Aura Story

Aura Story
Belum Terlambat



Dua hari berlalu. Hari ini, adalah hari dimana Faris akan berangkat ke London. Benar, pria itu memang benar-benar akan pergi, bukan hanya sekedar menakut nakuti Aura.


Di dalam kamar, tepatnya di balkon kamar Aura, gadis itu tampak melamun menatap kosong ke arah depan serta nenopang dagunya dengan tangan kanan. Sedari tadi, mata Aura tak teralih dari ponsel yang masih berada di tangan kirinya. Berkali-kali Aura membaca ulang pesan yang dikirimkan oleh Faris yang sudah ia terima dari dua jam yang lalu.


Faris mengirimkan pesan untuk memberitahu Aura bahwa dirinya akan berangkat siang hari, dan pria itu juga mengajak Aura untuk ikut mengantarkan dirinya ke bandara. Namun, sedari tadi Aura masih tak begerming, Aura sama sekali tidak beralih dari tempat duduknya dan masih menatap ponsel tersebut dengan raut wajah datar. Gadis itu juga belum membalas pesan yang dikirimkan oleh Faris.


Di sisi lain, di kediaman Asep, seluruh keluarga Faris tampak sudah berkumpul. Termasuk Farrel, Sabilla dan juga Tasya. Mereka semua sibuk mempersiapkan keperluan untuk keberangkatan Faris. Sementara Faris, sedari tadi, pandangan pria itu tak teralih dari pintu masuk rumahnya dengan tatapan datar.


"Barang-barang kamu udah siap semua kan kak?" Tanya Yasmin yang baru saja datang dari arah dapur. Yasmin mendudukkan tubuhnya tepat di samping Faris yang saat ini tengah duduk di sofa ruang tamu rumahnya.


"Udah Ma" Sahut Faris tersenyum.


Yasmin mengelus kedua pipi Faris dengan telapat tangannya. "Jaga diri kamu baik-baik ya sayang. Jangan kecapekan, makan jangan telat, dan kalo ada apa-apa cepat hubungi Mama sama Papa ya" Ucap Yasmin dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Wanita itu tentu saja merasa sedih, bagiamana tidak, selama 25 tahun Faris selalu bersama dirinya. Tapi hari ini, Faris memutuskan untuk pergi jauh dari keluarga meskipun dalam urusan pekerjaan. Hal itu tentu saja membuat Yasmin merasa sangat kehilangan, apalagi Farrel juga sudah tidak tinggal bersama dirinya lagi meskipun masih ada Tasya yang menemani.


Faris menatap Yasmin sesaat. "Ma, jangan nangis. Nanti kakak pasti pulang" Bujuk Faris yang hanya di angguki oleh Yasmin. Dengan cepat, Faris memeluk ibu yang telah melahirkan dirinya itu dengan sangat erat.


Faris dan seluruh keluarga yang akan mengantarkan pria itu ke bandara, sudah bersiap-siap untuk naik ke dalam mobil.


Saat ini semuanya sudah berada di dalam mobil, namun Faris masih berdiri di samping mobil memperhatikan suasana sekitar. Menghembuskan nafas kasar, akhirnya pria itu memutuskan untuk segera berangkat. Namun, langkah Faris terhenti tatkala rungunya menangkap jelas suara seorang gadis yang baru saja datang bersorak memanggil namanya.


Pandangan Faris teralih ke arah asal suara. Hingga senyuman seketika terlukis dari raut wajahnya. Saat pria itu mendapati Aura yang baru saja datang dan baru saja turun dari sebuah mobil mewah yang berjarak tidak jauh dari tempat pria itu berdiri.


"Kak Faris" Sorak Aura.


Aura mulai melangkahkan kakinya mendekati Faris, hingga kini, tubuh Aura sudah berada tepat di hadapan Faris.


"Aku fikir kak Faris boong. Aku fikir kak Faris nggak akan pergi, tapi ternyata aku salah. Kak Faris beneran pergi" Kata-kata itu keluar dari bibir Aura hingga jujur saja membuat Faris merasa gemas.


Faris tersenyum. Pria itu menangkup kedua pipi Aura. "Aku nggak pernah main-main dengan ucapan aku sendiri Ra. Termasuk saat aku bilang suka sama kamu"


Aura terdiam, gadis itu sedikit mendongakkan kepala ke atas. Menatap Faris dengan raut wajah datar.


"Jaga diri kamu baik-baik ya" Sambung Faris kemudian. Namun, Aura hanya terdiam tanpa mengelutkan sepatah katapun. Mereka tampak saling menatap satu sama lain. Hingga tak berselang lama, Faris memeluk tubuh Aura erat.


