
"Bagaimana cara kita membalas semua yang sudah Kai berikan bahkan lakukan? Terutama aku dan Minna sih, kami kan baru saja kenal dengan kalian tapi sepertinya aku dan Minna bergantung padanya." Kata Jihyun.
"Apa yang kau bicarakan? Memangnya kau melakukan pinjaman di bank? Kai akan sangat marah jika mendengar kau mengatakan hal-hal seperti itu. Kai melakukan semuanya jika dia percaya bahwa kalian akan menjadi teman baiknya." Jawab Donghwi.
"Ya, baiklah. Aku merasa sangat beruntung mengenal Minna dan sekarang ditambah mengenal Kai, kau dan Yeora aku harap kita terus berteman seperti ini hingga tua ya." Kata Jihyun.
"Hei kenapa kau sentimental sekali malam ini sih? Tentu saja kita harus berteman selamanya." Jawab Donghwi.
"Aku benar-benar sangat takut kehilangan Minna, aku tidak tahu bagaimana jadinya jika aku tidak bisa melihatnya lagi. Minna itu seperti ibu kedua bagiku, dia menenangkan aku saat aku sedih, memberiku semangat saat aku putus asa, mengajarkan aku ketika aku tidak bisa. Bahkan ibuku saja kadang tidak mau mendengarkan pendapatku dan memarahiku jika aku tidak mendengarkannya tapi Minna benar-benar seperti seorang malaikat yang mengenal diriku lebih dari diriku sendiri, begitulah artinya Minna !untukku dan sepertinya posisi itu tidak bisa digantikan oleh siapapun." Kata Jihyun sambil mengingat Minna.
"Aku mengerti maksudmu Jihyun, karena itu kita tidak boleh terus bersedih begini kita harus berdoa dan memberikan semangat pada Minna dan Kai juga." Jawab Donghwi.
"Hmmm... Kita harus menjaga mereka sampai mereka pulih ya." Kata Jihyun sambil mengangguk.
Donghwi pun mengangguk sambil tersenyum.
"Oh iya, bagaimana ponsel Minna? Apa kita bisa menghubungi orang tuanya?" Tanya Jihyun.
"Ohhh ini ponselnya sudah menyala, kita hanya perlu sidik jari Minna untuk membukanya tapi aku tidak yakin kapan ponsel ini akan mati karena beberapa komponen di dalamnya agak hancur." Jawab Donghwi.
"Woahhh... Kau ini jago memperbaiki barang juga ya." Kata Jihyun.
"Aku belajar dari pamanku, beliau punya semacam pabrik service barang elektronik jadi saat masih SMA aku sering menginap dirumahnya dan beliau mengajarkanku sedikit cara memperbaiki ponsel." Jawab Donghwi.
"Ohh... Pantas saja kau memperbaiki ini. Yasudah kita coba dulu buka kunci ponsel ini lalu simpan nomor keluarganya di ponselku." Kata Jihyun.
"Ahhh... Benar juga, kenapa hal itu tidak terpikir olehku ya?" Jawab Donghwi.
"Yasudah ayo kita pinjam jari Minna untuk membukanya, sebelum ponsel ini mati." Kata Jihyun.
Mereka pun masuk ke ruangan rawat Minna.
...****************...
...#52...
...Toxic Relationship...
"Apa kau bilang? Kau menyekap gadis itu dan membakar rumah itu?" Kata Taegyeong berteriak pada Karin.
"Aku kesal sekali sampai tidak sadar melakukannya." Jawab Karin lemah.
"Apa kau sudah gila? Kau sudah tidak takut pada polisi hah?" Teriak Taegyeong lagi.
"Maaf aku ti...." Karin hendak berbicara tapi di sela oleh Taegyeong.
"Tidak apa? tidak berpikir? Tidak tahu akan begini? Tidak apa? Bocah bernama Kai itu benar-benar sudah membuatmu kehilangan akal ya? Kenapa tidak celakai dia saja alih-alih mencelakai perempuan yang kau saja tidak tahu itu pacarnya apa bukan? Hahhh Karin jangan hanya cantik tapi gunakan juga otakmu dengan benar!" Kata Taegyeong kesal.
Karin menangis dan tidak bisa mengatakan apa-apa.
"Hei apa kau tahu kalau bocah itu datang kesini beberapa hari yang lalu dan mengatakan dia ingin menitipkanmu padaku? Hah... Dasar bocah gila! Apa kau masih berpikir perempuan itu pacarnya? Jelas-jelas bocah itu sangat menyukaimu sialan! Lalu kau melakukan hal buruk padanya dengan melukai perempuan itu? Bersiaplah bocah itu akan benar-benar melupakanmu sekarang." Lanjut Taegyeong sambil meminum alkoholnya.
"Taegyeong... Aku harus bagaimana?" Tanya Karin sambil menangis.
