Back To Start

Back To Start
#70 Hampir Terlupakan



"Baiklah aku akan mengatur waktu untuk kesana, secepatnya aku akan berangkat besok setelah menyelesaikan urusan disini. Aku juga ingin mendengar semua keadaannya dengan jelas secara langsung." Jawab Minno.


"Baiklah hyeong, kami menunggu hyeong. Tolong hubungi kami jika hyeong akan datang supaya kami bisa menjemput hyeong di stasiun." Kata Kai.


"Tidak perlu repot-repot, aku bisa naik taxi kok." Jawan Minno.


"Tidak repot hyeong, kami akan sangat senang menjemput hyeong." Kata Kai.


"Baiklah jika begitu, besok akan aku hubungi jika aku sudah tiba di Seoul ya." Jawab Minno.


"Baiklah hyeong, sampai jumpa besok." Kata Kai.


"Baiklah Kai, sampai jumpa besok." Jawab Minno lalu menutup teleponnya.


"Bagaimana? Hyeong bisa kesini?" Tanya Donghwi.


"Bisa kok, dia bilang besok dia akan datang kesini." Jawab Kai.


"Syukurlah." Kata Donghwi.


"Berarti aku harus pulang mengambil mobil." Kata Kai.


"Iya dong, masa kau mau menjemput hyeong dengan motor? Pasti dia lelah kan diperjalanan." Kata Donghwi.


"Iya benar." Jawab Kai.


"Eh tapi, kau harus menyelesaikan pemeriksaan dulu hari ini baru pulang mengambil mobil ya!" Kata Donghwi.


"Iya, iya sebelum makan siang aku akan melakukan pemeriksaan." Jawab Kai.


"Nah gitu dong. Aku telepon Jihyun dan Yeora dulu ya." Kata Donghwi.


"Oke." Jawab Kai.


Tiba-tiba dokter keluar dari ruang rawat.


"Ah... Dokter bagaimana keadaan Minna?" Tanya Kai panik.


...****************...


...#70...


...Hampir Terlupakan...



"Tidak terjadi sesuatu yang serius tuan Kai, sepertinya Minna hanya berusaha mengingat terlalu keras sehingga kepalanya terasa sangat sakit. Besok saya akan memberikan jadwal konsultasi dengan psikolog dan menjadi memeriksa keadaan fisiknya jadi hari ini tolong jangan terlalu memaksanya untuk mengingat atau memikirkan sesuatu." Jawab dokter.


"Baiklah dokter, terimakasih sudah memeriksa Minna." Kata Kai.


"Sama-sama tuan Kai. Oh iya hari ini setelah sarapan datanglah ke ruangan saya, mari kita lakukan pemeriksaan kesehatan anda." Kata dokter.


"Baik dokter, sekali lagi terimakasih." Jawab Kai.


"Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu." Kata dokter pamit.


"Silahkan dok, selamat bekerja." Kata Kai.


"Apa kata dokter?" Tanya Donghwi yang baru selesai menelpon Jihyun dan Yeora.


"Dokter bilang tidak ada apa-apa itu hal yang wajar karena Minna mencoba mengingat sesuatu." Jawab Kai.


"Tapi sepertinya tadi Minna tidak sedang mengingat apapun. Benar tidak?" Tanya Donghwi.


"Hmmm... Tadi itu aku memperkenalkanmu lagi pada Minna, dia terdiam melihatmu dengan serius lalu sakit kepala." Kata Kai mencoba mengingat kejadian tadi.


"Iya seperti itu tadi kejadiannya. Apa menurutmu dia tiba-tiba teringat sesuatu?" Tanya Donghwi.


"Ahh... Aku mengerti!" Seru Kai.


"Apa? Apa? Kenapa?" Tanya Donghwi penasaran.


"Kau terlalu jelek sampai Minna sakit kepala melihatmu..." Kata Kai menggoda Donghwi.


"Kau mau mati ya?!" Kata Donghwi kesal.


"Coba saja kau pikirkan, Minna sehat-sehat saja ketika melihatku tapi dia langsung seperti itu saat melihatmu. Benar kan?" Kai masih menggoda Donghwi.


"Gak tahu ahhh... Terserah kau saja. Aku lapar mau sarapan." Kata Donghwi mengambil sarapan yang sudah dibeli tadi.


"Hahahaha...." Kai tertawa puas.


"Tertawa saja ya, tidak usah makan!" Kata Donghwi kesal tapi malas untuk marah-marah.


"Baiklah, baiklah astaga. Aku minta maaf dong, aku lapar nih." Kata Kai membujuk Donghwi.


