Aura Story

Aura Story
Terimakasih Mama Yasmin



Maaf kalo ada typo


Malam yang begitu sunyi, setelah selesai makan malam barusan, Faris dan Aura segera kembali ke kamar mereka. Pasangan suami istri itu kini tampak berbaring menghadap satu sama lain.


"Kak Faris jangan liatin aku gitu terus." Protes Aura saat pria itu sedari tadi tak berhenti menatapnya, membuat Aura salah tingkah sendiri.


"Kenapa sayang? ini mata aku nggak bisa kalo nggak liat kamu"


"Eleh, pinter banget gombal sekarang. Udah sebelas dua belas aja sama kak Farrel nggak ada tanding" Celetuk Aura memutar bola matanya malas. Hal itu sungguh membuat Faris semakin merasa gemas pada istrinya ini.


"Besok kita ke rumah Mama sama Mami ya. Ngasih tau mereka." Ucap Faris.


Aura mengangguk. "Iya. Mama sama Mami pasti seneng banget denger kabar ini" Sahut Aura tersenyum.


Pandangan Faris kembali terfokus pada perut rataAura. "Makasih ya sayang. Makasih udah mau ngasih tempat buat anak aku timbuh disini" Faris tersenyum mengelus perut rata istrinya. Rasanya Faris benar-benar sudah tidak sabar lagi menunggu kedatangan sang buah hati.


"Hey, ini juga anak aku kalo kalo kak Faris lupa" Celetuk Aura tidak terima saat Faris hanga mengatakan itu anaknya.


"Idih sensi sekali buk" Canda Faris.


"Oiya, kenapa kamu bisa tau kalo kamu hamil? Terus kamu kapan ke rumah sakit? sama siapa?" Tanya Faris penasaran.


Aura tersenyum. Bibir gadis itu kini komat kamit menceritakan kejadian sebenarnya pada sang suami. Aura juga menceritakan kenapa Faris bisa mual-mual dan ngidam seperti ibu hamil.


"Serius yang?" Tanya Faris tidak percaya.


"Iya. Kata dokter gitu" Sahut Aura. "Ciee yang sayang banget sama aku" Rayu Aura yang membuat pipi Faris merona.


"Jadi sebenarnya semalam kamu mau bilang sama aku?" Tanya Faris lagi.


"Iya, sebenarnya semalam aku mau bilang sama kak Faris, aku mau kita tes sama - sama. Tapi seketika aku sadar, kalo aku cuma salah menduga, nantinya kak Faris bakalan kecewa. Makannya aku mau mastiin dulu sendiri sebelum ngasih tau kak Faris dan juga keluarga"


Faris mengeratkan pelukannya pada sang istri. Pria itu menenggelamkan kepala Aura di dada bidangnya.


"Jika memang belum saatnya kita di kasih kepercayaan, aku tetap bakal terima kok sayang. Tapi alhamdulillah sekarang hal yang kamu takutkan nggak terjadi. Karena sekarang aku bahagia banget"


Faris kembali melonggarkan pelukannya. Pria itu mengelus salah satu pipi Aura.


"Mulai sekarang, kamu berhenti nulis dulu ya sayang. Aku nggak mau kamu kecapekan. Kamu harus banyak istirahat. Ya" Ucap Faris menatap mata Aura lekat.


"Tapi sekali kali nggak papa kan kak?" Tanya Aura.


"Nggak boleh" Posesif Faris.


"Lah, nanti kalo aku tiba-tiba bosan gimana?" Protes Aura.


"Kalo bosan kamu mainnya di kantor aku aja" Jawab Faris enteng.


"Kak, kak Faris ke kantor buat kerja. Ya kali aku main-main disana"


"Dasar, menatang-mentang bapaknya yang perusahaan bisa bertingkah seenaknya" Celetuk Aura.


***


Aura dan Faris baru saja sampai di kediaman Yasmin dan juga Asep. Setelah pulang dari rumah Aninta dan Rendi, Aura dan Faris kemudian memutuskan untuk ke rumah mertuanya memberitahu kabar baik ini.


"Apa? kamu hamil?" Tanya Yasmin yang kini dududk di hadapan Aura tidak percaya. Wanita itu menunjukkan ekspresi yang sama seperti eksperesi Anita barusan.


