
"Bagaimana dokter?" Tanya Kai penasaran.
"Sepertinya hal itu adalah gerakan refleksnya saja, pasien mendengar suara atau merasakan sesuatu tetapi tingkat kesadarannya sangat rendah dan pasien juga sangat lemah sehingga ia hanya merespon secara refleks dengan gerakan jari." Jawab dokter.
"Tapi itu berarti dia sadar kan? Dia mendengar dan merasakan kehadiranku kan dokter?" Tanya Kai panik.
"Betul pasien merasa dan mendengar tapi belum ada tanda kalau ia akan segera siuman, seperti yang saya katakan tadi malam ini adalah penentuan apakah ia akan bangun atau koma. Tetaplah berdoa supaya malam ini terjadi keajaiban." Jawab dokter.
"Minna!" Jihyun menangis lagi mendengar kondisi Minna.
"Kalian harus kuat, tegar dan percaya bahwa pasien akan segera siuman hal itu akan membuat panca indera pasien merangsang kesadarannya. Jangan terlalu banyak mengatakan hal yang sedih atau menangis berlebihan." Kata dokter.
"Sudah Jihyun, kau dengar kan jangan bersedih begitu agar Minna segera siuman." Kata Donghwi menenangkan Jihyun.
Kai hanya terdiam tidak menerima keadaan Minna dan tidak tahu harus berbuat atau mengatakan apa.
"Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu." Kata dokter.
"Baik dokter, terimakasih." Jawab Donghwi.
"Oh iya dokter, apa kami boleh meminta ranjang pasien tambahan? Tolong rawat juga anak ini, sepertinya dia butuh obat penenang dan obat untuk meredakan sakit karena lukanya." Kata Donghwi pada dokter.
"Baik, nanti para perawat akan menyiapkannya." Jawab dokter.
"Terimakasih sekali lagi dokter." Kata Donghwi.
"Gunakan intercome disana untuk memanggil perawat jika ada sesuatu yang diperlukan ya." Kata dokter.
"Baik." Jawab Donghwi.
Dokter dan perawat pun meninggalkan ruangan itu.
"Kai, lebih baik kau duduk dulu. Aku sudah membawakan pakaian, gantilah pakaian kotormu itu." Kata Donghwi pada Kai.
"Ini semua salahku, ini karena aku! Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?" Kata Kai dengan tatapan kosong menghadap ke arah Minna.
Jihyun yang kaget karena gumaman Kai pun seketika menghapus air matanya.
"Kai, sadarlah! Ini bukan salahmu!" Kata Jihyun dengan suara serak.
"Apa yang harus kulakukan Jihyun? Ini semua? Kenapa harus Minna korbannya?" Kata Kai seperti orang kebingungan.
...****************...
...#51...
...Ayo Kita Jaga Kai dan Minna...
"Sepertinya mereka harus segera memberikan obat penenang pada Kai." Kata Donghwi pada Jihyun.
"Cepat bawa Kai dulu keluar, buat dia mengganti bajunya atau melakukan sesuatu yang lain jangan sampai dia menatap kosong seperti itu terus." Jawab Jihyun.
"Baiklah. Ayo Kai, ganti dulu bajumu." Kata Donghwi sambil menarik Kai yang masih terlihat syok.
"Aku akan memanggil perawat agar cepat kemari." Kata Jihyun lalu berlari keluar.
"Kai benar-benar mencintai Minna, dia sampai kehilangan akal karena kondisi Minna. Minna... Sadarlah, kasihan Kai menyalahkan dirinya terus-menerus!" Kata Jihyun sambil berjalan.
....
"Hahhhh! Dimana aku?" Kata Minna tersentak melihat sekelilingnya.
"Halo~ Apa ada orang disini?" Teriak Minna sambil berputar di tempatnya.
"Tadi aku mendengar suara Kai... Kai! Kai! Kau dengar aku kan?" Minna kembali berteriak.
"Apa aku sudah mati? Aku sudah mati? Siapa pun tolong jawab aku! Apa aku sudah mati?" Minna mulai panik.
"Bagaimana ini? Aku sudah mati padahal aku belum mengatakan apapun pada ayah dan ibu, Minno, teman-temanku..." Minna mulai histeris.
"Ibu!!!" Teriak Minna sambil berjongkok dan menutup telinganya.
Minna pun menangis histeris karena bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya.
....
"Bagaimana keadaan Kai?" Tanya Jihyun yang sedang menunggu di luar kamar rawat.
"Obat penenangnya sedang bekerja, perawat bilang kalau dia akn bangun 3 sampai 5 jam lagi." Jawab Donghwi.
