
Dokter pun pergi, lalu ada seorang perawat yang datang.
"Apakah ada keluarga dari pasien Minna? Mohon untuk segera melakukan pendaftaran dan mengisi beberapa formulir karena pasien akan dipindahkan ke ruangan." Kata perawat itu.
"Biar saya yang menjadi walinya, saya akan mengisi formulir pendaftarannya. Saya yang bertanggung jawab atas kejadian ini." Kata Kai.
"Apa kau bisa menulis?" Tanya Donghwi.
"Sepertinya bisa, tanganku tidak terlalu parah kok." Jawab Kai.
"Biar aku yang menemanimu kesana." Kata Donghwi.
"Kau duduk disini dulu ya Jihyun, kami akan segera kembali ya." Lanjut Donghwi pada Jihyun.
"Baiklah." Jawab Jihyun.
"Ayo kai." Kata Donghwi.
"Mari, lewat sini." Kata perawat menunjukkan jalan pada Kai dan Donghwi.
Kai dan Donghwi pun ke tempat pendaftaran, Donghwi membantu Kai mengisi formulir dan Kai menandatanganinya sebagai wali Minna sekaligus membayar semua tagihan perawatan Minna.
Setelah selesai mereka pun kembali menemui Jihyun.
"Bagaimana ponsel Minna?" Tanya Kai sembari jalan.
"Aku bisa memperbaikinya tapi baterainya habis, aku belum sempat membuka daftar kontak ponselnya sudah mati." Jawab Donghwi.
"Lalu mana ponselnya?" Tanya Kai lagi.
"Tadi sedang aku charge di mobilmu, aku lupa membawanya." Jawab Donghwi.
"Yasudah nanti kita cek lagi, sekarang ayo kita kembali kesana. Sepertinya Minna akan segera dipindahkan ke ruangan inap." Kata Kai.
...****************...
...#50...
...Apa yang Harus Kulakukan?...
"Woahhhh... Daebak! Suite room?" Kata Jihyun kaget.
"Sssttt...." Donghwi menyenggol tangan Jihyun.
"Nahhh... Jadi sekarang bagaimana? Ayo kita coba hubungi keluarga Minna." Tanya Donghwi.
"Kalian pulanglah beristirahat, kalian pasti lelah kan seharian kesana kemari." Jawab Kai.
"Hei kau juga seharusnya pasien kan? Mana mungkin kami membiarkanmu menjaga Minna?" Kata Donghwi.
"Aku harus bertanggung jawab karena semua ini adalah salahku." Jawab Kai.
"Kai, tolong berhenti mengatakan kalau ini semua adalah salahmu. Tidak ada yang salah, jika kita harus ada yang bertanggung jawab tentu saja kita semua yang harus bertanggung jawab." Kata Jihyun tegas.
"Jihyun benar Kai, kau tidak perlu merasa sangat bersalah atas kejadian ini kami sangat tahu kok kau tidak ada maksud menyakiti Minna apalagi membuatnya seperti ini, kita anggap semua ini hanya kecelakaan yang tidak bisa dihindari." Kata Donghwi.
Kai pun duduk lalu menutup wajahnya sambil menarik nafas panjang.
"Hei sudahlah, tenangkan dirimu ya kurasa kau juga harus dirawat Kai setidaknya biarkan mereka memberimu obat penenang." Kata Donghwi.
"Tidak, aku ingin menjaga Minna." Jawab Kai.
"Kau bisa meminta bed pasien tambahan untuk di rawat sebentar di dalam kan? Kau harus beristirahat supaya lukamu cepat pulih." Kata Donghwi.
"Baiklah, nanti aku akan melakukannya sekarang kau antar dulu Jihyun pulang ini sudah larut." Kata Kai.
"Tidak apa-apa aku akan pulang naik taxi saja, kita bertiga kan lelah jadi kita istirahat saja jangan menyetir lagi." Kata Jihyun.
"Benar juga. Apa kau mau disini saja?" Tanya Donghwi.
"Apa maksudmu? Tidur disini kan tidak nyaman!" Kata Kai.
"Lagipula sofa panjang disini ada 2 kan, kau didalam jadi cukup untuk kita bertiga berjaga disini malam ini." Jawab Donghwi.
"Ah sudahlah, tanya saja Jihyun ingin bagaimana." Kata Kai.
"Hei kenapa kau diam saja?" Tanya Donghwi pada Jihyun.
"Hahahaha.... Dalam situasi seperti ini pun kalian lucu. Ini benar-benar menghiburku." Kata Jihyun tertawa.
"Ohhh jadi kau menganggap kami tontonanmu?" Kata Donghwi.
"Hei sudah jangan berisik, kalian lupa ini di rumah sakit? Pasien yang disana teman kita tahu!" Kata Kai agak kesal.
"Disini terlalu nyaman seperti dirumah sendiri. Iya kan Jihyun?" Kata Donghwi.
"Ya benar juga sih." Jawab Jihyun.
"Aku akan menelpon ibuku dulu, jika ia mengizinkan aku akan menginap disini." Lanjut Jihyun.
Jihyun pun keluar untuk menelpon ibunya.
