Aura Story

Aura Story
Masih Ada Aku



Pagi itu, Kevin sudah bangun lebih dulu dari tidurnya. Pria itu segera menuju lantai bawah rumahnya sesaat setelah selesai bersiap-siap. Di tangga, Kevin perpapasan dengan Kinan. Pria itu menatap kakaknya dengan raut wajah datar. Begitu juga dengan Kinan, wanita itu bahkan merasa enggan untuk memalingkan pandangannya pada Kevin.


Tanpa ingin memperkeruh suasana di pagi hari, Kevin lebih memilih membiarkan kakaknya itu untuk berfikir. Kevin juga tidak ingin memaksa kakaknya untuk mempercayainya. Karena yang ada, hanya pertengkaran yang akan terjadi di antara mereka karena dua manusia itu sama-sama keras kepala.


Kevin membuka pintu kamar tamu. Pria itu melihat Tasya masih tertidur dari ambang pintu. Kevin perlahan melangkahkan kakinya mendekat. Pria itu kini sudah berdiri di samping tempat tidur. Kevin memperhatikan wajah Tasya sejenak. Pria itu benar-benar merasa kasihan pada Tasya. Bagaimana mungkin gadis itu menahan semuanya sendiri?


"Tasya..."


"Tasya bangun" Panggil Kevin mencoba membangunkan Tasya. Sesaat kemudian, gadis itu mengerjap menyesuaikan pandangannya.


Saat mata Tasya sudah terbuka sempurna, gadis itu sontak terduduk kaget saat melihat Kevin berada di depan matanya.


Tasya menarik selimut. "Ngapain kak Kevin disini?" Sinis Tasya bertanya. Gadis itu menatap Kevin penuh curiga.


"Ini rumah aku. Harusnya kalo gitu aku yang nanya kenapa kamu disini?"


Tasya memperhatikan suasana sekitar dengan raut wajah bingung. "Benar, ini bukan rumah Yasmin."


"Terus kenapa aku bisa ada disini? Kak Kevin nyulik aku ya?"


"Ck! Siapa juga yang mau nyulik kamu. Yang ada aku nolongin kamu semalam tau nggak!" Sahut Kevin.


Tasya masih mendongakkan kepalanya ke atas menatap Kevin yang masih berdiri di samping tempat tidur. "Nolongin? Emangnya aku kenapa?" Tanya Tasya dengan polosnya.


"Yelah ini bocah pake acara hilang ingatan segala lagi" Celetuk Kevin.


Pria itu kini melangkah mendekat. Kevin mendudukkan tubuhnya di samping Tasya.


"Kenapa sih kamu ngelakuin itu semua? Kamu nggak mikirin Mama sama Papa kamu? Kamu nggak mikirin Tante Yasmin sama om Asep? Kamu nggak mikirin Faris, Farel dan juga Sabil? Kamu nggak mikirin, gimana kalo mereka semua tau apa yang udah kamu lakuin?" Tanya Kevin serius. Pria itu menatap dalam bola mata Tasya.


"M-maksud kak Kevin?" Tanya Tasya masih dengan raut wajah bingung.


"Sya, aku ngerti perasaan kamu. Aku tau kamu terluka. Aku tau kamu patah hati. Tapi seenggaknya kamu nggak boleh ngelakuin ini. Kamu udah ngerusak masa depan kamu hanya karena laki-laki kaya dia."


"Kamu nggak boleh lupa, kalo kamu juga masih punya keluarga yang sayang sama kamu Sya. Sekarang gimana skripsi kamu? berantakan kan? Gimana kalo mereka semua tau tentang semua ini?"


"Harusnya kamu bangkit, harusnya kamu buktiin ke dia kalo kamu bisa hidup tanpa dia. Toh, selama ini juga bukan dia yang biayain hidup kamu, bukan dia yang ngasih makan kamu"


"Lantas kenapa kamu harus kaya gini hanya karena dia? Cinta boleh Sya. Bodoh jangan!"


Kening Tasya tertaut. Tasya mencoba mencerna ucapan Kevin. Seketika gadis itu teringat akan kejadian semalam.


"Kak Kevin, aku mohon jangan bilang hal ini sama keluarga aku" Ucap Tasya saat gadis itu sudah mengingat semuanya. Tasya memegang tangan Kevin penuh harap.


"Aku nggak janji, kalo kamu gini terus. Ini bahaya banget buat kamu" Sahut Kevin datar.


