Back To Start

Back To Start
#43 Wawancara



"Kai bukan laki-laki yang seperti itu, kau harus tahu kalau selama ini Kai tidak pernah mengejar perempuan biasanya perempuan-perempuan itulah yang menembak Kai." Kata Donghwi.


"Hah? Benarkah?" Tanya Jihyun tidak percaya.


"Iya, Kai juga tidak pernah main-main walaupun bukan dia yang berusaha mendapatkan perempuan itu jika Kai sudah menerimanya Kai tidak akan main-main dan akan menjaganya tapi pada akhirnya biasanya Kai yang tersakiti." Kata Donghwi.


"Laki-laki seperti Kai dicampakkan? Yang benar saja!" Kata Jihyun.


"Itulah yang kulihat selama aku berteman dengannya." Kata Donghwi.


"Ohh itu mereka sudah tiba." Kata Jihyun.


"Buka pintunya Jihyun." Kata Donghwi.


Jihyun menekan tombol untuk membuka pintu.


"Maaf ya kami lama, ini pesanan kalian." Kata Kai sambil masuk ke dalam mobil.


"Terimakasih." Kata Jihyun dan Donghwi.


"Minna biar aku yang pegang cakenya, pasti tidak nyaman duduk di depan memegang itu." Kata Kai.


"Baiklah, ini." Kata Minna sambil memberikan cake itu ke kursi belakang.


"Baiklah, apa semuanya sudah siap?" Kata Jihyun.


"Ayo jalan saja. Minum sambil jalan saja." Kata Kai.


"Minna harus memeberiku minum kalau begitu." Kata Jihyun.


"Baik nona." Kata Minna polos.


Mereka tertawa bersama.


...****************...


...#43...


...Wawancara...



10 menit kemudian mereka pun tiba di rumah Donghwi.


Setelah Jihyun memarkirkan mobil mereka pun keluar dari mobil lalu berjalan ke depan pintu Donghwi


"Ayo masuk." Kata Donghwi.


Mereka pun masuk ke rumah Donghwi.


"Selamat siang." Kata Minna, Kai dan Jihyun sambil membungkuk.


"Selamat siang, ayo silahkan duduk." Kata ibu Donghwi.


"Aigooo, Kai kapan ya kau terakhir kemari? Sepertinya sudah cukup lama." Kata ibu Donghwi pada Kai.


"Iya omoni, maaf aku baru sempat mampir." Jawab Kai.


"Lebih seringlah mampir biar kubuatkan makanan enak. Ohh iya ini juga temannya Donghwi dan Kai ya?" Kata ibu Donghwi.


"Betul, nama saya Minna dan ini Jihyun." Kata Minna memperkenalkan dirinya dan Jihyun.


"Donghwi tidak pernah cerita punya teman-teman kampus yang cantik begini." Kata Donghwi.


Minna dan Jihyun hanya tersenyum.


"Ohh iya, omoni ini ucapan terimakasih kami karena sudah membungkuskan kami makanan ketika kami berjaga di rumah sakit." Kata Kai sambil memberikan bungkusannya.


"Aigooo, kenapa kalian repot sekali? Waktu itu kebetulan aku memasak banyak, makanya aku ingat kalian dan menyuruh Donghwi membawanya ke rumah sakit." Kata ibu Donghwi.


"Kami tidak repot kok. Omoni, masakan anda benar-benar sangat enak jadi kami benar-benar sangat berterimakasih." Kata Minna.


"Syukurlah kalian suka masakanku. Oh iya, aku akan menyajikan makanannya ya tunggu saja disini, nanti aku panggil kalian ke meja makan." Kata ibu Donghwi lalu berjalan ke arah dapur.


Donghwi pun datang setelah mengganti bajunya.


"Mana ibuku?" Tanya Donghwi yang baru keluar dari kamar.


"Ke dapur." Jawab Kai.


"Aku akan membantunya ya, kalian tunggu saja disini. Ibuku tidak suka jika tamu yang menyiapkan makanan." Kata Dongwi agak berbisik.


"Ohh begitu? Baiklah." Kata Jihyun


Donghwi pun ke dapur.


Tidak lama kemudian makanan pun sudah siap di meja makan, lalu Donghwi memanggil Minna, Kai dan Jihyun untuk makan.



"Wuuuu.... Daebak..." Seru Jihyun seketika melihat meja makan.


"Jihyun!" Bisik Minna menegur Jihyun.


"Ayo silahkan duduk dan makan yang kenyang ya, aku hanya bisa memberikan makanan yang sederhana untuk kalian." Kata ibu Donghwi.


"Ahh... Tidah omoni ini sangat luarbiasa mohon maaf kami merepotkan." Kata Jihyun membungkuk.


"Aigo... Aigo... aku senang kalau kalian makan banyak, Sudah, silahkan dimakan nanti keburu dingin." Jawab ibu Donghwi.


"Baik. Selamat menikmati makanannya." Kata mereka serentak.


"Ya silahkan makan, aku akan ke dapur lagi menyiapkan buah penutup." Kata ibu Donghwi.


"Omoni tidak makan dengan kami?" Tanya Kai.


"Jangan khawatir, aku sudah makan tadi sambil menunggu kalian. Ayo makan saja." Kata ibu Donghwi sambil lanjut jalan ke dapur.


