Back To Start

Back To Start
#77 Keadaan yang Membaik (3)



"Oh jika boleh tahu siapa korban penculikan itu?" Tanya polisi.


"Namanya Shim Minna, sampai hari ini ia masih dirawat di rumah sakit xxxx." Jawab Dohwan.


"Oh, kasus itu memang sedang diselidiki oleh kepolisian pusat Seoul. Terimakasih saudara Jeong Dohwan anda sudah membantu kami menemukan sedikit petunjuk." Kata polisi itu.


"Sama-sama pak, mohon bantuannya." Jawab Dohwan.


"Baik, mohon bantuannya juga. Laporan anda akan segera kami proses." Kata polisi itu berdiri lalu menjabat tangan Dohwan.


"Baiklah kalau begitu saya permisi." Kata Dohwan.


"Silahkan." Jawab polisi itu membungkuk.


Dohwan pun keluar dari kantor polisi.


"Pokoknya aku harus menemukan siapa pelaku yang sudah tega membuat Minna jadi seperti ini!" Kata Dohwan dalam hati.


...****************...


...#77...


...Keadaan yang Membaik (3)...



"Oh, kalian sudah disini?" Kata Donghwi melihat Kai dan Yeora di depan kelasnya.


"Dosennya belum datang?" Tanya Kai sambil mengintip ke jendela.


"Mungkin sebentar lagi." Jawab Donghwi.


"Kalau begitu aku ke kelas dulu ya." Kata Yeora.


"Kelasmu kan belum mulai?" Tanya Donghwi.


"Lalu aku tinggal disini? Kelas kalian kan sebentar lagi mulai." Jawab Yeora.


"Iya juga ya." Kata Donghwi.


Kai hanya menggelengkan kepalanya.


"Oh iya Yeora, terimakasih ya untuk bantuanmu pagi ini." Kata Kai.


"Hei, kenapa harus berterimakasih? Minna kan temanku juga. Hubungi aku kapan saja kau perlu." Kata Yeora.


"Baiklah." Jawab Kai.


"Jihyun belum datang?" Tanya Yeora sambil melihat ke dalam kelas.


"Dia belum ada, mungkin terlambat." Kata Donghwi.


"Mungkin sebentar lagi dia datang." Kata Kai.


"Yasudah, aku pergi dulu ya. Terimakasih sudah membelikanku sarapan tadi." Kata Yeora.


"Sama-sama Yeora." Jawab Kai.


"Sampai bertemu nanti ya, chat saja jika kelasmu sudah selesai kita janjian di perpustakaan." Kata Donghwi.


"Oke. Sampai jumpa nanti." Jawab Yeora lalu pergi sambil melambaikan tangannya.


"Bagaimana?" Tanya Donghwi sambil berjalan masuk ke dalam kelas.


"Apanya bagaimana?" Tanya Kai lagi.


"Huhh... Bocah ini! Bagaimana situasi ketika Minno hyeong bertemu Minna." Kata Donghwi kesal.


"Bagaimana lagi? Ya begitulah, kita kan sudah menceritakan semua padanya aku juga sudah menceritakan sedikit tentang oppa nya pada Minna. Selanjutnya biarkan hyeong yang memberikan informasi tentang Minna." Kata Kai.


"Ya, benar juga sih." Kata Donghwi.


"Minna juga sudah mengerti, dia tidak kaget saat melihat oppanya datang tadi." Kata Kai.


"Oh, sungguh tidak terjadi apa-apa? Sakit kepalanya? Biasanya kan Minna akan merasa sakit kepala jika melihat orang yang baru." Tanya Donghwi.


"Sepertinya tadi Minna terdiam sebentar ketika melihat Minno oppa, tapi dia kelihatan baik-baik saja seperti tidak merasakan sakit kepala." Jawab Kai.


"Syukurlah kalau begitu, semoga Minna cepat pulih." Kata Donghwi.


Dosen pun datang.


"Selamat pagi menjelang siang, ayo kita mulai kelas kita hari ini..." Dosen itu membuka kelas.


"Ssstt... Jihyun mana ya kok tumben dia terlambat?" Tanya Donghwi berbisik pada Kai.


"Tidak tahu. Coba kirim pesan ke ponselnya." Bisik Kai.


