
"Apa... ya... entah sejak kapan, tapi jika aku dekat dengannya jantungku berdebar dan aku terus-terusan ingat padanya akhir-akhir ini." Jawab Kai.
"Lalu?" Tanya Donghwi.
"Lalu aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya jika aku mendengar suaranya." Jawab Kai lagi.
"Setelah itu?" Tanya Donghwi lagi.
"Setelah itu aku... Hei! Kau sedang memancingku ya?!" Kai tersadar Donghwi ingin tahu isi hati Kai.
"Hahahaha... Nah ini tandanya kau sedang jatuh cinta tahu!" Jawab Donghwi sambil menepuk pundak Kai.
"Ahhh entahlah... Aku juga tidak tahu." Kata Kai lalu mengunyah ayam gorengnya.
"Kai, keadaanmu saat ini sangat berbeda saat kau bilang kau dekat dengan Karin, lalu berpacaran dengannya. Aku harap kau mengerti bagaimana perasaanmu sendiri terhadap Minna, hanya satu hal yang bisa aku pastikan perasaanmu pada Minna itu bukan sekedar tertarik atau kasihan seperti dulu pada Karin tapi kau benar-benar menyukainya bukan hanya sekedar ingin melindunginya. Coba pikirkan hal itu baik-baik." Donghwi meyakinkan Kai tentang perasaannya.
...****************...
...#27...
...Gerah?...
"Jadi maksudmu, aku memang menyukai Minna?" Tanya Kai untuk meyakinkan dirinya.
"Jika kau belum yakin, kau habiskan saja dulu waktumu dengannya ya sepanjang mengerjakan Prof. Choi pastikan saja bagaimana perasaanmu padanya dan ingat jangan menyerah karena sikapnya, kau juga punya tugas untuk melindunginya dari Karin kan." Jawab Donghwi.
"Baiklah, memang cuma kau yang mengerti aku dongdong. Tidak sia-sia aku mentraktirmu." Kata Kai sambil meminum bir.
"Jadi begitu caramu berterimakasih padaku hah?" Tanya Donghwi agak kesal.
"Tapi benar, sepertinya pengalamanmu lebih banyak daripada aku padahal aku lebih tua darimu tahu." Jawab Kai.
"Karena kau menghabiskan hampir seluruh masa pubermu di ruangan latihan untuk menjadi trainee makanya kau tidak tahu banyak kehidupan luar." Jawab Donghwi.
"Iya juga sih, aku trainee dari umur 12 tahun hingga 20 tahun ya bisa dibilang aku tidak tahu masalah-masalah perasaan dan sebagainya." Kata Kai.
"Karena itu tanyakanlah padaku jika itu masalah perasaan." Jawab Donghwi.
"Terimakasih Dongdong." Kata Kai.
"Yasudah cepat habiskan makan ini." Lanjut Kai.
Mereka pun menghabiskan makanan mereka sambil berbincang-bincang...
....
"Wahh... tinggal satu jam lagi akan tutup, pengunjungnya agak sepi." Kata Minna sambil berkeliling mengecek barang-barang.
"Sebenarnya aku masih takut sih kejadian seperti kemarin lusa itu terjadi, ahhh aku tidak boleh memikirkan itu. Jangan Minna... Jangan!" Kata Minna.
Tiba-tiba ada yang datang...
"Selamat datang..." Kata Minna bergegas menuju meja kasir.
"Oppa?" Minna kaget melihat Dohwan datang.
"Kau sedang apa Minna?" Tanya Dohwan.
"Aku sedang mengecek barang oppa, apa ada barang oppa yang tertinggal?" Tanya Minna.
"Tidak, aku mengkhawatirkanmu makanya aku datang lagi." Jawab Dohwan.
"Yaampun oppa, aku benar-benar tidak apa-apa. Lagipula sebentar lagi tutup kok." Kata Minna pada Dohwan.
