Aura Story

Aura Story
Merasa Kosong



Tidak bisa dipungkiri, jam yang menempel di dinding akan selalu berputar tanpa henti. Tanpa disadari, hari terus berganti seiring waktu berjalan. Dan tanpa Aura sadari, tiga bulan sudah ia sendiri, melewati hari tanpa ada Faris disisi. Butuh waktu tiga bulan setelah kepergian Faris untuk Aura menyadari segalanya.


Aura merasa kosong, saat tak ada dering ponsel dari Faris yang ia dengar setiap pagi. Tak ada lagi notif whattsapp ucapan selamat malam dari nama yang bertuliskan kak Faris di layar ponsel. Tak ada lagi Faris yang tiba-tiba datang ke rumah dan mengajak Aura jalan-jalan. Saat ini, semua itu tak ada lagi.


Ternya benar kata orang, seseorang akan merasa kehilangan saat orang tersebut benar-benar sudah tidak ada. Dan saat ini, Aura merasakan itu semua.


Rasanya hampa, hidupnya kembali sepi, semenjak Faris pergi. Aura benar-benar merasa kehilangan. Namun, apakah penyesalannya itu masih ada arti? Apakah ini semua masih bisa diperbaiki? Aura bahkan tidak pernah berkomunikasi dengan Faris selama pria itu di luar negri.


Entahlah, Faris bahkan tak pernah menghubunginya lagi. Apa Faris marah? apa Faris tidak lagi peduli? Apa Faris sibuk bekerja? Apa Faris sudah memiliki kekasih disana? Entahlah, yang pasti, Aura hanya bisa menerka-nerka. Meskipun begitu, tetap saja gadis itu tidak mau hanya sekedar untuk menghubungi Faris duluan. Aura merasa malu karena pernah menyia-nyiakan waktu.


"Lo serius Wa? Lo yakin mau nyusul kak Faris ke London?" Tanya Sabilla kaget saat Aura memberitahu bahwa gadis itu ingin menyusul Faris ke London.


"Iya bil, gue yakin"


"Lo nggak takut apa? kesana sendiri?"


"Ya takut sih, tapi mau gimana lagi?"


Sabilla tampak berfikir sejenak. "Ya, kalo lo yakin gue sih nggak papa Wa. Tapi itu balik lagi sama Mami Papi lo. Apa mereka ngebolehin lo pergi ke sana sendirian? Kalo gue sih nggak yakin mereka bakal ngizinin."


"Ya kalo masalah itu nanti biar gue coba omongin dulu sama Mami Papi di rumah"


"Lo sih, dulu aja waktu ada di sia-siain" Lirih Sabilla pelan.


"Ya mau gimana lagi Bil. Kalo bukan kayak gini juga mungkin gue nggak akan sadar sama perasaan gue sendiri"


"Hm benar juga sih."


"Permisi Mbak" Seorang pelayan Kafe baru saja datang mengantarkan pesanan Aura dan juga Sabilla. Benar, kedua gadis itu saat ini sedang berada di sebuah Coffe Shop yang ada di pusat kota.


Aura memang sengaja mengajak wanita yang tengah berbadan dua itu untuk berbicara perihal hal ini. Perlihal bahwa Aura berniat untuk menyusul Faris ke luar negri sambil mencari inspirasi untuk menyelesaikan tulisannya di sana.


"Makasih Mbak" Sahut Aura dan juga Sabilla bersamaan. Gadis itu melebarkan senyuman ke arah pelayan yang saat ini sudah beranjak dari tempat mereka duduk setelah menaruh pesanan di atas meja.


***


Di dalam kamar, Aura tampak mondar mandir tak menentu. Gadis itu menopang dagunya dengan sebelah tangan seolah memikirkan sesuatu.


Lelah berfikir tanpa mendapatkan apa-apa, akhirnya Aura memutuskan untuk keluar dari kamar dan menuruni anak tangga menuju ruang tengah rumahnya.


Di sana, terlihat Anita dan Rendy serta kedua adik Aura tengah asyik menonton televisi. Aura berdiri dengan jarah sekitar dua meter dari mereka.


"Mi, Pi" Panggil Aura ragu.


Anita dan Rendy menoleh bersamaan. "Iya sayang" Sahut mereka serentak.


