
...Perhatian!...
...Part ini mengandung ke uwuan, ke alayan, jadi, mohon bersabar, yang nggak tahan silahkan angkat tangan. Wkwk...
...Oiya, untuk sekedar pemberitahuan. Extra Part lumayan panjang. Sekitar sepuluh bab lagi. Jadi, jangan di unfavoritkan dulu ya....
...Dan juga kalo ada kesalahan tentang kehamilan gitu, mohon beritahu aku baik baik di kolom komentar ya. Karena aku cuma berpedoman pada google. Maklum belum ngalamin sendiri. Jadi cuma bisa memahami apa kata mbah google. Ye ntar jadinya curhat. Happy Reading. Semoga suka💙...
Waktu terus berlalu. Kehidupan Aura dan Faris benar-benar bahagia. Apalagi mereka sudah sangat tidak sabar menunggu kedatangan buah hati tercinta ke dunia.
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Tapi bumil itu masih saja belum bisa memejamkan mata.
Aura tampak masih betah berlama lama di depan televisi yang ada di ruang keluarga.
"Yang, tidur yok. Kasian kamunya begadang terus" Ajak Faris yang kini sedang berbaring dengan paha sang istri menjadi bantalan. Faris mendongak, memohon mengajak sang istri untuk beristirahat. Tapi tetap saja sedari tadi hasilnya nihil. Aura sama sekali tidak mau beranjak dari sana.
"Belum ngantuk sayang. Bentar lagi. Ya" Sahut Aura.
Faris cemberut. "Liat tuh Mama kamu bawel banget dibilangin." Ucap Faris mengajak janin yang ada di perut Aura berbicara. Ya, perut wanita itu memang semakin hari semakin membesar mengingat usia kandungan Aura susah menginjak usia tujuh bulan.
Dan selama itulah, Faris sang suami siaga selalu bersikap posesif. Aura bahkan tidak diperbolehkan lagi melakukan pekerjaan apa-apa. Kecuali memang berolahraga untuk ibu hamil dan jalan pagi yang ditemani dirinya sendiri. Karena Faris benar-benar takut jika istri dan bayinya itu kenapa napa.
"Yang.." Panggil Faris.
Aura menoleh ke bawah. "Apa?" Sahutnya.
"Kalo anak kita udah lahir harus mirip aku ya?" Ucap Faris.
"Kenapa?" Tanya Aura bingung.
"Yakali, aku yang capek capek bikin mukanya mirip kamu" Faris segera duduk. Posisi pria itu kini berhadapan dengan sang istri.
"Lah, nggak papa dong. Aku kan mamanya" Protes Aura.
"Jangan ngegas dong. Becanda sayang" Faris langsung saja nyosor bibir Aura gemas. Apalagi pipi istrinya itu sekarang sudah semakin berisi, menambah hobby Faris mencubit pipi istrinya itu.
"Yang" Panggil Faris.
"Apa lagi kak Faris sayang?"
"Tidur ayok. Nggak baik begadang mulu ih"
Aura menghembuskan nafas pasrah. Gadis itu tidak bisa lagi menolak. Karena Aura tau, suaminya itu akan selalu memaksa. "Yaudah ayok." Ajak Aura.
"Nah gitu dong. Dari tadi kek" Faris segera bangkit dari duduknya. Pria itu merentangkan tangannya untuk membantu sang istri berdiri.
"Hati-hati" Ucap Faris.
"Nyeri banget pinggang aku sayang" Ucap Aura manja.
"Makannya kita istirahat, besok kita check up ke dokter ya" Ucap Faris. Mereka kini berjalan menuju kamar. Faris memapah istrinya itu perlahan. Padalhal, sejujurnya Aura masih bisa berjalan sendiri. Emang dasar Farisnya aja yang alay plus lebay. Eh maklum lah ya anak pertama. Excited banget soalnya.
***
Di dalam kamar, Faris membantu Aura membaringkan tubuhnya perlahan. Kemudian dia ikut berbaring di samping sang istri.
Faris mengelus perut Aura yang sudah membersar itu. "Good Night sayang papa" Ucap Faris kemudian mengecup perut sang istri.
Aura dan Faris kini tidur saling berhadapan. Jarak mereka tidak terlalu dekat seperti biasa karena terhalang oleh perut Aura.
Sebenarnya tidak ada perintah apa-apa. Ya, balik lagi. Faris memang sering membaca apa saja yang berhubungan dengan hamil muda. Dan pria itu selalu bertindak sebelum ada perintah.
