
"Tidak, hanya saja aku sangat senang bisa mengobrol seperti ini denganmu. Aku kira kau itu sangat cuek dan sangat tidak suka padaku, aku hanya tidak menyangka bisa tertawa bersamamu seperti ini." Kata Kai sambil tersenyum.
"Uhuk... uhuk... uhuk..." Minna tersedak mendengar perkataan Kai.
"Hei pelan-pelan, ini minumlah dulu." Kata Kai panik sambil memberikan botol minum yang sudah dibukanya.
"Terimakasih." Kata Minna agak serak lalu minum.
<"Orang ini mengatakan apa sih? Membuat aku berdebar saja."> Kata Minna dalam hati sambil minum.
"Maaf... Maaf... Aku hanya kaget dengan apa yang kau katakan tadi." Kata Minna.
"Apa aku kebanyakan bicara hari ini?" Tanya Minna pada Kai.
"Ahh... Tidak bukan begitu, aku benar-benar senang dan suka mendengar ceritamu, mengobrol denganmu, tertawa denganmu bahkan makan bersama denganmu seperti ini padahal kita dalam situasi yang cukup tegang tadi. Melihatmu bisa tersenyum setelah kau sangat panik tadi membuat aku lega." Kata Kai menjelaskan.
"Aku juga senang mengobrol denganmu. Waktu itu mungkin aku terlalu cepat menilaimu jadi aku bersikap buruk dan marah padamu, tapi setelah mengobrol denganmu seperti ini aku jadi tahu bagaimana dirimu yang sebenarnya." Jawab Minna.
"Tolong jangan menjauh dariku." Kata Kai tiba-tiba.
...****************...
...#36...
...Aku Sudah Gila...
"Ya?" Tanya Minna bingung.
"Jangan jauhi aku, jangan lakukan yang pernah kau katakan waktu itu padaku." Kata Kai menjelaskan.
"Ahh.. Kejadian seonbae itu? Bukankah aku sudah menjelaskan padamu kalau waktu itu aku terbawa emosi dan tidak mengerti situasinya?" Kata Minna.
"Iya kau sudah menjelaskannya tapi aku tetap merasa kalau kau membuat batasan denganku." Kai menjelaskan perasaannya.
"Tentu saja tidak, buktinya aku tetap berteman denganmu, mau mengobrol dengamu, bahkan meminta tolong padamu tadi sore." Jawab Minna sambil tersenyum.
<"Ah...Hanya teman ya..."> Kata Kai dalam hati.
Kai membalas perkataan Minna dengan senyuman.
"Sudah selesai makannya?" Tanya Kai.
"Iya aku sudah selesai." Jawab Minna.
"Yasudah, ayo kita kembali ke dalam." Kata Kai sambil berdiri lalu membereskan kotak makan.
"Ehh... tidak usah biar aku saja yang merapikannya." Kata Minna.
"Tidak apa-apa biar aku saja." Kata Kai.
*Brukkk....* Salah satu botol minum jatuh dan menggelinding.
Kai dan Minna mengejar botol itu lalu...
"Dapat!" Kata mereka bersamaan dan tangan mereka saling bersentuhan.
"Ahh... Maaf!" Kata Minna langsung mengangkat tangannya lalu berdiri.
"Kenapa kau minta maaf? Hahaha..." Kai tertawa melihat ekspresi Minna.
"Maksudnya maaf aku sudah menjatuhkannya." Kata Minna.
"Tidak apa-apa lagipula tidak sengaja kok." Kata Kai.
"Iya." Kata Minna sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
<"Lagi-lagi aku berdebar, dasar Minna bodoh!"> Kata Minna dalam hati.
"Ayo kita masuk, udaranya semakin dingin. Rasanya hidungku akan beku." Kata Kai.
"Haha... Ayo." Kata Minna sambil berjalan mengikuti Kai.
Mereka pun berjalan santai bersama menuju ke dalam rumah sakit sambil berbincang-bincang.
"Apa kau sudah lama tinggal sendirian?" Tanya Minna.
"Hampir setengah hidup yang kujalani sekarang ini aku tinggal sendirian." Jawab Kai.
"Benarkah?" Tanya Minna meyakinkan.
