Aura Story

Aura Story
Mulai Dari Awal



Aura melirik Faris dari atas sampai ke bawah. Raut wajah gadis itu berubah datar. Fikiran Aura kini dipenuhi dengan banyaknya tanda tanya. Ada apa dengan Faris? Kenapa pria itu duduk di kursi roda? Kemana Faris selama ini? Apa saja yang telah Faris lakukan? Pertanyaan-pertanyaan itu kini terlintas di benak Aura.


"Kak Faris kenapa?" Tanya gadis itu dengan tatapan sendu. Aura menatap mata Faris lekat.


Sementara Faris, pria itu tersenyum. Faris menangkup pipi Aura dengan kedua tangannya.


"Aku nggak papa Ra" Sahutnya.


"Bohong!" Suara itu terdengar jelas dari arah belakang Aura. Hingga membuat Faris dan Aura menoleh bersamaan, menatap orang yang kini berjalan ke arah mereka.


Kening Aura tertaut dalam saat mendapati Farrel dan juga Sabilla yang tengah menggendong Baby Sani berjalan ke arah mereka.


"Maksud kak Farrel apaan?" Tanya Aura.


"Kak Faris boong. Kak Faris boong kalo dia bilang nggak papa" Sahut Farrel dan Sabil yang kini sudah berada di dekat mereka.


Pandangan Aura kembali teralih ke arah Faris. Mata itu, mata sendu itu kini menatap lekat mata Faris yang tampak gelisah. Aura menatap Faris dengan banyaknya tanda tanya yang kini menghujani kepalanya.


"Ada apa kak Faris?" Tanya Aura memastikan. Namun, pria itu hanya diam diiringi dengan helaan nafas yang terdengar jelas.


"Kak Faris boong kalo bilang dia nggak papa Ra. Kak Faris hanya nggak mau kamu sedih dan merasa bersalah. Sebenarnya, yang nolongin kamu pada saat kecelakaan waktu itu kak Faris. Kak Faris ada di sana jagain kamu. Dan kecelakaan itulah yang membuat Faris nggak bisa jalan lagi"


Faris menghembuskan nafas pasrah. Pasalnya, pria itu sebenarnya tidak ingin mengatakan yang sejujurnya pada Aura. Karena Faris tidak ingin gadis itu merasa bersalah seumur hidupnya.


Faris ingin Aura hidup tenang dan tidak perlu mengetahui segalanya. Namun, Farrel memang menentang keinginan kakaknya itu. Bagi Farrel, Aura lebih baik mengetahui semuanya dari awal. Dari pada menciptakan kebohongan yang nantinya akan berakhir dengan kesalah pahaman kembali.


Aura kini menatap Faris dengan tatapan sendu. Manik mata itu kini tampak berkaca-kaca.


"Tapi waktu itu bukannya kak Farrel bilang kalo orangnya udah di jemput keluarga mereka?" Tanya Aura.


"Karena pada saat itu kita memang sengaja nggak ngasih tau kamu Ra. Pada saat itu kondisi kak Faris benar-benar kritis. Kita nggak mau kamu makin down dan sakit. Itulah sebabnya mengapa kita semua menyembunyikannya dari kamu. Karena kita tau, kamu nggak akan bisa menerimanya pada saat itu.


Bulir bening itu telah kembali menetes di pipi Aura.


"Kak Faris..." Lirih gadis itu dengan air mata yang sudah menetes di pipinya. Aura menatap lekat mata Faris.


"Kak Faris maafin aku..." Ucap Aura yang kemudian berhambur memeluk Faris dengan sangat erat. Seperti yang ditakutkan oleh Faris, gadis itu benar-benar merasa bersalah. Aura merasa bersalah, karena dirinyalah orang sebaik Faris selalu menderita. Hingga kini, Faris tidak bisa berjalann hanya karena cintanya terlalu besar untuk Aura. Faris bahkan rela asalkan Aura baik-baik saja.


"Ra. Aku mohon jangan nangis. Aku nggak papa. Aku juga udah terbiasa dengan semua ini" Sahut Faris mengusap lembut rambut Aura. Pria itu bahkan masih bisa tersenyum.


"Kak ini semua gara aku. Aku udah jahat sama kak Faris. Aku udah nyakitin hati kak Faris, dan sekarang, aku udah bikin kak Faris nggak bisa jalan. Kalau aja waktu itu kak Faris nggak nolongin aku, pasti sekarang..."