Perlahan, Aura mendekat, gadis itu melangkahkan kaki ddengan sedikit ragu, namun Aura tetap mencoba untuk memberanikan diri. Aura duduk di sofa yang ada di samping Anita.


"Aku mau ngomong sesuatu boleh nggak Mi, Pi" Ucap Aura sembari menggigit bibir bawahnya takut.


Kening Anita dan Rendy tertaut. Mereka sejenak berfikir dan mencerna maksud dari ucapan Aura. Mereka juga melihat raut keseriusan dari wajah putrinya itu.


"Ada apa Wa?" Tanya Anita memastikan.


"Hm gini Pi, Mi. Aku mau minta izim. Apa boleh aku pergi ke London?" Aura memainkan jemarinya karena merasa gugup dan takut. Meskipun gadis itu memang sudah dewasa, tapi tetap saja dalam fikirannya Mami dan Papinya tidak akan memberikan izin, mengingat London tidaklah dekat dari Indonesia.


"Apa? Ke London?" Tanya Anita keget.


"Ngapain kamu kesana?" Giliran Rendy bertanya.


"Hmm" Aura menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Anita seketika teringat. Tiba-tiba Anita teringat akan Faris. Ia juga sudah paham bahwa Aura pasti ingin menemui Faris di sana. Karena seorang ibu tentu saja tahu dan paham bahkan hanya dari gerak gerik anaknya.


"Oke Mami izinin. Tapi Mami harus mastiin dulu sama Faris"


Rendy telpelongo kaget mendengar jawaban Anita.Pria itu sontak menoleh ke arah istrinya yang saat ini duduk di samping dirinya.


"Mami serius mau biarin anak kita ke London? London itu nggak dekat loh Mi?" Tanya Rendy.


Tak berbeda dengan Aura. Gadis itu juga merasa kaget bukan main. Aura fikir Maminya tidak akan pernah memberikan izin.


"Udah Papi tenang aja" Anita mengambil ponselnya yang semula terletak di atas meja. Jemari lentik wanita itu tampak mengotak atik layar ponsel dengan lihai.


"Mami mau ngapain?" Tanya Aura memastikan.


"Mau ngabarin Yasmin dulu. Biar Faris nanti bisa jaga kamu disana"


"Aduh" Aura menepuk jidat. Dengan cepat, gadis itu meraih ponsel dari tangan Anita dengan paksa.


"Nggak usah dikasih tau Mi" Ucap Aura saat gadis itu sudah memutuskan sambungan telfon yang bertuliskan nama Yasmin di layar ponsel.


"Lah, kenapa?"


"Aku kesana justru mau ngasih surprise sama kak Faris Mi. Jangan di kasih tau"


"Lah, jadi benar, kamu ke sana karena Faris? Udah mulai membuka hati nih?" Rayu Anita.


"Tuh kan Mami bilang juga apa. Setelah kepergian Faris kamu baru ngerasai kehilangan kan?" Sambung wanita itu kemudian.


"Udah ah Mi. Itu semua nggak penting sekarang. Intinya Mami sama Papi mau nggak ngizinin aku?" Tanya Aura memastikan dengan penuh harap sembari menoleh ke arah Anita dan Rendy secara bergantian.


"Wa, Mami sebenarnya ngizinin aja. Tapi kalo Faris nggak tau sama sekali Mami nggak setuju. London itu jauh sayang. Gimana kalo kamu tersesat disana?"


"Mi, Aku udah besar. Aku juga udah pernah keluar negri. Dan bahasa inggris aku juga nggak terlalu buruk. Kita bisa tanya tante Yasmin alamat kak Faris dimana. Dan..."


"Oke, nanti kamu akan diantar oleh orang suruahan Papi sampai kamu ketemu Faris."


Aura kaget, mulut gadis itu terbuka saking tidak percaya. "Jadi aku boleh pergi Pi, Mi?" Tanya Aura antusias melirik Anita dan Rendy.


"Tapi kamu harus jaga diri baik-baik. Setelah ketemu Faris disana, jangan pernah kemana-mana sendiri. Nanti Mami juga akan ngasih tau Yasmin dulu soal ini"


"Iya lo Pi. Anak Papi ini udah besar, bukan anak kecil lagi. Malasih Mi, Pi. Aura sayang kalian" Gadis itu memeluk kedua orang tuanya antusias."


.


.


.


Jangan lupa like, komen, dan vote ya. Terimakasih :)