Back To Start

Back To Start
#69 Sakit Kepala



"Apa kau pacarku?" Tanya Minna tanpa basa-basi.


*Uhuk...uhuk...ehemmm...* Kai terbatuk kaget karena pertanyaan Minna.


"Hah? Ke...kenapa kau bertanya seperti itu dengan santai sih?" Tanya Kai malu-malu.


"Kenapa? Aku salah ya?" Tanya Minna bingung.


"Tidak, tidak bukan seperti itu." Jawab Kai.


"Hanya saja, sepertinya dari semua orang yang aku lihat semalam hanya wajah dan suaramu yang paling familiar dan aku merasakan kita sangat dekat, kau juga menangis semalam. Karena itu aku bertanya apakah kau pacarku?" Tanya Minna sekali lagi.


"Ya... Hmmm... Ya bisa dibilang kita sedang pendekatan." Jawab Kai dengan ragu-ragu.


"Pendekatan?" Tanya Minna.


"Iya pendekatan, kita terlalu dekat untuk dibilang teman tapi belum berpacaran juga." Jawab Kai.


"Ah... Begitu ya..." Minna memahami maksud Kai.


"I...iya benar begitu." Kata Kai sambil tersenyum canggung.


"Hmmm... Apa kau bisa menceritakan sedikit aku?" Tanya Minna.


"Tentu saja jika kau mau mendengarkannya." Jawab Kai.


"Iya aku ingin mendengarnya, aku ingin tahu siapa diriku." Kata Minna.


"Hmmm... Baiklah, namamu adalah Shim Minna..." Kai memberikan informasi tentang diri Minna.


"Ohhh... Jadi aku punya oppa namanya Minno? Lalu kenapa dia tidak disini?" Tanya Minna.


"Itu karena oppamu dan keluargamu tinggal di Pohang." Jawab Kai.


"Lalu kapan oppaku akan datang?" Tanya Minna.


"Aku akan memberitahunya supaya segera datang, jangan khawatir ya." Kata Kai sambil menggenggam tangan Minna.


"Hmmm... sepertinya kau seseorang yang sangat penting untukku, aku tidak tahu apa dan bagaimana tapi firasatku mengatakan begitu." Minna menatap Kai dengan serius.


"Begitukah? Mungkin karena kau juga penting untukku makanya kau merasa begitu." Jawab Kai sambil tersenyum dan menggenggam tangan Minna lebih erat.


Minna menatap Kai sambil tersenyum mendengar jawaban itu.


"Hei kalian membicarakan apa sih? Serius sekali." Kata Donghwi seketika menengok ke ruang rawat.


...****************...


...#69...


...Sakit Kepala...



"Ehemmm..." Kai salah tingkah sambil mencoba mencari alasan.


"Ka...kau sudah beli sarapan?" Tanya Kai mencari topik.


"Ini dia... Ayo kita sarapan dulu." Jawab Donghwi sambil menunjukkan bungkusan makanan.


"Sini masuklah! Sedang apa sih disitu seperti penagih hutang saja." Kata Kai.


Donghwi pun masuk ke dalam.


"Oh iya Minna dia ini namanya Donghwi." Kata Kai pada Minna.


"Donghwi..." Gumam Minna sambil menatap Donghwi.


Minna terdiam sejenak sambil terus menatap Donghwi.


*Nging...* Telinga Minna berdengung.


"Kai Lagi-lagi kau seperti ini! Bukankah Minno hyeong sudah bilang ini semua bukan salahmu? Tolong berhentilah berpikir seperti itu Kai!" Nada Donghwi meninggi.


"Kau tidak tahu bagaimana perasaanku dan rasa bersalahku makanya kau bisa berkata seperti itu!" Jawab Kai dengan nada tinggi juga."


"Hah... Hah...hah...hah..." Minna terkejut hingga nafasnya terengah-engah karena bayangan yang muncul ketika menatap Donghwi.


"Mi...Minna... Ada apa? Kenapa?" Kai panik melihat Minna yang terlihat syok."


"Ah... Kepalaku, ke...kenapa sakit sekali!" Teriak Minna sambil memegang kepalanya.


"Tunggu aku panggil dokter dulu." Donghwi langsung berlari keluar memanggil dokter.


"Minna tahanlah sedikit lagi ya, tunggu sebentar lagi dokter datang." Kata Kai menenangkan Minna.


Minna terlihat kesakitan sambil memegang kepalanya.


"Minna berbaringlah dulu ya." Kata Kai sambil membantu Minna berbaring.


Kai sangat cemas sehingga ia terus menatap sambil mengelus kening Minna dengan lembut.


"Sakit sekali, kepalaku akan pecah!" Kata Minna terus memegangi kepalanya dengan gemetar.


"Sebentar ya Minna, sebentar lagi dokter akan datang." Kata Kai menenangkan Minna.


"Dokter sudah disini!" Kata Donghwi pada Kai.


"Dokter kenapa Minna mengeluh kepalanya sangat sakit?" Tanya Kai panik.


"Baiklah saya akan periksa tolong anda sekalian keluar dulu." Kata dokter.


"Baiklah dok." Kata Donghwi.


"Tapi..." Kata Kai.


"Sudah ayo keluar saja dulu, biarkan dokter memeriksa Minna dengan tenang ya." Kata Donghwi.



"Kai, bagaimana kalau kita hubungi Minno hyeong?" Tanya Donghwi.


"Benar, kita harus menghubunginya." Kata Kai.


"Baiklah kau menghubungi hyeong, aku akan menghubungi Jihyun dan Yeora." Kata Donghwi.


