Aura Story

Aura Story
Bersyukur



...Maaf kalo banyak typo dan banyak kata yang berulang ulang....


Yasmin baru saja sampai di halaman rumah anak dan menantunya itu. Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Yasmin dan Asep kini berjalan tergesa-gesa. Untung saja Yasmin mengetahui password rumah Faris dan Aura.


Mereka segera masuk ke dalam sana dengan Yasmin yang sepertinya sudah tidak sabar sekali untuk menengok anak dan menantunya itu.


"Ma. Pelan-pelan jalannya. Nanti Mama jatoh" Ucap Asep saat pria itu mengekori istrinya. Namun, Yasmin sama sekali tidak menyauti. Wanita itu terus melanjutkan langkahnya.


Yasmin benar-benar panik. Wanita itu tidak mengetuk pintu terlebih dahulu. Yasmin langsung saja menerobos membuka pintu kamar Aura dan Faris yang kebetulan memang belum terkunci.


"Kak, Aura gima..."


Ucapan Yasmin terhenti. Wanita itu kaget bukan main. Yasmin memperhatikan Faris yang masih berdiri di tempat tadi. Benar, pria itu masih belum berpindah posisi sedari tadi karena jujur saja Faris masih tidak percaya.


Sungguh, ini benar-benar mukjizat yang tidak pernah Faris bayangkan. Faris fikir dia akan lumpuh selamanya dan selalu menjadi suami yang tidak berguna bagi Aura. Tapi tidak ada yang mustahil di dunia ini jika Tuhan sudah berkehendak bukan?


"Kak. Kamu bisa berdiri?" Tanya Yasmin dengan bibir bergetar. Wanita itu sama saja tidak percaya sama halnya dengan Faris.


"Ma" Lirih Faris. Tapi pria itu masih tidak berpindah posisi. Mungkin karena Faris sudah mulai terbiasa duduk di kursi roda. Membuat dia takut untuk melangkah dan akhirnya terjatuh.


"Kak kamu berdiri sayang" Ucap Yasmin berhambur memeluk putranya itu segera.


"Ma, ini bukan mimpi kan?" Tanya Faris dengan mata berkaca-kaca. Jujur saja, sedari tadi Faris sebisa mungkin menahan air matanya.


Sementara Asep, meskipun pria itu sama-sama terkejud, tapi ia tidak menghampiri Faris seperti Yasmin. Asep justru langsung bergegas ke kamar mandi untuk melihat Aura.


Pria itu kaget saat melihat menantunya tidak sadarkan diri di kamar mandi. Wajah Aura benar-benar pucat. Tangan gadis itu kini sangat dingin. Tanpa berfikir panjang, Asep segera mengangkat menantunya itu keluar dari kamar mandi.


"Ma. Sekarang kita harus bawa Aura ke rumah sakit dulu" Ucap Asep yang kini sudah menggendong Aura.


Faris dan Yasmin seketika tersadar. "Astaga. Maafin Mama sampe lupain istri kamu. Ucap Yasmin.


"Ma. Aura..." Lirih Faris.


Yasmi memegang pipi Faris. "Aura nggak akan kenapa-napa. Kamu tenang aja ya" Ucap Yasmin menenangkan Faris.


Benar, Asep memang sudah membawa Aura terlebih dulu menuju mobil.


***


Aura kini sudah berada di ruang perawatan. Gadis itu tampak terbaring lemah di atas brankar. Sedari tadi, Faris sama sekali tak berpindah posisi dari duduknya di samping Aura. Faris menggenggam tangan istrinya itu erat.


Sungguh, Faris benar-benar merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Aura dengan baik. Berkali-kali bibir pria itu berucap mengucapkan kata maaf dan tak henti mencium tangan sang istri.


"Maafin aku sayang. Mulai sekarang aku janji. Aku nggak akan biarin kamu kecapek an lagi karena ngurus aku. Mulai sekarang aku yang akan ngurus kamu. Jangan sakit lagi. Maafin aku" Lirih Faris sebelum pria itu mengecuk kening Aura cukup lama.


