Aura Story

Aura Story
Ingin Juga



Maaf kalo ada typo dan kesalahan lainnya.


"Iya. Kamu kenapa? Ada apa? Jangan bikin aku panik sayang" Desak Faris yang semakin penasaran. Pria itu memperhatikan istrinya dari atas sampai ke bawah. "Kenapa? Kamu sakit? Yang mana? Apa yang sakit? Bilang sama aku" Desak Faris sambil menggenggam tangan sang istri.


"Itu kak, itu..." Ucap Aura ragu.


Kening Faris tertaut. Pria itu benar-benar tidak sabar menunggu jawaban Aura. "Itu apa sayang?" Tanya Faris sungguh penasaran.


"Itu kak, di kamar mandi ada cacing. Aku geli" Ucap Aura yang seketika membuat Faris memejamkan mata diiringi dengan helaan nafas pasrah.


"Astaga sayang. Kamu itu ngagetin aku aja tau nggak" Ucap Faris panik. "Aku fikir kamu kenapa-kenapa" Sambung pria itu kemudian.


"Ya gimana kak. Aku geli liatnya." Ucap Aura gugup.


"Oke biar aku buang sekarang." Faris segera berjalan menuju kamar mandi. Sementara Aura, memperhatikan langkah Faris. Faris tampak mencari hewan kecil yang disebutkan oleh istrinya itu. Tapi Faris sama sekali tidak mendapati satu ekor cacingpun di dalam sana.


"Yang. Mana sih cacingnya? Nggak ada" Sorak Faris dari dalam sana. Membuat Aura segera bergegas menemui suaminya itu ke dalam kamar mandi. Aura kini berdiri di belakang Faris yang masih sibuk mencari cacing yang dimaksud oleh Aura.


"Tadi ada kak disana" Sahut Aura menunjuk ke arah keramik kamar mandi dari belakang Faris.


"Mana yang? Nggak ada?" Jawab Faris saat pria itu sama sekali tidak menemukan seekor cacingpun sedari tadi.


"Hm. Mungkin udah pergi kali ya kak. Yaudah biarin aja. Kita istirahat aja ya" Ajak Aura seketika menggandeng tangan suaminya itu untuk segera masuk ke dalam kamar.


Faris menghela nafas. "Yaudah deh" Sahutnya pasrah.


***


Pagi hari, setelah Faris berangkat bekerja, Aura segera bersiap-siap untuk pergi ke rumah sahabatnya Sabilla. Gadis itu kini diantar oleh kang Mamang karena semalam supir pribadinya itu sudah sampai dari kampung bersama sang istri.


Tidak butuh waktu lama, Aura sudah sampai di depan halaman rumah sahabatnya itu. Dari kejauhan. Aura melihat Sabilla tengah sibuk bermain dengan putrinya yang sudah berusia 14 bulan tersebut. Mengingat, kandungan sahabatnya itu sekarang juga sudah memasuki usia 7 bulan.


Bibir Aura tersenyum. Gadis itu seketika menoleh ke bawah. Aura mengelus perut datarnya. Sungguh, Aura benar-benar berharap bahwa dirinya benar-benar hamil.


Sebenarnya, semalam Aura ingin memberi tahu Faris bahwa dirinya baru menyadari bahwa sudah dua minggu tamu bulannya belum datang juga bulan ini. Seharusnya, tamu bulanan Aura sudah datang dari dua minggu yang lalu. Tapi, Aura baru menyadari hal itu semalam.


Saat ingin memberi tahu Faris, Aura tiba-tiba urung niat. Aura seketika tersadar. Jika dirinya memberi tahu Faris sebelum dirinya memastikan sendiri, dan jika hasilnya tidak sesuai dengan ekspetasi, Aura takut nanti hal justru membuat Faris kecewa. Itulah sebabnya Aura kembali menyembunyikan dan mengalasankan ada cacing saat gadis itu hendak memberitahu Faris semalam.


Aura juga sengaja datang sepagi ini ke rumah Sabilla juga untuk menanyakan hal yang tidak ia mengerti pada sahabatnya itu.


"Sabil" Sorak Aura dari halaman rumah.


Sabil yang kala itu berada di teras rumah bersama Sanni, segera menoleh saat merasa ada yang memanggil namanya.


"Eh ada Ounty uwa" Sahut Sabilla sambil mengajak Sanni berbicara.


Aura mendekat. Gadis itu segera mencium pipi Sanni saat dirinya sudah berada di hadapan Sabilla.


"Tumben banget lo ke rumah gue pagi-pagi gini Wa. Kesambet apaan?" Tanya Sabilla.


