
"Minna baik-baik saja kan? Tidak ada sesuatu yang terjadi kan hyeong?" Tanya Donghwi.
"Tidak kok, semuanya baik-baik saja. Aku hanya sedang memikirkan bagaimana caranya menyembunyikan hal ini dari orang tuaku." Kata Minno.
"Benar juga, tidak mungkin kan memberikan kabar seperti ini pada orang tua yang sudah cukup lama ditinggal jauh." Kata Donghwi.
"Iya, untung saja kalian menelponku bukan ibuku. Jika kalian menelpon ibuku pasien akan bertambah." Jawab Minno sambil minum soju.
"Aku dengar ayah Minna juga sakit ya?" Tanya Donghwi.
"Iya betul, ayahku stroke dan tidak bisa lagi bekerja jadi ibuku membuka kedai tradisional di Pohang." Jawab Minno.
"Aku turut prihatin hyeong, semoga paman segera pulih." Kata Donghwi.
"Terimakasih banyak Donghwi. Ayo lanjut lagi makannya." Kata Minno.
"Hmmm... Donghwi, bisa kau ceritakan padaku sedikit tentang Kai?" Tanya Minno.
"Tentang Kai ya? Tentu saja hyeong, kau ingin aku cerita dari mana?" Jawab Donghwi.
...****************...
...#62...
...Seperti Takdir...
"Sebenarnya aku hanya penasaran 1 hal saja." Kata Minno.
"Apa itu?" Tanya Donghwi.
"Kenapa seseorang seperti Kai bisa begitu melindungi Minna sampai seperti itu?" Kata Minno.
"Sebenarnya bagiku Minna dan Kai itu sama-sama orang yang unik." Jawab Donghwi.
"Unik? Kenapa seperti itu?" Tanya Minno.
"Minna perempuan yang cuek, sederhana dan mandiri dia juga mampu menyelesaikan masalah dengan cara yang sederhana. Kai punya kepribadian tertutup dan selalu memikirkan sesuatu dengan cara rumit, padahal mereka berdua sama-sama populer dan banyak sekali orang yang tertarik pada mereka. Minna yang cerdas dan Kai yang bisa dibilang memliki segalanya mereka masing-masing seakan tidak sadar dengan kelebihan dan daya tarik mereka." Jawab Donghwi.
"Jadi maksudmu, Kai itu tidak mau orang lain mendekati atau mengenalnya karena status sosialnya. Begitu?" Tanya Minno.
"Benar. Kai sangat benci jika ada orang yang menyinggung tentang kekayaan keluarganya, ya secara tidak langsung dia berusaha untuk tidak mengungkit status keluarganya dan menutupi semua yang dia punya, mati-matian menutupinya padahal semua orang tahu siapa dia, siapa kakek dan ayahnya dia memang cukup konyol. Tapi kurasa pertemuan Kai dan Minna itu bisa dibilang seperti sebuah 'takdir'." Jawab Donghwi.
"Takdir..." Gumam Minno.
"Hmmm Takdir." Jawab Donghwi mengangguk.
"Takdir, dimana Minna yang cuek bisa didekati oleh Kai dan Kai yang tertutup memiliki inisiatif untuk mendekati Minna bahkan sahabat-sahabatnya juga." Lanjut Donghwi.
"Hmmm... Aku mengerti maksudmu." Jawab Minno.
"Kai itu laki-laki yang sangat baik dan bertanggung jawab. Memang awalnya dia membuat orang yang ingin mendekatinya berubah pikiran karena dia akan bertingkah menyebalkan, tapi setelah dekat dengannya kita akan paham apa maksud dari sikapnya itu dia itu akan sangat memprioritaskan teman dan orang yang dia sayangi dia akan bertanggung jawab bahkan mengorbankan nyawanya untuk melindungi semuanya. Jadi hyeong, kau tidak perlu khawatir jika Kai mendekati Minna dia akan menjaga Minna dengan baik aku bukan hanya sekedar bicara karena Kai adalah temanku tapi aku melihat sendiri bagaimana Kai melindungi orang yang dia perempuan yang dicintainya." Kata Donghwi.
"Syukurlah jika kau bilang begitu, aku bertambah yakin kalau Kai itu memang orang yang sangat baik. Sekarang aku hanya perlu memikirkan bagaimana caranya aku menjelaskan pada ayah dan ibuku mengenai keadaan Minna." Jawab Minno.
....
Dirumah Kai...
"Hei, kau darimana?" Tanya Sera pada Yeora.
"Oh eonni sudah selesai mandi? Aku habis berkeliling rumah Kai ini keren sekali." Jawab Sera.
"Katanya kau mau tidur, aku kaget melihat kau tidak ada di sofa dan ruang TV." Kata Sera.
"Maafkan aku ya eonni~" Kata Yeora.
"Ya sudah mandi sana, handuknya ada di rak di bawah cermin ya." Kata Sera.
"Baik eonni." Kata Yeora lalu pergi ke kamar mandi.
