
...Hai kembali lagi bersama aku hehe. Mau ngasih info lagi nih. Jadi, Extra Part kan udah habis tuh. Aku udah nurutin kan sampe Aura melahirkan dan happy ending....
...Jadi, untuk bonus chapter yang nggak tau berapa lagi ini. Aku benar benar nulisnya sesuai mood ya. Kalau semisal aku mood nulisnya part Tasya-Kevin jangan marah ya. Jangan sangkut pautkan sama judul 'Aura Story' karena Aura kan udah tamat....
...Tapi aku pengen aja gitu masukin part Tasya-Kevin gatau kenapa gemes aja sama mereka sesuai yang ada di fikiran aku. Aku bikin disini karena nggak mungkin juga aku bikin cerita baru buat mereka hanya beberapa part. Jadi yang nggak suka sama pasangan Tasya-Kevin mon maap ya cerita mereka aku selipkan disini sedikit. Udah itu aja. Makasih perhatiannya. Semoga suka. Part Aura Faris bakalan tetap ada kok orang ini cerita mereka. wkwkk💙...
Aura sudah kembali ke rumah dari dua jam yang lalu. Wanita itu kini tampak tertawa sambil mengajak putra putrinya berbicara.
"Anak anak mama udah mandi ya, udah segar, udah wangi juga ya?" Ucap gadis itu pada bayi mungil yang ada di hadapannya. Aura benar benar merasa bahagia semenjak kehadiran dua bayi mungil itu. Hidupnya kini terasa lebih berwarna dari biasanya.
Detik kemudian, tiba tiba saja ada tangan yang melingkar di perut Aura. Aura tidak menoleh. Wanita itu sudah sangat hafal aroma tubuh Faris sang suami.
Faris mengecup kepala Aura singkat. "Minum susunya dulu ya" Ucap Faris.
Aura mengangguk, kemudian meraih segelas susu dari tangan Faris serta meneguknya habis.
"Pinter" Faris mengacak acak rambut Aura gemas, sebelum ikut mengajak kedua buah hatinya berbicara dan tertawa bersama sang istri tercinta.
***
Di kediaman Tasya-Kevin. Kevin baru saja terbangun dari tidurnya. Pria itu mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah celah gorden.
Kevin meraba kasur yang ada sampingnya. Alhasil, pria itu tidak lagi mendapati Tasya di sampingnya. Kevin segera bangkit dari tidurnya, tujuan utama Kevin tentu saja dapur.
Dan benar saja, pria itu melihat jelas Tasya sang istri tengah menyiapkan sarapan untuk mereka di sana.
Sebuah tangan melingkar begitu saja di pinggang Tasya.
"Good Morning sayang" Ucap Kevin lembut.
"Morning to sayang" Sahut Tasya tak kalah lembut.
"Tumben banget balesannya baik gini, lembut lagi, adem telinga aku dengarnya nggak kaya biasanya 'Ih kak Kevin lepasin, aku lagi masak ini' Ucap Kevin menirukan suara Tasya saat mengomeli dirinya setiap pagi.
Tasya tidak menghiraukan. Gadis itu masih saja sibuk dengan masakannya. Hal itu tentu saja membuat Kevin bingung.
Kevin memutar tubuh Tasya menghadap ke arahnya. "Sayang, kenapa sih? kamu marah sama aku?" Tanya Kevin.
"Nggak" Sahut Tasya singkat kemudian kembali melanjutkan aktifitasnya.
Kevin benar benar bingung ketika melihat istri cerewetnya itu kini mendadak pendiam.
"Lagi datang bulan kali ya" Gumam Kevin. Cewek kalo datang bulan mah gitu. Moodian.
"Yaudah deh, aku balik ke kamar dulu. Mau mandi" Pamit Kevin. Namun, sama sekali tidak dihiraukan oleh Tasya yang masih saja sibuk sama masakannya.
***
Tasya baru saja masuk ke dalam kamar. Dia melihat Kevin tengah berdiri di depan meja rias sembari merapikan pakaian kerjanya.
Gadis itu tiba tiba saja melingkarkan tangannya di pinggang Kevin dari belakang. Kening Kevin tertaut bingung. Sejak kapan Tasya semanja ini? Biasanya mah ketus mulu.
"Kak Kevin" Panggil Tasya lembut se lembut lembutnya hingga Kevin sendiri sedikit ragu apakah ini benar Tasya istrinya.
"Hmm" Sahut Kevin sembari memegang tangan Tasya yang melingkar di perutnya.