"Yeee. Emangnya nggak boleh?" Sahut Aura songong.


"Ya boleh sih. Tapi..."


"Bil" Panggil Aura sebelum Sabilla melanjutkan ucapannya.


"Hmmm" Sahut Sabilla.


"Idih. Tegang amat buk. Mau ngomong ya ngomong aja" Sahut Sabilla cengengesan.


Namun, kedatangan Farel dari dalam rumah membuat Aura mengurungkan niatnya untuk berbicara. Aura tidak mau jika Farel manusia ember itu mengetahui semuanya dan justru memberi tahu Faris yang belum pasti infonya.


"Sayang" Panggil Faris dari dalam sana.


"Eh ada kakak ipar" Sambung pria itu kemudian.


Aura hanya tersenyum canggung. Kali ini Aura tidak mau meladeni candaan Farel. Yang Aura inginkan hanyalah Farrel cepat-cepat pergi dari sini agar dirinya bisa leluasa bertanya dan menceritakan semuanya pada Sabilla.


"Lagi badmood. Jangan ganggu" Sahut Aura songong.


"Oo lagi dapet tamu bulanan ya?" Jawab Farel cengengesan.


Mendengar ucapan Farel, mata Aura membulat. "Jangan sampai, jangan sampai. Gue juga mau punya anak. Jangan sampe datang bulan" Batin Aura.


"Udah ah nggak usah digangguin, Ontynya Sanni lagi badmood sayang" Ucap Sabilla pada sang suami.


"Yaudah deh. Aku berangkat kerja dulu ya sayang. Jangan kecapek an ya. Kalo ada apa-apa jangan lupa panggil suster. Ya" Ucap Farel sembari mengelus perut buncit Sabilla. Kemudian, pria itu mencium penuh kasih sayang perut sang istri.


"Jagain Mama sama kakak ya sayang. Papa kerja dulu. Kalo mama selingkuh. Lawan aja sama kakak kamu ya" Ucap Farrel cengengesan.


"Enak aja selingkuh, selingkuh mulu yang di bahas. Nggak ada waktu juga kali aku untuk selingkuh" Sahut Sabilla cemberut.


"Heheh becanda sayang" Jawab Farrel cengengesan kemudian mengecup bibir sang istri. Kemudian, pandangan pria itu berlih pada Sanni yang ada di pangkuan Aura.


"Papa kerja dulu ya sayang. Jaga mama sama dedek di rumah ya" Ucap Farel mengecup pipi putri kesayangannya itu.


Aura yang sedari tadi memperhatikan kemesraan sahabat dan adik iparnya itu hanya terdiam. Sungguh, Aura juga ingin seperti itu. Aura ingin melihat Faris bahagia seperti Farrel bahagia. Aura juga ingin memiliki keluarga kecil yang harmonis seperti sahabatnya ini.


"Udah udah ah. Jadi nyamuk mulu gue kalo lagi sama kalian. Buruan sana kak Farrel ke kantor. Aku mau main sama Sabil sama Sani" Ucap Aura Kesal melihat pemandangan yang mengirikan ini.


"Idih. Kok ngusir?" Sewot Farel.


"Tapi yaudah deh. Jagain anak sama istri tercinta aku ya. Jangan cubit Sanni. Dia bisa ngadu lo sama aku" Ucap Farel bercanda seolah penuh ancaman.


"Aduhh kak Farel banyak bacot banget sih. Cepetan sana pergi" Usir Aura yang benar-benar tidak sabar untuk bercerita pada Sabilla.


Farrel mendengus. "Yang, sahabat kamu nih seenaknya usir-usir aku" Ucap Farrel alay ngadu pada Sabilla.


Sabilla hanya tersenyum. "Udah, buruan sana nanti kamu telat sayang" Sambung Sabilla.


"Idih belain sahabatnya daripada suami nih?" Celetuk Farrel yang benar-benar membuat Sabilla geli melihat tingkah suaminya itu.


"Tolong pak. Sadar umur ya. Anak udah mau dua. Jangan kaya anak kecil lagi tingkahnya. Malu nanti diketawain Sanni" Ucap Sabilla pada sang suami alaynya itu.


"Yaudah deh. Kek nya nggak akan ada yang berpihak padaku. Kalau begitu aku permisi. Maaf jika ada salah" Ucap Farrel penuh drama. Pria itu kembali mengecup pipi Sanni, Sabilla, dan perut buncit Sabilla. "Dada semuanya" Sambung Farrel yang benar-benar membuat Aura dan Sabilla terkekeh geli.


"DASAR LAKI LO BIL" Celetuk Aura ikut tertawa.


.


.