
Dan beberapa hari setelah mulai bekerja, Rara menikmati hidupnya. Dan akhir-akhir ini ia kerap kali merasakan pusing dan mual.
Rara hanya mengolesi perutnya dengan minyak angin lalu membawanya tidur beberapa saat.
Siang ini ketika jam makan siang, Rara menikmati makanan di seberang kantor Papanya. Ia seorang diri sesekali ia membuka sosial medianya. Melihat beberapa postingan aneh yang bisa membuat ia tertawa geli.
Baru tiga kali suapan, Rara berhenti ketika melihat Aurel menghampirinya.
Ia sendiri tidak paham, kenapa Aurel bisa tahu keberadaannya.
"Aku minta ceraikan Rendy!" Suruh Aurel tanpa angin dan hujan dan siapa juga dia bisa menyuruh-nyuruh Rara. Rara hanya membalas dengan senyuman kecil
"Tanda tangani ini" Sambung Aurel memberikan beberapa lembar kertas
Ya, itu adalah kerjaan Bu Silvi dan Aurel. Bu Silvi tidak ingin melihat Rendy menderita ia ingin melihat Rendy bangkit kembali dan menemui wanita yang di cintai. Bu Silvi memanfaatkan Aurel untuk menghancurkan hubungan Rendy dan Rara. Sedangkan Aurel memanfaatkan Mama Rendy untuk membuat mereka bercerai
"Kamu tahu saat ini Rendy menderita?" Ucap Aurel dan Rara masih diam membisu
"Ceraikan dia dan pergi dari hidupnya!"
Rara bangkit dari kursinya, ia meraih ponselnya dan berniat meninggalkan Aurel. Namun, sebelum pergi ia tersenyum seraya menyenggol air di gelas itu dan membasahi kertas permohonan perceraian itu
"Jangan datang ke saya jika ingin menunjukkan ini" Ucap Rara pergi meninggalkan Aurel yang semakin kesal
Raisa, duduk sendirian menengadahkan wajahnya ke langit. Ia membiarkan matahari menyerah kulitnya. Ia bingung harus bagaimana menghadapi Angga.
Tidak berselang lama, sebuah botol mineral dingin menempel di sebelah pipi kanannya.
"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Angga yang datang mengunjungi pacarnya
"Tidak!"
"Apa kita berjodoh? Aku sudah menitipkannya ke langit tetapi kenapa langit tidak kunjung memberi jawaban?"
"Tetapi aku meletakkannya di pundak, setiap jengkal harap dan setiap denyut nadi aku selalu ingin bersama mu" Ucap Angga menenangkan Raisa yang penuh kebimbangan
"Lalu kapan?"
"Baiklah, besok kita akan menikah!" Tutur Angga serius
Raisa langsung menoleh dan mendapati pria itu sedang tersenyum dan mengangguk meyakinkan dirinya.
Raisa menghela nafas, perjuangan ia untuk mendapatkan Angga tidak mudah. Angga adalah lelaki payah dalam mengungkapkan perasaan. Ia selalu menunggu waktu yang tepat. Tetapi waktu itu selalu menghancurkan dan membuat ia menyesalinya.
Bahkan beberapa kali juga Angga mencoba menjauhi Raisa karena ia tidak nyaman saat itu. Dan beberapa kali juga Angga menolak Raisa terang-terangan. Raisa adalah gadis mandiri dan tidak mudah menyerah. Setelah perpisahan orang tuanya. Ia bangkit dan tidak akan menyesali keputusan Mama dan Papanya.
Raisa dalam memilih pria ia selalu berhati-hati. Ia tidak ingin berpisahan seperti orang tuanya. Raisa juga tidak ingin pernikahan seperti sahabatnya Rara. Raisa ingin pernikahan yang saling mencintai, melengkapi dan saling mengerti satu sama lain. Baginya pernikahan itu perjalanan sampai akhir bukan perdebatan yang tak kunjung habis. Bukan tentang siapa yang menang dan kalah. Tetapi tentang menjaga untuk menang.
"Berhenti memikirkan hal-hal yang tidak perlu kamu khawatirkan" Ucap Angga menghempaskan kesunyian di antara mereka
"Awalnya jantung aku berdetak kencang ketika pertama kali melihat Rara kembali. Tetapi aku menyadari itu bukan perasaan mencintai tetapi perasaan bersyukur dia baik-baik saja"
"Aku patah ketika kamu meninggalkan aku dan terduduk sambil menangis. Aku merasa menjadi lelaki pengecut jika meninggalkan kamu" Tutur Angga dan memeluk Raisa yang menatapnya sedari tadi.
Bersambung