Namun, sebenarnya Aura justru menikmatinya. Aura justru sangat senang melihat suaminya ini posesif daripada cuek dan nggak peduli. Meskipun terkadang Faris begitu menyebalkan, tapi Aura menikmatinya.
***
Pagi hari, kicauan burung seolah sedang berlomba-lomba memamerkan suara indahnya. Matahari juga sudah perlahan keluar dari tempat peraduannya.
Aura mengerjap matanya perlahan saat gadis itu terbangun dari tidurnya. Aura menoleh ke samping, namun wanita itu sama sekali tidak mendapati sang suami di dalam sana.
"Kak..."
"Apa sayang?" Sahut Faris yang baru saja datang dari pintu kamar sambil membawa makanan dan susu yang ia siapkan sendiri untuk sang istri tercinta.
"Kak Faris dari mana?" Tanya Aura.
"Ya kali kamu fikir aku bawa makanan gini darimana?" Tanya Faris balik.
"Hm. Dari dapur sih" sahut Aura memelas.
"Itu kamu tau"
"Ya kan aku cuma nanya doang. Apa susahnya sih di jawab aja gitu. Nggak usah ngomong gitu segala" Ucap Aura dengan mata berkaca kaca. Ya, wanita itu akhir-akhir ini sensitif sekali.
"Astaga. Becanda sayang. Jangan nangis dong. Aku minta maaf ya" Faris segera meletakkan makanan yang barusan ia bawa dari dapur di atas nakas. Pria itu begegas duduk di samping tempat tidur tepatnya di samping sang istri. Faris segera memeluk tubuh istrinya yang sudah gemuk itu dengan cepat.
"Becanda ya. Becanda. Jangan nangis lagi" Ucap Faris mengelus lembut pipi Aura. "Daripada cemberut mulu mending kamu mandi dulu. Biar anak kita juga segar di dalam sana nggak kegerahan" Sambung Faris kemudian.
Aura mengangguk, kemudian segera berdiri. Setiap pagi, pria posesif itu akan selalu menemani Aura mandi. Padahal Aura sudah bilang bahwa dirinya tidak akan kenapa napa. Aura masih bisa sendiri. Tapi Faris yang terlalu berlebihan itu tetap saja kekeh ingin menemani sang istri. Karena Faris tidak mau aura kenapa napa.
Faris bahkan sudah mengambil cuti. Padahal Aura lahiran masih lama lagi. Hanya saja Faris tidak ingin melewatkan kesempatan mengurus istrinya. Faris juga tidak mau jika tiba-tiba Aura melahirkan tanpa dirinya. Mumpung yang punya perusahaan bapak sendiri, jadi masih bisa negosiasi.
***
Selesai membersihkan diri, Faris kembali memapah Aura kembali ke dalam kamar. "Kak, aku bisa jalan sendiri jangan dibikin kaya orang sakit gini dong" Ucap Aura.
"Nggak papa sayang. Siapa tau Bi Anis lupa ngelap air di lantai ntar kamu jatoh. jadi nurut aja ya nggak udah bantah."
"Kok jadi nyalahin Bi Anis?" Tanya Aura bingung.
"Enggak nyalahin sayang. Kali aja gitu" Jawab Faris ngeles.
Faris membantu Aura mengganti pakaiannya, karena wanita itu memang sedikit kesusahan memakai baju sendiri mengingat perutnya yang semakin membesar dan tubuhnya yang juga bertambah gemuk.
Setelah selesai menyisir rambut Aura. Faris segera meraih makanan yang barusan ia bawa dari meja makan yang terletak di atas nakas. Pria itu mulai menyuapi Aura dengan telaten. Faris benar-benar menjadikan istrinya itu ratu.
Kenapa? Karena Faris tau, mengandung, menahan rasa sakit, susah tidur, dan nyeri yang dirasakan oleh istrinya itu belum seberapa dibanding apa yang saat ini Faris lakukan. Selagi Faris bisa mengistimewakan istrinya, kenapa tidak?
"Aa aaa satu lagi yang" Ucap faris sambil membuka mulutnya sendiri seolah sedang menyuapi anak kecil.
"Udah kak. Nggak mau lagi. aku udah kenyang" Tolak Aura.
"Satu lagi sayang. Satu ini aja" Ucap Faris memohon yang ujung ujungnya membuat Aura pasrah. Wanita itu memakan satu sendok lagi yang disuapi oleh suaminya itu.
"Nah, pinter" Ucap Faris mengacak acak rambut sang istri sambil tersenyum.