"Iya, aku keluar dari rumah orang tuaku sejak umur 10 tahun." Jawab Kai.
"Se... sepuluh tahun?" Minna kaget.
"Umur segitu aku masih disuapi ibuku." Lanjut Minna.
"Hahaha... Yang normal kan memang begitu. Tapi tidak berlaku untukku. Aku kursus vocal dan tari selama 2 tahun kemudian trainee dengan salah satu entertaiment manajemen tapi akhirnya aku keluar." Jawab Kai.
"Kau keluar sendiri?" Tanya Minna lagi.
"Iya, setelah aku menjalani semuanya selama kurang-lebih 10 tahun aku merasa menjadi idol bukanlah hal yang aku inginkan." Jawab Kai.
"Lalu kenapa kau melakukannya jika sebenarnya kau tidak ingin?" Tanya Minna.
"Hahhhh.... Entahlah, aku melakukannya untuk menghindari sesuatu tapi menjadikan aku harus menghadapi sesuatu yang lain. Pengecut sekali kan aku hidup hanya untuk menghindar." Kata Kai sambil menghela nafas.
"Tidak juga, terkadang lebih baik kita menghindari sesuatu daripada menghadapinya dengan ragu dan hasilnya malah kacau." Kata Minna.
"Kau benar." Jawab Kai dengan senyuman tipis.
"Aku yakin kau tidak menghindarinya tanpa rencana untuk menghadapinya, ya... Anggap saja kau hanya menundanya dan menunggu waktu tepat untuk menghadapinya." Minna menjelaskan lagi.
Kai tiba-tiba berhenti dan menghadap kearah Minna...
"Kenapa kau tiba-tiba berhenti dan melihatku seperti itu?" Tanya Minna.
"Aku hanya... Aku merasa kau paling mengerti perasaan dan keadaanku, padahal kita baru mengobrol sebentar saja." Jawab Kai dengan mata berkaca-kaca.
"Itulah gunanya teman, aku akan mendengar ceritamu jika kau sedang membutuhkan teman untuk bercerita." Kata Minna.
"Terimakasih ya Minna. Aku sangat beruntung bertemu dan mengenalmu." Kata Kai sambil memegang tangan kiri Minna dengan kedua tangannya.
Minna terdiam melihat wajah Kai.
Kai juga terdiam memperhatikan Minna.
<"Kenapa dia mengatakan hal yang sangat kuperlukan? Dia mengerti perasaanku seperti sudah mengenalku sangat lama. Tidak hanya cantik dan cerdas, dia juga sudah membuatku gila."> Kata Kai dalam hati.
"Ehemmm... Ayo kita masuk." Kata Minna sambil agak menarik tangannya dari genggaman Kai.
"Ohh... I...iya, ayo." Kata Kai yang baru sadar dengan perbuatannya tadi.
<"Ahhh... aku benar-benar sudah gila! Kenapa aku tiba-tiba menggenggam tangannya seperti itu sih?!"> Kata Kai dalam hati.
"Aku ke toilet dulu ya, kau duluan saja ke ruangan inap." Kata Minna pada Kai.
"Ohh.. Iya baiklah." Jawab Kai.
Mereka pun mengambil jalan masing-masing.
....
"Ahhh... Kau sudah gila ya Minna?! Kenapa kau bisa berpikir yang tidak-tidak seperti itu? Sejak kapan kau menilai seseorang dari tampangnya?" Kata Minna sambil terus membasuh wajahnya dengan air kran.
"Kenapa jantungku berdebar, wajahku memerah seperti kepiting rebus? Diluar gelap kan? Dia tidak bisa melihat wajahku dengan jelas kan?" Kata Minna panik berbicara di depan cermin.
....
*Bruaaakkk...* Kai mendorong pintu dengan kuat lalu masuk ke ruangan rawat Dohwan.
"Hei! Kau sudah gila ya pelan-pelan dong bagaimana kalau hyeong bangun? Aneh-aneh saja!" Kata Donghwi kesal.
"Aku memang sudah gila Donghwi!" Kata Kai pada Donghwi.
"Apaan sih?" Tanya Donghwi bingung.
