Aura Story

Aura Story
Nggak Jelas



Saat tengah asyik membaca beberapa Tulisan Aura, Faris akhirnya kembali teringat, tujuan utama pria itu adalah mencari keberadaan Aura. Pria itu segera bergegas menutup kembali laptop tersebut. Keluar dari kamar, Faris kembali menelusuri setiap sudut tempat yang ada di Apartemennya. Namun, Faris masih belum menemukan Aura. Kemana gadis itu? Fikir Faris.


Kini, kecemasan benar-benar melanda Faris. Ia tidak tahu saat ini Aura berada di mana. Faris sempat berfikir Aura kabur dari Apartemennya. Namun, barang-barang gadis itu masih terlihat tertata rapi di dalam kamar.


Faris mengotak atik layar ponsel. Mencari nama Aura tertera di sana. Berkali-kali pria itu mencoba manghubungi nomor ponsel Aura, namun gadis itu masih tak menjawabnya.


Kali ini Faris benar-benar kehilangan akal. Faris benar-benar tidak tahu harus meminta tolong pada siapa. Beberapa kali ia juga berfikir, tentang apa kesalahan yang telah ia perbuat pada Aura. Tapi Faris rasa, semua biasa-biasa saja. Ia tidak merasa telah menyakiti gadis tersebut.


Tanpa berfikir panjang, Faris segera mengambil sweeter di dalam kamarnya. Pria itu bergegas hendak keluar dari Apartemen, namun langkah Faris terhenti tatkala dirinya mendapati Aura yang baru saja datang dari luar.


Gadis itu terlihat biasa-biasa saja. Tanpa merasa bersalah ataupun merasa takut. Aura tampak membawa satu kantong kresek di tangannya. Faris terdiam, pria itu memperhatikan Aura sejenak dari atas sampai ke bawah dengan tatapan yang tidak dapat di artikan. Entah marah, entah lega karena Aura yang sedari tadi ia cemaskan tidak kenapa-napa.


Aura yang terlihat risih dengan tatapan Faris, mengerutkan keningnya dalam.


"Kenapa liatin aku kaya gitu?" Tanya Aura jutek.


"Dari mana kamu?" Sahut Faris tanpa mengubris pertanyaan Aura.


"Hmm" Aura menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Gadis itu tampak berfikir sejenak.


"Dari luar" Sahut Aura lantang.


"Luar mana. Ngapain?"


"Hm cuma muter-muter Apartement aja. Aku bosen di kamar terus"


"Tapi kan aku udah bilang, kalo aku lagi kerja jangan kemana-mana"


"Tapi aku juga nggak mungkin Apartemen terus, aku juga mau liat suasana diluar" Bantah Aura.


"Tapi kamu belum tau jalanan di sini. Ini London Aura, bukan Indonesia!"


"Iya, aku tau kak Faris. Tapi aku udah dewasa!"


"Oo jadi kamu udah merasa dewasa. Terus kemaren saat kamu..."


"Iya iya aku salah." Sahut Aura sebelum Faris melanjutkan ucapannya.


"Terus itu apaan?" Faris menunjuk kantong kresek yang kini dipegang oleh Aura.


Aura mengalihkan pandangannya ke bawah. "Mmm ini, ini cuma makanan ringan, tadi aku beli di bawah"


"Makanan ringan? Bukannya di kulkas banyak makanan? Ngapain kamu beli lagi?" Tanya Faris.


"Aduhh kak Faris udah kaya detektif deh. Tau ah, aku capek mau istirahat" Elak Aura. Gadis itu hendak berlalu meninggalkan Faris. Namun, Faris yang menyadari akan sesuatu, menarik tangan Aura saat gadis itu berpapasan dengan dirinya.


Aura menoleh ke arah belakang, gadis itu menatap mata Faris dengan tatapan bingung.


"Ada apa lagi?" Tanya Aura.


Faris menatap Aura sejenak. Kening pria itu tertaut dalam. Merasakan ada sesuatu yang aneh dari Aura. Namun, ia juga tidak tahu apa.


"Kenapa tangan kamu dingin?" Tanya Faris.


"Ha? Dingin? enggak kok" Elak Aura menjauhkan tangannya yang semula dipegang oleh Faris.


"Muka kamu kenapa pucat?" Tanya Faris lagi dan lagi.


