Back To Start

Back To Start
#26 Apa Aku Benar Menyukainya?




"Kenapa sangat berbeda ya?" Kata Kai sambil membaringkan dirinya di kasur.


"Aku tidak pernah merasa penasaran, berdebar atau ragu-ragu pada Karin seperti yang ku rasakan pada Minna. Pada Karin aku merasa... bagaimana ya? Hanya ingin melindunginya? seperti memberikan sandaran pada seseorang yang akan terjatuh... Ya seperti itu."


"Dasar bodoh perasaan sendiri saja tidak mengerti!" Kata Kai kesal pada dirinya sendiri.


"Tapi aku yakin, pada Minna bukan seperti itu. Kepada Minna, semakin aku ingin membatasi diriku untuk mendekatinya aku semakin tidak bisa, semakin aku mencoba untuk tidak menatapnya aku semakin ingin menatapnya, aku selalu ingin tahu apa yang dia rasakan, apa yang dia lakukan."


"Tunggu... apa aku menyukai Minna?" Kata Kai kaget pada perasaannya sendiri.


"Astaga Kai! Kau tidak boleh begini, kau baru saja agak terlepas dari Karin. Memangnya kau laki-laki macam apa?!" Kai menyadarkan dirinya sendiri.


...****************...


...#26...


...Apa Aku Benar Menyukainya?...



*Tririring... tririring...* Bel rumah Kai berbunyi.


"Kai ini aku, Donghwi!" Donghwi memanggil Kai dari luar.


"Ya tunggu sebentar..." Kai langsung bergegas ke bawah.


"Kau cepat sekali sampainya?" Tanya Kai seketika membukakan pintu untuk Donghwi.


"Hahhh... kan sudah kubilang aku sangat bosan di rumah makanya aku langsung bergegas kemari setelah meneleponmu." Jawab Donghwi sambil masuk ke dalam rumah Kai.


"Yasudah aku mau mandi dulu ya, ambil saja minum atau camilan di kulkas ya, ahh... pokoknya lakukan saja apa yang kau mau, asal jangan bakar rumahku ya." Kata Kai sambil naik ke atas menuju kamarnya.


"Memangnya aku gila apa?! yasudah mandi sana!" Jawab Donghwi.


"Hahahaha..." Kai hanya tertawa.


Beberapa menit kemudian Kai selesai mandi dan turun kebawah menemui Donghwi.


"Hei kau sudah mandi kan?" Tanya Kai seketika sampai di bawah sambil menggosok rambutnya dengan handuk.


"Sudahlah! yang benar saja aku mau keluar tidak mandi." Jawab Donghwi agak kesal sampai menaruh lagi camilan yang sudah dia pegang.


"Ya kan siapa tahu kau karena sangat bosan jadi tidak sabar untuk keluar jadi lupa mandi." Kata Kai bercanda.


"Auhhh... bocah ini menyebalkan sekali." Jawab Donghwi sambil memakan lagi camilannya.


"Kau mau makan apa?" Tanya Kai.


"Apa saja, aku kan carnivora." Jawab Donghwi.


"Baguslah kau tidak canibal!" Kata Kai bercanda sambil melihat lemari es nya.


"Kalau aku canibal, kaulah yang paling pertama ku makan tahu!" Jawab Donghwi agak kesal.


"Hei... daritadi kau bercanda terus, mood mu sedang bagus ya hari ini?" Donghwi bertanya karena melihat perubahan sikap Kai.


"Hah? apa iya?" Tanya Kai balik.


"Itu... itu... lihat wajahmu tersipu seperti itu. Woahh... kau senang dan melupakan aku ya?" Kata Donghwi menggoda Kai.


"Kau bicara apa sih? Masa iya aku lupa padamu? Kau yang sibuk sekali hari ini tahu!" Kata Kai.


"Yasudah... yasudah ayo ceritakan semuanya dong!" Kata Donghwi.


