
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Faris melihat Aura tengah berdiri di ambang pintu kamar Tasya. Gadis itu tanpak memperhatikan Kevin dan Juga Tasya yang berada di dalam sana. Perlahan, Faris melangkahkan kakinya mendekat.
"Sayang" Panggil Faris.
Aura menoleh. "Kak Faris" sahut Aura kaget.
"Kamu lagi ngapain?" