
Aura, dan Sabilla kini berada di dalam kamar Sabilla. Sementara Faris dan Farrel tengah berbincang tentang perusahaan di ruang tengah. Dan Tasya, gadis itu tiba-tiba pergi saat Kevin juga pamit pergi dari beberapa waktu yang lalu.
"Kangen banget gue sama lo bil" Aura kembali memeluk sahabatnya itu. Namun tetap hati-hati sepaya tidak mengenai perut Sabilla.
"Gue juga Wa. Gue kangen banget sama lo" Sahut Sabilla.
Sabilla hendak melepaskan pelukan mereka.Tapi Aura justru semakin mempererat. Gadis itu tiba-tiba menangis tanpa sebab.
"Wa, lo kenapa?" Tanya Sabilla bingung.
"Bil" Lirih Aura dengan suara bergetar.
Sabilla melepaskan pelukannya. Gadis itu menangkup pipi Aura dengan kedua tangannya.
"Hei. Lo kenapa?" Tanya Sabilla.
"Hati gue sakit Bil. Sakit banget" Ucap Aura saat bulir bening itu sudah berhasil lolos dari kelopak matanya.
Sabilla menghembuskan nafas. Gadis itu paham. Sabilla paham apa yang dimaksud oleh Aura. "Lo yang sabar ya Wa. Gue ngerti gimana perasaan lo. Gue aja tadi juga kaget banget saat tau kalo kak Kevin ada di sini" Jelas Sabilla sekaligus mencoba menenangkan Aura.
"Gue nggak ngerti lagi sama persaan gue Bil. Gue udah punya kak Faris. Tapi kenapa hati gue rasanya sakit banget saat liat kak Kevin..."
Sabilla terdiam. Gadis itu mencoba mencerna ucapan Aura. "Maksud lo? Udah punya kak Faris maksud lo apa?" Tanya Sabilla.
Aura menganggguk. "Jadi lo sama kak Faris udah jadian?" Tanya Sabilla antusias.
Aura mengangguk kembali. "Udah" Sahutnya.
Sabilla memeluk Aura antusias "Kalo gitu bagus dong wa. Lo nggak perlu lagi mikirin kak Kevin. Sekarang mending lo fokus aja sama kak Faris. Lo ingat kan, tujuan lo jauh-jauh ke London dulu buat apa? Jangan sampai karena kembalinya kak Kevin lo jadi lupain kak Faris gitu aja"
Aura hanya menangis tanpa mengubris pertanyaan Sabilla.
"Gue nggak tau Bil. Gue nggak tau perasaan apa yang saat ini gue rasain" Lirih Aura dalam hati. Padahal, baru saja dirinya merasa bahagia dan nyaman bersama Faris. Tapi perasaan apa ini? Perasaan apa yang Aura rasakan saat melihat Kevin kembali. Aura bahkan tidak mengerti dengan apa yang kini dirinya rasakan.
***
"Kak Kevin" Panggil Tasya sebelum Kevin masuk ke dalam mobilnya.
"Tasya" Lirih Kevin bingung sesaat setelah dirinya menoleh ke arah belakang.
Tanpa basa basi, Tasya segera masuk ke dalam mobil Kevin. Gadis itu duduk di kursi yang ada di samping kursi kemudi.
Kening Kevin tertaut dalam. Pria itu merasa bingung. "Ngapain kamu kesini?" Tanya Kevin saat dirinya sudah duduk di kursi kemudi tepat di samping Tasya.
"Jalan..." Ucap Tasya.
"Hah?"
"Cepetan jalan, kak Kevin..."
Kevin menghembuskan nafas pasrah. Pria itu segera menancap gas mobilnya.
"Mau kemana kamu Sya?" Tanya Kevin.
"Kemanapun kak Kevin pergi. Aku ikut" Sahut Tasya.
"Maksud kamu?" Kevin menoleh ke samping. Pria itu benar-benar tidak mengerti apa yang diinginkan oleh adik sahabatnya ini. Namun, Kevin melihat dengan jelas bahwa saat ini Tasya kembali menangis.
Ya, Tasya memang sengaja ingin keluar. Jujur saja, rasa sesak yang ia rasakan semalam masih belum sembuh. Bukan, bahkan tidak akan sembh. Tasya tidak mungkin menangis di rumah Farrel dan Sabilla. Apalagi disana sekarang ada Faris dan Aura. Itulah sebabnya gadis itu memilih untuk keluar. Dan, mungkin karena Kevin juga sudah terlanjur tau tentang permasalahan dirinya, itulah sebabnya Tasya mengikuti Kevin.
Kevin memancap gas mobil segera. Hingga mobil mewah itu terhenti di sebuah danau yang terlihat sepi. Tasya yang menyadari akan hal itu, menoleh ke samping. Gadis itu memperhatikan suasana sekitar.
"Ngapain kak Kevin kesini?" Tanya Tasya bingung.
Tanpa berfikir panjang, Tasya segera keluar dari mobil Kevin. Gadis itu berlari menuju pinggir danau.
