CEO, MY HUSBAND

CEO, MY HUSBAND
Perjalanan Akhir (final Episode)



Senja perlahan menghilang. Malam mulai menyapa dengan dinginnya. Rara mengalihkan pandangan ke luar jendela dia kecewa untuk perjalanan yang menyenangkan berakhir dengan kegagalan. Rendy tersenyum melihat istrinya mulai diam.


"Kamu marah?


Lihat sini aku mau melihat wajah marah kamu" ucap Rendy memegang tangan Rara. Air mata membasahi kedua pipi Rara, menjelaskan betapa kecewanya dia hari ini


"Aku minta maaf"


"Rendy kamu jahat, kamu selalu sibuk. Bukankah kamu sudah berjanji sama aku? Suami aku tidak pernah melupakan janjinya.


Kamu selalu mengabaikan aku di saat kamu pulang dari kantor!!


Aku kesepian!


Aku juga mau di perhatikan seperti laptop kamu" Rara meluapkan emosinya yang tidak terbendung lagi. Pak Joko yang mendengar pembicaraan mereka langsung tertawa lepas


"Pak Joko aja ngetawain aku"


"Maaf non Rara"


"Sudah marahnya?


Kalau belum ungkapin semua biar aku bilangin sama suami kamu yang jahat" sahut Rendy mengusap rambut panjang Rara


Begitu sampai dirumah Rara bergegas masuk kamar dan mengunci pintu, pikirannya masih di hantui kecewa.


"Sayang buka pintunya"


"Tidur aja di luar"


"Kamu tega melihat aku tidur diluar sendirian?"


"Berdua sama pak Joko"


"Rara buka dulu... Oke aku akan tidur diluar.


Tapi bukain dulu aku mau ganti baju" Rara membukakan pintu. Namun, pandangannya mulai terlihat kabur melihat Rendy. Kepala terasa berat, Rara terjatuh ke lantai.


Rendy mengangkat Rara ke tempat tidur. Raut wajahnya langsung murung memandangi Rara yang tidak sadarkan diri


"Joko......"


"Iya tuan"


"Cepat hubungi dokter pribadi saya"


"Rara maafin aku,


Iya aku suami yang jahat.


Aku terlalu sibuk dengan pekerjaan sampai mengabaikan kamu!!" Rendy mencium kening Rara beberapa kali. Tidak berselang lama dokter datang dan langsung memeriksa Rara


"Kenapa dok istri saya? Apa perlu dibawa kerumah sakit?"


"Istri bapak cuma kelelahan. Dan selamat pak Rendy istri bapak hamil dan untuk lebih jelasnya silahkan besok di periksa ke rumah sakit langsung" Rendy tersenyum tidak percaya penantian mereka berbulan-bulan terbayar.


- - -


Rara membuka mata dia melihat Rendy duduk di sampingnya sambil tersenyum


"Bisa kamu tersenyum dan sekarang keluar"


Kalau aku di peluk bagaimana?


Diakan sudah lama sendiri" Rendy mulai berdiri dengan cepat Rara memegang tangan suaminya


"Nggak usah pergi"


Rendy tersenyum dan memeluk Rara dengan erat, dia melepaskan pelukannya dan mengelus pipi Rara. Tanpa menunggu lagi Rendy mencium bibir Rara sangat lembut, ciuman mereka semakin dalam dan berlangsung lama. Rendy mengalihkan ciumannya ke Kening dan pipi istrinya. Rara memejamkan mata membuat Rendy bersemangat dan meneruskan ciumannya ke telinga, leher dan bahu Rara. Beberapa kali Rendy membuat tanda stempel di samping leher istrinya. Rara menarik rambut Rendy. Kaki panjang Rendy menahan Rara untuk tidak bergerak. Rendy membawa Rara ke dalam pelukannya, bulan madu yang gagal berakhir di ruang kamar. Dinginnya Ac tidak cukup menampung keringat mereka berdua.


Bulan madu yang gagal baru saja di mulai dengan teriakan kebahagiaan.


Rara terbangun dari tidurnya dengan rasa mual yang luar biasa. Rendy bergegas ke kamar mandi melihat Rara belum juga keluar


"Apa yang sakit?


Bilang sama aku biar kita ke rumah sakit?" Rara menggelengkan kepala


"Sayang aku punya kabar baik untuk kita semua" Rendy menggendong Rara ke tempat tidur


"Apa?"


"Kamu hamil?"


"Bohong! Darimana kamu tahu?"


"Semalam dokter memeriksa kamu dan memberikan kabar baik" Rara bergegas mencari tespeknya dan berlari ke kamar mandi. Beberapa menit Rara keluar lagi dengan senyuman yang terus mengambang dan langsung memeluk suaminya


"Aku nggak sendirian lagi di saat kamu pergi bekerja"


"Maafin aku sayang terlalu sibuk.


Mulai hari ini aku akan akan menjadi suami siaga dan tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh calon bayi kita" mereka berdua saling tersenyum manis meyakinkan diri untuk saling menjaga


*


Semakin hari perut Rara bertambah besar. Minggu berganti, bulan berlalu. kemana-mana Rara selalu di temani Rendy. Ketika waktu sibuk, Mama Rara yang datang ke rumah untuk menjaga anaknya. Dan jika semua sama-sama sibuk Rara selalu di temani oleh asisten rumah tangganya yang selalu setia.


Sembilan bulan mulai menyapa Rara. Rara merasakan debaran yang sangat kuat. Ketakutan dan kegelisahan selalu menghampirinya. Namun, selalu di kalahkan dengan Rasa penantian yang sudah cukup lama


Hari yang di tunggu sudah datang. Hitungan jam Rara akan melahirkan bayinya. Rara terlihat sangat pucat, Rendy yang selalu berada di sampingnya membuat Rara semangat lagi


"Kamu kuat!


Sebentar lagi kita akan bertemu dengan anak yang selalu kita nantikan!!


Aku tidak akan meninggalkan kamu sedetik pun" Rendy menyemangati istrinya seraya menghapus air mata yang membasahi pipinya melihat Rara mulai berkeringat banyak


Setelah menguras tenaga. Rara melahirkan bayi kembar laki-laki dan perempuan. Rendy tersenyum lebar dan langsung mencium Rara


"Terimakasih sayang sudah melahirkan anak aku.


Terimakasih sudah menjadi istri aku.


Dan terimakasih juga sudah menjadi ibu dari anak-anak aku"


Rendy menangis di pelukan istrinya, Rara tersenyum manis melihat anak dan suaminya. Perjuangan dia tidak mudah, dimulai dari menghadapi Rendy yang kasar, keluarga yang tidak peduli, dan orang ketiga yang sangat mengganggu, belum selesai masalah ini, perempuan dimasa lalu Rendy datang lagi. Kehilangan anak dan tuduhan keluarga mertua,tidak mudah dihadapinya. Hari ini terbalas berkat kesabaran dan keikhlasannya.


Apa boleh buat aku sudah menjadi Ibu muda, dan suami aku yang dulunya sombong dan kasar perlahan menjadi sangat lembut, dan saat ini dia juga menjadi Ayah muda. Di saat Allah mengambil satu. Jika kamu bersabar dan ikhlas maka Allah akan menggantinya dua sekaligus.percayalah semua hanya butuh waktu dan keyakinan.


TAMAT.