Back To Start

Back To Start
#9 Tapi




...#9...


...Tapi...


[Review #8 Apa Dia Psikopat?]


"Mohon maaf pak uang bapak tidak cukup, mungkin bapak memiliki kartu untuk membayarnya?" Tanya Minna kepada bapak itu.


"Tidak ada!" Jawab pembeli itu membentak Minna.


"Maaf pak bapak tidak bisa membawa ini semua jika tidak membayar." Kata Minna menjelaskan.


"Hey nona apa begini sikapmu pada orang yang lebih tua? siapa orang tuamu hah? apa mereka tidak mengajarimu sopan santun?" Pembeli itu marah dan menarik tanda pengenal Minna.


"Maaf sekali pak tapi bukan begitu, bapak memang tidak bisa membawa barang yang bapak inginkan jika uangnya kurang." Jawab Minna sambil ketakutan.


"Ahhh anak kecil sialan ini!!" kata pembeli itu sangat marah dan hendak menampar Minna dengan tangan kanannya sedangkan tangan sebelahnya masih menarik tanda pengenal Minna.


Minna sudah menutup matanya karena sangat ketakutan, namun tiba-tiba ada seseorang yang menarik bapak pembeli itu dari belakang hingga tanda pengenal Minna terputus talinya. Minna sangat terkejut dan gemetaran tubuhnya seperti membeku di balik meja kasir itu.


"Jangan gara-gara bapak adalah orang tua jadi anda bisa bersikap seenak kepada yang lebih muda apalagi dia adalah wanita!!"


...****...


Seketika Minna membuka matanya.


"Ka...Kai..." Kata Minna dengan gemetar.


Bapak pembeli itu memberontak di tangan Kai.


"Apa-apaan kau berengsek! Anak muda jaman sekarang memang tidak tahu sopan santun!" Kata pembeli itu sambil terus memberontak.


"Anak muda juga tidak sudi bersopan santun pada orang tua seperti anda!" Kata Kai.


"Cihh... Awas saja akan kulaporkan kau pada managermu!" Kata pembeli itu sambil menunjuk ke arah Minna lalu keluar dari minimarket itu.


Minna pun langsung lemas dan menaruh tangannya di meja kasir sambil tertunduk.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Kai kepada Minna.


"Y...ya aku baik-baik saja." Jawab Minna yang masih terkejut dengan kejadian tadi.


"Apa shift mu sudah selesai?" Tanya Kai lagi.


"Iya sudah jamnya untuk tutup, aku harus bersih-bersih dulu." Jawab Minna.


"Oh iya silahkan." Kata Kai kepada Minna, lalu berjalan keluar.


Minna pun melakukan tugasnya sebelum menutup minimarket itu.


Beberapa saat kemudian Minna pun selesai ia mematikan lampu lalu keluar untuk mengunci pintu.



"Astaga! kau masih disini?" Minna kaget melihat Kai masih duduk di luar.


"Tunggu disini akan ku ambilkan minuman dulu ya." Lanjut Minna.


"Tidak-tidak, tidak perlu. Aku hanya khawatir pembeli tadi datang lagi dan membuat kekacauan." Jawab Kai.


"Terimakasih ya sudah menolongku tadi, aku benar-benar tidak tahu akan bagaimana jadinya tadi jika kau tidak datang." Kata Minna kepada Kai.


"Tidak apa-apa aku hanya kebetulan lewat dan melihat jadi aku langsung masuk tadi. Apa kau terluka?" Tanya Kai kepada Minna.


"Ahhh tidak aku hanya kaget saja." Jawab Minna.


"Ini tanda pengenalmu, maaf aku sudah membuat talinya terputus." Kata Kai.


"Ohh iya tidak apa-apa aku akan meminta yang baru nanti." Jawab Minna.


"Apa rumahmu jauh dari sini?" Tanya Kai.


"Tidak jauh, hanya 10 menit saja dari sini." Jawab Minna.


"Ayo kuantarkan kau pulang sampai kerumah." Ajak Kai.


"Ehhh tidak perlu, aku baik-baik saja kok. Lagipula rumahku tidak jauh, aku bisa pulang sendiri." kata Minna.


"Hey, tidak baik kalau perempuan jalan sendiri malam-malam begini. Aku merasa seperti tidak gentle jika membiarkanmu pulang sendirian, aku juga kebetulan mau kerumah temanku." kata Kai sambil bercanda.


"Shhhh, Yasudah. Terimakasih kalau begitu." Jawab Minna smabil tersenyum.


Merekapun berjalan bersama ke arah rumah Minna.


"Rumahmu ke arah sini juga?" Tanya Kai.


"Iya rumahku di apartemen O." Jawab Minna.


"Ohhh rumah temanku di apartemen M, jadi bisa sekalian lewat kan." Kata Kai.


"Iya benar." Jawab Minna.


"Kau sudah lama kerja disana?" Tanya Kai.


"Ya lumayan sekitar 3 tahun, tapi aku sering izin jadi rekan kerjaku yang lebih banyak bekerja." Jawab Minna.


"Temanku juga kerja disitu, dia sudah lama sekali bekerja disana." Kata Kai.


"Kau kenal dia?" Tanya Kai balik.


"Tentu saja. dia kan rekan kerjaku dan dia yang mengajarkan ketika aku baru mulai bekerja di minimarket, dia itu baik sekali." Jawab Minna.