"Aku tidak tenang di rumah Minna, aku tidak ingin kejadian buruk terjadi lagi. Kemarin kebetulan ada Kai kalau ada sesuatu lagi? Siapa yang akan membantumu?" Kata Dohwan.
"Terimakasih sudah mencemaskanku oppa, tapi kau pasti cape kan kembali lagi kemari. Seharusnya kau tidak perlu repot-repot." Jawab Minna.
"Sudah... sudah... ayo kita tutup lebih awal lalu makan malam bersama." Kata Dohwan.
"Tapi oppa..." Kata Minna.
"Sudah ayo... Aku bantu kau bersih-bersih ya, kau hitung saja pemasukan hari ini lalu catat." Dohwan memotong apa yang ingin Minna katakan.
"Aku saja yang bersih-bersih oppa." Kata Minna.
"Sudah sana ke meja kasir saja~" Dohwan mendorong Minna ke meja kasir.
Minna dan Dohwan pun melakukan tugasnya masing-masing...
"Oppa aku sudah selesai menghitung, aku bantu untuk bersih-bersih ya." Kata Minna pada Dohwan.
"Tidak, tidak apa-apa. Kau ganti baju saja, ini sebentar lagi selesai." Jawab Dohwan.
"Tapi oppa, ini kan..." Perkataan Minna terpotong.
"Sudah cepat ganti baju saja~" Dohwan memotong kata-kata Minna.
Sambil kebingungan Minna pun ke belakang mengganti bajunya.
"Ayo kita pergi." Kata Dohwan yang menunggu Minna di meja kasir.
"Apa benar tidak apa-apa minimarketnya tutup lebih cepat?" Tanya Minna.
"Sudah tenang saja Minna, nanti aku yang akan menjelaskannya pada pak Man Jun." Jawab Dohwan.
"Yasudah kalau begitu." Kata Minna.
"Apa ada yang ingin kau makan?" Tanya Dohwan pada Minna.
"Apa ya? Hmmm... Kita cari sambil jalan saja oppa." Jawab Minna.
"Yasudah, ayo." Dohwan dan Minna pun keluar minimarket.
"Dimana ya..." Kata Minna sambil merogoh-rogoh tasnya mencari kunci minimarket.
Dohwan mengambil kunci minimarket miliknya yang ada di dalam sakunya, sedangkan Minna masih mencari kuncinya.
*Crek...crek...* Dohwan mengunci pintu.
"Minna, lain kali siapkanlah dulu kuncinya sebelum kau keluar dari minimarket. Mencari kunci diluar minimarket seperti tadi itu sangat berbahaya." Kata Dohwan menasihati Minna.
"Maaf oppa..." Kata Minna sambil menunduk.
"Hei tidak apa-apa..." Kata Dohwan sambil mengusap-usap rambut Minna.
"Ayo pergi." Lanjut Dohwan.
"Kenapa? Kau tidak suka naik motor ya? apa kita naik taxi saja?" Kata Dohwan agak panik.
"Ahhh bukan begitu, aku senang karena aku tidak pernah naik motor." Jawab Minna antusias.
"Benarkah? Benar tidak apa-apa?" Tanya Dohwan untuk meyakinkan Minna.
"Ayo... ayo aku tidak sabar naik motor." Kata Minna kegirangan.
"Sialan... dia imut sekali!" Kata Dohwan dalam hati, sambil menuju ke motornya.
"Ini pakai helmmu, kancingkan jaketmu juga ya." Kata Dohwan sambil memberikan helm pada Minna.
"Baik oppa." Minna memakai helmnya dan mengancingkan jaketnya.
"Ayo naik. Pegangan yang erat ya." Kata Dohwan.
....
"Ohhh... Jadi perempuan itu bekerja disini?" Kata Karin dari dalam mobil memata-matai Minna.
"Dia dengan laki-laki lain kan! Sudah kubilang kepolosannya itu hanya topeng!" Kata Karin sambil mengambil ponselnya, lalu memotret Minna yang akan menaiki motor Dohwan.
"Aku akan memberikan hadiah ini pada Kai." Karin mengirim foto itu pada Kai.
