
"Siapa Bi?" Tanya Aura yang baru saja menyusul Bi Anis menuju pintu utama.
"Hallo penganten baru" Sapa Sabilla yang baru saja datang dengan Baby Sanni di gendongannya. Diikuti dengan Tasya, Kevin, dan juga Farrel yang ada di belakang mereka.
Aura kaget. Senyuman gadis itu mengembang seketika.
"Hallo ponakan Onty" Sapa Aura antusias. Gadis itu segera mendekat dan mengambil alih Sanni begitu saja dari gendongan Sabilla.
Sabilla terpelongo. "Yang nyapa lo kita Wa, bukan anak gue" Celetuk Sabilla.
"Bodo amat" Sahut Aura kemudian membawa Sanni begitu saja dari mereka.
Sabilla dan Farrel menoleh satu sama lain. Pasangan suami istri itu menggeleng sebelum akhirnya berjalan menyusul Aura masuk ke dalam rumah.
"Dasar " Celetuk Sabilla.
***
Tasya, Kevin, Farrel dan Sabilla kini tengah bersantai di ruang tengah rumah Aura. Sementara Aura, gadis itu membawa Sani ke dalam kamar berniat untuk membangunkan Faris dan mengajak pria itu sarapan.
"Ayok, kita bangunin ucle Faris dulu" Ucap Aura mengajak Sanni yang masih di dalam gendongannya berbicara.
Gadis itu tak henti menghujani wajah Sanni dengan ciuman. Pasalnya, Sanni benar-benar terlihat begitu menggemaskan sama seperti Papa dan Mamanya.
Aura sudah berada di tepi ranjang. Gadis itu perlahan naik ke atas Sana, Aura tepat duduk di samping Faris yang masih tertidur lelap.
"Hallo uncle Faris" Aura menyentuh pipi Faris dengan tangan mungil Sanni. "Uncle bangung dong. Main sama aku hayuk" Aura berbicara menirukan suara anak kecil. Sementara Sanni yang belum sepenuhnya mengerti hanya planga plongo menatap wanita yang menggendong dirinya itu.
Merasakan adanya guncangan dan lembutnya tangan mungil tersebut, Faris akhirnya terbangun. Pria itu menyipitkan matanya memperhatikan wanita yang kini berada di depan dirinya. Wanita yang tampak tengah menggendong bayi mungil di dekapannya.
"Hallo Ucle. Good Morning" Sapa Aura tersenyum manis. Gadis itu melambaikan tangan Sanni. Bagi Faris, wanita itu kini benar-benar tampak menggemaskan.
Faris mendudukkan tubuhnya perlahan. "Hallo cantiknya uncle" Sapa Faris meraih tangan mungil Sanni.
"Diluar ada kak Farel, Sabil, Kak Kevin sama Tasya" Ucap Aura sebelum Faris bertanya.
Kening Faris tertaut. "Sepagi ini?" Tanya pria itu. "Ngapain?" Sambung Faris kemudian.
Aura mengangkat bahunya. "Nggak tau. Bahas pernikahan Tasya kali" Sahut Aura.
"Ooo gitu"
Pandangan Faris kembali teralih pada Sanni. "Aduh ponakan Uncle cantik banget pagi-pagi. Udah mandi juga. Sini gendong" Ucap Faris hendak mengambil Sanni dari Aura.
Namun, gadis itu justru menjauhkan Sanni dari suaminya. "Nggak mau, Ucle Faris belum mandi. Nanti baju aku bau" Sahut Aura yang seketika membuat Faris tertawa.
"Tapi Onty kamu tetap cinta juga kan?" Rayu Faris.
"Apaan sih" Sahut Aura malu-malu. Sepasang suami istri itu saling merayu dan malu satu sama lain. Dengan kehadiran Sanni, mereka tampak seperti keluarga bahagia dengan anak mereka.
***
Tiga pasang manusia itu kini tengah duduk di meja makan di tambah Sanni satu lagi.
"Tumben banget kalian kesini pagi-pagi. Mau ngapain?" Tanya Aura songong.
"Idih songong banget mentang-mentang udah ada kak Faris kita di lupain. Kemaren juga nangis-nangisnya sama kita" Sahut Farrel.
"Bodo amat. Yang penting udah ada kak Faris jadi nggak butuh kalian lagi" Sahut gadis itu cengengesan. "Enggak deng, becanda" Sambung Aura kemudian.
"Kita kesini cuma mau main-main doang demi ngidamnya bumil nih pengen ngumpul rame-rame katanya" Tasya membuka suara.
