
Kevin menekan tombol hijau yang tertera di layar ponsel.
"Iya Sya." Sahut Kevin tidak bersemangat. Benar, semenjak kejadian pada saat itu, Tasya dan Kevin memang sudah saling dekat, mereka terkadang juga sering pergi bersama.
"Lah, kak Kevin kenapa?" Tanya Tasya saat gadis itu menyadari suara Kevin yang terdengar tidak begitu bersemangat.
"Nggak Papa" Sahut Kevin dingin. "Ngapain kamu nelfon aku?" Sambung pria itu kemudian.
"Keluar hayuk" Ajak Tasya tanpa basa basi.
"Lagi males" Sahut Kevin.
"Yah. Nggak asik banget sih kak Kevin sekrang" celetuk Tasya dari seberang sana.
"Aku lagi mager sya." Sahut Kevin memelas.
"Kak Kevin lagi ada masalah? Iya! Pasti iya!" Seketika Tasya teringat akan pernikahan Aura dan juga Faris yang akan dilangsungkan dua minggu lagi.
"Apa jangan-jangan kak Kevin..." Tasya menejeda ucapannya.
"Iya. Aku lagi kacau. Aku lagi merutuki diri aku sendiri. Diri aku yang bodoh karena udah menyia nyiakan orang yang sayang sama aku dan sekarang bakalan seutuhnya jadi milik orang lain." Sahut Kevin.
"Pokoknya kita harus ketemu. Kita harus ketemu titik. Aku tunggu kak Kevin di tempat biasa. Kalo nggak aku beneran bunuh diri nih" Ancam Tasya. Tasya segera mematikan telfon tersebut tanpa aba-aba.
Kevin menghela nafas pasrah. Gadis itu selalu saja mengancamnya dengan alasan bunuh diri. Pria itu menoleh ke samping. Namun, Kevin tidak lagi mendapati Kinan di sana. Tanpa ingin memperdulikan, Kevin segera mengambil jaket hitamnya yang ada di dalam lemari. Pria itu segera kelur dari kamar menyusul Tasya.
***
Aura dan Faris kini tengah duduk di kursi besi yang ada di sekitar taman. Mereka tersenyum dan tertawa bahagia sambil menikmati Ice Cream yang dibeli oleh Faris barusan.
"Enak banget yah?" Tanya Faris sembari memperhatikan Aura yang makan terlihat begitu bersemangat.
"Banget" Sahut Aura tersenyum bahagia sambil menikmati Ice nya.
Faris tersenyum. "Pelan-pelan aja. Aku gabakal minta kok" Ucap Faris.
"Iya aku tau" Aura hanya tersenyum malu. Beberapa saat kemudian, Faris mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
"Ra" Panggil Faris.
"Hm" Sahut Aura menoleh.
Pria itu membuka kotak kecil tersebut. Faris mengeluarkan kalung berlian dari dalam sana.
"Sini" Ucap Faris.
"Hah?" Aura telihat bingung.
Faris sedikit mendekat. Pria itu mengalungkan kalung tersebut di leher Aura.
"Cantik" Puji Faris tersenyum.
Aura memperhatikan kalung tersebut sejenak. Raut wajah gadis itu masih tampak bingung.
"Kenapa kak Faris ngasih aku hadiah? Aku belum ulang tahun" Tanya Aura dengan polosnya.
Faris tetawa mendengar ucapan gadis itu. "Emangnya kalo mau ngasih hadiah harus nunggu ulang tahun dulu?" Faris mengacak rambut Aura gemas.
"Ya biasanya sih pada gitu"
"Tapi bagi aku nggak harus nunggu hari ulang tahun untuk buat orang yang aku sayang bahagia dan tersenyum"
"Yaudah kita pulang yuk" Ajak Faris.
Aura mengangguk. Sepasang manusia itu kini kembali berjalan menuju parkiran. Bibir Aura tak berhenti tersenyum bahagia. Rasanya tidak bisa di ungkapkan dengan apapun, Faris benar-benar laki-laki idamannya. Yang selalu membuatnya tersenyum dan merasa bahagia.
***
Di tepi danau, Tasya tak henti menoleh ke arah Kevin yang sedari tadi hanya diam tidak seperti biasanya. Pria itu hanya menatap kosong ke arah danau tersebut.
"Kak Kevin lagi galau karena kak Aura sama kak Faris bakalan nikah ya?" Tanya Tasya. Namun tidak ada sahutan dari Kevin.
"Kak Kevin. Aku lagi ngomong" Celetuk Tasya kesal.
"Aku tau kak Kevin lagi patah hati. Tapi ini semua juga salah kak Kevin."