"Enak saja! Kau yang hubungi hyeonglah." Kata Kai.


"Mana bisa begitu! Kau yang harus menghubungi hyeong, kau kan calon pacarnya Minna!" Kata Donghwi.


"Tidak ada hubungannya bodoh!" Kata Kai kesal.


"Apa kau sudah tidak mau jadi pacar Minna lagi? Wah... sayang sekali padahal hyeong sudah memberikan izin padamu untuk mendekati Minna~" Kata Donghwi mengejek.


"Bukan begitu! Kau ini benar-benar ya!" Kai menjawab dengan kesal.


"Lalu apa kalau bukan begitu?" Donghwi mengejek lagi.


"Aku hanya... Ahhhh! Aku canggung berbicara dengan hyeong tahu! puas kau?" Kai berbicara dengan wajah merona.


"Bukankah hyeong sudah santai padamu? Kenapa kau seperti itu? Kalau kau yang memberi kabar hyeong pasti senang." Kata Donghwi.


"Tetap saja..." Kai murung.


"Baiklah, baiklah kalau begitu kita gawi-bawi-bo* sekali saja yang kalah telepon hyeong yang menang menelepon Jihyun dan Yeora. Kol**?" Tanya Donghwi.


[*gawi-bawi-bo (가위 바위 보) gunting batu kertas dalam bahasa korea, peraturannya sama seperti gunting-kertas-batu di indonesia. **Kol (콜) Ungkapan gaul untuk menanyakan seseorang setuju atau tidak terhadap suatu hal, kata 'kol'juga merupakan jawaban jika kamu setuju dengan kesepakatan itu.]


"Kol!" Jawab Kai.


"Baiklah kalau begitu, gawi-bawi-bo!" Kata Kai.


Donghwi mengeluarkan batu dan Kai mengeluarkan gunting.


"Arggghhhh!" Kata Kai sambil menggaruk kepalanya.


"Nah... Sudah kubilang kan, kau yang harus menghubungi hyeong! Hahahaha..." Donghwi tertawa puas.


"Iya, iya baiklah. Hadeuh..." Kata Kai sambil mencari ponselnya.


"Kita gantian saja menelponnya, siapa tahu dokter selesai memeriksa Minna tidak enak jika kita sama-sama menelpon." Lanjut Kai.


"Baiklah, kurasa lebih baik jika Minno hyeong dulu yang dihubungi." Kata Donghwi.


"Oke." Jawab Kai lalu menelpon Minno.


"Halo, selamat pagi hyeong." Kata Kai seketika Minno mengangkat teleponnya.


"Oh, Kai selamat pagi. Wah aku tidak menyangka kau akan menelponku pagi-pagi begini." Jawab Minno.


"Iya hyeong maaf mengganggumu pagi-pagi begini." Kata Kai.


"Ei... Kau ini kenapa bilang mengganggu sih? Sepertinya ada yang penting ya? Ada apa?" Jawab Minno dengan pertanyaan.


"Hyeong, Minna sudah sadar." Kata Kai tanpa ragu.


"Hah? Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" Tanya Minno terkejut namun sangat senang.


"Iya hyeong Minna baik-baik saja tapi masih perlu di observasi. Berita buruknya adalah Minna mengalami amnesia." Jawab Kai.


"Apa? Amnesia? Jadi dia tidak mengingat apapun?" Tanya Minno panik.


"Benar hyeong, dokter mengatakan amnesia itu adalah efek trauma cepat atau lambat ingatannya pasti akan kembali dengan bantuan psikolog dan teman dan keluarganya. Maka dari itu jika hyeong ada waktu apa hyeong bisa ke Seoul untuk menjenguk Minna?" Kata Kai.


"Baiklah aku akan mengatur waktu untuk kesana, secepatnya aku akan berangkat besok setelah menyelesaikan urusan disini. Aku juga ingin mendengar semua keadaannya dengan jelas secara langsung." Jawab Minno.


"Baiklah hyeong, kami menunggu hyeong. Tolong hubungi kami jika hyeong akan datang supaya kami bisa menjemput hyeong di stasiun." Kata Kai.


"Tidak perlu repot-repot, aku bisa naik taxi kok." Jawan Minno.


"Tidak repot hyeong, kami akan sangat senang menjemput hyeong." Kata Kai.


"Baiklah jika begitu, besok akan aku hubungi jika aku sudah tiba di Seoul ya." Jawab Minno.


"Baiklah hyeong, sampai jumpa besok." Kata Kai.


"Baiklah Kai, sampai jumpa besok." Jawab Minno lalu menutup teleponnya.


"Bagaimana? Hyeong bisa kesini?" Tanya Donghwi.


"Bisa kok, dia bilang besok dia akan datang kesini." Jawab Kai.


"Syukurlah." Kata Donghwi.


"Berarti aku harus pulang mengambil mobil." Kata Kai.


"Iya dong, masa kau mau menjemput hyeong dengan motor? Pasti dia lelah kan diperjalanan." Kata Donghwi.


"Iya benar." Jawab Kai.


"Eh tapi, kau harus menyelesaikan pemeriksaan dulu hari ini baru pulang mengambil mobil ya!" Kata Donghwi.


"Iya, iya sebelum makan siang aku akan melakukan pemeriksaan." Jawab Kai.


"Nah gitu dong. Aku telepon Jihyun dan Yeora dulu ya." Kata Donghwi.


"Oke." Jawab Kai.


Tiba-tiba dokter keluar dari ruang rawat.


"Ah... Dokter bagaimana keadaan Minna?" Tanya Kai panik.


...****************...