Aura Story

Aura Story
Hanya Kita Berdua



"Ra"


"Aura"


Sorakan itu terdengar dari luar kamar yang saat ini Aura tempati. Dan sudah bisa ditebak suara itu suara siapa jika bukan suara Faris. Karena hanya mereka berdua yang tinggal di Apartemen tersebut.


Berkali kali Faris memanggil nama Aura dari luar sana, namun gadis itu sama sekali tidak menyautinya. Dan Faris tentu saja tidak ingin lancang membuka kamar tersebut tanpa sepengetahuan Aura.


Tak kunjung mendapati sahutan, akhirnya Faris memutuskan untuk kembali ke meja makan. Benar, karena waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 malam, dan sedari tadi mereka berdua belum makan apa-apa, setelah memasak dan menyiapkan semuanya, itulah sebabnya Faris segera memanggil Aura di kamarnya.


Tak berselang lama, sekitar sepuluh menit Faris menunggu, tapi Aura masih belum keluar dari kamarnya. Akhirnya, Faris memutuskan untuk kembali ke kamar gadis tersebut. Di depan pintu kamar Aura, Faris berkali kali memanggil menyoraki nama Aura, namun Aura masih belum menyauti dari dalam sana.


Merasa cemas, akhirnya Faris memutuskan untuk membuka pintu kamar tersebut perlahan, dan kebetulan, pintu tersebut sama sekali tidak dikunci oleh Aura.


Dari ambang pintu, Faris menghembuskan nafas lega. Bibir pria itu seketika melengkung membentuk sebuah senyuman saat dirinya mendapati Aura tengah tertidur di sebuah meja kerja yang ada di kamar tersebut.


Aura tampak tertidur sambil duduk di depan laptop miliknya. Sepetinya gadis itu baru saja selesai menulis dan kelelahan. Aura menjadikan tangan sebagai bantal di atas meja. Perlahan, Faris mendekat, hingga kini, posisi Faris sudah berdiri di samping Aura tertidur. Sejenak, Faris menatap lekat wajah Aura sesaat. Faris memperhatikan setiap inci dari wajah gadis itu.


Bibir mungilnya, hidung mancung Aura, kulit putih bersih serta pipi Aura yang tidak terlalu tirus.


"Cantik" Batin Faris berkata seiring dengan senyuman terpancar dari raut wajahnya.


Tak berselang lama, Aura terbangun dari tidurnya, hingga gadis itu dikagetkan dengan keberadaan Faris yang tiba-tiba sudah duduk di samping dirinya dengan kepala Faris ia rebahkan di atas meja dengan posisi saling berhadapan dengan Aura.


Mata Aura membulat, gadis itu refleks menegakkan kepalanya kaget.


"Ngapain kak Faris disini?" Tanya Aura jutek.


"Mau tidur" Sahut Faris santai.


Kening Aura tertaut dalam. "Tidur? Kenapa disini?" Seketika, Aura teringat akan sesuatu, dengan cepat, gadis itu refleks menutup dadanya dengan kedua tangan dengan tatapan tajam serta bingung bercampur aduk ke arah Faris.


"Barusan kak Faris bilang kalau kak Faris balakan tidur di kamar satu lagi. Kenapa jadi tiba-tiba disini?" Tanya Aura tak terima.


"Hmm gimana ya?" Faris tampak berfikir sejenak.


"Tadinya sih aku memang ngomong gitu, tapi..."


"Tapi apa?" Potong Aura sebelum Faris menyelesaikan ucapannya.


"Tapi kayaknya lebih nyaman tidur disini deh. Apalagi ada kamu" Rayu Faris mencoba menjahili. Pria itu mengedipkan sebelah matanya hingga membuat Aura benar-benar merasa geli.


"Enggak" Tolak Aura mentah-mentah.


"Kenapa enggak? disini cuma ada kita berdua lo" Lagi dan lagi, tatapan Faris terlihat penuh rayuan.


"Kak Faris kenapa sih? Kita belum menikah, jadi nggak boleh"


Faris tersenyum. "Oo gitu ya. Jadi kita harus menikah dulu baru boleh tidur bareng? Kalo gitu, berarti kamu mau nih nikah sama aku? Yaudah, besok kita balik aja ke Indonesia"


"B-Bukan gitu maksud aku kak Faris. Aku nggak mau menikah besok"


"Terus maunya kapan? Sekarang?" Faris tak henti merayu Aura. Ada rasa kepuasan tersendiri bagi Faris saat melihat gadis itu ketakutan seperti saat ini.


