
Aura terus berjalan tanpa henti. Menelusuri tempat tersebut dengan teliti. Entah mengapa, gadis itu sangat yakin bahwa Faris berada di sana. Di sebuah taman kota yang benar-benar terlihat ramai oleh umat manusia. Di tempat mereka menghabiskan waktu bersama seminggu yang lalu. Saat mereka masing tertawa dan bahagia bersama.
Aura mengunjungi setiap tempat yang ia kunjungi bersama Faris. Aura mengunjungi tempat dimana Faris memberinya kalung itu, kalung yang kini melekat di leher jenjangnya.
Aura memperhatikan tempat dirinya makan es bersama Faris. Air mata Aura benar-benar tidak bisa lagi terbendung. Gadis itu benar-benar berharap akan menemukan Faris disana.
Aura kini berada di pinggir jalanan yang benar-benar padat oleh kendaraan yang berlalu lalang. Suara hiruk pikuk kendaraan itu terdengar jelas di telinga Aura. Namun, Aura sama sekali tidak peduli. Gadis itu masih saja berjalan kaki tanpa henti.
Kepala Aura kini terasa berputar putar, gadis itu merasa pusing. Pasalnya, dari kemaren gadis itu belum makan sama sekali. Aura benar-benar hampir saja gila. Gadis itu sama sekali tidak memiliki selera untuk makan setelah kejadian tadi pagi. Saat gadis itu mendengar kabar yang tidak sangat menyenangkan dan tidak ia inginkan.
Yang Aura inginkan hari ini, adalah Farisnya kembali dan mereka hidup bahagia tanpa adanya orang ketiga.
Anita dan Farrel yang berada tidak jauh dari sana, kini melihat Aura dari kejauhan tengah berjalan sendiri dengan raut wajah yang benar-benar tidak bersemangat. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Jalanan benar-benar padat hingga suara Farrel yang sedari tadi berteriak tidak didengar jelas oleh Aura. Hingga mata mereka membulat kaget seketika.
"Aura awass......" Sorak Farrel dan Anita bersanaan.
Brukkkkk
Gadis itu tersungkur di aspal di dalam di pelukan seseorang yang tampak menggunakan jaket hitam dan juga topi berwarna hitam. Nyaris menutupi wajahnya.
Beberapa orang yang berada di sana segera bergegas mengerumuni orang yang baru saja kena tabrak tersebut.
Dalam waktu dua menit, Aura pingsan dan tidak sadarkan diri. Namun, tidak ada luka di bagian tubuh gadis itu. Sementara orang yang menyelamatkan Aura yang tidak tau siapa itu tampak meringis kesakitan, darah segar tampak menetes di beberapa bagian tubuhnya. Hingga orang tersebut memejamkan mata di tempat dengan posisi masih mendekap Aura yang juga sudah pingsan terlebih dahahulu di aspal.
Anita dan Farrel segera berlari menuju kerumunan orang yang kini tampak mengelilingi korban kecelakaan tersebut. Wanita yang telah melahirkan Aura itu menangis histeris saat melihat putrinya yang kini tidak sadarkan diri.
"Uwa.... Uwa bangun sayang" Ucap Anita menepuk pipi Aura dalam isaknya.
Anita menangis memeluk putrinya yang tergeletak di jalanan. Meskipun tidak ada luka di tubuhnya, namun gadis itu saat ini tidak sadarkan diri. Beruntung, Aura aman di dalam pelukan orang yang barusan menolongnya.
Namun, naas bagi orang tersebut yang tampat terluka parah.
Aura dan korban yang menolongnya itu segera di bawa ke rumah sakit oleh Ambulance yang baru saja datang. Anita mendampingi putrinya itu di dalam sana tak henti menangis dan menggenggam erat tangan Aura.
Sementara Faris, pria itu mendampingi korban yang belum tau indentitas dan keluarganya itu di Ambulance yang satunya lagi. Pria itu meninggalkan mobilnya yang semula ia parkirkan di parkiran taman kota begitu saja.
