Back To Start

Back To Start
#49 Ini Semua Salahku



"Kita harus segera membawa pasien ini ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan lebih. Silahkan hubungi keluarga atau wali dari pasien ini." Kata salah satu tenaga medis.


"Jihyun menurutmu bagaimana? Apa kita bisa menghubungi keluarga Minna?" Tanya Donghwi.


"Tentu saja kita harus menghubungi keluarganya, tapi aku tidak punya kontak dari keluarga Minna." Jawab Jihyun.


"Ohhh, Kai apa ponsel Minna ada? Kita bisa ambil kontak keluarganya dari situ." Tanya Donghwi.


"Aku mengantongi ponselnya, tapi sepertinya ponselnya rusak karena dia memberikan tanda padaku dengan mengetuk ponselnya." Jawab Kai.


"Yasudah berikan saja padaku, kau ikut dengan ambulance ini ke rumah sakit dan urusi Minna biar Jihyun dan aku yang membawa mobilmu menyusul ke rumah sakit dan nanti di jalan aku akan coba untuk memperbaiki ponselnya." Kata Donghwi.


"Baiklah, kalau begitu ini kunci mobilku. Sekali lagi aku minta tolong pada kalian." Kata Kai.


"Kau ini selalu saja berkata begitu!" Kata Jihyun.


"Maaf." Jawab Kai.


"Yasudah. Tolong berangkat saja ke rumah sakit, kami akan mencoba menghubungi keluarga pasien ini. Ohh iya, tolong obati teman saya juga ya jangan sampai lukanya semakin parah." Kata Donghwi pada tenaga medis yang menangani Minna.


"Baik. Pak ayo kita berangkat saja." Kata tenaga medis itu pada supir ambulance.


"Kabari aku ya!" Kata Kai pada Donghwi dan Jihyun sebelum pintu ambulance di tutup.


"Oke!" Teriak Donghwi.


...****************...


...#49...


...Ini Semua Salahku...



"Minna... Bertahanlah aku akan menjagamu." Kata Kai sambil menggenggam tangan Minna yang tidak sadarkan diri.


"Mohon maaf anda tidak bisa masuk." Kata seorang perawat seketika berada di depan ruang pemeriksaan.


"Tapi..." Kata Kai.


"Mohon menunggu sambil diobati ya tuan, silahkan ke ruangan sebelah." Kata perawat itu.


Kai hanya terdiam sambil memegang pintu ruang penanganan.


Tidak lama Jihyun dan Donghwi pun tiba.


"Kai..." Panggil Jihyun.


Kai pun langsung berbalik.


"Apa Minna di dalam?" Tanya Donghwi.


"Iya." Jawab Kai singkat.


"Kai, kau harus menunggu dengan sabar ya dokter akan memeriksa Minna untuk mengetahui kondisinya." Kata Jihyun menenangkan Kai.


"Iya Kai lebih baik ayo kuantar kau merawat lukamu terlebih dahulu." Ajak Donghwi.


"Pergilah Kai, biar aku yang menunggu disini sampai ada dokter atau perawat yang keluar." Kata Jihyun.


"Ayo kita ke ruangan sebelah. Jangan sampai Minna melihatmu dengan luka dan keadaan seperti ini." Kata Donghwi.


"Baiklah." Akhirnya Kai pun mau untuk diobati.


....



*Pranggg....* Gelas terbanting pecah.


"Ibu... Ada apa?" Tanya Minno pada ibunya.


"Putraku, apa adikmu baik-baik saja?" Tanya ibu pada Minno.


"Minna?Tentu saja dia baik-baik saja ibu. Ibu duduk saja ya biar aku yang membereskan semua ini." Kata Minno menenangkan ibunya.


"Perasaan ibu tidak enak sekali. Tolong hubungi adikmu Minno." Kata ibu.


"Baiklah ibu, aku bereskan ini terlebih dahulu ya setelah itu aku akan langsung menghubungi Minna." Kata Minno lalu pergi ke belakang mengambil alat untuk membersihkan pecahan kaca.


Beberapa menit kemudian Minno pun selesai membereskan percahan kaca tadi.


"Tunggu ya bu, aku akan mengambil ponselku di kamar." Kata Minno lalu menuju ke kamar.


*Nomor yang anda hubungi sedang berada diluar jangkauan, silahkan hubungi beberapa saat lagi.* Telepon Minna dialihkan.


"Kenapa anak ini mematikan ponselnya ya?" Kata Minno sambil terus mencoba menghubungi Minna.


"Aku harus bilang apa pada ibu ya?" Minno merasa bingung.


"Mungkin sebentar lagi bisa dihubungi." Kata Minno lalu keluar kamar menghampiri ibunya.


"Ibu, nomor Minna sedang tidak aktif. Mungkin dia sudah beristirahat lagipula kan ini sudah malam." Kata Minno pada ibu.