"Cepat makan, lalu ke ruangan dokter lakukan pemeriksaan." Kata Donghwi.


"Baik boss!" Jawab Kai semangat.


"Akhirnya aku melihat Kai seperti ini lagi. Terimakasih kau sudah bangun Minna, tetaplah buat Kai bahagia dan segera pulih ya." Kata Donghwi dalam hati.


"Hei kenapa kau senyum-senyum begitu? Wah, kau memikirkan sesuatu yang mesum ya?!" Kai kembali menggoda Donghwi.


"Kesinikan sarapanmu! Kau ini mencari penyakit saja pagi-pagi!" Kata Donghwi sambil mengambil bungkusan makanan Kai.


"Ampun Dongdong! Baiklah, baiklah maafkan aku ya... Please~" Kata Kai dengan nada manja.


"Auhhhh.... Kau benar-benar membuatku merinding!" Kata Donghwi sambil menaruh sendoknya di meja.


"Hahahah... Iya, iya baiklah astaga kau ini pemarah sekali sih!" Kata Kai mencoba merayu Donghwi.


"Yasudah nih cepat makan, sudah dingin tidak enak loh." Kata Donghwi.


"Iya baiklah ini aku makan. Terimakasih ya sudah membelikan sarapan." Kata Kai dengan nada manis.


"Sudah, sudah cepat makan jangan kebanyakan intro..." Kata Donghwi sambil menyendok makanannya.


...



"Sudah lama aku tidak mendapat kabar dari Minna, ponselnya tidak aktif unit apartemennya juga kosong tapi semua tagihan tetap terbayar rutin. Kai juga cukup sulit dihubungi." Kata Dohwan sambil merapikan barang di minimarket.


"Aku juga tidak bisa mencari mereka karena belum ada pekerja paruh waktu yang menggantikan Minna." Kata Dohwan lagi.


"Padahal aku belum berterimakasih pada Kai dengan benar waktu itu. Aku juga tidak punya kontak Donghwi, apa mereka semua baik-baik saja ya?" Dohwan mulai cemas memikirkan Kai dan yang lainnya.


*Tring...* Suara pintu mini market terbuka.


"Oh... Selamat datang." Kata Dohwan berdiri menyambut pelanggan.


....



*Tuk...tuk...tuk...* Seseorang mengetuk pintu ruangan Minna.


"Ya, masuk!" Teriak Donghwi.


"Siapa itu?" Tanya Kai.


"Tidak tahu." Jawab Donghwi.


"Selamat pagi! Oh, kalian sedang sarapan? Kebetulan sekali aku juga bawa makanan nih." Kata Jihyun.


"Belum, makanya aku membawa sarapan juga." Jawab Jihyun.


"Yasudah sini, kita sarapan bersama." Kata Kai.


"Oh... Bagaimana keadaan Minna?" Tanya Jihyun sambil duduk.


"Minna sudah sadar semalam. tadi aku dan Minna sedang mengobrol tapi dia tiba-tiba mengalami sakit kepala ketika melihat Donghwi." Jawab Kai.


"Hah? Kenapa begitu?" Jihyun kebingungan.


"Tidak tahu, apa mungkin penculik Minna waktu mirip dengaku?" Tanya Donghwi.


"Hahaha..." Kai dan Jihyun tertawa.


"Hei! Kenapa kalian tertawa?" Kata Donghwi serius.


"Ahhh... Kau serius ya?" Tanya Jihyun.


"Baiklah, baiklah. Bisa saja seperti itu kan?" Kata Kai.


"Ya... bisa juga sih~ Nah lalu sekarang Minna sedang apa?" Tanya Jihyun.


"Minna sepertinya tertidur efek obat, sebentar lagi juga sepertinya bangun." Kata Kai.


*Kruyukkk...* Suara perut yang lapar.


"Hehehe... Aku lapar sekali karena dari semalam aku belum makan." Kata Jihyun.


"Haduh... Ayo, ayo cepat makan kasihan makhluk-makhluk di perutmu itu." Kata Donghwi.



"Woahhh..." Kata Kai dan Donghwi seketika Jihyun membuka tempat makanannya.


"Ayo makan, aku bawa sengaja bawa banyak loh." Kata Jihyun.


"Apa kau memindahkan semua makanan dari rumahmu kesini?" Kata Donghwi tanpa berkedip melihat makanan yang dibawa Jihyun.


"Kebetulan saja tadi masak banyak di rumah, sudah ayo makanlah." Jawab Jihyun.