"Pokoknya aku belum mau menikah. Titik." Celetuk Aura.


Setelah tubuh Faris tak lagi terlihat, Aura memejamkan mata, memegang dadanya yang terasa lega serta diiringi dengan helaan nafas yang ikut terbuang dari mulutnya.


Cemas? Tentu saja iya, Aura fikir Faris benar-benar akan nekat melakukan hal yang tidak tidak pada dirinya sekalipun hati gadis itu sejujurnya juga tidak percaya bahwa Faris akan tega melakukannya. Namun sebagai seorang perempuan, wajar saja Aura merasa ketakutan saat melihat tatapan Faris yang ia rasa penuh rayu barusan. Mengingat, di dalam sana memang hanya ada mereka berdua.


Aura baru saja sampai di meja makan. Gadis itu begitu terkesiap saat mendapati hidangan makanan yang sudah tampak tertata rapi di sana. Aroma yang sangat menggugah selera membuat Aura tak sabar ingin segera menyantapnya.


"Ini kak Faris yang masak?" Tanya Aura tidak percaya. "Atau delivery?" Sambung gadis itu kemudian disertai dengan kekehan.


"Enak aja. Ini semua aku yang masak lo ya." Sahut Faris tak terima.


"Masa?" Ejek Aura.


"Bodo" Sambung Faris.


"Hm. Ternyata anak tante Yamin pada pinter masak ya. Kirain cuma kak Farrel doang" Gumam Aura pelan sembari memperhatikan makanan yang sudah tidak sabar untuk ia santap. Namun, suara gadis itu tetap saja masih terdengar jelas oleh Faris.


"Kamu tau darimana Farrel juga pintar masak?"


"Ya dari Sabil lah. Dari siapa lagi? masak iya dari bini barunya kak Farrel. Kan nggak mungkin!" Sahut Aura cengengesan.


Faris menggeleng sembari tersenyum memperhatikan Aura. "Makannya, cari calon suami yang kaya kita. Nggak melulu mengandalkan istri, bisa apa aja." Ucap Faris sombong.


"Eleh biasa aja keles" Ketus Aura memutar bola matanya malas.


"Kak Farrel yang tiap hari masakin Sabil aja keknya biasa aja. Ini juga baru sekali udah songongnya setengah mati" Celetuk Aura memalingkan pandangan dari Faris.


"Kamu mau aku masakin tiap hari juga?" Tanya Faris.


"Kenapa? Kalo mau harus jadi istri kak Faris dulu? Udah kebaca kok isi fikiran kak Faris sama aku." Sahut Aura dengan penuh percaya diri sembari menikmati makan malam mereka yang sudah telat dari jam seharusnya.


"Enggak kok, siapa bilang? Kalo calon istri mah aku udah punya. Tinggal nunggu waktu buat halalinnya aja"


Deg


Jantung Aura berdetak kencang. Entahlah, desiran darahnya terasa mengalir begitu cepat. Dadanya terasa sesak saat mendengar ucapan Faris barusan. Apa benar? Apa selama ini Aura terlalu kepedean? Apa selama ini Faris hanya menjadikan semua candaan, saat Faris mengatakan bahwa dirinya menyukai Aura? Gadis itu tampak bertanya-tanya dalam hati.


"Oo gitu" Hanya kata itu yang keluar dari bibir Aura. Gadis itu bahkan tidak berani lagi bertanya siapa calon istri yang dimaksud oleh Faris.


Sesekali, Faris tampak mencoba mencuri pandang pada Aura yang saat ini tengah duduk sembari menyantap makanan di depan dirinya. Dan Faris tentu saja bisa membaca dengan jelas saat raut wajah Aura tiba-tiba berubah seketika. Namun, Faris sama sekali tak menghiraukannya. Pria itu tampak masih melanjutkan menyantap makanannya.


Setelah selesai makan malam, hanya keheningan yang mereka rasakan. Aura tak lagi menyapa Faris. Gadis itu hanya diam hendak memasuki kamarnya kembali. Hingga suara bel yang terdengar berbunyi nyaring, menyita perhatian Aura ke arah pintu. Namun, gadis itu kembali mengabaikan dan Farislah yang segera membuka pintu Apartemennya tersebut.


.


.


.


.


Bantu aku dengan cara like, komen, dan vote ya. Dan jangan lupa bantu promosiin juga kalo suka sama ceritanya. Terimakasih banyak :)