Back To Start

Back To Start
#64 Kembali Pada Rencana



"Oke, aku akan mencoba menghubungi Minno oppa. Ya siapa tahu kan Kai akan mendengarkan apa yang dikatakan oleh Minno." Kata Sera.


"Cih... Bilang saja kau ingin modus pada oppanya Minna." Kata Donghwi meledek.


"Anak ini tidak tahu situasi ya! Aku ini tulus ingin membantu tahu!" Jawab Sera kesal.


"Baiklah, baiklah, aku dan Yeora akan coba ke psikiater untuk sedikit konsultasi kebetulan pamannya Yeora itu seorang psikolog. Aku akan tanya pada Yeora kapan pamannya memiliki waktu luang lalu kami akan bertemu dengannya." Jawab Jihyun.


"Oke! Semuanya sudah memiliki job masing-masing. Semoga saja usaha kita berhasil dan jangan lupa kita terus berdoa supaya Minna segera bangun dari koma." Kata Donghwi.


"Amin... Aku sangat merindukan Minna." Kata Jihyun murung.


"Hei, kita yakini saja Minna pasti akan segera bangun. Dia kan wanita yang kuat kau tahu itu kan?" Kata Donghwi.


"Iya, aku sangat mengenal Minna dia juga pasti sedang berjuang agar segera bangun." Jawab Jihyun.


....



"Ini semua salahku. Karena aku Minna tidak juga bangun." Kata Kai sambil melajukan motornya dengan kencang.


"Maafkan aku Minna... Aku benar-benar minta maaf." Sepanjang jalan Kai hanya meminta maaf.


Beberapa menit kemudian Kai pun tiba di rumah sakit.


"Selamat malam tuan Kai." Sapa para perawat.


Kai hanya mengangguk dengan senyum terpaksa.


...****************...


...#64...


...Kembali Pada Rencana...



"Minna, aku datang. Bagaimana keadaanmu hari ini?" Kai berbicara pada sambil memegang tangan Minna.


"Lihat aku membawa bunga dan beberapa buku baru, aku akan mengaturnya dulu ya." Kai pun mengganti bunga di vas dan menyusun buku di meja.


Tiba-tiba...


*Tok...tok...tok...*


"Kai, ini aku Donghwi." Kata Donghwi sambil mengetuk pintu ruang rawat Minna.


"Masuklah Donghwi." Jawab Kai sambil terus membereskan barang bawaannya.


"Apa kau sudah makan? Ini aku membawa ayam kesukaanmu." Kata Donghwi seketika masuk.


"Aku tidak lapar Donghwi." Jawab Kai singkat.


"Hei... Ayolah, sudah lama kan kita tidak makan bersama?" Kata Donghwi membujuk Kai.


"Baiklah, setelah aku menyelesaikan ini." Kata Kai sambil menyusun buku.


"Baiklah, aku tunggu di meja luar ya." Kata Donghwi.


"Oke." Jawab Kai, lalu Donghwi pun menuju ke meja menyiapkan makanannya.



"Kemarilah Kai, aku sudah menyiapkan makanannya." Kata Donghwi seketika melihat Kai keluar dari ruang rawat.


Kai pun duduk di meja makan.


"Sudah lama ya kita tidak makan bersama seperti ini. Bagaimana kabarmu?" Kata Donghwi.


"Kau bertanya seperti itu, padahal kita baru saja bertemu tadi di kampus." Jawab Kai.


"Benar, kita bertemu setiap hari tapi jujur saja aku tidak tahu bagaimana kabarmu Kai." Kata Donghwi serius.


"B...bagaimana maksudnya?" Kai bingung dengan pernyataan Donghwi.


"Kai, aku tahu ini sangat berat bagimu tapi semuanya itu akan lebih ringan jika kau berbagi dengan kami. Seperti biasanya kau bisa menceritakan segala sesuatu kepadaku bahkan jika tidak ada solusi pun biasanya kita memikirkan semuanya bersama." Donghwi menjelaskan.


"Aku tidak ingin kalian ikut kesulitan karena kesalahanku, aku berpikir aku yang harus menyelesaikan semua ini sendiri tanpa menyusahkan kalian." Jawab Kai.


"Tidak seperti itu Kai, apakah selama kita berteman pernah kita merasa kesulitan karena masalah satu sama lain? Kai, aku hanya ingin kau bisa menceritakan bagaimana perasaanmu, keadaanmu dan apapun masalahmu setidaknya padaku jika kau tidak nyaman menceritakannya pada Jihyun, Yeora atau Sera nunna." Kata Donghwi.


"Maaf aku membuat kalian khawatir." Kai sadar bahwa ia sudah membuat semua temannya khawatir.


"Tidak Kai, bukan ini maksudku. Ini bukan suatu kesalahan yang membuatmu harus meminta maaf begitu pada kami, kami hanya ingin menyadarkanmu bahwa kami ada untukmu bagaimanapun keadaanmu Kai." Kata Donghwi.