"Mungkin Minna sedang memimpikan ibu makanya ibu merasa seperti itu." Kata Minno.


"Tolong hubungi adikmu terus ya, ibu benar-benar khawatir." Kata ibu.


"Baiklah bu pasti nanti akan kuhubungi. Oh iya, ini waktunya ayah minum obat kan? Ayo ibu juga ke kamar beristirahat." Kata Minno.


"Iya, ibu tadi mengambil gelas untuk ayahmu minum obat." Kata ibu.


"Yasudah, tunggu sebentar ya aku akan ambilkan obat dan air untuk ayah lalu kuantar ibu ke kamar." Kata Minno.


"Baiklah." Jawab ibu.


....



"Jihyun bagaimana? Apa sudah ada dokter atau perawat yang keluar?" Tanya Donghwi.


"Belum ada, bagaimana ini Kai? Aku takut sekali." Kata Jihyun sangat panik.


"Hei... Hei... Tenangkan dirimu Jihyun." Kata Donghwi sambil merangkul Jihyun.


"Oh iya, bagaimana Kai?" Tanya Jihyun.


"Dia sedang diobati, sepertinya bahunya terluka parah karena benturan keras." Jawab Donghwi.


"Astaga... Aku harap Minna dan Kai baik-baik saja." Kata Jihyun.


Tidak lama Kai pun keluar.


"Apa sudah ada dokter yang keluar?" Tanya Kai seketika melihat Jihyun dan Donghwi.


Tiba-tiba dokter keluar.


"Dokter... Dokter, bagaimana keadaan Minna?" Tanya Kai seketika melihat dokter.


"Ada berita baik dan buruk yang harus kalian ketahui tentang pasien. Berita baiknya syukurlah dia sudah melewati masa kritisnya, berita buruknya ada kemungkinan pasien mengalami koma. Malam ini adalah waktu yang penting untuk pasien jika dia tidak sadar malam ini, mohon maaf kami sampaikan dia akan mengalami koma." Kata dokter menjelaskan.


"Minna.... Hu...hu...hu..." Jihyun menangis mendengar keadaan Minna.


"Tenanglah Jihyun jangan menangis." Kata Donghwi menenangkan Jihyun sambil merangkulnya.


"Ini semua salahku! Harusnya aku tidak mengajak kalian untuk wawancara berpencar." Kata Kai menunduk.


"Kai menyesal sudah tidak ada gunanya sekarang kita hanya bisa menjaga dan mendoakan Minna." Kata Donghwi.


Kai terpukul mendengar keadaan Minna, Kai merasa sangat bersalah dan marah pada dirinya sendiri.


"Baiklah dokter, terimakasih sudah menangani Minna dengan baik." Kata Donghwi membungkuk pada dokter.


"Sama-sama, itu sudah menjadi tugas kami. Tolong segera hubungi keluarga pasien supaya mereka mengetahui keadaannya. Kalau begitu, saya permisi." Kata Dokter.


"Silahkan dokter." Jawab Donghwi.


Dokter pun pergi, lalu ada seorang perawat yang datang.


"Apakah ada keluarga dari pasien Minna? Mohon untuk segera melakukan pendaftaran dan mengisi beberapa formulir karena pasien akan dipindahkan ke ruangan." Kata perawat itu.


"Biar saya yang menjadi walinya, saya akan mengisi formulir pendaftarannya. Saya yang bertanggung jawab atas kejadian ini." Kata Kai.


"Apa kau bisa menulis?" Tanya Donghwi.


"Sepertinya bisa, tanganku tidak terlalu parah kok." Jawab Kai.


"Biar aku yang menemanimu kesana." Kata Donghwi.


"Kau duduk disini dulu ya Jihyun, kami akan segera kembali ya." Lanjut Donghwi pada Jihyun.


"Baiklah." Jawab Jihyun.


"Ayo kai." Kata Donghwi.


"Mari, lewat sini." Kata perawat menunjukkan jalan pada Kai dan Donghwi.


Kai dan Donghwi pun ke tempat pendaftaran, Donghwi membantu Kai mengisi formulir dan Kai menandatanganinya sebagai wali Minna sekaligus membayar semua tagihan perawatan Minna.


Setelah selesai mereka pun kembali menemui Jihyun.


"Bagaimana ponsel Minna?" Tanya Kai sembari jalan.


"Aku bisa memperbaikinya tapi baterainya habis, aku belum sempat membuka daftar kontak ponselnya sudah mati." Jawab Donghwi.


"Lalu mana ponselnya?" Tanya Kai lagi.


"Tadi sedang aku charge di mobilmu, aku lupa membawanya." Jawab Donghwi.


"Yasudah nanti kita cek lagi, sekarang ayo kita kembali kesana. Sepertinya Minna akan segera dipindahkan ke ruangan inap." Kata Kai.


...****************...