"Aku mau telur gulung dong~" Kata Kai.


"Ambil saja, sudah kubilang kan aku sengaja bawa banyak." Kata Jihyun.


"Selamat makan!" Kata Kai bersemangat.


"Selamat makan..." Kata Jihyun dan Donghwi.


"Wah... Masakan rumah memang berbeda ya." Kata Kai sambil mengunyah telur gulungnya.


"Benar, ini enak sekali!" Kata Donghwi.


"Kau itu tidak pandai bohong ya Donghwi? Masakan ibumu kan lebih enak, dasar kau ini." Kata Jihyun.


"Ini beneran enak tahu! Masa dibilang aku bohong." Jawab Donghwi.


"Hei sudah, sudah kasian makanan ini melihat kalian bertengkar." Kata Kai sambil makan dengan lahap.


Mereka pun makan bersama sambil mengobrol.


"Oh iya, Yeora tidak ikut?" Tanya Kai.


"Oh, Yeora ada kelas pagi. Katanya dia akan datang setelah makan siang dengan Sera eonni." Jawab Jihyun.


"Oh begitu..." Kata Kai.


"Pasti mereka tidak sabar ingin melihat Minna." Kata Donghwi.


"Tentu saja, tadi Yeora langsung mengirim pesan padaku setelah kau menelpon. Dia semangat sekali." Kata Jihyun.


"Iya sepertinya tadi ketika aku menelpon saking terkejutnya dia menjatuhkan ponselnya." Kata Donghwi.


"Ah... Kebiasaan Yeora. Oh iya apa Sera eonni sudah tahu Minna sudah bangun?" Tanya Jihyun.


"Sera nunna ada disini semalam ketika Minna bangun, bahkan dia yang paling pertama melihat Minna membuka mata." Kata Kai.


"Benarkah? Ohh... eonni menginap ya?" Tanya Jihyun.


"Iya, kebetulan nunna tidur di dalam." Kata Donghwi.


"Tapi Jihyun ada sesuatu yang akan membuatmu agak kecewa." Kata Kai.


"Hah? Apa itu? Ada apa?" Tanya Jihyun panik.


"Minna mengalami amnesia." Jawab Kai.


*Uhuk...uhuk...* Jihyun tersedak makanannya karena sangat terkejut.


"Hei pelan-pelan! Ini minum dulu." Donghwi menyodorkan air minum.


"Apa?!" Jihyun berteriak segera setelah minum.


"Sstttt... Kecilkan suaramu!" Kata Donghwi.


"Ah... Bagaimana ini? Kenapa Minna?" Jihyun menaruh sumpitnya lalu menopang kepalanya dengan tangan di atas meja.


"Hei tenanglah Jihyun, dokter mengatakan tidak apa-apa kok ingatannya akan segera kembali jika Minna dibantu psikolog dan keluarganya kita juga bisa membantunya kok. Jangan khawatirnya." Kata Kai menenangkan Jihyun.


"Ayo cepat makan lagi, pokoknya kita tidak boleh terlihat sedih dan lesu di depan Minna. Iya kan?" Kata Donghwi sambil memegang bahu Jihyun.


"Hah... Baiklah, maaf aku sangat terkejut karena tidak menyangka akan terjadi hal seperti itu." Jihyun menarik nafas dan mencoba menenangkan diri.


"Sudahlah, kami juga sama sepertimu kok ketika pertama mengetahui hal itu. Sekarang kita habiskan makanan kita lalu ajak Minna mengobrol lagi ya." Kata Kai.


"Baiklah." Jawab Jihyun.


*Drrrttt... Drrtttt... Drrtttt...* Ada ponsel yang bergetar.


"Ponsel siapa itu?" Tanya Donghwi.


"Bukan punyaku, ponselku nadanya kuhidupkan." Jawab Jihyun.


"Mungkin ponselmu Kai, karena ponselku juga ada di saku ku ini." Kata Donghwi.


"Berarti ponselku, tapi di mana ya?" Tanya Kai sambil berdiri mencoba menemukan ponselnya.


"Disana kan tadi, di atas meja depan televisi." Kata Donghwi.


"Oh iya..." Jawab Kai lalu pergi mengambilnya.


"Halo..." Jawab Kai.


"Halo Kai, sudah lama ya tidak bertemu." Jawab seseorang di telepon.


"Oh... Benarkah? Memangnya ini siapa?" Jawab Kai.


"Ini aku, Jeong Dohwan." Jawab Dohwan.


"Ohhh hyeong! Bagaimana kabarmu?!" Kata Kai.


...****************...