Aura mengangguk. "Iya Ma. Aku hamil, aku aku sama kak Faris bakal ngasih Mama cucu" Sahut Aura tersenyum sambil mengelus perutnya.


Tanpa fikir panjang, Yasmin segera merengkuh memeluk tubuh menantunya itu.


"Selamat ya sayang. Mama senang akhirnya kalian bahagia. Akhirnya mama punya banyak cucu juga" Ucap Wanita yang sudah tidak lagi muda itu. Wanita itu benar-benar antusias mendengar kabar kehamilan Aura.


"Iya Ma. Makasih juga, Mama udah ngelahirin kak Faris ke duania ini." Ucap Aura dengan mata berkaca-kaca.


Yasmin tersenyum, kemudian mengusap pipi Aura. "Mama beruntung bisa punya mantu kaya kamu dan Sabil, kalian anak-anak baik yang pantas bahagia. Semoga anak-anak Mama tetap menjaga kalian dan menyayangi kalian sampai tua kelak."


"Mama berharap rumah tangga kalian akan baik-baik aja. Rikun-rukun terus ya. Sekalipun suatu saat ada masalah yang menimpa kalian, jangan terlalu cepat mengambil keputusan. Selesaikan masalah dengan kepala dingin ya sayang."


"Mama bukan mendoakan yang enggak enggak, tapi yang namanya kehidupan rumah tangga pasti akan ada cobaannya. Namun, yang terpenting hanya cara kita menyikapinya. Jangan mudah terbawa emosi, karena emosi nggak akan menyelesaikan masalah sayang. Yang ada akan hanya menimbulkan penyesalan di kemudian hari."


Aura mengangguk. "Iya Ma. Makasih ya, mama udah jadi mertua yang baik. Aku udah anggap Mama seperti Mami aku sendiri. Aku sama Sabil sayang Mama" Ucap Aura kemudian memeluk mertuanya itu.


"Mama juga sayang kalian, anak-anak dan menantu Mama. Semoga kalian selalu bahagia. Mama nggak akan pernah berhenti untuk do'ain kebahagiaan kalian" Sahut Yasmin membalas pelukan Aura dan sesekali mengecup puncak kepala menantunya itu.


***


Sore hari, Aura sedang duduk di taman belakang rumah Yasmin. Dari kejauhan, Faris tersenyum dan berjalan menghampiri istrinya itu.


"Dulu, adik ipar aku tiba-tiba bawa cewek ke rumah ini."


Aura menoleh ke belakang saat mendengar suara Faris. Wanita itu memperhatikan Faris fokus.


"Dia bilang, cewek itu sahabatnya. Cewek yang bawelnya minta ampun. Nggak ada hari buat nggak nyerocos. Tapi entah kenapa, aku suka."


Faris mendudukkan tubuhnya di samping Aura dengan memfokuskan pandangannya ke depan. Sementara Aura, dia fokus menatap Faris yang melanjutkan ucapannya.


"Aku suka sama dia dari saat pertama kali aku liat dia di rumah ini. Menurut aku dia lucu, dia baik, dia bahkan selalu ada saat adik ipar aku terlibat masalah sama suaminya"


"Diam-diam, aku memendam rasa padanya. Aku suka memperhatikan dia dari kejauhan dan secara diam-diam. Karena aku nggak seberani Farrel adikku dalam urusan wanita. Aku sangat senang setiap kali Sabilla bawa dia ke rumah ini. Aku sering merhatiin dia dari kejauhan."


"Hingga suatu ketika, aku mengetahui fakta bahwa dia mencintai sahabat adikku, orang yang sangat aku kenal. Jujur saja, pada saat itu hati aku sangat-sangat terluka. Tapi ya, aku tetap aja nggak bisa apa apa. Toh kita nggak pernah dekat, cuma sering ketemu karena Sabil sering bawa dia kesini."


"Dan hingga suatu ketika, aku memberanikan diri buat ungkapin apa yang aku rasain sama dia. Jujur saja, pada saat itu aku tau kalo dia bakalan nolak. Tapi.. Ya, aku nggak peduli, yang penting aku udah ungkapin semuanya sama dia. Dan sekalipun dia udah nolak, entah kenapa rasa sayang aku sama dia nggak pernah berkuran sedikitpun"