Back To Start

Back To Start
#11 Salah Paham?




...#11...


...Salah Paham?...


[Review #10 Ada Apa Dengannya?]


"Jihyun Minna, barusan Dong Hwi menelepon katanya dia ada pertemuan club dan sangat penting, tapi dia bilang sudah mengirimkan yang sudah dia kerjakan." Kata Kai menjelaskan.


"Yasudah tidak apa-apa, apa aku boleh melihatnya?." Kata Minna.


"Ohhh tentu saja, dia mengirimnya di emailku sebentar ya aku unduh dulu." Kata Kai.


"Ini dia..." Kata Kai sambil pindah duduk di samping Minna untuk menunjukkan file nya.


"Minna lehermu terluka? Pasti gara-gara kejadian di minimarket tadi malam ya? Maafkan aku, aku menariknya terlalu kuat." Kai yang tidak sengaja melihat luka di belakang leher Minna, sangat kaget dan merasa bersalah.


"Tidak... Tidak ini tidak apa-apa kok, aku sudah mengobatinya sebentar lagi juga lecetnya hilang." Kata Minna.


"Ayo kita ke rumah sakit, supaya tidak infeksi." Ajak Kai, sambil memegang lengan Minna.


Tiba-tiba...


"Oh jadi ini perempuan yang membuatmu tidak datang kemarin?"


...****************...


"Kenapa kau bisa disini?" Tanya Kai kesal.


"Kenapa aku bisa disini? Kau menanyakan itu padaku? Cih..." Kata perempuan itu kesal.


"Jadi perempuan ini yang sudah membuatmu melupakan aku?" Lanjutnya sambil mendekat pada Minna.


"Gu Karin tolonglah, jangan buat keributan disini!" Kata Kai pada perempuan yang mendekati Minna itu.


"Anu mungkin, anda salah paham. Saya dan Kai tidak ada hubungan apa-apa." Jawab Minna.


"Seonbae* tolong jangan salah paham dulu kami ini hanya mengerjakan tugas kelompok saja." Kata Jihyun menjelaskan.


[*Seonbae: Panggilan kepada senior/orang yang lebih berpengalaman dalam bahasa korea]


"Apa kau tidak malu semua pengunjung perpustakaan melihat kita?" Kata Kai pada Karin.


"Malu? Harusnya perempuan itu yang malu karena sudah membuatmu mengabaikanku, kenapa harus aku yang malu?" Jawab Karin dengan suara keras.


"Pelankan suaramu!" Kata Kai kesal.


"Hei hoobae*ku, apa kau tidak berkaca dulu sebelum merebut Kai dariku?" Kata Karin pada Minna.


[*Hoobae: Panggilan kepada junior dalam bahasa korea]


"Saya dan Kai ti...." Minna ingin menjawab lalu di potong oleh Kai.


"Ya, ini pacar baruku. Karena itu enyahlah dari hidupku dan jangan ganggu dia lagi atau kau akan berurusan denganku!" Kai memotong omongan Minna.


"Ayo kita pergi saja dari sini, jangan hiraukan dia." Kata Kai kepada Minna dan Jihyun.


Mereka membereskan barang-barang mereka dan pergi dari perpustakaan meninggalkan Karin.


"Lihat saja Kai, kau dan perempuan itu akan menyesal membuatku seperti ini!" Karin berteriak pada mereka, tapi tidak ada yang menghiraukan.


Lalu petugas perpustakaan menghampiri Karin dan menyuruhnya untuk pergi dari perpustakaan.


....



"Maafkan aku Minna, aku menyesal melibatkanmu dalam masalahku seperti ini." Kata Kai menyesal sambil memberikan minum kepada Minna.


"Siapa sih perempuan gila itu? Keterlaluan sekali membuat keributan di tempat umum, aku baru tahu kalau ada orang cantik tapi tidak tahu malu!" Kata Jihyun kesal.


"Dia itu mantan pacarku, tapi dia masih saja mengganggu ku padahal aku sudah berkali-kali menjelaskan padanya kalau aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa lagi, tapi dia selalu memintaku untuk menemuinya, menemaninya, bahkan mengantar jemputnya walau aku sudah menolak berulang kali." Kata Kai menjelaskan.


"Minna maafkan aku, aku bilang padanya bahwa kau adalah pacarku supaya dia tidak melakukan hal-hal aneh padamu. Aku sungguh-sungguh minta maaf padamu Minna." Jawab Kai pada Minna.


"Aku memaafkanmu, tapi tolong lakukan apa yang aku minta tadi." Kata Minna.


"Ayo kita pulang Jihyun, aku harus bekerja." Lanjut Minna mengajak Jihyun pulang.


Minna merangkul Jihyun dan meninggalkan Kai. Jihyun menoleh ke arah Kai dan berkedip (maksudnya akan memberikan pengertian pada Minna).



"Minna..." Jihyun memanggil Minna sembari berjalan menuju halte bus.


"Ya?" Jawab Minna.