"Aaaaaaaa"
"Alvinnnnn kamu jahhhaaaaat" Sorak Tasya.
Gadis itu menangis terisak. Jujur saja, dari semalam Tasya masih saja terfikir. Gadis itu tidak menyangka ini semua akan terjadi. Tasya tidak menyangka bahwa Alvin melakukan hal ini pada dirinya.
Kevin mendekat pada Tasya. "Kenapa sih kamu harus nyembunyiin ini semua dari keluarga kamu? Kenapa kamu nggak ceritain aja semuanya. Dengan begitu, perasaan kamu akan merasa semakin lega." Ucap Kevin saat pria itu sudah berada di samping Tasya.
Tasya menoleh. "Aku nggak mungkin bilang masalah ini sama keluarga aku. Aku juga nggak mungikin bilang ini semua sama kak Sabil. Aku nggak mau kak Sabil jadi ikut kepikiran. Kak Sabil lagi hamil. Dan kak sabil nggak boleh stres hanya karena masalah aku"
"Dan kak Farrel. Aku nggak mungkin bilang masalah ini sama kak Farrel. Yang ada, kak Farrel bakalan marah besar. Aku nggak mau Alvin dalam bahaya" Tasya kembali menangis terisak.
"Hm. Mau aku peluk?" Tanya Kevin.
"Aku sahabat Farrel. Dan kamu juga udah aku anggap sebagai adik aku. Siapa tau dengan ini kamu bisa lebih tenang" Tawar Kevin.
Tasya menoleh kembali. Gadis itu menatap Kevin dengan raut wajah datar. Namun tetap saja, Tasya tidak memberikan jawaban ya atau tidak.
Kevin mulai mendekat, pria itu merangkul bahu Tasya. Kevin memeluk Tasya erat. "Nangis aja, jika itu bisa buat hati kamu tenang" Lirih Kevin.
Tanpa menyauti, tangisan Tasya kembali memecah. Gadis itu menangis terisak di pelukan Kevin. Sementara Kevin menepuk pelan punggung Tasya agar gadis itu merasa lebih tenang.
"Aku tau gimana terlukanya kamu. Dan mungkin, hal ini juga dirasakan oleh orang yang aku lukai. Aku hanya ingin merasakan, bagaimana rasanya menenangkan dia, memeluk dia saat menangis, lewat kamu Tasya." Lirih Kevin dalam hati.
***
Aura dan Faris kini sudah berada di perjalanan menuju ke rumah Aura. Setelah puas melepaskan rindu dengan Sabilla, Aura dan Faris memutuskan untuk pergi dari sana dan pulang ke rumah mereka masing-masing.
Sudah tiga puluh menit mereka di perjalanan, tapi Aura masih saja belum bersuara. Gadis itu sedari tadi hanya menatap kosong ke arah jalanan. Dan Faris, Faris sangat menyadari akan hal itu.
"Ra..." Panggil Faris.
Aura menoleh. "Iya kak" Sahutnya.
"Kamu kenapa?" tanya Faris.
Aura menatap mata Faris sejenak. Gadis itu memperhatikan wajah Faris dengan tatapan sendu. Seketika rasa bersalah terbesit di fikiran Aura. Aura benar-benar merasa bersalah pada Faris, pada pria yang sangat mencinta dirinya itu.
Aura meraih satu tangan Faris. Gadis itu menggenggam tangan Faris erat. Aura menyandarkan kepalanya di bahu Faris. Namun, tetap masih bisa membuat Faris fokus pada kemudinya.
"Maafin aku ya kak Faris" Ucap Aura.
"Maaf kenapa?" Tanya Faris. Pria itu mencoba bersikap biasa-biasa saja. Meskipun Faris sangat mengetahui apa yang saat ini di rasakan oleh Aura. Gadis itu masih dilanda keraguan setelah bertemu Kevin barusan.
"Kak Faris. Pokonya kak Faris harus percaya kalo aku sayang sama kak Faris"
Faris tersenyum. "Kamu kenapa sih? Iya aku percaya sayang. Karena aku bahkan lebih menyayangi kamu dari rasa sayang kamu sama aku" Faris mengecup tangan Aura lembut.
"Kak Faris, maafin aku. Aku akan meyakinkan diri aku bahwa aku memang sangat mencintai kak Faris. Aku nggak tau kak, aku hanya bingung, aku hanya bingung kenapa hati aku terasa sakit saat aku ngeliat kak Kevin barusan. Maafin aku kak Faris" lirih Aura dalam hati.
Gadis itu semakin mengeratkan genggamannnya dari tangan Faris. Aura memejamkan mata, ia mencoba meyakinkan diri bahwa hanya Faris satu-satunya raja yang ada di hatinya kini. Aura juga semakin mengeratkan genggamannya, dan Aura tidak akan pernah melepaskan genggaman dan pelukan yang selama ini memberinya kenyamanan.
.
.
.
Kalau suka cerita ini, jangan lupa like, komen, dan vote yang kenceng yah. Makasih 💕