
Kai memberi isyarat pada Donghwi untuk masuk.
"Bagaimana keadaan hyeong?" Kata Donghwi sambil masuk ke dalam ruangan.
"Dia baik-baik saja, hanya perlu istirahat beberapa hari saja." Jawab Kai.
"Ohhh begitu. Ini ibuku membungkuskan makanan untuk kalian. Kalian makan ya, aku sudah makan dirumah tadi." Kata Donghwi sambil memberikan bungkusan makanannya.
"Wahhh... Kenapa ibumu repot-repot sekali? Sampaikan terimakasih padanya ya." Kata Kai.
"Maaf ya Donghwi kami merepotkanmu dan ibumu." Kata Minna.
"Tidak kok, ibuku kebetulan masak lebih hari ini dan ketika aku bilang aku akan siap-siap ke rumah sakit dia menyiapkan makanan itu." Jawab Donghwi.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita makan dulu Minna." Ajak Kai pada Minna.
"Iya Kai. Sampaikan terimakasih untuk ibumu ya Donghwi." Kata Minna.
"Iya nanti akan kusampaikan. Kalian makan saja dulu, ini sudah terlambat untuk makan malam." Kata Donghwi.
Minna dan Kai pun pergi keluar untuk makan.
...****************...
...#35...
...Rare Momment...
"Minna, mau makan di taman saja?" Tanya Kai.
"Boleh cukup suntuk juga makan didalam." Kata Minna.
"Yasudah ayo kita pergi." Kata Kai.
Mereka pun pergi menuju taman bersama.
"Mau duduk disini?" Tanya Kai pada Minna.
Minna mengangguk.
Kai pun mengelap bangku yang agak basah karena hujan tadi.
"Nah... Duduklah." Kata Kai.
"Terimakasih." Kata Minna lalu duduk.
"Bagus sekali ya pemandangannya." Kata Minna sambil melihat sekitar.
"Rumah sakit memang dianjurkan untuk memiliki pemandangan indah dan taman yang nyaman seperti ini, supaya pasien bisa jalan-jalan sambil melepaskan jenuhnya selama di ruang rawat." Kata Kai.
"Ohh begitu ya, pantas saja taman rumah sakit selalu luas dan indah." Kata Minna.
"Ehh... ayo kita makan." Kata Kai sambil membuka kotak makan.
Mereka pun makan bersama sambil melihat pemandangan.
"Hmmm... masakan ibunya Donghwi sangat enak ya." Kata Minna tiba-tiba.
"Iya, ibu Donghwi itu dulu adalah chef di salah satu hotel bintang 5, tapi karena sudah tua beliau berhenti dari pekerjaannya." Jawab Kai.
"Serius? Woahhh hebat sekali, pantas saja masakannya sangat enak." Kata Minna.
"Hmmm... Lain kali ayo kita mampir ke rumah Donghwi untuk berterimakasih." Ajak Kai.
"Benarkah? Ayo kita kesana bawakan sedikit camilan untuknya." Kata Minna antusias.
"Iya baiklah, ayo kita pergi." Kata Kai.
<"Ternyata Minna orang yang hangat dan baik hati. Aku senang sekali melihat sisi lain dari dirinya ini."> Kata Kai dalam hati sambil melihat Minna.
"Kenapa? Ada yang menempel ya di wajahku?" Minna bertanya karena melihat Kai sedang menatapnya.
"Bukan, ternyata kau sangat perhatian." Kata Kai masih setengah sadar.
"Ya?" Minna bingung dengan apa yang dikatakan Kai.
"Ahh... Tidak bukan apa-apa Minna." Jawab Kai yang tiba-tiba tersadar.
"Apa ada sesuatu di wajahku?" Tanya Minna lagi.
"Tidak kok, tidak ada apa-apa. Ayo lanjutkan lagi makannya." Kata Kai.
"Iya." Jawab Minna sambil melanjutkan makannya lagi.
"Sudah lama sekali aku tidak makan diluar dengan pemandangan seperti ini." Kata Kai sambil melihat pemandangan sekitarnya.
"Aku biasa makan diatap apartemen, tapi jika hanya sendiri rasanya kurang enak." Kata Minna.
"Ohhh atap di apartemenmu bebas di pakai ya?" Tanya Kai.
"Kami?" Tanya Kai.
"Aku, Jihyun dan Yeora." Jawab Minna.
"Menyenangkan sekali. Kalian pasti sangat dekat ya?" Kata Kai.
"Ya begitulah, mereka adalah teman yang paling dekat denganku semenjak aku pindah Seoul. Ahh... sebenarnya Dohwan oppa lebih dahulu, tapi karena dia adalah laki-laki jadi aku kurang nyaman untuk dekat dengannya seperti dengan Jihyun dan Yeora." Jawab Minna.
"Kau tidak ada perasaan seperti tertarik atau suka pada Dohwan hyeong? Maksudku seperti ingin berpacaran?" Tanya Kai dengan ragu-ragu sehingga pertanyaannya berbelit-belit.
"Ahhhaha... Tentu saja tidak, aku menganggapnya seperti oppaku tidak mungkin ada perasaan seperti ingin berpacaran dengannya." Jawab Minna sambil sedikit tertawa.