"Woaaa... Daebak! Apa kau setiap hari makan begini?" Tanya Jihyun pada Donghwi.


"Tentu saja tidak, tapi masakan ibuku memang sangat amat enak." Jawab Donghwi.


"Benar, ini benar-benar enak. Woaaahh... Aku iri sekali denganmu Donghwi." Kata Jihyun.


"Sssttt... Nanti saja lanjut mengobrol lagi, ayo cepat makan nanti terlalu sore untuk kita wawancara." Kata Minna.


"Baik." Jawab Donghwi dan Jihyun.


Mereka pun sangat menikmati makan siang mereka.


Beberapa saat kemudian...


"Ini dia buahnya, ayo dimakan." Kata ibu Donghwi.


"Baik." Jawab mereka.


....


"Omoni, terimakasih makanannya ya. Maaf kami sudah merepotkan." Kata Kai.


"Ahh... Itu bukan apa-apa kok, sering-seringlah mampir ya kalian semua akan aku masak makanan lain lagi."


"Baik." Jawab Kai, Minna dan Jihyun.


"Ibu, aku ada tugas kelompok dengan mereka jadi aku akan berangkat lagi." Kata Donghwi pamit.


"Baiklah, hati-hati dijalan kalian semua ya." Kata ibu Donghwi.


"Baik." Jawab mereka.


....


Mereka pun masuk ke mobil.


"Astaga aku kenyang sekali." Kata Jihyun.


"Yasudah biar aku saja yang mengemudi." Kata Kai.


"Baiklah kalau begitu." Kata Jihyun lalu mereka bertukar tempat.


"Apakah aku juga harus pindah?" Kata Minna yang duduk di depan.


"Ei... Sudah disitu saja." Kata Jihyun pada Minna.


"Bukan begitu, siapa tahu Donghwi ingin duduk di depan." Kata Minna.


*Grookk... groook...* Donghwi pura-pura tertidur sambil mendengkur.


"Ya... Ya baiklah aku duduk disini." Kata Minna pasrah.


"Hahahaha...." Mereka tertawa.


....



"Sudah kalian tentukan siapa yang akan diwawancara?" Tanya Minna.


"Bagaimana kalau kita ambil dulu narasumber acak, kita bertanya kepada orang-orang yang sedang terlihat santai di daerah yang ramai. Bagaimana?" Usul Kai.


"Boleh juga, biar nanti wawancara ke orang-orang yang berhubungan dengan pers kita lakukan terpisah saja." Kata Donghwi.


"Bagus juga supaya ada banyak data. Baiklah kita lakukan seperti itu saja." Kata Minna.


....



"Kita berpencar disini ya, maksimal kita kumpulkan datanya dalam waktu 2 jam kedepan ya jika sudah selesai kembali lagi kesini." Kata Kai.


"Baik." Jawab Minna, Jihyun dan Donghwi.


Mereka pun berpencar mencari narasumber untuk tugas mereka.


....


"Bos, mereka berpencar dan sepertinya target sedang sendiri." Kata pria yang mengintai Minna sambil bertelepon.


"Bagus, susun skenariomu dan bawa dia ke tempat yang sudah kita sepakati." Jawab wanita di telepon.


"Baik bos." Jawab pria itu.


"Ingat, tetap waspada dan jangan sampai ada salah satu dari mereka yang melihatmu membawa Minna." Kata perempuan itu.


"Baik bos, saya akan keluar sekarang." Kata pria itu lalu mematikan telepon.


"Bersiap ya, aku akan keluar kalian berdua tunggu di mobil." Kata pria itu pada anak buahnya.


"Siap bos." Jawab mereka.


....


"Permisi, apa anda ada waktu sebentar?" Tanya Minna pada seorang pria.


"Ada apa ya?" Tanya pria itu.


"Saya Shim Minna dari Universitas Nasiona Seoul jurusan Jurnalistik saya ingin mewawancarai anda mengenai beberapa topik." Jawab Minna.


"Baiklah, tapi saya akan menaruh belanjaan saya ini di mobil dulu ya." Kata pria itu.


"Baik silahkan." Jawab Minna.


"Dik, bagaimana kalau kita wawancara di dalam mobilku? Aku agak lelah karena berkeliling belanja tadi, lagipula cuacanya panas." Kata pria itu.


"Baiklah." Kata Minna.


Pria itu penaruh barang bawaannya di bagasi sambil memberi isyarat pada anak buahnya untuk bersiap.


"Ayo dik silahkan masuk." Kata pria itu.


Minna pun masuk ke dalam mobil.


*Klek...* Suara pintu mobil terkunci.


"Maaf, kenapa anda mengunci pintunya?" Kata Minna pada pria itu.


Anak buah pria itu pun muncul dari bangku belakang dan membuat Minna sangat terkejut.


"Si...Siapa kalian? Tolong jangan sakiti aku." Kata Minna.


"Diam!" Kata pria itu.


"Hmmmmp...hmmmp....hmmm..." Minna memberontak tapi mulut dan hidungnya ditutup saputangan lalu Minna pun pingsan oleh obat bius.


"Angkat dia ke belakang." Kata pria itu pada anak buahnya.


"Baik bos." Jawabnya.


Mereka pun memindahkan Minna ke bangku belakang.


...****************...