"Sudah cukup pengintaian hari ini, aku akan susun rencana dulu." Kata Karin sambil menyalakan mobilnya lalu pergi.
....
"Kau mau makan apa Minna?" Tanya Dohwan sambil mengendarai motornya.
"Aku mau tteokbokki oppa." Jawab Minna.
"Hah? Tidak mau makan daging atau ikan?" Tanya Dohwan lagi.
"Tidak oppa, aku mau makan tteokbokki saja." Jawab Minna.
"Yasudah, aku tahu tempat makan tteokbokki yang enak." Kata Dohwan.
Beberapa menit kemudian mereka pun tiba di kedai yang di maksud Dohwan.
"Kau yakin hanya mau ini Minna?" Tanya Dohwan.
"Iya oppa." Jawab Minna.
"Baiklah." Kata Dohwan sambil tersenyum.
"Hmmm... ini enak sekali pedas manisnya sangat enak!" Kata Minna kegirangan.
"Iya makanlah yang banyak. Bilang jika kau ingin yang lain ya." Kata Dohwan sambil melihat Minna makan.
"Oppa tidak makan? Cobalah ini sangat enak!" Kata Minna sambil menyodorkan tteokbokki pada Dohwan.
"Iya.. iya..." Dohwan tersenyum melihat tingkah Minna.
"A.... a... buka mulutmu oppa." Minna ingin menyuapi Dohwan.
"Ehh tidak apa-apa, aku akan makan sendiri Minna." Jawab Dowhan.
"Ayolah sekali saja a... a..." Kata Minna tetap menyodorkan tteokbokki itu.
"Baiklah." Dohwan membuka mulutnya dan memakan tteokbokki dari tangan Minna.
"Enak kan? bagaimana rasanya?" Tanya Minna dengan ceria.
"Iya sangat enak." Jawab Dohwan sambil mengalihkan pandangannya dari Minna.
"Apa rasanya sangat pedas? kenapa wajah oppa merah begitu?" Tanya Minna agak panik.
"Ahhh tidak kok, tidak pedas sama sekali aku hanya merasa agak gerah." Kata Dohwan sambil mengebas-ngebas kerah bajunya.
"Ahhh benar-benar, aku salah tingkah sendiri dengan sifat Minna ini. Dia benar-benar sangat imut." Kata Dohwan dalam hati.
"Gerah?" Tanya Minna.
"Sepertinya cuacanya dingin..." Gumam Minna sangat pelan.
"Ya?" Tanya Dohwan yang kurang mendengar apa yang barusan Minna katakan.
"Ahh... tidak, bukan apa-apa." Kata Minna melanjutkan makan.
....
"Kau menginap saja disini, besok kan hari Minggu." Kata Kai pada Donghwi.
"Woahhh... dengan senang hati hahaha..." Jawab Donghwi.
"Ayo kita pergi ke suatu tempat besok." Ajak Kai.
"Kemana? Ahh... terserah kau sajalah. Selama ada kendaraan dan kau membelikanku makan, ke manapun aku mau." Kata Donghwi sambil memakan camilan.
"Dasar laki-laki matre." Kata Kai meledek.
"Ini namanya simbiosis mutualisme, kau butuh teman aku butuh makanan. Impas kan?" Jawab Donghwi.
"Aigo... Kau memang pintar sekali membuat orang kehabisan kata-kata." Kata Kai agak kesal.
"Tolong jangan marah padaku tuan!" Kata Donghwi bercanda.
"Ahh... terserah kaulah!" Kata Kai sambil bangkit dari sofa.
"Ehhh... kau mau kemana?" Tanya Donghwi.
"Melihat kamar tamu. Memangnya kau mau tidur disini?" Jawab Kai.
"Dimana saja tidak masalah, asal ada bantal dan selimut." Jawab Donghwi.
"Yasudah tidur di bathub sana!" Kata Kai sambil pergi.
"Hei! kejam sekali sih!" Donghwi berteriak pada Kai.
...****************...