Aura dan Faris kaget. "Bumil?" Ucap mereka serentak. Aura dan Faris melirik satu sama lain dengan tatapan mata sama sama penuh tanya. Mereka tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Tasya.
"Iya. Bini gue hamil lagi" Ucap Farrel tersenyum genit sembari mengelus lembut perut Sabilla.
"Astaga" Sahut Aura kaget.
"Why?" Tanya Farrel.
"Tau nih. Kak Farrel nyosor mulu tiap malam gimana nggak langsung jadi coba." Sahut Sabilla cemberut.
"Ya nggak papa yang. Biar cepat nyampe target" Rayu Farrel menaik turunkan alisnya.
"Berapa emang target lo Rel?" Giliran Kevin membuka suara.
"Sekodi" Sahut Farrel santai.
"What? sekodi banyak amat coy" Ucap Aura tidak percaya.
Pletakkkk
"Enak aja sekodi. Kak Farrel mah bikinnya enak. Aku yang ngeluarinnya susah setengah mati" Protes Sabilla menepuk pundak Faris.
"Nah lo. Setuju" Sahut Tasya dan Aura bersamaan.
"Astaga yang. Jadi kamu nggak ikhlas ngelahirin anak kita?"
"Bukan nggak ikhlas. Tapi yakali harus nyampe sekodi. Kasih aku waktu bernafas kek" Ucap Sabilla cemberut.
Farrel tersenyum. "Becanda juga" Ucap pria itu memeluk Sabilla seketika. "Tapi kalo mau serius juga nggak papa. Aku siap lahir batin kerja keras tiap malam" Sambung pria itu cengengesan.
"Dasar otak mesum" Celetuk Sabilla memalingkan pandangan.
"Aduh. Ekhem" Deheman Aura membuat Sabilla dan Farrel menoleh.
"Kenapa lo Wa, keselek? Belum juga makan udah keselek" Ucap Sabilla cengengesan.
"Nggak papa sih.."
"Eh btw, kalian kapan nyusul? Udah kak, tunggu apa lagi. Gasskeun, kasi Mama cucu banyak-banyak biar seneng. Jangan lama-lama, keburu tua dan keburu sepuluh juga anak gue nanti baru anak lo lahir." Ejek Farrel.
"Ck! Dasar" Umpat Faris pada adik songongnya itu.
Tatapan Farrel kemudian beralih pada Aura. "Bantuin kak Faris Ra. Kerja keras" Ucap pria itu tersenyum usil menaik turunkan alisnya pada Aura. Membuat gadis itu malu sendiri mendengarnya.
"Hm. Telinga kita dari tadi ternodai lo kak" Ucap Tasya pada Kevin.
Farrel yang sempat melupakan keberadaan adik sepupu dan calon iparnya itu yang padahal ada di depan mata, tertawa cengengesan.
"Kalo kalian belum boleh. Jangan coba-coba ya dosa. Minggu depan baru gasskeun Vin" Farrel mengedipkan matanya ke arah Kevin. Membuat semua yang ada di sana hanya menggeleng-geleng melihat tingkah Farrel.
"Bangsat lo Rel" Sahut Kevin tertawa.
"Mimipi apa gue punya adek kaya lo" Lirih Faris pelan.
"Nggak usah heran lo kak. Udah turunan bapak lo juga ini" Sahut Farris saat mendengar ucapan kakaknya itu.
"Udah-udah mending makan dulu. Nanti kuliah 3 sks nya dilanjut" Potong Aura menghentikan candaan ketiga laki-laki itu.
"Wah, semur Ayam yang" Ucap Farrel pada Sabilla. Mata pria itu melotot memperhatikan semur ayam masakan Aura yang tampak benar-benar menggugah selera.
Sabilla hanya menghembuskan nafas. Dia tau suaminya itu sangat doyan semur ayam. Sama seperti Faris dan juga Asep. Tapi nggak usah malu-maluin macam nggak pernah makan semur ayam juga. Fikir Sabilla seperti itu.
Farrel hendak menjangkau semur ayah yang ada di hadapan Faris. Namun, tangan Aura dengan cepat mencegahnya. Aura tersenyum usil.
"Ini buat suami tercinta aku ya"
"Aihhh. Pelit banget sih" Umpat Farrel kesal. Pria itu masih menatap semur Ayam tersebut dengan penuh harap. Serasa sudah berada di kerongkongan.
.
.
Jangan lupa like, komen, dan vote. Maksih. Maaf masih banyak typo🙏