Sementara keluarga Faris dan keluarga Aura yang berada di sana benar-benar merasa terharu sekaligus iba pada Faris karena pria itu benar-benar merasa bersalah.


Aura seperti ini karena gadis itu benar-benar kurang istirahat. Bagaimana tidak, Aura sering begang tengah malam. Dan, semenjak menikah Aura tidak hanya mengurus dirinya sendiri, melainkan mengurus Faris juga.


Gadis itu benar-benar kurang istirahat dan kurang tidur.


Keluarga Faris dan Aura juga memang sudah mengetahui kondisi Faris. Mereka benar-benar bersyukur dan merasa sangat bahagia. Itulah sebabnya keluarga Faris dan Aura menyuruh Faris untuk berhenti menyalahkan dirinya sendiri.


***


Pagi hari, sinar matahari telah berhasil menyusup ke celah-celah gorden yang ada di rumah sakit. Aura mengerjapkan matanya perlahan. Gadis itu menoleh ke samping.


Aura melihat Maminya tengah tertidur di sofa Bed yang ada ruangan tersebut. Ya, Aura memang berada di ruangan VIP, jadi tidak ada pasien lain di dalam sana.


Aura memegang kepalanya yang terasa pusing. Ia juga melihat infus terpasang di tangannya.


"Mi" Panggil Aura.


Mendengar suara itu, Anita segera menoleh. Wanita itu segera bangkit saat melihat Aura sudah sadarkan diri. Anita segera mendekat.


"Sayang. Alhamdulillah kamu udah bangun" Ucap Anita lembut. Wanita itu mengusap kepala putrinya lembut.


Aura masih memperhatikan suasa ruangan itu. Aura sama sekali tidak mendapati disana kecuali sang Mami. Karena semuanya memang sudah pulang dari tadi pagi termasuk Papi dan adik-adik Aura berserta keluarga Yasmin. Karena mereka harus pergi bekerja dan ke sekolah bagi adik-adik Aura.


"Mi. Kak Faris mana?" Tanya Aura menatap Anita dengan tatapan sendu.


"Kak Faris..."


Ceklek


Pintu ruangan Aura terbuka. Mata Aura membulat saat mendapati orang yang sedari tadi ia cari tengah berdiri di ambang pintu.


"Kak Faris" Lirih gadis itu pelan. Sungguh, Aura masih tidak percaya.


"Sayang. Alhamdulillah kamu udah sadar" Faris segera berjalan mendekat ke arah Aura.


Anita yang mengerti dengan pasutri itu segera mundur dan kembali duduk di sofa.


"Kak Faris...." Ucapan Aura terhenti. Gadis itu masih memperhatikan Faris yang kini benar-benar berdiri di hadapannya tidak percaya.


"Iya sayang. Aku udah bisa jalan lagi" Ucap Faris seketika memeluk Aura erat. Membuat bulir bening itu menetes di pipi Aura seketika. Gadis itu sangat-sangat bersyukur pada Tuhan yang telah memberikan keajaiban pada Faris.


"Kak..."


"Maafin aku ya sayang. Aku udah bikin kamu celaka. Aku nggak bisa jagain kamu. Sekarang aku janji, mulai saat ini aku nggak akan biarin kamu sakit lagi." Lirih Faris semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku senang kak. Aku senang kakak bisa jalan lagi" Sahut Aura. "Akun nggak peduli. Kakak ngggak pernah nyusahin aku. Kak Faris nggak pernah bikin aku celaka. Kak aku hanya peduli saat ini. Aku bahagia kak Faris bisa jalan lagi" Sahut Aura semakin mengeratkan pelukannya.


"Iya sayang. Faris meregangkan pelukannya. Kemudian ia mengecup kening istrinya itu lembut.


"Kamu mau makan?" Tanya Faris.


"Aku nggak laper"


"Terus kamu mau apa? Masih ada yang sakit?" Tanya Faris. Aura menggeleng. Udah nggak ada yang sakit lagi. " Sahutnya tersenyum"


.


.