CEO, MY HUSBAND

CEO, MY HUSBAND
CHAPTER 14



Dan pagi ini, Rara tidak seperti biasanya. Ia menyiapkan kopi panas dan beberapa lembar roti berselaikan cokelat di atas meja makan. Walaupun tangan dan kakinya masih terasa sakit. Rara berusaha untuk membalas budi Rendy semalam. Sedangkan di depan mejanya menu yang sama, hanya saja ia lebih suka meminum susu cokelat hangat di pagi hari.


Beberapa menit Rara menunggu Rendy untuk keluar dari kamar. Dan matanya sedari tadi tidak beralih dari menatap pintu kamar suaminya. Oh iya, Rendy dan Rara tidur terpisah. Itu keinginan yang di inginkan Rendy. Ia tidak ingin Rara tidur di sampingnya.


Rara melongo menatap ketampanan Rendy sepagi ini. Rendy terlihat menarik koper kecil dari dalam kamarnya. Tanpa berkata-kata dan tidak ingin mempedulikan Rara yang sedari tadi menunggunya, Rendy tetap berjalan lurus ke pintu keluar.


"Kemana?" Tanya Rara ketika Rendy mulai berubah egois lagi


"Rendy kamu kemana?" Sambung Rara ketika ia tidak mendapatkan jawaban


"Keluar kota!"


"Lalu aku?" Ujar Rara mencoba berjalan mendekati suaminya


"Dari awal pernikahan ini karena bisnis, jadi kau tidak perlu berharap banyak terhadap saya!" Balas Rendy dan melanjutkan langkahnya


"Ren!" Ucap Rara menahan tangan Rendy untuk tidak pergi


"Aku ikut?" Pinta Rara


Rendy terdiam dan menatap wajah memelas istrinya. Dan tiba-tiba saja, entah bagaimana bisa Clara menggoda Pak Budi untuk membukakan gerbang. Ia sudah berdiri di depan pintu yang terbuka sedari tadi. Clara melihat Rendy dan Rara saling menatap. Tidak ingin Rendy tergoda dengan Rara. Clara sedikit berlari dan merangkul lengan Rendy.


"Sayang aku datang menjemput kamu" Seru Clara tersenyum manja. Mendengar itu, Perlahan Rara melepaskan tangannya dari Rendy.


"Sayang?" Tanya Rara menatap Rendy dan berharap dapat jawaban


"Ya, kami sepasang kekasih!" Balas Clara tanpa perlu di tanya


"Clara!" Sahut Rendy seraya melotot ke arah wanita itu


"Oppst maaf sayang aku keceplosan!" Clara langsung menutup mulutnya


Rara kembali seperti biasa, ia membalikkan badannya dan berjalan menuju kamarnya.


Rara menggeser gorden dan membuka jendela kamarnya. Ia melipat kedua tangannya di depan dada. Dan matanya memandang bebas menatap pepohonan yang masih rindang di sekitar rumah itu.


Persekian menit, setelah meletakkan kopernya ke mobil. Rendy kembali masuk ke dalam rumahnya dan mengambil obat Rara di meja makan.


Ia kembali menatap Rara membelakanginya seperi semalam.


"Minum obat ini" Suruh Rendy dan meletakkannya di meja samping ranjang tidur


"Dan istirahat yang cukup!" Sambung Rendy


"Rendy berhenti!"


"Jika kamu begini terus, aku bingung membedakan antara kasihan dan perhatian!" Sahut Rara merasa kesal kepada suaminya


Bagaimana bisa ia yang sudah menikah pergi berdua dengan wanita lain keluar kota dan bermalaman disana.


Rara tidak habis pikir dengan cara kerja otak Rendy.


Rendy terdiam dan menatap wanita yang masih membelakanginya itu.


Persekian menit Rara tidak juga berbalik badan. Rendy akhirnya meninggalkan kamar Rara dan tetap pergi keluar kota untuk menjalankan bisnis mereka.


Empat jam kemudian, rumah besar Rendy benar-benar hening dan sepi. Pak Joko belum juga kembali. Sedangkan Rendy dan Clara sudah berada di pesawat yang sama. Clara tersenyum manis dan ingin menjebak Rendy, setidaknya ia akan membuat Rendy untuk menikahinya pikir Clara.


Bersambung