Aura Story

Aura Story
Rumah Sakit



Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Tasya dan Kevin baru saja sampai di depan halaman rumah Yasmin. Benar, pagi tadi, setelah mereka pergi dari rumah Kevin, Kevin memang tidak langsung mengajak Tasya untuk pulang. Kevin memang sengaja membawa Tasya untum makan dan menenangkan diri telebih dahulu sebelum kembali ke rumahnya.


Tasya masih duduk di kursi samping kemudi saat mobil Kevin sudah berhenti dari tadi. Tangan Tasya gemetar, gadis itu memainkan jemarinya karena ketakutan. Tasya benar-benar merasa takut jika keluarganya tahu tentang apa yang sudah ia lakukan semalam. Mereka pasti akan marah besar.


Kevin menoleh ke samping, pria itu melirik ke arah Tasya. Kevin meraih tangan yang berukuran lebih kecil dari tangannya itu. Tangan yang kini mendadak dingin karena ketakutan.


"Nggak usah takut. Santai aja." Ucap Kevin menenangkan. Bibir pria itu tersenyum meyakinkan Tasya.


"Kalo mereka sampe tau gimana kak?"


"Nggak akan. Makannya kamu rileks aja, santai kaya biasanya. Jangan kaku biar mereka nggak curiga"


"Tapi aku nggak bisa kak"


"Kamu bisa!"


Kevin dan Tasya segera keluar dari dalam sana. Mereka segera berjalan menuju teras rumah kediaman Yasmin dan juga Asep tersebut. Tasya masih tampak ketakutan. Gadis itu tidak bisa rileks karena sejatinya, jika seseorang melakukan kesalahan memang seperti itu, akan terlihat jelas ketakutan dari raut wajahnya. Apalagi Tasya yang memang tidak bisa berbohong sedari dulu.


Kevin menggenggam tangan itu kembali. "Jangan takut" Ucapnya. Mereka berjalan bergandengan tangan masuk ke dalam sana, namun langkah Kevin terhenti tatkala dirinya melihat Aura dan Faris tengah tertawa duduk di riang tamu.


Genggaman itu seketika terlepas. Raut wajah Kevin berubah datar saat dirinya melihat Aura. Entahlah, kenapa hati Kevin rasanya tertusuk saat melihat pemandangan ini? Apakah ini yang dinamakan Karma is the real?


Begitu juga sebaliknya, Aura yang seketika itu menyadari keberadaan Kevin, terdiam sesaat. Gadis itu menatap Kevin dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. Raut wajah gadis itu juga berubah datar.


"Tasya...Kevin..." Ucap Faris.


"Hai kak Faris" Sapa Faris.


"Kenapa kalian bisa ada di sini? Bukannya semalam Mama bilang kalo kamu tidur di rumah teman kamu Sya?" Kenapa sekarang jadi sama Kevin?"


Jantung Tasya seketika menggelegar. Wajahnya berubah pucat. Sungguh, gadis itu tidak pandai berbohong seumur hidupnya. Karena orang tua Tasya memang tidak pernah mengajarkan hal semacam itu pada dirinya. Tasya tidak tahu harus menjawab apa.


"Aku..."


"Oo tadi dijalan aku nggak sengaja ketemu Tasya kak. Terus sekalian aja aku anterin Tasya pulang karena kebetulan aku juga lewat daerah sini" Potong Kevin sebelum Tasya melanjutkan ucapannya, karena Kevin tau gadis itu sangat gugup dan takut.


Namun, entah mengapa kepala Tasya tiba-tiba terasa berat, gadis itu memegang keningnya sesaat. Pandangan Tasya kini terasa berputar-putar. Hingga Brukkkk. Gadis itu ambruk begitu saja di hadapan Faris, Aura dan juga Kevin"


"Tasya"


"Tasya"


"Tasya"


Kevin yang semula berdiri, segera menjongkok. Begitu juga dengan Faris dan juga Aura yang berada di sana segera berdiri dari dududknya.


"Tasya" Panggil Kevin. Pria itu menepuk-nepuk pipi Tasya, mencoba membangunkan gadis itu. Namun, Tasya sama sekali tak menyauti.


"Kak dimana kamar Aura?" Tanya Kevin pada Faris.