Kai hanya menundukan kepalanya karena tidak tahu akan menjawab apa.


"Kai apa kau tidak sadar, kau memikirkan masalah ini sendirian dengan keras tapi kau tidak memikirkan dirimu sendiri? Lihat dirimu sekarang kau seperti bukan Kai yang kami kenal." Kata Donghwi melihat Kai yang hanya terdiam.


"Nah, ini baru Kai yang kukenal lagipula kita kan memang sudah merencanakan untuk menyelesaikan semua ini bersama-sama." Kata Donghwi.


"Baiklah Dong-dong, mohon bantuannya." Kata Kai sambil tersenyum.


"Baiklah, baiklah. Ayo kita makan kasian makanan-makanan ini hanya mendengarkan kita berbicara." Kata Donghwi bercanda.


Mereka pun makan bersama.


....



"Hah? Te...tempat apa lagi ini? Kenapa aneh sekali?" Kata Minna melihat tempat disekitarnya sangat aneh.


"Terakhir aku ada di tempat yang aku tidak mengerti itu laut atau langit, sekarang aku ada di hutan dengan tanaman-tanaman aneh ini." Kata Minna sambil terus melihat sekelilingnya.


"Minna..." Suara misterius terdengar.


"Si...si...siapa itu?" Minna mulai ketakutan.


"Minna lekaslah bangun."


"Minna aku tahu kau kuat."


"Minna bagaimana kabarmu?"


"Minna..."


"Minna..."


"Minna..."


Minna mendengar banyak suara berbeda memanggilnya.


"Ahhhhhhhhh!" Minna berteriak sambil menutup telinganya.


"Ya Tuhan, Minna ku, sembuhkanlah Minna ku."


"I...ibu." Kata Minna mendengar suara ibunya.


"Minna aku tahu ini salahku, tapi aku mohon beri aku kesempatan dan bangunlah, marahlah padaku langsung Minna."


"Kai..." Minna mendengar suara Kai.


"Sebenarnya apa ini? Dimana aku sebenarnya? Huhuhu..." Minna menangis kebingungan.


"Siapapun tolong jawab aku!" Minna berteriak dengan suara keras.


....


"Ahhh... Aku sudah kenyang..." Kata Donghwi sambil melonggarkan ikat pinggangnya.


"Kau sih gak kira-kira belinya banyak sekali." Kata Kai sambil membereskan sampah dan tempat makan mereka.


"Hehe karena aku tahu ini akan membuatmu senang makanya aku kalap membelinya." Kata Donghwi.


"Kau kan tahu kalau aku tidak terlalu banyak makan." Kata Kai.


"Iya maaf... Lagipula habis juga kan tidak ada yang terbuang." Kata Donghwi.


"Oh iya ngomong-ngomong apa kau dan Minno hyeong saling menghubungi?" Lanjut Donghwi.


"Hah... Jujur saja aku tidak ada muka untuk menghubunginya Donghwi." Kai menghela nafas dan menjawab.


"Apaan sih kau ini, hyeong pasti senang jika kau menghubunginya dan mungkin saja kan dia menunggumu menghubunginya?" Kata Donghwi.


"Apa menurutmu begitu? Aku kan sudah membuat adiknya seperti ini apa benar dia akan merasa begitu?" Tanya Kai pada Donghwi.


"Kai Lagi-lagi kau seperti ini! Bukankah Minno hyeong sudah bilang ini semua bukan salahmu? Tolong berhentilah berpikir seperti itu Kai!" Nada Donghwi meninggi.


"Kau tidak tahu bagaimana perasaanku dan rasa bersalahku makanya kau bisa berkata seperti itu!" Jawab Kai dengan nada tinggi juga.


"Bagaimana aku dan yang lainnya tahu keadaan dan perasaanmu jika kau hanya diam tidak menceritakan apapun pada kami?!" Kata Donghwi lagi.


"Ahhhhh.... Sudahlah!" Kata Kai.


Tiba-tiba Donghwi menarik Kai ke ruang rawat Minna.


"Lihat, apa kau lihat? Minna akan sedih jika selalu menyalahkan dirimu seperti ini! Kau yang biasanya terlihat baik dan sehat tiba-tiba jadi seperti ini, apa kau pikir Minna tidak akan merasa bersalah karena sudah membuatmu seperti ini? Mana yang kau katakan akan mencari siapa dalang dari kecelakaan ini? Apa pikiranmu sudah berubah? Apa kau pikir dengan menyalahkan dirimu semua ini sudah selesai?!" Kata Donghwi sambil menunjuk Minna.


"A...aku..." Kai ingin menjawab tapi tidak tahu akan menjawab.


"Kai tolong sadarlah, ayo kita kembali pada rencana kita. Kita selesaikan semua ini dengan bekerja sama, kita dan yang lainnya akan membantumu dan Minna." Kata Donghwi meyakinkan Kai.


...****************...