"Pucat apaan sih kak Faris nggak usah aneh-aneh deh. Ini Karena aku nggak pake make up. Tangan aku dingin juga karena aku habis dari luar. Ada-ada aja deh pertanyaannya."


"Enggak, tapi ini beda..."


"Beda apanya sih? Kak Faris belum makan ya? Makan dulu gih sana. Ngaco banget deh"


"Haaaah"... Aura menghembuskan nafas lega saat gadis itu berhasil mendudukkan tubuhnya di atas tempat tidur. Aura memegangi dadanya yang masih berdetak begitu kencang. Sesaat kemudian, gadis itu segera menyembunyikan kantong kresek yang barusan ia bawa. Aura menyembunyikan bendak kecil yang ada di kantong tersebut ke sela-sela baju yang ada dalam lemarinya.


***


Tok tok tok


Tok tok tok


Suara ketukan pintu yang terdengar begitu nyaring, terdengar jelas oleh Aura yang kala itu masih terlelap akan tidurnya. Setelah mengerjap beberapa kali dan menyesuaikan pandangannya, Aura segera berdiri. Gadis itu berjalan menuju pintu kamar.


"Apaan sih kak Faris pagi-pagi gini gangguin orang lagi tidur aja" Ucap Aura dengan suara khas bangun tidurnya.


Bibir Faris tersenyum. Pria itu mengacak-acak rambut Aura. "Udah jam delapan Aura bawel. Aku mau berangkat kerja. Nanti sebelum jam 7 malam kamu siap-siap ya. Aku jemput"


"Hah udah jam 8 aja? Kak Faris mau berangkat kerja? Terus kak Faris udah sarapan?" Tanya Aura tidak percaya. Lagi, dirinya terlambat menyiapkan semuanya.


Aura memukul kepalanya sendiri. Berkali kali dirinya ingin bangun pagi. Semenyebalkan apapun Aura, ia tetap tau diri, bahwa dirinya merasa hanya menyusahkan Faris selama disini.


"Kamu kenapa hei?" Tanya Faris menghalangi Aura yang hendak memukul kepalanya kembali.


"Aku udah siapin sarapan di meja makan. Pokoknya nanti sebelum jam 7 kamu udah siap-siap. Oke?"


"Kak Faris maafin aku..."


"Maaf kenapa?"


"Selama aku disini, aku cuma bikin kak Faris susah. Aku bahkan nggak pernah masak buat kak Faris. Aku disini hanya jadi beban. Tapi percayalah, aku udah berusaha buat bangun pagi, tapi..."


"Tapi mimipi kamu terlalu indah?" Potong Faris tertawa.


"May be (bisa jadi)" Sahut Aura menatap Faris kesal.


"Ra, aku nggak pernah merasa kamu beban. Ada atau enggaknya kamu disini. Aku juga akan tetap seperti ini. Aku juga pasti akan ngerjainnya sendiri. Aku sama sekali nggak pernah menganggap kamu beban. Karena dengan adanya kamu disini, itu adalah sebuah keajaiban buat aku. Aku senang, Yaa... Meskipun kamu menyebalkan"


"Hmm yaudah deh. Besok-besok aku usahain bantu kak Faris beres rumah, masak, semuanya deh."


"Dasar" Faris tersenyum sembari mengacak-acak rambut Aura.


"Buruan gih mandi sana. Habis itu sarapan. Jangan lupa makan yang banyak, dan nggak usah sungkan. Aku udah bisa hidup mandiri, jadi nggak usah ngerasa bersalah. Makan yang banyak, pura-pura nggak jatuh cinta dan pura-pura nggak cemburu itu juga butuh tenaga"


Aura terdiam. "Maksud kak Faris apaan?"


"Enggak, nggak ada maksud..."


"Apaan sih gajelas banget deh"


"Memang nggak jelas. Makannya nggak usah difikirin. Makan yang banyak, nulis aja yang bener. Aku pamit, nanti aku jemput!"


Faris segera berlalu dari sana. Bibir pria itu tak henti melengkung. Menahan senyuman saat melihat kebingungan dari raut wajah Aura.


Sementara Aura, gadis itu masih menatap Faris dengan tatapan heran. "Aneh banget tuh orang sekarang" Lirih Aura sembari menggeleng-gelengakan kepala. Gadis itu kembali menutup pintu kamar saat tidak lagi mendapati Faris dari jangkauan matanya.


.


.


.


Jangan lupa like, komen, dan vote yang banyak ya. Makasih 💕