Back To Start

Back To Start
#53 Minna, Biarkan Aku Menggantikanmu



"Ahhh sialan! Gara-gara perempuan sialan itu aku hidup seperti buronan begini!" Kata Karin sambil membereskan barang-barangnya ke koper.


"Tutup mulutmu! Kau yang cari masalah kan? Kau sendiri yang membuat kekacauan ini gara-gara bocah bernama Kai itu! Sudah kubilang kan dekati lelaki manapun asal jangan main-main dengan anak-anak!" Kata Taegyeong.


"Tapi aku sangat menyukai dia!" Jawab Karin.


"Mau kau menyukainya atau bagaimanapun kau itu milikku! Kau mengerti kan? Aissshhh sampai kapan aku harus membereskan kekacauan yang kau buat hah?" Taegyeong kesal.


"Oppa~ Maafkan aku. Aku paling cinta oppa." Kata Karin merayu Taegyeong sambil merangkul tangannya.


Taegyeong dan Karin pun berciuman.


"Benar, lakukan saja apapun yang membuatmu bahagia Karin. Selama kau disisiku dan bergantung padaku aku akan memberesekan semuanya untukmu apapun itu!" Kata Taegyeong dalam hati.


...****************...


...#53...


...Minna, Biarkan Aku Menggantikanmu...



"Kenapa disini tidak ada orang?" Tanya Minna sambil terus menangis.


"Jihyun, Kai, Yeora, Donghwi, kalian ada dimana? Kenapa kalian tidak ada disini?" Tanya Minna lagi sambil melihat sekelilingnya.


"Tempat apa ini?! Siapapun tolong jawablah aku tempat ini aneh sekali ini bukan di bumi kan? Surga tidak mungkin segelap ini neraka juga tidak mungkin sesejuk ini! Tolong jawablah!" Teriak Minna semakin kencang.


"Kenapa tidak ada yang menjawabku?!" Kata Minna kesal.


"Aku rindu ibu, teman-temanku juga..." Minna menangis sambil berjongkok.


....



"Jihyun bangun..." Kata Donghwi.


"Hmmm... Ya aku bangun. Giliran aku jaga kan?" Jawab Jihyun sambil duduk dengan mata tertutup.


"Ini sudah pukul tujuh cepat bangun dan mandi." Jawab Donghwi.


"Apa? Kenapa? Hei kenapa kau tidak membangunkanku untuk berjaga?" Jihyun kaget dan langsung membuka matanya.


"Kau sangat nyenyak dan terlihat lelah aku tidak tega membangunkanmu tahu!" Jawab Donghwi.


"Tetap saja harusnya kau bangunkan aku, aku kan sudah berjanji dan aku yang menyarankan untuk jaga bergantian." Kata Jihyun.


"Sudahlah lupakan saja, lagipula ini sudah pagi ayo kita sarapan saja." Jawab Donghwi.


"Ahhh aku kesal sekali! Hei bukan aku saja yang lelah kau juga harus istirahat lagipula jika kita bergantian kita bisa sama-sama beristirahat kan?" Kata Jihyun.


"Aku bisa tidur sekarang kan? Sudahlah lebih baik kita sarapan dulu saja sekarang." Jawab Donghwi.


"Ohhh... Apa Minna siuman?" Tanya Jihyun.


"Ahhh... Belum, bahkan belum ada tanda kesadarannya meningkat." Jawab Donghwi sambil menghela nafas.


"Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?" Kata Jihyun cemas.


"Lebih baik kita tunggu Kai bangun lalu hubungi keluarganya, siapa tahu dengan datangnya keluarga Minna ia akan segera sadar." Kata Donghwi.


"Iya baiklah." Jawab Jihyun.


"Yasudah kau tunggu disini ya biar aku beli sarapan keluar." Kata Donghwi.


"Biar aku saja, kau pasti lelah kau istirahat saja disini ya aku belikan untuk Kai juga." Kata Jihyun.


"Baiklah." Jawab Donghwi.


"Oh, belikan aku jahe merah instan juga ya." Lanjut Donghwi.


"Oke." Jawab Jihyun lalu bergi keluar.


"Ahhh s Kai itu sudah bangun belum sih?" Kata Donghwi sambil berjalan menuju ruang rawat.


Donghwi menghentikan langkahnya ketika melihat Kai sedang menggenggam tangan Minna.


"Minna, kumohon bangunlah. Kenapa kau tidak bangun? Apa kau marah padaku? Bukalah matamu lalu marahlah padaku, jangan tidur terlalu lama." Kata Kai dengan lembut.


"Kai..." Panggil Donghwi pelan-pelan.


"Donghwi, ini salahku kan? Aku terlalu lama menemukannya kan? Harusnya datang lebih cepat kan? Aku ini payah sekali aku...aku payah tidak cepat-cepat mencarinya kan?" Kata Kai pada Donghwi sambil menangis.


"Kai, tenanglah. Kumohon jangan begini! Sadarkanlah dirimu." Kata Donghwi menghampiri Kai.


"Ini salahku, harusnya aku saja yang sakit seperti ini Minna tidak boleh! Minna bangunlah Minna, jangan diam saja cepat marahlah padaku! Aku salah sudah membiarkanmu pergi sendiri!" Kata Kai semakin histeris.