Faris sedikit heran dan juga bingung dengan tingkah Kevin, karena Kevin tampak benar-benat mengkhawatirkan adiknya. Namun, itu semua sekarang tidaklah penting. Faris segera memberi tahu Kevin kamar Tasya. Pria itu bergegas menggendong tubuh Tasya masum ke dalam kamarnya.


Kevin membaringkan tubuh Tasya perlahan di atas tempat tidur. Pria itu menggenggam tangan Tasya yang terasa dingin. Sementara Faris dan Aura, kedua manusia itu kini berdiri dengan raut wajah bingung di belakang Kevin.


Bukan tidak khawatir akan kondisi Tasya. Namun, mereka hanya sedikit heran saat melihat Kevin yang tidak biasanya memperlakukan Tasya seperti saat ini. Mereka bertingkah seolah sudah lama mengenal.


"Vin, mending kita bawa Tasya ke rumah sakit aja deh. Nggak biasanya ini anak kaya gini." Usul Faris.


Mata kevin membulat. Pria itu menoleh ke arah belakang menatap Faris, kemudian beralih menatap Tasya yang masih belum sadarkan diri.


"Hm. Kayaknya nggak perlu ke rumah sakit deh kak. Aku rasa Tasya cuma kecapek an doang karena tadi Tasya nggak berenti ngoceh karena lelah ngerjain skripsi. Aku rasa dia cuma kecapekan karena sering begadang aja deh" Alasan Kevin. Karena Kevin tidak mungkin membiarkan Tasya di bawa ke rumah sakit, yang ada keluarganya akan tau bahwa gadis itu habis minum.


Kening Faris tertaut dalam. "Sekarang kalian sedekat itu ya?" Tanya Faris. Pasalnya, hari ini Kevin bertindak seolah mengetahui segalanya tentang Tasya. Padahal, yang Faris tau mereka belum pernah dekat sebelumnya.


"Hm cuma beberapa hari ini kok kak. Tasya anaknya cerewet, suka nyerocos terus. Jadi berasa udah kenal lama aja jadinya" Sahut Kevin memaksakan senyumannya.


Sementara Aura, gadis itu sedari tadi tak bergeming memperhatikan sifat Kevin pada Tasya. Mereka sempat saling menoleh, menatap dingin satu sama lain, sebelum Aura yang lebih dulu memalingkan pandangannya.


"Hm. Yaudah kalo gitu kita liat aja bentar lagi. Kalo nggak sadar juga kita bawa ke rumah sakit aja. Takut nanti kenapa-napa ini anak" Ucap Faris.


"Hm. Iya kak Faris. Tapi apa boleh aku disini nemanin Tasya?" Pinta Kevin meminta.


Faris seketika menoleh ke arah Aura yang juga tampak menoleh ke sembarang arah.


"Hm. Yaudah." Sahut Kevin sebelum Faris dan Aura keluar dari sana.


***


Kevin sedari tadi duduk di samping tempat tidur Tasya. Kevin tidak bisa meninggalkan Tasya disini begitu saja. Tadi itu baru Faris yang bertanya, Tasya sudah jelas terlihat ketakutan. Apalagi jika Yasmin atau Asep? Tapi beruntung kedua orang tua itu sedang tidak ada di rumah saat ini. Kevin belum bisa meninggalkan gadis itu sebelum dirinya benar-benar sudah aman.


Kevin sedari tadi tak berhenti menatap wajah Tasya. Pria itu sesekali menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Tasya. Begitulah manusia, sekalipun Tasya punya segalanya, tapi gadis itu bisa semenderita ini hanya karena seorang pria.


Kevin juga menggenggam tangan Tasya. Tangan yang masih terasa dingin. Pria itu benar-benar sudah menganggap Tasya sebagai adiknya sendiri. Rasa iba kini menyelimuti hati Kevin, jelas terlihat dari sorotan matanya.


"Cepat sadar sebelum tante Yasmin pulang. Kamu nggak mau kan mereka semua tau kalo kamu sampe dibawa ke rumah sakit" Bisik Kevin di telinga Tasya. Namun, tanpa Kevin sadari, ada seseorang yang sedari tadi melihat mereka dari kejauhan. Melihat bagaimana Kevin memperlakukan Tasya dengan sangat lembut.


.


.


.


Jangan lupa vote yang kenceng yah biar makin semangat hihi. Makasih 💕