"Aku boleh ikut kak Kevin ke kantor nggak?" Tanya Tasya.
Kevin kaget. Pria itu segera memutar tubuhnya menghadap ke arah Tasya. Mimpi apa gadis itu ingin ikut bersama dirinya ke kantor?
Tasya menepis tangan Kevin dari keningnya. "Apan sih" Sahut Tasya.
"Mimpi apaan kamu mau ikut aku ke kantor?" Tanya Kevin.
"Nggak mimpi apaan sih lagi pengen aja" Sahut Tasya.
"Serius ini?" Tanya Kevin memastikan.
"Iya, serius kak Kevin sayang"
Lagi lagi Kevin dibuat terkejut dengan sikap Tasya. Mana pernah istrinya ini memanggil Kevin dengan sebutan sayang jika tidak dipaksa.
"Yaudah oke deh. Kamu siap siap dulu sana" Seru Kevin yang diangguki dengan cepat oleh Tasya.
***
Tasya dan Kevin sudah sampai di depan kantor milik orang tua Kevin. Pria itu segera menggandeng tangan sang istri untuk masuk ke dalam sana.
Semua karyawan begitu terkesiap melihat Kevin yang baru pertama kali membawa istrinya itu ke kantor.
Gadis mungil yang lebih kecil tiga tahun dari Kevin itu terlihat begitu cantik dan anggun di mata para karyawan yang ada di sana. Tentu saja, tubuh Tasya yang mungil dan raut wajah baby face nya itu membuat Tasya bahkan masih cocok menjadi remaja SMA.
"Selamat pagi pak Kevin" Sapa karyawan di sepanjang jalan Kevin menuju ruangannya.
"Selamat pagi" Kevin tersenyum diikuti oleh Tasya yang berjalan di sampingnya.
***
"Karyawan kak Kevin cantik cantik ya" Ucap Tasya yang kini duduk di sofa yang ada di ruangan Kevin. "Lebih dewasa lagi" Sambung gadis itu kemudian.
Kevin yang mulanya sibuk dengan laptop yang ada di depannya menoleh ke arah Tasya. Mencerna apa yang di maksud oleh itrinya itu. Pasalnya, tidak biasanya Tasya bersikap seperti ini.
Kevin berdiri, pria itu menghampiri Tasya di sofa. Kini, Kevin berjongkok di hadapan Tasya.
"Kamu ngomong apaan sih?" Tanya Kevin menatap bola mata Tasya.
"Kak Kevin pasti nyesel kan udah nikah sama aku? Aku kasar, ke kanakan, cerewet, keras kepala, suka bikin susah kak Kevin..."
"Kamu ngomong apa sih sayang?" Potong Kevin sebelum Tasya menyelesaikan ucapannya.
"Kenapa tiba tiba ngomong kaya gini? Apa aku ada salah sama kamu?" Tanya Kevin sembari mengingat ingat apakah sekiranya pria itu ada salah atau enggak dan menyakiti Tasya.
"Nggak ada sih. Kak Kevin nggak ada salah apa apa. Tapi setelah satu tahun lebih kita menikah, aku ngerasa kalo selama ini aku nggak pantas aja jadi istri kak Kevin. Aku masih ke kanakan, aku nggak bisa jadi istri yang baik. Aku bahkan terkadang nggak bisa sopan sama suami aku sendiri, bikin susah kak Kevin tiap hari" Mata Tasya terlihat berkaca kaca.
"Hei. Kamu liat aku" Kevin memegang pipi Tasya. "Siapa yang bilang kamu nggak pantas jadi istri aku? Iya, kamu kekanakan, kamu bocah. Tapi aku nyaman sama kamu. Selama ini aku nyaman nyaman aja sama sikap kamu yang kaya gitu. Justru liat kamu kaya sekarang ini yang bikin aku bingung sayang"
"Kalo kamu nggak pantas jadi istri aku, dari dulu juga aku nggak mungkin nikahin kamu. Sebelum kita menikah juga aku udah tau kamu kaya gimana. Aku memutuskan untuk menikahi kamu tandanya aku udah nerima semuanya. Kenapa sekarang kamu jadi kaya gini?"
"Aku juga nggak tau kak. Tapi aku ngerasa..."
"Udah. Jangan ngomong lagi. Kamu tunggu disini dulu. Aku selesaian kerjaan aku dikit lagi habis itu kita pulang" Potong Kevin. Entahlah, Kevin sendiri merasa bingung kenapa Tasya bisa berfikiran seperti itu tanpa ada angin tanpa ada hujan.
.
.
.