"Kai sadarlah!" Kata Donghwi.


"Kai! Kau tidak boleh begini!" Kata Donghwi membentak Kai.


"Tapi Minna..." Kata Kai.


"Hei! Lihat aku! Cepat lihat aku Kai!" Kata Donghwi kesal sambil memegang kerah baju Kai.


Kai melihat Donghwi dengan mata yang dipenuhi air mata.


"Kau pikir jika kau seperti ini Minna akan bangun hah? Kau pikir jika kau menyalahkan dirimu terus waktu akan kembali? Lihat aku!" Donghwi terus menatap Kai dengan tajam bahkan menegur Kai ketika Kai mulai mengalihkan pandangannya dari Donghwi.


"Dengarkan aku, sekarang pulihkan dirimu, jangan pikirkan hal lainnya! Jika kau pulih kita cari bajingan yang membuat Minna seperti ini. Kau mengerti?" Kata Donghwi dengan tegas.


"Hei! Apa-apaan kau ini?" Kata Jihyun kaget lalu mencoba melepaskan tangan Donghwi dari baju Kai.


Donghwi pun melepaskan tangannya dan Kai pun kembali dudu dengan lemas.


"Ada apa kenapa kau menarik baju Kai seperti itu?" Tanya Jihyun pada Donghwi.


"Maaf, aku hanya sedikit menyadarkannya saja karena dia meracau seperti orang tidak waras." Kata Donghwi sambil perlahan menyandarkan tubuhnya ke tembok.


"Harusnya kau bisa menjaga emosimu, kau kan bisa bicara saja tidak perlu mencengkram bajunya seperti itu!" Tegur Jihyun.


"Maafkan aku." Kata Donghwi menyesal.


"Kai apa kau terluka? Mau kupanggilkan dokter?" Tanya Jihyun pada Kai.


"Tidak, aku tidak apa-apa. Aku memang salah tadi." Jawab Kai.


"Aku tahu kita semua sedang dalam keadaan yang tidak baik tapi aku mohon jagalah emosi kalian. Kau juga Kai, tolonglah bersikap realistis dan tenang menyalahkan dirimu tidak akan menyelesaikan masalah ini." Kata Jihyun sambil memegang bahu Kai.


"Maafkan aku." Kata Kai sambil menundukkan kepalanya.


"Yasudah ayo kita sarapan dulu. Kau harus makan Kai pulihkan dirimu lalu kita buat perhitungan dengan orang yang membuat Minna seperti ini." Kata Jihyun.


"Ayo kita makan." Kata Donghwi sambil membantu Kai berdiri lalu membantu mendorong tiang infus Kai.


Mereka bertiga pun keluar dari ruang rawat dan sarapan bersama.


"Sepertinya kita harus segera menghubungi keluarga Minna." Kata Kai sambil menatap makanannya.


"Iya kita harus menghubungi mereka, tapi kau harus makan dulu jangan hanya ditatap seperti itu." Kata Donghwi.


"Apa kalian sudah dapat nomor teleponnya?" Tanya Kai.


"Iya sudah. Kau tenang saja, yang perlu kita lakukan sekarang adalah menyusun kata-kata untuk memberitahu mereka." Jawab Jihyun.


"Baiklah. Terimakasih." Kata Kai.


"Terimakasih apanya sih? Sudah makan dulu, kalau kau tidak makan kami tidak akan membiarkanmu berbicara dengan keluarga Minna!" Kata Donghwi.


"Baiklah, aku akan makan." Jawab Kai.


Kai pun memakan makanannya walau sangat lambat.


....


"Oppa bangun..." Kata Karin membangunkan Taegyeong.


"Hmmm... Kenapa? Aku masih mengantuk." Kata Taegyeong sambil memeluk Karin.


"Oppa aku harus siap-siap untuk pergi." Kata Karin sambil mencoba membangunkan Taegyeong lagi.


"Oh iya sial aku lupa, kau harus pergi ya." Kata Taegyeong sambil menutup mata.


"Oppa lepaskan aku dulu." Kata Karin terus memberontak.


"Ahhhh... Aku tidak mau melepaskanmu!" Kata Taegyeong sambil terus bertahan memeluk Karin.


"Oh... Kau mau main-main denganku ya?" Kata Karin sambil mengelitiki Taegyeong.


"Hei! Hei! Geli! Cepat hentikan! Aku tidak pakai baju tahu!" Kata Taegyeong sambil menahan tangan Karin yanh mengelitikinya.


"Makanya jangan main-main denganku!" Kata Karin.


"Lima menit saja seperti ini, nanti kita akan lama tidak bertemu aku tidak bisa menciummu, tidak bisa memlukmu, tidak bisa melihatmu." Kata Taegyeong memeluk Karin dengan erat.


"Kau akan merindukan aku?" Tanya Karin menggoda Taegyeong.


"Akan sangat." Jawab Taegyeong.


"Benarkah? Bagaimana kalau aku bertemu laki-laki tampan disana?" Tanya Karin.


"Lakukan yang membuatmu bahagia, tapi jangan membuat masalah lagi." Kata Taegyeong.


"Terimakasih oppa." Karin mencium Taegyeong.


...****************...