"Aku akan ambil ponsel Minna ke mobilmu, kau mandilah nanti aku bawakan bajumu yang ada di mobil." Kata Donghwi.
"Baiklah." Jawab Kai.
Donghwi pun keluar lalu Kai masuk ke kamar rawat Minna.
"Minna... Maafkan aku. Pasti sakit sekali kan? Beristirahatlah dulu, tapi aku mohon kau harus bangun malam ini atau besok pagi ya. Aku sangat rindu mendengar suaramu, aku ingin dimarahi olehmu, aku ingin melihatmu menatapku dengan jutek, aku ingin melihat senyummu yang biasa ingin kau sembunyikan itu." Kata Kai sambil menggenggam tangan Minna.
"Kau dengar aku kan Minna? Hmmm?" Kata Kai sambil menatap wajah Minna.
"Aku terluka, tapi aku tahu kau lebih sakit daripada aku kan? Tapi bangunlah aku mohon, aku ingin meminta maaf langsung padamu setelah itu marahi aku oke? Berteriaklah padaku, salahkan aku, katakan kalau aku salah mengambil keputusan!" Kata Kai yang tidak sadar menteskan air mata di tangan Minna.
Minna menggerakan jarinya sedikit.
"Minna? Kau dengar aku?" Tanya Kai kaget dengan respon tangan Minna.
"Tunggu aku panggil dokter ya." Kata Kai menekan tombol panggilan.
"Baik, kami akan segera kesana." Balasan dari panggilan intercome Kai.
Tidak lama dokter dan perawat pun tiba.
Jihyun yang kaget karena melihat dokter masuk ke ruangan Minna pun langsung ikut masuk.
"Dokter! Minna... Minna menggerakkan jarinya, aku melihatnya." Kata Kai gembira.
"Saya akan periksa terlebih dahulu." Jawab Dokter.
"Silahkan." Kai pun mundur.
"Apa jarinya bergerak?" Tanya Jihyun.
"Hmmm, aku merasakan dan melihatnya." Kai mengangguk lalu menjawab.
Tiba-tiba Donghwi pun masuk.
"Ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa dokter disini?" Kata Donghwi agak berbisik dengan kagetnya.
"Tidak ada apa-apa, dokter memeriksa Minna karena Kai bilang jari Minna bergerak." Jawab Jihyun.
"Aku benar-benar melihatnya." Kata Kai pada Donghwi.
"Bagaimana dokter?" Tanya Kai penasaran.
"Sepertinya hal itu adalah gerakan refleksnya saja, pasien mendengar suara atau merasakan sesuatu tetapi tingkat kesadarannya sangat rendah dan pasien juga sangat lemah sehingga ia hanya merespon secara refleks dengan gerakan jari." Jawab dokter.
"Tapi itu berarti dia sadar kan? Dia mendengar dan merasakan kehadiranku kan dokter?" Tanya Kai panik.
"Betul pasien merasa dan mendengar tapi belum ada tanda kalau ia akan segera siuman, seperti yang saya katakan tadi malam ini adalah penentuan apakah ia akan bangun atau koma. Tetaplah berdoa supaya malam ini terjadi keajaiban." Jawab dokter.
"Minna!" Jihyun menangis lagi mendengar kondisi Minna.
"Kalian harus kuat, tegar dan percaya bahwa pasien akan segera siuman hal itu akan membuat panca indera pasien merangsang kesadarannya. Jangan terlalu banyak mengatakan hal yang sedih atau menangis berlebihan." Kata dokter.
"Sudah Jihyun, kau dengar kan jangan bersedih begitu agar Minna segera siuman." Kata Donghwi menenangkan Jihyun.
Kai hanya terdiam tidak menerima keadaan Minna dan tidak tahu harus berbuat atau mengatakan apa.
"Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu." Kata dokter.
"Baik dokter, terimakasih." Jawab Donghwi.
"Oh iya dokter, apa kami boleh meminta ranjang pasien tambahan? Tolong rawat juga anak ini, sepertinya dia butuh obat penenang dan obat untuk meredakan sakit karena lukanya." Kata Donghwi pada dokter.
"Baik, nanti para perawat akan menyiapkannya." Jawab dokter.
"Terimakasih sekali lagi dokter." Kata Donghwi.
"Gunakan intercome disana untuk memanggil perawat jika ada sesuatu yang diperlukan ya." Kata dokter.
"Baik." Jawab Donghwi.
Dokter dan perawat pun meninggalkan ruangan itu.
"Kai, lebih baik kau duduk dulu. Aku sudah membawakan pakaian, gantilah pakaian kotormu itu." Kata Donghwi pada Kai.
"Ini semua salahku, ini karena aku! Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?" Kata Kai dengan tatapan kosong menghadap ke arah Minna.
Jihyun yang kaget karena gumaman Kai pun seketika menghapus air matanya.
"Kai, sadarlah! Ini bukan salahmu!" Kata Jihyun dengan suara serak.
"Apa yang harus kulakukan Jihyun? Ini semua? Kenapa harus Minna korbannya?" Kata Kai seperti orang kebingungan.
...****************...