rendy mendekati Rara yang masih tertidur pulas dan memandangi wajah lelah istrinya begitu lama. Rendy tahu Rara seorang yang pekerja keras. Namun, kali ini dia benar-benar terlihat kelelahan. Bagaimana tidak kedua anak kembarnya selalu kompak dalam hal menangis
"Kamu sudah pulang?" Rara membuka mata dan melihat Rendy sudah di sampingnya
"Kamu sakit?
Kenapa nggak hubungi aku Ra?
Maafin aku gara-gara aku kamu selalu begadang setiap hari" Rara tersenyum dan memeluk Rendy yang terlihat sangat khawatir
"Sayang aku ini sekarang sudah menjadi seorang ibu.
Dan itu kewajiban aku untuk menjaga anak-anak kita!!
Kamu tahu kamu itu suami yang baik dan aku beruntung mendapatkan kamu"
"Aku yang beruntung mendapatkan kamu. Dan lebih beruntungnya lagi anak-anak aku terlahir dari rahim kamu" Rendy tersenyum dan mengelus pipi Rara. Begitu dia ingin mencium Rara kedua bayinya menangis sangat keras. Rendy tertawa melihat Rara bergegas keluar
"Oh sayang Mommy kenapa?
Baru aja Daddy sama Mommy mau romantis sudah cemburu"
"Kenapa?" tanya Rendy membaringkan tubuhnya di ranjang
"Anak kamu cemburu melihat kita mau berduan"
"Iya Kiano sama Kiara cemburu?" Rendy langsung memeluk istrinya,belum sampai Rendy menghela napas Kiano sudah menangis lagi
"Sayang kayaknya Kiano nggak suka kalau kamu dekat-dekat sama aku" Rara tersenyum lebar dan merebahkan badannya di samping anaknya. Rendy langsung memeluk Rara dari belakang ia tidak mempedulikan kecemburuan anaknya
"Maafkan aku yang kurang memperhatikan kamu sekarang.
Dan sepertinya Bayi besar aku juga ingin di manja" Ucap Rara membalas pelukan suaminya. Kata maaf selalu terucap di antara mereka, Rara meminta maaf kala Rendy terbangun di tengah malam untuk menemani nya, sedangkan Rendy meminta kala ia melihat istrinya kelelahan.