Sementara polisi, segera membawa sopir insiden tabrakan tersebut yang diduga tengah mabuk berat ke kantor polisi untuk segera dimintai keterangan dan tindakan lebih lanjut.
***
Aura mengerjapkan matanya beberapa kali. Gadis itu menyesuaikan pandangannya. Hingga kini, hanya langit-langit kamar rumah sakit yang dilihat dengan samar-samar oleh Aura ketika dirinya membuka mata.
"Kak Faris..." Lirih Aura menatap sendu bola mata Anita.
"Sayang. Kamu udah bangun? Kamu nggak papa kan? Apa ada yang sakit?" Tanya Anitasembari mengelus lembut rambut putrinya dan memastikan benar-benar tidak ada luka di tubuh gadis itu. Anita sedari tadi tidak berhenti meneterskan air mata.
"Mi. Kak Faris mana? Apa kak Faris udah pulang?" Tanya Aura tanpa mengubris pertanyaan sang Mami. Karena yang kini ia pedulikan hanyalah Faris. Aura memperhatikan setiap inci ruang rawatnya. Namun, hanya ada Sabilla, Farrel, Tasya, Baby Sanni, Rendy, Hafis dan kedua adiknya yang tampak di sana. Aura sama sekali tidak melihat wujud Faris di dalam sana.
Raut wajah gadis itu kembali terlihat murung. Aura kecewa. Aura fikir, Faris tidak akan benar-benar pergi dan akan segera kembaki. Tapi pria itu masih saja belum kembali.
"Kak Faris ada dimana?" Lirih gadis itu dalam hati dengan air mata yang tak henti menetes dari pipinya.
"Sayang. Sekarang kamu istirahat dulu ya. Jangan mikirin yang macam-macam dulu. Kita semua pasti cari Faris. Tapi kamu nggak boleh begini. Faris nggak akan mau liat kamu sakit" Ucap Anita menenangkan sang putri.
"Mi, gimana mungkin aku bisa tenang? Aku bahkan nggak tau sekarang kak Faris ada dimana? Aku nggak tau apakah kak Faris baik-baik aja Mi. Aku nggak mau kak Faris kenapa-napa. Udah cukup Kak Faris selama ini tersiksa Mi. Aku mau kak Faris bahagia. Aku mau jelasin semuanya"
"Iya sayang. Mami tau, makannya kamu harus sehat. Kamu nggak boleh sakit kalo kamu mau nyari Faris. Kamu juga harus jaga kesehatan kamu ya" Ucap Anita menenangkan Aura, mengecup puncak kepala putrinya itu.
"Tapi kenapa aku bisa ada di sini Mi? Bukannya tadi aku...." Aura menjeda ucapannya.
"Orang itu? Apa orang itu nggak papa Mi?" Tanya Aura saat dirinya mengingat kejadian tadi.
Anita memegang pundak Aura. "Sayang, orang itu nggak papa. Dia udah pulang sama keluarganya. Kalo kamu nggak mau kejadian kaya tadi terulang lagi, kamu nggak boleh kaya gini ya. Kamu nggak boleh main kabur gitu aja. Kita akan cari Faris sama-sama, bukan dengan cara seperti tadi. Kamu udah hampir bahayain diri kamu sendiri sayang."
"Tapi Mi..."
Anita memeluk Aura seketika sebelum gadis itu menyelesaikan ucapannya.
"Aku mau kak Faris kembali Mi" Lirih gadis itu di dalam pelukan sang Mami.
"Iya Mami tau." Sahut Anita mengeratkan pelukannya pada Aura. Wanita itu mencoba sebisa mungkin menenangkan putrinya. Sementara yang lainnya, hanya menatap gadis itu dengan tatapan iba. Termasuk Rendy Papi Aura yang tidak kuasa melihat putrinya itu tersiksa. Pria itu bahkan ikut meneteskan air mata.
.
.
.
Jangan lupa like komen dan vote ya. Makasih😍😍
Jangan lupa kuatin Aura. wkwkwk