"Hah... Pergilah yang jauh! Jangan tinggalkan jejak apapun, aku akan mengabarimu jika situasi sudah tenang." Taegyeong menghela nafas panjang lalu menjawab.
"Tapi aku..." Karin hendak menjawab.
"Kenapa lagi? Kau mau tertangkap? Polisi pasti sudah mulai menyelidiki kejadian ini, jika kau masih disini kau akan masuk penjara bodoh! Kau memikirkan bocah itu lagi? Jangan mengharapkan apa-apa lagi darinya setelah apa yang sudah kau lakukan! Kau pikir mempermainkan nyawa orang seperti itu adalah hal yang biasa?" Taegyeong semakin kesal pada Karin.
"Pergilah sekarang! Jangan terlalu banyak pertimbangan, akhir-akhir ini polisi bergerak lebih cepat ahhh sialan karena polisi sekarang sangat lincah aku sampai sulit melakukan transaksi miras." lanjut Taegyeong.
"Aku harus pergi kemana?" Tanya Karin.
"Kau pikir di dunia ini hanya ada Korea? Pergilah ke Amerika, ke Afrika, ke Jepang kemana sajalah yang penting tidak di negara ini!" Jawab Taegyeong.
"Aku mau ke Jepang saja." Kata Karin.
"Yasudah aku akan mengirimkan uang ke rekeningmu, tinggal saja disana sampai aku mengabarimu untuk pulang lagi kesini ingat dan jangan membuat hal-hal yang mencurigakan. Tinggalkan ponselmu disini sekarang pakai saja ponsel sekali pakai dan jangan hubungi siapapun kecuali aku. Mengerti?" Kata Taegyeong.
Karin hanya mengangguk.
"Ahhh sialan aku lupa mereka!" Jawab Karin.
"Siapa mereka?" Tanya Taegyeong.
"Anak buahmu yang bertanggung jawab di daerah xxxx." Jawab Karin.
"Ohhh mereka, aku akan urus mereka. Kau urus saja dirimu dan beli tiket, aku akan segera mengirim anak buahku untuk menjagamu disana." Kata Taegyeong.
"Terimakasih oppa." Kata Karin lalu mencium Taegyeong.
"Ingat jangan buat masalah lain disana!" Kata Taegyeong.
....
"Sudah terbuka?" Tanya Jihyun pada Donghwi.
"Sudah." Jawab Donghwi.
"Cepat...cepat cari nomor teleponnya!" Kata Jihyun.
"Ahhh ketemu, ambil ponselmu dan ketik ini." Kata Donghwi.
"Kenapa kau tidak mengirim chat saja?" Tanya Jihyun.
"Kita butuh sidik jarinya lagi untuk membuka aplikasinya." Jawab Donghwi.
"Ohhh iya benar juga." Kata Jihyun.
"Ayo cepatlah, lihat ini layar ponselnya berkedip-kedip." Kata Donghwi.
"Iya... Iya..." Jawab Jihyun.
Jihyun pun menyalin nomor ponsel ibu dan abang Minna.
"Apa kau akan menghubunginya sekarang?" Tanya Donghwi.
"Tidak mungkin, ini sudah pukul 2 pagi, pasti mereka sudah tidur. Mereka pasti sangat terkejut jika baru bangun tidur mendengar kabar begini." Jawab Jihyun.
"Iya kau benar. Yasudah kita tunggu sampai besok pagi saja ya, lagipula akan lebih baik jika kita menunggu Kai bangun." Kata Donghwi.
"Yasudah sekarang kita tidur saja bergantian bangunkan 2 jam sekali ya." Kata Jihyun.
"Oke, kau tidur duluan saja biar aku yang jaga." Kata Donghwi.
"Baiklah, aku tidur duluan ya." Jawab Jihyun.
"Ya selamat tidur." Kata Donghwi.
Jihyun pun tidur di sofa.
....
"Ahhh sialan! Gara-gara perempuan sialan itu aku hidup seperti buronan begini!" Kata Karin sambil membereskan barang-barangnya ke koper.
"Tutup mulutmu! Kau yang cari masalah kan? Kau sendiri yang membuat kekacauan ini gara-gara bocah bernama Kai itu! Sudah kubilang kan dekati lelaki manapun asal jangan main-main dengan anak-anak!" Kata Taegyeong.
"Tapi aku sangat menyukai dia!" Jawab Karin.
"Mau kau menyukainya atau bagaimanapun kau itu milikku! Kau mengerti kan? Aissshhh sampai kapan aku harus membereskan kekacauan yang kau buat hah?" Taegyeong kesal.
"Oppa~ Maafkan aku. Aku paling cinta oppa." Kata Karin merayu Taegyeong sambil merangkul tangannya.
Taegyeong dan Karin pun berciuman.
"Benar, lakukan saja apapun yang membuatmu bahagia Karin. Selama kau disisiku dan bergantung padaku aku akan memberesekan semuanya untukmu apapun itu!" Kata Taegyeong dalam hati.
...****************...