"Sudah kulakukan, dia tidak membalasnya." Kata Donghwi.


"Ahh... Itu dia!" Kata Donghwi ketika melihat Jihyun masuk.


Jihyun memberi isyarat pada Donghwi untuk tenang, sambil berjalan mengendap-endap menuju arah bangku Donghwi dan Kai.


"Hei! Kenapa kau terlambat sekali?" Tanya Donghwi sambil berbisik sedangkan Kai melihat ke arah Jihyun.


"Geser dulu." Kata Jihyun.


Kai pun bergeser diikuti dengan Donghwi.


"Aku bangun kesiangan." Bisik Jihyun.


"Pasti karena menonton drama." Gumam Kai sangat pelan sambil mencatat.


"Kau ini!" Kata Donghwi kesal pada Jihyun.


"Hehe maaf... Sudah, sudah perhatikan ke depan." Kata Jihyun mengalihkan topik.


Mereka pun belajar sampai jam kuliah mereka selesai.


....


Jam makan siang di Kantin.



"Minno oppa sudah datang?" Tanya Jihyun sambil mengunyah makanannya.


"Sudah, tadi pagi aku menjemputnya." Jawab Kai sambil makan.


"Selesai kuliah, kau akan ke rumah sakit lagi kan?" Tanya Jihyun lagi.


"Iya, aku dan Donghwi akan kesana, Yeora juga. Apa kau mau ikut?" Tanya Kai.


"Tentu saja, aku ingin mengobrol dengan Minna." Jawab Jihyun.


"Kalian sudah disini?" Kata Yeora yang baru tiba di kantin.


"Oh Yeora-ya, duduk disini." Kata Donghwi.


"Terimakasih." Kata Yeora sambil menaruh makanannya lalu duduk.


"Kau melakukan apa saja dari tadi? Kelasmu kan baru mulai setelah makan siang ini." Tanya Jihyun.


"Oh..." Jawab Jihyun.


"Apa nunna sudah makan?" Tanya Kai.


"Tadi sudah ada rekannya yang mengantarkan makanan." Jawab Yeora.


"Baguslah kalau begitu." Kata Kai sambil lanjut makan.


"Kau sudah bilang kan kalau kita akan ke rumah sakit setelah kita selesai?" Tanya Donghwi pada Yeora.


"Tenang saja, aku sudah mengajaknya tadi. Eonni juga bersemangat karena aku bilang Minno oppa sudah datang." Jawab Yeora.


"Sudah ku duga pasti ada sesuatu di antara mereka." Kata Jihyun.


"Habiskan saja makananmu, jangan penasaran dengan hubungan orang lain." Kata Kai.


"Bilang saja kalau kau takut Sera eonni dan Minno hyeong berkencan kau akan lebih kena omelan bawel dari eonni kan?" Kata Jihyun meledek.


"Siapa yang bilang begitu? Mereka berdua itu tidak cocok tahu!" Kata Kai.


"Memangnya kau ahli tarot bisa meramalkan mereka seperti itu?" Kata Jihyun.


"Hentikan, hentikan. Ah... Kalian ini benar-benar lihat itu orang-orang menatap kita tahu!" Kata Donghwi kesal.


"Hehe... Maaf, maaf kami ya." Kata Jihyun sambil pada orang-orang.


Kai tetap makan dengan tenang.


"Sebagai hukuman karena berisiki saat makan, Jihyun harus menyetir ke rumah sakit nanti." Kata Kai menggoda Jihyun.


"Hei, kenapa aku yang di hukum?!" Tanya Jihyun kesal.


"Karena kau meninggikan suaramu seperti itu lagi." Kata Kai.


"Ah... Maaf. Baiklah, baiklah aku akan menyetir." Jawab Jihyun pasrah.


"Hahahaha.... Kalian ini lucu sekali!" Kata Yeora sambil mengunyah makanannya.


"Makan saja!" Kata Jihyun dan Kai bersamaan.


"Hahaha...." Donghwi tertawa puas.


....



"Minna..." Minno memanggil Minna.


"Ya, oppa?" Jawab Minna.


"Mau jalan ke kantin? Oppa akan beritahukan makanan kesukanmu. Bagaimana?" Tanya Minno.