"Sttt. Jangan ngomong lagi. Semua udah terjadi. Ini adalah takdir yang harus kita jalani. Aku justru bersyukur masih diizinkan hidup. Masih bisa liat kamu lagi. Aku bahkan nggak bisa ngebayangin kalo pada saat itu aku nggak bisa nolong kamu. Mungkin aku akan merasa bersalah seumur hidup aku Ra. Jadi aku mohon, jangan menyesali semua ini. Aku nggak papa Ra."


"Ra. Kamu harus janji sama aku. Kamu nggak boleh merasa bersalah. Aku mau kamu ceria lagi. Kamu liat kan? Aku nggak papa. Aku masih bisa beraktivitas seperti biasa. Aku masih bisa tersenyum. Aku masih bisa meluk kamu. Jadi nggak ada yang perlu ditangisi dan disesali ya" Bujuk Faris.


Aura menatap Faris dalam. Gadis itu tersenyum. Meskipun Aura benar-benar merasa bersalah, tapi Aura juga tahu, bahwa Faris tidak ingin melihatnya hidup dalam penyesalan. Aura juga ingin melihat Faris bahagia. Gadis itu akan membuat Faris bahagia dengan cara apapun.


"Oke, aku nggak akan sedih lagi. Aku nggak akan menyesali apapun itu. Tapi ada syaratnya"


"Syarat? Syarat apa?" Tanya Faris bingung.


"Kita harus melangsungkan pernikahan kita yang dulu tertunda secepatnya. Karena kitalah yang seharusnya lebih dulu bahagia daripada Kak Kevin dan Tasya." Pinta gadis Aura tegas.


Farrel tercengang mendengar ucapan Aura. Farrel fikir, Aura tidak akan mau lagi bersama kakaknya setelah mengetahui semuanya. Mengingat, saat ini Faris bukan lagi laki-laki yang sempurna. Pria itu kini tidak bisa lagi berjalan dan hanya bergantung pada kursi rodanya.


Sementara Sabilla, wanita itu tersenyum senang mendengar dan menyaksikan apa yang barusan ia lihat.


"Kamu..."


"Yaudah, kalo kak Faris nggak mau, aku bakalan menyesali diri aku sendiri seumur hidup. Atau apa perlu aku bikin kaki aku nggak bisa jalan juga? Biar semuanya dil?" Ancam Aura.


"J-jangan. Kamu nggak boleh ngelakuin itu semua" Sahut Faris yang percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh Aura. Bagaimana mungkin Aura melumpuhkan kakinya juga. Sementara kini, gadis itu hanya ingin menjadi apapun bagi Farisnya. Aura akan melengkapi semuanya, segala kekurangan yang dimiliki oleh Faris.


"Yaudah kalo gitu. Kita urus lagi secepatnya pernikahan kita kak Faris." Tegas Aura.


Faris masih terdiam. Raut wajah pria itu terlihat datar seolah memikirkan sesutu.


"Ra. Kalo kita menikah, aku nggak akan bisa jadi suami yang sempurna untuk kamu. Aku nggak akan bisa menjaga kamu sebagai istri aku, sementara aku sendiri nggak bisa berjalan Ra..."


Aura tersenyum. Gadis itu kembali berjongkok di hadapan Faris. Aura menangkup kedua pipi Faris.


"Kak Faris sayang. Aku nggak pernah peduli akan hal itu. Selama kak Faris masih sama aku, aku akan tetap merasa bahagia dan aman. Kak Faris, kakak nggak boleh bilang kalo kakak nggak akan bisa jadi suami yang sempurna untuk aku."


"Karena bagi aku, kak Faris itu luar biasa, kak Faris udah melebihi kata sempurna. Kak Faris adalah oranga yang menyayangi aku melebihi apapun, orang yang selalu mementingkan kebahagiaan aku daripada kebahagiaan kak Faris sendiri. Dan itu benar-benar nggak bisa di defenisikan lagi kak. Jangan bahas kata sempurna, karena kita akan memulai semuanya dari awal dan melengkapi segala kekurangan masing-masing."


"Kak izinin aku buat bahagiain kakak. Izinin aku jagain kak Faris ya. Izinin aku menjadi apapun yang kak Faris butuhkan. Aku bahkan akan jadi kaki kak Faris untuk melangkah."


"Kak, aku menyayangi kak Faris melebihi apapun. Aku cuma mau kita sama-sama terus dalam kondisi apapun kak. Jadi kakak nggak perlu mikir yang macam-macam ya. Sampai kapanpun kak Faris tetap sempurna di mata aku. Aku mau kita sama-sama terus, bahagia, memulai semuanya dari awal kak"


.


.


.


Jangan lupa like, komen, dan vote ya. Makasih. Maaf jika ada typo dan kesalahan lainnya. Karena aku hanya manusia biasa yang tak pernah luput dari kesalahan. Hehe