Dari dalam mobil, semua keluarga Faris hanya menyaksikan pemandangan yang ada di depan mereka saat ini. Karena mereka semua memang sudah mengetahui semuanya, mengetahui tentang hubungan Aura dan juga Faris termasuk Yasmin dan juga Asep.


Pasangan suami istri itu juga sudah mengetahui bahwa putra pertamanya itu menyukai sahabat dari menantunya Sabilla. Tapi Yasmin dan Asep juga tidak bisa berbuat apa-apa saat mereka juga mengetahui bahwa Aura masih mengharap Kevin yang saat ini entah berada di mana.


Faris melepaskan pelukannya. "Kalau jodoh, kita pasti ketemu lagi" Ucap Faris tersenyum. Kemudian, tangan pria itu menggenggam erat tangan Aura.


"Apa kamu mau ikut ngantar aku ke bandara?" Tanya Faris.


Aura masih terdiam, menatap Faris dengan raut wajah datar. Tak berselang lama, gadis itu menggeleng. "Nggak kak, aku nggak mau ikut" Sahutnya kemudian.


"Kalo gitu aku pamit ya Ra. Tunggu aku pulang" Ucap Faris kemudian berjalan menaiki mobil dengan tangan masih menggenggam tangan Aura. Hingga lama kelamaan genggaman itu terlepas.


Mobil yang akan mengantarkan Faris ke bandara sudah bergerak menjauh dari tempat Aura berdiri saat ini. Tanpa Aura sadari, bulir bening itu sudah berhasil lolos dari kelopak matanya.


Anita memegang pundak Aura dari belakang.


"Sekarang kita pulang ya sayang" Ucap Anita.


Aura menoleh, tanpa mengeluarkan suara, gadis itu menuruti kemauan ibunya untuk kembali ke mobil. Hingga di dalam mobil, Aura masih terdiam memperhatikan jalanan.


"Apa kamu udah mencintai Faris?" Tanya Anita tiba-tiba.


Aura memalingkan pandangan ke arah ibu yang telah melahirkan dirinya itu.


"Kenapa Mami nanya gitu?" Tanya Aura.


"Karena Mami bisa lihat dan bisa ngerti bahasa tubuh kamu. Mami tau, sebenarnya kamu nggak mau Faris pergi. Tapi kamu juga masih mikirin Kevin."


"Mi, kak Faris orang baik Mi"


"Iya, Mami tau sayang. Lantas, apa yang membuat kamu sulit membuka hati untuk Faris? Faris itu pria dewasa, bertanggung jawab, bahkan dia punya kesabaran luar biasa yang mungkin laki-laki lain nggak punya"


"Aku nggak Tau Mi. Sebenarnya, saat bersama kak Faris aku bahagia dan merasa nyaman. Tapi aku juga nggak tau kenapa harapan akan kembalinya kak Kevin selalu mengahantui fikiran aku juga Mi"


"Sayang, itu tandanya orang yang kamu cintai adalah Faris. Dan Kevin, kamu masih mikirim Kevin itu hanya karena rasa obsesi kamu yang dulu aja."


"Kalau Mami boleh jujur. Mami lebih yakin sama Faris, Mami yakin dia akan menyayangi kamu dengan setulus hatinya dia. Karna Mami bisa lihat dari cara dia memperlakukan kamu selama ini, dia sabar menunggu kamu, apalagi cara dia memperlakukan Yasmin ibunya. Mami yakin Faris adalah laki-laki terbaik untuk kamu."


"Mami harap, seceparnya kamu sadar, agar kamu nanti nggak menyesal. Jangan sampai hanya karena menunggu kedatangan Kevin yang nggak tau sekarang ada di mana, kamu akan Kehilangan faris yang udah tulus sama kamu. Karena penyesalan akan selalu datang kemudian sayang. Dan lebih baik, kamu fikirin lagi matang-matang sebelum semuanya terlambat"


Aura terdiam, menundukkan pandangan seraya mencerta ucapan Anita. Dan sejujurnya Aura juga membenarkan apa yang dikatakan oleh Maminya.


Perlahan, Aura menegakkan kepalanya, menatap Anita dengan mata berkaca-kaca.


"Tapi sekarang kak Faris udah pergi Mi"


Anita tersenyum. Wanita itu merengkuh memeluk tubuh Aura. "Tapu semua belum terlambat kok sayang" Sabutnya sembari mengelus lembut rambut sang putri.


.


.


.


.


.


Jangan lupa like, komen, dan vote ya. Makasih :)