"Kalo kamu nggak mau mereka kecewa kenapa kamu harus ngelakuin ini Sya? Kamu mikir nggak sih disana banyak laki-laki yang nggak bertanggung jawab? Untung, kebetulan semalam aku nemuin kamu! Coba kalo enggak? masa depan kamu bisa hancur Sya!" Tegas Kevin.


"Kamu mikir nggak? Kamu jadi kaya gini karena dia. Sementara dia? Dia udah bahagia sama perempuan lain"


"Tapi hati aku sakit kak" Tasya seketika menunduk. Suaranya terdengar bergetar. Kini, bulir bening itu sudah berhasil lolos dari mata Tasya. Sungguh, dada Tasya benar-benar terasa sesak setiap kali mengingat Alvin.


"Kadang aku masih berharap ini semua mimpi kak. Aku pengen Alvin kembali. Alvin dulu nggak kaya gini" Ucap Tasya dalam isak tangisnya. Gadis itu masih menunduk memegangi dadanya yang benar-benar terasa sesak. "Alvin dulu sangat menyayangi aku. Kita udah janji bakalan sama-sama terus" Sambung gadis itu kemudian.


"Seseorang bisa berubah kapan aja Tasya" Sahut Kevin dengan raut wajah datar. Pandangan pria itu tidak tertuju pada Tasya, melainkan ke sembarang arah dengan tatapan kosong. Entah apa yang ada dalam fikiran Kevin saat ini.


"Aku nggak tau salah aku apa. Kenapa sulit sekali menerima semua ini kak Kevin. Aku nggak tau harus gimana lagi. Aku nggak tau gimana ngatur hati aku buat nggak merindukan dia. Aku nggak tau caranya Kak Kevin" Ucap Tasya masih dalam isak tangisnya.


"Aku bahkan nggak tau harus cerita ke siapa. Aku nggak mau ceritain ini semua sama teman-teman aku. Karena aku tau, mereka pasti akan merendahkan aku dan membully aku setelah ini. Karena dulu, aku dengan percaya dirinya membangga banggakan Alvin pada mereka. Tapi sekarang? Alvin bahkan...."


"Dada aku sesak kak. Fikiran aku tiba-tiba kosong saat aku sendiri. Aku juga nggak tau kenapa ini harus terjadi sekarang, saat aku harus menyelesaikan urusan kuliahku."


Pandangan Kevin sedari tadi tak teralih dari Tasya. Pria itu menyaksikan dengan jelas gadis itu menangis terisak di depan dirinya. Sungguh, Kevin merasa kasihan pada gadis itu. Tanpa berfikir, Kevin segera merengkuh Tasya ke dalam pelukannya.


"Kamu bisa cerita sama aku, kamu bisa membagikan semuanya sama aku. Kamu bisa anggak aku kakak kamu, sama seperti Farel dan juga Kak Faris. Tapi aku mohon sama kamu, jangan pernah ngelakuin hal bodoh kaya gini lagi. Kamu harus kejar mimpi-mimpi kamu buat buktiin ke dia kalo kamu bisa tanpa dia. Jangan terpuruk kaya gini Sya"


"Kalo kamu memang ngerasa nggak punya siapa-siapa, kamu bisa cerita sama aku, kamu bisa berbagi sama aku. Aku siap dengerin semua isi hati kamu"


***


Kinan yang sedari tadi mengintip ambang pintu, merasa bersalah karena tidak mempercayai Kevin. Wanita itu merasa bersalah karena tidak mempercayai omongan adiknya sendiri.


Kevin dan Tasya baru saja keluar dari kamar tamu tersebut. Tasya kaget saat melihat Kinan ada di sana. Gadis itu merasa takut, namun Kinan justru tersenyum ke arahnya.


Kevin yang kini memegang tangan Tasya, hendak berlalu dari sana, namun Kinan justru menarik tangannya.


"Vin. maafin gue" Ucap Kinan.


"Lo nggak perlu minta maaf. Gue ngerti kekhawatiran lo" Sahut Kevin tanpa menoleh ke arah kakaknya itu. Kevin segera menarik Tasya dari sana, sementara Tasya yang merasa tidak enak, sedikit menundukkan pandangannya sebelum benar-benar keluar dari rumah tersebut. Gadis itu bahkan tidak sempat mengucapkan kata terimakasih pada Kinan karena Kevin buru-buru menarik tangannya keluar.


.


.


.


Jangan lupa like, komen, dan vote ya. Makasih💕