"Kau benar-benar marah pada Kai? dia kan tadi hanya membela kita dan khawatir seonbae itu akan berbuat apa-apa padamu." Kata Jihyun.


"Jihyun, aku tahu menurutmu sikapku keterlaluan tapi aku tidak ingin mendapatkan masalah seperti ini lagi. Aku juga tidak ingin kesalahpahaman ini merembet kemana-mana, belum lagi seonbae itu sangat tergila-gila pada Kai bagaimana kalau dia sampai melukai kita atau Kai? Aku hanya mencegah hal buruk terjadi, bukan berarti aku benar-benar tidak mau berteman dengannya." Kata Minna menjelaskan.


"Ya baiklah aku mengerti, tapi tolong jelaskan hal ini juga pada Kai. Dia pasti sangat merasa bersalah padamu." Jawab Jihyun.


"Ya nanti aku akan menjelaskannya." Kata Minna.


....



"Ahh Jihyun busku tiba, aku duluan ya hati-hati di jalan. Sampai jumpa besok." Kata Minna sambil bergegas baik ke dalam bus.


"Bye Minna, sampai jumpa besok hati-hati dijalan!" Kata Jihyun sambil melambaikan tangan.


Minna pun duduk di kursi paling belakang di dekat jendela.


Sejujurnya Minna sangat tertekan karena kejadian di perpustakaan ditambah lagi dia sangat takut untuk bekerja karena kejadian kemarin malam, tapi Minna tetap menyimpannya dalam hatinya. Tiba-tiba Minna meneteskan air mata dan mulai menangis mengingat semua kejadian yang menimpanya dan keluarganya


"Shhh... Kenapa aku meneteskan air mata?" Kata Minna dalam hati sambil mengusap air matanya, tapi air mata Minna tidak bisa berhenti.


"Kenapa sih di saat seperti ini aku tidak bisa mengendalikannya?" Minna terus mengusap air matanya, sambil menyenderkan kepalanya ke kaca bus agar tidak dilihat orang lain.


Tiba-tiba...


"Nak kau tidak apa-apa?" Tanya seorang nenek yang duduk di samping Minna.


"Ahhhh iya aku baik-baik saja halmeoni*, maaf jika aku mengganggumu." Jawab Minna pada nenek itu.


[*Halmeoni: Panggilan untuk seorang nenek dalam bahasa korea]


"Tidak sama sekali, kau tidak menggangguku nak. Aigooo*... Ini pakai sapu tangan ini untuk menyeka air matamu." Kata nenek itu sambil menyodorkan sebuah sapu tangan pada Minna.


[*Aigo: ungkapan slang korea ketika merasa kaget, kasihan, sedih atau kelelahan ungkapan ini sama dengan ya ampun/astaga untung keadaan yang malang/tragis/menyedihkan]


"Terimakasih halmeoni... Huhuhuuuu...Huhu..." Minna tidak sanggup lagi menahan tangisnya sehingga ia menerima sapu tangan itu.


"Aigo... Aigoo... Keluarkan saja jangan di tahan nak. Tidak baik menahan semuanya tanpa menangis." Kata nenek itu sambil menepuk-nepuk paha Minna.


"Terima...(hiks) kasih halmeoni (hiks)... Sudah memperhatikanku." Kata Minna sambil mencoba mengatur nafasnya.


"Bukan apa-apa nak, aku juga pernah muda sepertimu. Ketika masih muda kadang kita menahan perasaan di depan banyak orang supaya mereka menilai kita ini tegar dan dewasa, tapi tetap saja hati manusia itu punya batasan untuk menanggung emosi. Kadang kita menyesal, menyalahkan diri sendiri, merasa mampu merubah segala sesuatu jika ada kesempatan tapi kenyataannya semua hal itu tidak ada gunanya. Sebagai manusia kita hanya perlu mengikuti apa yang sudah menjadi bagian dari skenario Tuhan dalam hidup kita, mungkin sekarang kau bingung dengan apa yang orang tua ini katakan, tapi suatu saat kau akan mengerti nak." Kata nenek itu pada Minna.


Minna hanya menatap nenek itu, mencoba mencerna apa yang nenek itu katakan barusan.


Belum sempat Minna mengucapkan apapun, nenek itu sudah akan turun dari bus.


"Aigo, ini haltenya. Aku pergi dulu ya nak, aku doakan supaya masalahmu segera selesai dengan baik apapun itu." Kata nenek itu sambil tergesa-gesa ingin turun dari bus.


"Ohhh halmeoni... halmeoni... barang anda tertinggal, halmeoni..." Minna mencoba memanggil dan menghampiri nenek itu, namun bus itu penuh seketika nenek itu sudah turun dan bus sudah mulai berjalan.


"Yahhh sapu tangannya aku lupa, aku simpan saja deh siapa tahu bertemu nenek itu lagi." Kata Minna sambil memasukkan sapu tangan itu ke dalam tasnya.


...****************...