"Baguslah kalau begitu, sepertinya dia benar-benar sangat kacau dengan kejadian ini. Apa yang harus kita lakukan untuk membuatnya tidak menyalahkan dirinya sendiri?" Kata Jihyun.
"Entahlah... Kita tidak boleh meninggalkannya sendiri, Kai itu termasuk tipe orang yang sulit dirubah pola pikirnya intinya sekarang kita harus berada terus disisinya dan mengatakan kalau semua kekacauan ini bukan salahnya." Jawab Donghwi sambil menempelkan kepalanya ke dinding.
"Ngomong-ngomong ruang tunggu pribadi ini nyaman sekali ya astaga, baru saja aku duduk rasanya sudah mengantuk." Lanjut Donghwi sambil memejamkan matanya.
"Hmmm... Ini bahkan lebih nyaman daripada di kamarku sendiri, apa ini juga miliki keluarga Kai?" Tanya Jihyun.
"Setidaknya beberapa persen dari saham rumah sakit ini milik Kwondam Grup." Jawab Donghwi.
"Ya, sudah kuduga juga sih. Jadi kita tidak perlu memikirkan biaya perawatan Minna kan?" Tanya Jihyun.
"Tenang saja, bahkan tadi bagian administrasi pun memanggil Kai 'tuan' jadi semua masalah perawatan disini sudah Kai tangani dengan baik." Jawab Donghwi.
"Bagaimana cara kita membalas semua yang sudah Kai berikan bahkan lakukan? Terutama aku dan Minna sih, kami kan baru saja kenal dengan kalian tapi sepertinya aku dan Minna bergantung padanya." Kata Jihyun.
"Apa yang kau bicarakan? Memangnya kau melakukan pinjaman di bank? Kai akan sangat marah jika mendengar kau mengatakan hal-hal seperti itu. Kai melakukan semuanya jika dia percaya bahwa kalian akan menjadi teman baiknya." Jawab Donghwi.
"Ya, baiklah. Aku merasa sangat beruntung mengenal Minna dan sekarang ditambah mengenal Kai, kau dan Yeora aku harap kita terus berteman seperti ini hingga tua ya." Kata Jihyun.
"Hei kenapa kau sentimental sekali malam ini sih? Tentu saja kita harus berteman selamanya." Jawab Donghwi.
"Aku benar-benar sangat takut kehilangan Minna, aku tidak tahu bagaimana jadinya jika aku tidak bisa melihatnya lagi. Minna itu seperti ibu kedua bagiku, dia menenangkan aku saat aku sedih, memberiku semangat saat aku putus asa, mengajarkan aku ketika aku tidak bisa. Bahkan ibuku saja kadang tidak mau mendengarkan pendapatku dan memarahiku jika aku tidak mendengarkannya tapi Minna benar-benar seperti seorang malaikat yang mengenal diriku lebih dari diriku sendiri, begitulah artinya Minna untukku dan sepertinya posisi itu tidak bisa digantikan oleh siapapun." Kata Jihyun sambil mengingat Minna.
"Aku mengerti maksudmu Jihyun, karena itu kita tidak boleh terus bersedih begini kita harus berdoa dan memberikan semangat pada Minna dan Kai juga." Jawab Donghwi.
"Hmmm... Kita harus menjaga mereka sampai mereka pulih ya." Kata Jihyun sambil mengangguk.
Donghwi pun mengangguk sambil tersenyum.
"Oh iya, bagaimana ponsel Minna? Apa kita bisa menghubungi orang tuanya?" Tanya Jihyun.
"Ohhh ini ponselnya sudah menyala, kita hanya perlu sidik jari Minna untuk membukanya tapi aku tidak yakin kapan ponsel ini akan mati karena beberapa komponen di dalamnya agak hancur." Jawab Donghwi.
"Woahhh... Kau ini jago memperbaiki barang juga ya." Kata Jihyun.
"Aku belajar dari pamanku, beliau punya semacam pabrik service barang elektronik jadi saat masih SMA aku sering menginap dirumahnya dan beliau mengajarkanku sedikit cara memperbaiki ponsel." Jawab Donghwi.
"Ohh... Pantas saja kau memperbaiki ini. Yasudah kita coba dulu buka kunci ponsel ini lalu simpan nomor keluarganya di ponselku." Kata Jihyun.
"Ahhh... Benar juga, kenapa hal itu tidak terpikir olehku ya?" Jawab Donghwi.
"Yasudah ayo kita pinjam jari Minna untuk membukanya, sebelum ponsel ini mati." Kata Jihyun.
Mereka pun masuk ke ruangan rawat Minna.
...****************...