"Hah... Sudah cukup lama aku tidak kesini, tidak banyak yang berubah." Kata Sera sambil bersandar di sofa.
"Bagaimana keadaan Kai ya? Apa dia tidak makan malam?" Tanya Sera penasaran.
"Telepon sajalah..." Kata Sera sambil mengambil ponselnya.
Sera pun menelpon Kai.
"Hmmm... Ya nunna." Jawab Kai.
"Apa kau tidak akan makan malam? Tadi kan kita hanya pizza, kau harus makan agar cepat pulih." Kata Sera.
"Kami akan makan jika kau juga makan." Jawab Sera.
"Kenapa begitu? Baiklah nunna aku akan makan." Kata Kai.
"Apa kau menangis? Atau ada yang sakit lagi?" Tanya Sera mendengar suara Kai yang parau.
"Ahhh tidak kok, tidak apa-apa nunna. Baiklah aku akan turun pesan saja dulu makanannya ya nunna." Jawab Kai.
"Baiklah, pesan ayam saja?" Tanya Sera.
"Iya nunna, pesan ayam seperti biasa jangan bayar dengan uangmu ya bilang saja aku yg pesan." Jawab Kai.
"Iya, iya baiklah. Segera turun ya." Kata Sera.
"Iya nunna." Jawab Kai lalu mematikan teleponnya.
"Eonni menelpon siapa?" Tanya Yeora yang baru selesai mandi.
"Ohh ini Kai, aku mengajaknya makan bersama." Jawab Sera.
"Berbicara tentang makan, aku jadi lapar juga." Kata Yeora.
"Iya, ya sudah aku akan memesan dulu ya." Kata Sera.
"Oke eonni, ayam dengan cola ya hehehe." Kata Yeora.
"Baiklah, keringkan rambutmu dengan benar sana di kamar mandi kan ada hair dryer." Kata Sera.
"Iya, iya aku kembali lagi ke kamar mandi. Aku keluar tadi karena mendengar eonni sedang berbicara." Jawab Yeora sambil menggosok rambutnya dengan handuk.
"Yasudah keringkan dulu sana." Kata Sera.
Yeora pun kembali ke kamar mandi dan Sera memesan makan malam untuk mereka.
....
"Oppa, besok aku akan berangkat ke Jepang." Kata Karin.
"Iya lalu kenapa?" Jawab Taegyeong.
"Aku takut kesepian disana oppa." Jawab Karin.
"Karin... Aku menemuimu kapanpun kau mau, jangan khawatirkan itu ya." Kata Taegyeong sambil menggenggam tangan Karin.
"Apa kau berjanji?" Tanya Karin.
"Apa aku pernah tidak melupakan janjiku padamu?" Tanya Taegyeong.
"Terimakasih oppa." Kata Karin sambil menyandarkan kepalanya ke pundak Tegyeong.
"Terimakasih untuk apa Karin?" Tanya Taegyeong sambil mengusap rambut Karin.
"Terimakasih sudah selalu ada untuk ku." Jawab Karin.
"Kenapa kau berkata seperti itu? Kau itu tanggung jawabku, matipun aku tidak masalah asalkan kau aman dan bahagia." Kata Taegyeong.
"Maafkan aku oppa, aku selalu membuat masalah dan menyakiti oppa." Kata Karin.
"Sudah, sudah, sudah ya jangan lagi berbicara hal seperti ini rasanya seperti kau akan pergi dan tidak kembali lagi." Jawab Taegyeong.
"Iya oppa." Jawab Karin.
"Yasudah kita nikmati saja malam ini ya sebelum kau berangkat ke Jepang." Kata Taegyeong.
....
"Hyeong, sebaiknya kau tidur besok pagi kan kita ke kampus lalu kau akan pulang ke Pohang." Kata Donghwi pada Minno.
"Hah.... Aku masih tidak bisa memikirkan siapa yang tega berbuat hal seperti ini pada Minna." Kata Minno sambil terus menatap Minna.
"Hyeong, setelah Kai pulih kami akan mencari tahu siapa melakukan ini pada Minna sekarang ini polisi juga masih menyelediki kasus ini jadi kau tidak perlu khawatir ya." Jawab Donghwi sambil memegang lengan Minno.
"Minna itu bukan orang suka mencari musuh walaupun temannya sedikit. Aku yakin pasti ada sesuatu yang tidak beres dibalik kejadian ini." Kata Minno.
"Benar hyeong, walaupun Minna agak tertutup tapi dia bukan tipe yang memusuhi orang kita akan mengetuinya setelah polisi selesai menyelediki. Hyeong jagalah kesehatan, kita juga harus menguatkan Kai agar dia bisa kembali pulih dan aku dengannya akan membantu melakukan penyeledikan." Jawab Donghwi.
"Baiklah Donghwi, terimakasih sudah peduli pada Minna aku tidak tahu harus berbuat apa jika tidak ada kalian semua." Kata Minno.
...****************...