Back To Start

Back To Start
#65 Suatu Tanda untuk Minna



"Apa menurutmu begitu? Aku kan sudah membuat adiknya seperti ini apa benar dia akan merasa begitu?" Tanya Kai pada Donghwi.


"Kai Lagi-lagi kau seperti ini! Bukankah Minno hyeong sudah bilang ini semua bukan salahmu? Tolong berhentilah berpikir seperti itu Kai!" Nada Donghwi meninggi.


"Kau tidak tahu bagaimana perasaanku dan rasa bersalahku makanya kau bisa berkata seperti itu!" Jawab Kai dengan nada tinggi juga.


"Bagaimana aku dan yang lainnya tahu keadaan dan perasaanmu jika kau hanya diam tidak menceritakan apapun pada kami?!" Kata Donghwi lagi.


"Ahhhhh.... Sudahlah!" Kata Kai.


Tiba-tiba Donghwi menarik Kai ke ruang rawat Minna.


"Lihat, apa kau lihat? Minna akan sedih jika selalu menyalahkan dirimu seperti ini! Kau yang biasanya terlihat baik dan sehat tiba-tiba jadi seperti ini, apa kau pikir Minna tidak akan merasa bersalah karena sudah membuatmu seperti ini? Mana yang kau katakan akan mencari siapa dalang dari kecelakaan ini? Apa pikiranmu sudah berubah? Apa kau pikir dengan menyalahkan dirimu semua ini sudah selesai?!" Kata Donghwi sambil menunjuk Minna.


"A...aku..." Kai ingin menjawab tapi tidak tahu akan menjawab.


"Kai tolong sadarlah, ayo kita kembali pada rencana kita. Kita selesaikan semua ini dengan bekerja sama, kita dan yang lainnya akan membantumu dan Minna." Kata Donghwi meyakinkan Kai.


...****************...


...#65...


...Suatu Tanda untuk Minna...



"Halo nunna, bisakah nunna datang ke rumah sakit?" Donghwi berbicara dengan Sera di telepon.


"Oh Donghwi, ada apa?" Tanya Sera balik.


"Akan lebih baik jika kita semua berkumpul untuk berbicara dengan Kai." Kata Donghwi.


"Apa kau tadi bertengkar dengan Kai?" Tanya Sera.


"Ahh tidak kok, kami hanya berbicara terlalu serius." Kata Donghwi.


"Baiklah aku akan kesana, tunggu disana ya dan jangan bertengkar lagi." Kata Sera.


"Ya nunna." Jawab Donghwi lalu mematikan teleponnya.


Tiba-tiba Kai keluar dari ruangan rawat Minna menemui Donghwi.


"Donghwi maaf tadi aku membentakmu." Kata Kai.


"Hei, aku juga minta maaf tadi sudah berkata kasar padamu." Jawab Donghwi.


"Kau benar Donghwi, aku tidak boleh begini terus. Aku harus mulai melakukan sesuatu." Kata Kai.


"Itu yang kumaksud tadi Kai, jika kau hanya diam dan menyalahkan dirimu sendiri itu hanya membuang waktu tanpa menghasilkan apa-apa. Jika kau ingin menyelesaikan ini maka kami pasti akan membantumu, kau boleh menyesal, marah pada keadaan dan kecewa pada dirimu sendiri tapi kau harus tahu juga kapan waktunya untuk bangkit dan siapa orang di sekitarmu. Kau bisa mengandalkan aku dan yang lainnya." Kata Donghwi.


"Baiklah, aku akan bangkit sekarang demi Minna." Jawab Kai.


"Bagus, kami akan membantumu sampai akhir." Kata Donghwi.


....



"Minna..." Suara berat yang bergema memanggil Minna.


"Siapa lagi itu?! Tolong jawab aku! Apa aku sudah mati?" Tanya Minna sambil menangis kebingungan.


"Minna apa kau masih ingin hidup?" Tanya suara yang bergema itu.


"Apa itu artinya aku masih hidup?" Minna semakin bingung.


"Apa kau masih ingin hidup?" Suara itu bertanya lagi.


"Jawab aku dulu apa ini artinya aku masih hidup? Lalu aku ada dimana? Tolong beritahu aku!" Tanya Minna lagi kesal.


"Apa kau masih ingin hidup?" Suara itu menanyakan hal yang sama untuk ketiga kalinya.


"Baiklah, baiklah aku ingin hidup. Aku sangat ingin hidup! Aku rindu keluarga dan teman-temanku!" Jawab Minna tegas.


"..." Tidak ada jawaban apapun.


"Hei! Kenapa kau tidak menjawabku?" Minna menunggu jawaban tapi semuanya hening.


"Ke...kenapa tiba-tiba hening sekali." Minna ketakutan.


"Ahhhh.... Dadaku, dadaku sakit sekali!" Minna memegang dadanya yang sangat sakit sampai terduduk di tanah.



*Bip...bip...bip...bip...* Suara monitor di ruang rawat Minna.