"Iya... iya aku ceritakan, tapi kita pesan makan malam saja ya. Kau mau pesan apa?" Tanya Kai sambil melihat ponselnya.


"Ayam goreng, pizza juga boleh." Jawab Donghwi.


"Oke, soju dan bir masih ada di lemari es jadi pesan makanannya saja." Kata Kai.


"Ahhh aku sangat senang berada disini!" Kata Donghwi sambil menggosok-gosok sofa Kai.


"Hei... hei... tanganmu kotor tahu!" Kata Kai menegur Donghwi.


"Astaga... astaga... fuhhh... fuhh..." Donghwi meniup-niup sofa itu.


"Ihhh... awas liurmu!" Kata Kai lagi.


"Hahahahaha..." Donghwi hanya tertawa sambil melihat Kai.


Kai dan Donghwi bermain video game bersama...


*Tririring... tririring...* Bel berbunyi.


"Sepertinya itu pesanan makanan kita." Kata Kai.


"Ohhh... biar aku yang mengambilnya." Kata Donghwi sambil bergegas menuju pintu.


"Terimakasih pak." Kata Donghwi pada pengantar makanan.


"Tunggu ku bir dan piringnya." Kata Kai meletakan stick nya lalu mencuci tangannya.



"Wahhh.... baunya enak sekali!" Kata Donghwi yang tangannya akan mengambil pizza.


"Hei... hei... cuci tanganmu dulu, dasar jorok!" Kata Kai pada Donghwi.


"Aishh... iya... iya..." Kata Donghwi menuju washtafel.


"Memang kau sudah cuci tangan?" Tanya Donghwi.


"Sudahlah tadi sebelum mengambil bir dan piring." Kata Kai.


"Woahh... mantan trainee memang hidup teratur ya." Kata Donghwi sambil mencuci tangannya.


"Bukan seperti itu, menjaga kebersihan itu penting tahu! Apalagi saat kita mau makan. Berbahaya jika makanan yang masuk ke tubuh kita kotor." Kata Kai menjelaskan.


"Baik pak..." Kata Donghwi sambil mengambil sepotong pizza.


"Ohh iya, ayo ceritakan apa yang terjadi kemarin?" Lanjut Donghwi sambil mengunyah pizza.


"Pokoknya di hari aku harus bertemu Taegyeong itu hari yang sangat panjang, banyak sekali hal yang terjadi." Jawab Kai.


"Jadi di sore hari sebelum pergi menemui Taegyeong Karin datang kesini dan membujukku lagi..."


Kai pun menceritakan kejadian di hari itu dan Donghwi mendengarkan dengan sangat antusias...


"Woahh... gila! lalu bagaimana memar perutmu sudah sembuh?" Tanya Donghwi.


"Sudah karena Dohwan hyeong sudah memberiku krim pereda memar." Jawab Donghwi.


"Lalu malam itu ketika aku akan pergi ke rumah Dohwan hyeong, aku bertemu dengan Minna di minimarket tempatnya bekerja..." Kai menceritakan kejadian di minimarket.


"Lalu Minna tidak apa-apa?" Tanya Donghwi.


"Aku membuat tali tanda pengenalnya putus karena menarik bapak itu dan ternyata bapak itu menarik tanda pengenal Minna, ya pada akhirnya leher Minna lecet." Jawab Kai.


"Aku baru menyadarinya keesokan harinya saat sedang mengerjakan tugas di perpustakaan, kau tahu hal kacau apa yang terjadi di perpustakaan hari itu?" Kai melanjutkan ceritanya.


"Apa? Kenapa?" Tanya Donghwi penasaran.


"Karin datang dan mengamuk seperti orang gila!" Jawab Kai sambil meminum bir kalengnya.


"Astaga wanita itu sudah gila, dia membuat keributan di perpustakaan?" Tanya Donghwi meyakinkan.