"Aku memang sudah gila, benar-benar gila dan sangat gila. Aku tergila-gila pada Minna." Kata Kai dengan tatapan kosong.
"Bocah ini ngomong apa sih?" Donghwi benar-benar bingung dan agak kesal pada Kai.
"Ohh iya, mana Minna? Kenapa kau masuk sendiri?" Tanya Donghwi lagi.
"Ke toilet." Jawab Kai singkat sambil menyodorkan kantong kotak bekal yang kosong.
"Hei sadarkan dirimu bodoh! Jangan bengong seperti itu nanti kau kesurupan tahu!" Kata Donghwi sambil memukul bahu Kai lalu menaruh apa yang diberikan Kai.
"Awww... Apaan sih sakit tahu!" Kata Kai pada Donghwi.
"Hei, kau ga bawa helm tambahan kan?" Tanya Kai tiba-tiba.
"Aku? Tidak, aku hanya bawa satu." Jawab Donghwi.
"Ahhh... Kau memang temanku, benar-benar temanku." Kata Kai sambil memeluk Donghwi.
"Ihh apaan sih, geli tahu! Pelankan suaramu!" Kata Donghwi melepaskan pelukan Kai.
"Ada apa sih?" Tanya Donghwi yang benar-benar bingung dengan sikap Kai.
"Aku mau mengantar Minna pulang ya, kau jaga dulu Dohwan hyeong sebentar." Kata Kai.
"Lalu kenapa tanya helm ku?" Tanya Donghwi bingung.
"Minna bilang tidak mau merepotkanku karena aku membantunya membawa hyeong kesini jadi dia mau kau yang mengantarnya pulang dengan motormu, tapi karena kau tidak bawa dua helm jadinya Minna pulang denganku." Kata Kai setengah berbisik dengan nada girang.
"Ya... Ya... Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan ya." Kata Donghwi kesal melihat tingkah laku Kai.
Minna pun mengetuk pintu kamar rawat itu lalu masuk.
"Donghwi maaf ya kami tadi makan agak lama." Kata Minna seketika masuk ruangan.
"Kenapa harus minta maaf? Makan terlalu cepat itu tidak baik untuk pencernaan tahu!" Kata Donghwi sambil bercanda.
"Hahahaha... Iya betul juga sih. Terimakasih banyak untuk makanannya ya, masakan ibumu enak sekali." Kata Minna.
"Iya sama-sama, aku senang kau suka masakan ibuku." Jawab Donghwi.
"Ini sudah malam, ayo kuantar kau pulang." Kata Kai pada Minna.
"Tapi apa kau tidak lelah mengemudi seharian? Aku naik taxi saja kalau begitu." Kata Minna.
"Jangan Minna, lebih baik kau diantar Kai saja. Aku mau mengantarmu tapi aku tidak membawa helm tambahan, aku juga tidak ada SIM untuk mengemudi." Jawab Donghwi.
"Kai apa kau baik-baik saja jika mengantarku pulang?" Tanya Minna pada Kai.
"Iya aku sungguh baik-baik saja. Jangankan mengemudi seharian, mengemudi sampai Amerika pun aku sanggup." Jawab Kai bercanda.
"Bercandalah dengan masuk akal sedikit!" Kata Donghwi kesal.
Minna hanya tertawa melihat Kai dan Donghwi.
"Yasudah ayo." Kata Kai sambil mengambil ponsel dan kunci mobilnya.
"Baiklah, aku pulang dulu ya Dongwhi. Tolong jaga oppa dengan baik ya." Kata Minna pamit.
"Iya hati-hati di jalan ya, pukul saja kepala Kai jika dia mengebut atau melakukan hal aneh." Kata Donghwi.
"Baik tuan." Kata Kai.
Minna tertawa lagi.
Mereka pun keluar menuju mobil Kai.
...
*Cekrekk... Cekrekkk... Cekrek...* Seseorang yang memotret Kai dan Minna diam-diam lagi.
"Halo bos, target pergi menggunakan mobil dengan seorang laki-laki. Aku sudah kirimkan semua fotonya." Kata seseorang menelpon dalam mobil.
"Ikuti mereka. Ingat jangan lakukan apapun jika tidak ada perintah." Kata orang di telepon.
...****************...