"Apa itu Kai?" Tanya Donghwi.


"Minna!" Kai langsung berlari ke dalam ruang rawat.


Tidak lama dokter dan beberapa perawat pun datang.


"A...ada apa ini?" Donghwi panik lalu langsung ikut masuk ke dalam ruang rawat.


"Dokter, tolong dokter, apa yang terjadi dengan Minna? Kenapa tiba-tiba Minna seperti ini?" Kai bertanya dengan panik.


"Tuan Kai silahkan keluar dulu ya, kami akan menangani pasien dulu." Kata perawat.


"Kai ayo kita keluar dulu, biarkan mereka fokus memeriksa Minna." Kata Donghwi membujuk Kai.


"Dokter, detak jantung pasien sangat tidak stabil." Kata seorang perawat.


"Minna! Minna! Kau dengar aku kan?" Kai kembali berteriak.


"Tolong keluar dulu ya." Perawat meminta Kai dan Donghwi untuk keluar.


"Donghwi, Kai, ada apa ini?" Tanya Sera yang baru tiba cukup kaget dengan situasi yang ada.


"Mohon maaf tuan, nona silahkan keluar dulu." Kata perawat.


"Ayo Kai kita keluar dulu, ayo Donghwi." Kata Sera.


"Tapi nunna..." Kata Kai melihat ke arah Minna.


"Kai kau ingin Minna sembuh kan?" Tanya Sera.


"Iya nunna..." Jawab Kai.


"Ayo kita keluar, biarkan tenaga medis fokus memeriksa Minna." Kata Sera menuntun Kai keluar.


Perawat pun menutup pintu ruang rawat Minna.


Sera menuntun Kai sampai ke sofa lalu mengambilkan minum untuk Kai.


"Ini minumlah." Kata Sera menyodorkan air putih.


"Apa yang terjadi?" Tanya Sera.


"Aku dan Kai sedang mengobrol disini tadi, tiba-tiba monitor di kamar Minna berbunyi sangat kencang dan perawat serta dokter berlarian kesini." Jawab Donghwi.


"Kita harus yakin bahwa Minna baik-baik saja." Kata Sera sambil menepuk-nepuk bahu Kai.


....



"Dokter, sekarang detak jantung pasien melemah." Kata seorang perawat.


"Pantau terus saturasi oksigen pasien, jangan sampai menurun dengan cepat." Kata dokter.


"Baik dokter." Jawab perawat itu.


Beberapa menit kemudian.


"Sepertinya keadaan pasien sudah stabil dokter, kita hanya perlu memantau beberapa jam sekali." Kata perawat.


"Baiklah kalau begitu, kita hanya tinggal melaporkan keadaannya pada keluarga pasien." Kata Dokter.


Mereka semua pun keluar dari ruang rawat Minna.


Kai yang melihat dokter dan para perawat keluar langsung berlari menghampiri mereka.


"Dokter, bagaimana keadaan Minna? Dia baik-baik saja kan?" Tanya Kai panik.


"Keadaan pasien sudah cukup stabil sekarang, kita hanya perlu memantaunya beberapa jam sekali untuk melihat perkembangannya." Jawab Dokter.


"Ah... Syukurlah." Kai yang tegang merasa agak tenang.


"Sebenarnya apa yang terjadi dokter?" Tanya Sera.


"Hal ini memang jarang terjadi tapi termasuk hal yang normal dimana pasien yang mengalami koma tiba-tiba merasa panik karena alam bawah sadarnya mengingat sesuatu yang membuatnya trauma, tapi hal ini juga bisa merupakan tanda bahwa pasien mengalami peningkatan kesadaran di bandingkan sebelumnya." Dokter menjelaskan.


"Jadi maksudnya, tingkat kesadaran Minna meningkat berarti kemungkinan ia siuman juga akan lebih besar kan?" Kata Donghwi.


"Boleh saja jika kita menyimpulkan seperti itu, kita harus tetap berdoa dan bersabar." Jawab Dokter.


"Baiklah dokter terimakasih informasinya." Kata Sera.


"Sama-sama nona, mohon hubungi kami segera jika terjadi sesuatu ya. Tuan Kai juga, seringlah datang untuk pemeriksaan kesehatan sudah beberapa minggu anda tidak melakukan pemeriksaan." Kata dokter.


"Oh, iya hmm... Baiklah dokter." Kata Kai canggung.


"Tenang saja dokter aku akan memaksanya." Kata Donghwi.


"Baiklah, kalau begitu kami permisi dulu." Kata dokter pada mereka bertiga.


"Terimakasih dokter." Kata Donghwi.


"Ah... Jadi kau melewatkan kontrol dan pemeriksaanmu ya." Kata Sera dengan tatapan menyeramkan pada Kai.


"Hmmm... Itu, aku, aku sedang sibuk mengerjakan tugas, iya benar begitu." Jawab Kai agak bingung.


"Aku tidak ikutan ya." Donghwi ketakutan.


...****************...