"Iya, akhirnya Minna sangat marah padaku. Aku bilang pada Karin kalau Minna pacarku." Jawab Kai.


"Uhukk... uhuk... Apa? Kau gila ya? Bagaimana kalau Minna malah menjadi incaran Karin?" Donghwi tersedak mendengar cerita Kai.


"Malah aku melakukan itu supaya Karin tidak mengganggunya lagi, apa menurutmu tindakanku salah?" Kai bertanya serius pada Donghwi.


"Kalau dilihat dari sifatnya, Karin itu tidak akan menyerah begitu saja. Dia pasti akan melakukan segala cara untuk balas dendam, kalau dia tidak melakukan sesuatu padamu pasti pada Minna." Jawab Donghwi.


"Aku sangat panik saat itu, aku tidak berpikir panjang. Karena itulah aku mengatakan pada Minna bahwa aku akan melindunginya sampai masalahku dengan Karin selesai." Kata Kai.


"Ya kalau seperti itu, karena kau sudah memasukkan Minna dalam urusanmu kau benar-benar harus bertanggung jawab dan menjaga Minna dengan baik. Karin itu perempuan nekat, dia pasti melakukan cara apapun untuk membuatmu merasa bersalah padanya." Kata Donghwi.


"Ya karena itulah aku gila memikirkan ini, apa yang harus aku lakukan untuk melindungi Minna? Jika aku mengawasinya aku bisa saja di cap sebagai stalker tapi jika aku membiarkannya aku takut Karin mencarinya lalu berbuat macam-macam padanya." Kai mulai bingung karena tidak memiliki rencana apapun.


"Ya sudah pacaran saja dengan Minna." Jawab Donghwi santai sambil meminum birnya.


"Apa? woahhh... Kau mulai mabuk ya? mana bisa dengan mudah begitu pacaran dengan seorang Shim Minna yang setegar batu karang itu?" Kata Kai.


"Kau tidak percaya diri ya Minna akan menyukaimu?" Tanya Donghwi menggoda Kai.


"Kau tidak lihat bagaimana dinginnya dia padaku? di kampus itu hanya dia perempuan yang tidak menganggap aku menarik. Mana bisa dia tiba-tiba mau jadi pacarku?" Kai menjelaskan dengan nada tinggi.


"Tenang... tenang... Minumlah dulu... Aku tahu kau mulai tertarik pada Minna kan karena dia tidak melihatmu seperti perempuan lain melihatmu? Kau jujur saja." Tanya Donghwi.


"Apa... ya... entah sejak kapan, tapi jika aku dekat dengannya jantungku berdebar dan aku terus-terusan ingat padanya akhir-akhir ini." Jawab Kai.


"Lalu?" Tanya Donghwi.


"Lalu aku tidak bisa mengalihkan pandanganku jika aku mendengar suaranya." Jawab Kai lagi.


"Setelah itu?" Tanya Donghwi lagi.


"Setelah itu aku... Hei! Kau sedang memancingku ya?!" Kai tersadar Donghwi ingin tahu isi hati Kai.


"Hahahaha... Nah ini tandanya kau sedang jatuh cinta tahu!" Jawab Donghwi sambil menepuk pundak Kai.


"Ahhh entahlah... Aku juga tidak tahu." Kata Kai lalu mengunyah ayam gorengnya.


"Kai, keadaanmu saat ini sangat berbeda saat kau bilang kau dekat dengan Karin, lalu berpacaran dengannya. Aku harap kau mengerti bagaimana perasaanmu sendiri terhadap Minna, hanya satu hal yang bisa aku pastikan perasaanmu pada Minna itu bukan sekedar tertarik atau kasihan seperti dulu pada Karin tapi kau benar-benar menyukainya bukan hanya sekedar ingin melindunginya. Coba pikirkan hal itu baik-baik." Donghwi meyakinkan Kai tentang perasaannya.


...****************...