"Nahh, aku tadi sebenernya ingin menemuinya di minimarket itu karena kukira shiftnya adalah malam ini karena kemarin malam dia yang menjaga." Kata Kai.


"Iya kemarin aku izin karena mengerjakan tugas, tapi akhirnya aku kemarin tak mengerjakan apapun." Jawab Minna.


"Aku minta maaf masalah buku kemarin, aku memang sudah keterlaluan bicara seperti itu padamu." Kata Kai.


"Ya aku memang kesal sih, tapi aku sudah melupakannya kok." Jawab Minna.


"Terimakasih. Aku kira kau itu orang yang cuek, karena ketika semua mahasiswi di kampus membicarakanku dan salting melihatku kau biasa saja." Kata Kai.


"Bahkan dalam pembahasan ini pun kau sempat narsis ya" Kata Minna.


"Hahaha... Aku bercanda, tapi aku benar-benar menyesal sudah bilang seperti itu padamu dan membuat sesi mengerjakan tugasmu buruk bahkan batal." Jawab Kai.


"Sudahlah, lagipula itu sudah berlalu. Aku benar-benar berterimakasih padamu hari ini. Lain kali aku akan traktir kau makan ya untuk mengucapkan terimakasih." Kata Minna.


"Hei, sudah kubilang tadi itu bukan apa-apa jadi anggap saja kejadian tadi itu adalah permintaan maafku padamu." Jawab Kai.


"Ya baiklah." Kata Minna.


"Sudah sampai apartemenku, maaf aku tidak bisa mengajakmu mampir." Tanya Minna.


"Tidak apa-apa lagipula ini sudah malam tidak enak untuk mampir." Kata Kai.


"Baiklah hati-hati di jalan ya." Kata Minna lalu berbalik untuk naik tangga.


"Ehh Minna." Kai kembali memanggil Minna.


"Ya?" Jawab Minna sambil menoleh.


"Apa besok boleh kita mengerjakan tugas prof. Choi bersama? Aku juga membutuhkan buku yang kau pinjam itu." Tanya Kai.


"Baiklah, sampai besok di perpustakan." Jawab Minna.


"Ya sampai besok, terimakasih ya." Kata Kai sambil berjalan pergi.


Minna pun naik ke atas menuju unitnya.


*Tririring* suara pintu terbuka.


"Wuhhh hari ini cukup melelahkan, menakutkan dan agak aneh." Kata Minna sambil membanting tubuhnya di kasur.


"Awww belakang leherku..." Minna pergi ke depan cermin dan mencoba melihat lehernya.


"Ini pasti karena tali tanda pengenal yang tertarik sampai putus tadi." Kata Minna sambil menyentuh bagian lehernya yang lecet lalu mengikat rambutnya keatas.


"Mandi dulu baru obati leherku setelah mandi." Minna mengambil handuk lalu mandi.


Beberapa menit kemudian.


"Segarnya, ya... Walaupun leherku agak perih." Kata Minna.


Minna pun mengambil obat lalu mengoleskannya di lehernya yang lecet.


*drrrt....drrrttt...drrtt...* Ponsel Minna bergetar.


"Halo Dohwan oppa." Minna mengangkat telepon Dohwan.


"Minna, apa kau baik-baik saja? Kenapa kau tidak mengabariku?" Tanya Dohwan dengan panik.


"Aku tidak apa-apa oppa, tadi ada yang membantuku kok." Jawab Minna.


"Apa benar tidak apa-apa?" Tanya Dohwan ingin meyakinkan diri.


"Sungguh tidak apa-apa oppa, hanya lecet sedikit saja aku sudah mengobatinya sebentar lagi juga sembuh." Jawab Minna menjelaskan.


"Hahhh syukurlah kalau begitu, aku sudah bilang kan jika kau kesulitan untuk menghubungiku tapi kenapa kenapa kau tidak melakukannya?" Tanya Dohwan.


"Maafkan aku oppa, aku baru akan menghubungimu tapi ternyata oppa duluan yang menhubungiku. Maaf oppa." Kata Minna.


"Hyeong sudahlah, dia sangat syok tadi biarkan dia istirahat dulu." Suara Kai menegur Dohwan samar-samar terdengar di telepon.


"Yasudah Minna, maaf ya kalau aku terlalu menekanmu. Beristirahatlah nanti kau ceritakan padaku jika ada kesempatan ya." kata Dohwan kepada Minna.


"Iya oppa terimakasih sudah memperhatikanku, selamat malam oppa." Kata Minna.


"Selamat malam Minna, jangan lupa makan malam ya." Kata Dohwan.


"Baik oppa." Jawab Minna.


"Aku tutup teleponnya ya." Kata Dohwan lalu menutup telepon.


Telepon pun berakhir.


"Aku merasa bersalah sekali pada Dohwan oppa, arrrggghhh.... Minna bodoh bisa-bisanya lupa mengabarinya!" Kata Minna kesal pada dirinya sendiri.


"Tapi ternyata benar juga kata Sera eonni, Kai itu baik juga."


"Tidak... tidak aku memikirkan apa sih? itu kan tadi kebetulan saja, kalau aku laki-laki dan melihat yang sama aku juga pasti akan melakukan hal seperti tadi kan. Lagipula yang dia butuhkan dariku kan buku itu." Kata Minna.


...****************...