"Ayo oppa! Aku juga bosan di ruangan ini terus." Jawab Minna bersemangat.


"Begitukah? Kalau begitu ayo kita pergi, sebentar oppa ambil dulu kursi rodamu ya." Kata Minno lalu mendorong kursi roda ke dekat ranjang Minna.


Minno pun membantu Minna turun dari ranjangnya lalu duduk di kursi roda. Lalu berjalan pelan sambil mendorong kursi roda itu menuju kantin.


"Hah... Akhirnya aku tahu bagaimana lorong dan bau rumah sakit ini." Kata Minna sambil menarik nafas.


"Kau senang sekali ya keluar dari ruangan itu?" Tanya Minno.


"Sangatttt senang! Karena itu oppa aku ingin cepat pulang dan kuliah lagi." Kata Minna.


"Kau kan wanita yang kuat, sebentar lagi pasti kau akan bisa pulang dan melakukan aktivitasmu lagi." Kata Minno.


"Wah... Mendengar hal itu aku jadi merasa sangat sehat." Kata Minna bersemangat.


"Begitukah? Wah, walaupun lupa ingatan kau tetap suka di puji rupanya ya?" Kata Minno menggoda Minna.


"Cih, memangnya ada orang yang tidak suka di puji?" Tanya Minna.


"Mungkin, bisa jadi ada. Di dunia ini kan banyak macam orang." Jawab Minno.


"Hmmm... Benar juga sih." Kata Minna mengangguk.


"Ayo masuk lift. Hati-hati tanganmu." Kata Minno.


"Maaf, permisi." Kata Minno pada pria dan wanita dalam lift.


"Tentu saja aku sangat mencintaimu!"


"Oppa, kau bisa saja!"


"Sebentar ya sayang ada telepon."


"Halo sayang, aku sedang sibuk meeting di luar. Oh iya baiklah sampai bertemu nanti malam ya sayang."


"Dasar, laki-laki berengsek!" Kata Minna kesal.


"Oppa, jika oppa punya pacar lebih dari satu. Aku akan menggiling kaki oppa dengan roda di kursi rodaku ini!" Kata Minna menyindir.


"A...apa maksudmu tiba-tiba?" Tanya Minno bingung.


"Tidak apa-apa aku hanya memperingatkan oppa saja." Jawab Minna.


Pria di dalam lift itu terlihat gugup sambil menelan ludahnya.


"Haha... Aku juga akan melakukan hal yang sama jika kau membuat aku kecewa oppa, aku akan menejepit tanganmu di pintu lift." Kata wanita di lift itu.


"Ke...kenapa kau mengatakan hal begitu sambil tertawa sih?" Jawab pria itu semakin gugup.


"Benar eonni, laki-laki yang menyakiti perempuan itu harus di sakiti juga." Kata Minna pada wanita itu.


"Hahaha baiklah, semoga kau cepat sembuh ya." Kata wanita itu sambil memegang pundak Minna.


"Kenapa kau jadi gugup begini oppa?" Tanya wanita itu sambil keluar dari lift sambil menggandeng pacarnya.


"Dah..." Wanita itu melambaikan tangan pada Minna.


"Minna, kenapa kau tiba-tiba bilang begitu sih? Ada-ada saja." Kata Minno.


"Tidak apa-apa, hanya punya firasat kalau pria itu tidak baik." Jawab Minna.


"Bagaimana kalau gara-gara ucapanmu tadi mereka bertengkar?" Tanya Minno.


"Kenapa bisa jadi gara-gara aku? Aku kan hanya berbicara, kalau mereka berdua menganggapnya serius itu urusan mereka dong." Jawab Minna.


"Aishh... Walaupun kau sakit aku masih saja tidak bisa menang jika berargumen denganmu." Kata Minno menyerah.


"Hahaha... Tapi serius loh oppa, jika oppa menyakiti pacar oppa... Aku pasti akan membuat oppa tidak bisa berkencan lagi." Kata Minna.


"Baiklah, baiklah! Lagipula oppa belum punya pacar kok!" Jawab Minno sambil berjalan pelan mendorong Minna.


"Awas kalau bohong ya!" Kata Minna.


"Baiklah, baiklah!" Jawab Minno.


Minna dan Minno mengobrol sambil tertawa sepanjang jalan.


...****************...