"Syukurlah." Kai bergumam sangat pelan.
"Kenapa?" Tanya Minna karena kurang mendengar ucapan Kai.
"Tidak apa-apa kok." Kata Kai sambil menyumpit makanannya.
....
*Cekrek... cekrek...* Ada orang yang sedang memotret Minna dan Kai sembunyi-sembunyi.
....
"Apa kau sudah lama berteman dengan Dohwan oppa?" Tanya Minna pada Kai.
"Ya lumayan lama, aku kenal dengannya dari Sera nunna." Jawab Kai.
"Benarkah?" Tanya Minna memastikan.
"Iya, jadi kami itu berteman sejak kecil karena ibu kami adalah teman dari SMA. Nah, Dohwan hyeong itu mantan pacar Sera nunna, mereka berpacaran ketika SMA." Jawab Kai.
"Serius? Sera eonni petugas petugas perpustakaan?" Tanya Minna memastikan.
"Iya benar Baek Sera. Awalnya Dohwan hyeong itu selalu cemburu padaku karena Sera nunna sangat perhatian padaku, bahkan pernah ada kejadian saat hyeong sedang bermain dengan temannya dan mengalami kecelakaan motor Sera nunna malah menjagaku di rumah sakit karena aku demam dan tidak mengurus Dohwan hyeong." Kata Kai.
"Woah... Tentu saja jika aku Dohwan oppa aku juga akan marah." Kata Minna menanggapi.
"Aku sudah menyuruh nunna untuk pergi menengoknya, tapi kau tahu apa yang dikatakan oleh nunna?" Kata Kai.
"Apa?" Tanya Minna pernasaran.
"Begini: 'Biarkan saja, dia kan seperti itu dengan temannya. Jadi biarkan saja teman-temannya itu yang mengurusnya.' Dia bilang seperti itu padaku." Kata Kai memperagakan kalimat Sera.
Minna tertawa...
"Ternyata saat itu nunna mengajak Dohwan hyeong untuk menjengukku sebentar, tapi hyeong malah main balapan motor dengan teman-temannya dan berbohong pada Sera nunna bahwa dia ada tugas kelompok." Kai menjelaskan.
"Astaga! Hahaha... Pasti Sera eonni sangat kesal pada waktu itu. Aku juga sangat tidak suka pada laki-laki yang suka mencari alasan dan berbohong." Kata Minna sambil menyuap makanannya.
"Semua orang pasti tidak suka dibohongi, apalagi oleh orang yang sangat dia percayai." Kata Kai.
Mendengar perkataan Kai, Minna langsung menatap Kai sambil mengunyah makanannya.
"Ada apa?" Kata Kai menoleh ke belakang dan sekitarnya.
"Ahh... Tidak ada apa-apa. Kukira tadi ada yang lewat." Kata Minna.
"Apa sih? Jangan bicara yang aneh Minna, tempat ini sangat sepi dan sudah malam." Kata Kai sambil melihat-lihat sekitarnya seperti ketakutan.
"Hahahaha... Jangan bilang kau takut pada hantu?" Tanya Minna sambil tertawa puas.
"Enak saja! Aku bukan takut tahu tapi waspada." Kata Kai mencoba mengelak sambil menyumpit makanannya.
Minna tertawa puas dengan tidak sadar...
"Kenapa kau tiba-tiba tersenyum seperti itu? Padahal barusan raut wajahmu seperti orang ketakutan." Kata Minna melihat Kai tersenyum sambil mengunyah makanannya.
"Tidak, hanya saja aku sangat senang bisa mengobrol seperti ini denganmu. Aku kira kau itu sangat cuek dan sangat tidak suka padaku, aku hanya tidak menyangka bisa tertawa bersamamu seperti ini." Kata Kai sambil tersenyum.
"Uhuk... uhuk... uhuk..." Minna tersedak mendengar perkataan Kai.
"Hei pelan-pelan, ini minumlah dulu." Kata Kai panik sambil memberikan botol minum yang sudah dibukanya.
"Terimakasih." Kata Minna agak serak lalu minum.
<"Orang ini mengatakan apa sih? Membuat aku berdebar saja."> Kata Minna dalam hati sambil minum.
"Maaf... Maaf... Aku hanya kaget dengan apa yang kau katakan tadi." Kata Minna.
"Apa aku kebanyakan bicara hari ini?" Tanya Minna pada Kai.
"Ahh... Tidak bukan begitu, aku benar-benar senang dan suka mendengar ceritamu, mengobrol denganmu, tertawa denganmu bahkan makan bersama denganmu seperti ini padahal kita dalam situasi yang cukup tegang tadi. Melihatmu bisa tersenyum setelah kau sangat panik tadi membuat aku lega." Kata Kai menjelaskan.
"Aku juga senang mengobrol denganmu. Waktu itu mungkin aku terlalu cepat menilaimu jadi aku bersikap buruk dan marah padamu, tapi setelah mengobrol denganmu seperti ini aku jadi tahu bagaimana dirimu yang sebenarnya." Jawab Minna.
"Tolong jangan menjauh dariku." Kata Kai tiba-tiba.
...****************...