"Iya. Aku tau ini semua salah aku" Sahut Kevin datar tanpa ingin menoleh ke arah Tasya.
"Yaudah terima aja konsekuensinya. Aku yang ditinggal nggak ada salah aja kak Kevin bilang biarin aja. Lah, gimana kak Kevin yang ditinggal karena kesalahan sendiri? Harusnya kak Kevin lebih bisa nerima dong dari pada aku" Ucap gadis itu tanpa merasa bersalah.
"Iya Tasya. Aku terima semuanya"
"Terus kenapa kak Kevin jadi kayak gini kalo kak Kevin memang nerima semuanya?"
Kevin menoleh. Apa aku nggak boleh, menenangkan diri aku sendiri? Apa aku nggak boleh sebentar aja merenungkan semuanya? Apa aku harus memaksakan tawa saat hati aku terluka? Apa aku nggak bisa mencari ketenangan sebenatar saja?" Soratan mata itu terlihat tajam tak seperti biasanya. Tasya bisa menangkap bahwa pria itu sedang marah.
"M-maksud aku nggak gitu" Sahut Tasya. "Apa kak Kevin mau aku peluk juga?" Tanya Tasya layaknya anak kecil. Gadis itu seolah membalas apa yang Kevin lakukan pada dirinya.
"Nggak usah" Sahut Kevin yang kemudian berdiri dan meninggalkan Tasya disana.
"Kak Kevin, kak Kevin mau kemana?" Sorak Tasya. Namun Kevin tak menghiraukan, pria itu terus melangkahkan kakinya meninggalkan Tasya.
"Kak Kevin jangan tinggalin aku. Aku takut" Ucap Tasya dengan suara bergetar. Gadis itu memperhatikan suasana sekitar. Gelap, sepi, karena hari sudah malam. Dan itu benar-benar meluluhkan hati Kevin. Gadis itu selalu saja membuat dirinya tidak tega. Gadis itu selalu saja bertingkah seperti anak Kecil saat bersama Kevin.
Kevin mangalihkan pandangannya ke belakang. Pria itu melihat Tasya masih berdiri di tempat. Gadis itu menangis menutup matanya dengan tangan.
Kevin kembali melangkah mendekat ke arah Tasya. "Kan nangis lagi" Lirih Kevin saat pria itu sudah berada di depan Tasya.
Kevin memegang tangan Tasya. Pria itu menjauhkan tangan itu dari wajahnya.
"Aku yang patah hari kenapa jadi kamu yang nangis?" Tanya Kevin bingung.
"Kak Kevin marah kan sama aku? Kak Kevin nggak mau lagi kan temenan sama aku? Aku minta maaf kalo ucapan aku salah. Tapi aku nggak ada maksud bikin kak Kevin tersinggung. Kalo kak Kevin marah sama aku dan nggak mau ketemu aku lagi, terus siapa yang bakal nemenin aku? Aku belum siap sendiri" Tasya kembali meneteskan air matanya.
"Astaga. Jadi kamu pikir aku bakalan marah sampe segitunya? Aku cuma lagi nggak enak hati Sya. Aku pengen tenang. Dan aku nggak mungkin juga segitu marahnya sampe nggak mau ketemu kamu lagi" Sahut Kevin menghapus air mata Tasya yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.
"Tapi apa nggak bisa kak Kevin nenangin diri sama aku aja? Aku juga mau dengerin semua apa yang kak Kevin rasaian, aku juga mau ngasih kak Kevin semangat seperti apa yang kak Kevin lakuin sama aku."
"Dasar anak manja" Lirih Kevin kemudian memeluk Tasya.
"Aku nggak akan marah sama kamu. Aku nggak akan ninggalin kamu sampe hati kamu beneran udah sembuh. Sampe kamu dapetin pengganti dia yang beneran bakalan jagain kamu. Sampe kamu siap menceritakan semuanya sama keluarga kamu. Aku nggak akan pernah ninggalin kamu samapai saat itu tiba. Sekarang gausah nangis lagi"
"Maksih kak Kevin. Aku berasa lagi sama kak Farrel. Kak Farrel juga biasanya selalu meluk aku kalo aku nangis. Kak Farrel selalu nenangin aku saat aku terpuruk, meskipun kadang-kadang dia galak. Tapi untuk hal ini aku belum bisa cerita sama dia. Kak Farrel pasti bakalan marah besar. Makasih kak Kevin udah jadi kak Farel dan Kak Faris buat aku"
.
.
.
Jangan lupa like, komen, dan vote ya. Oiya jangan lupa mampir juga di karya baru aku ya. Judulnya ANINDHIYA. Silahkan mampir siapa tau suka. Hehehhe Makasih 🥰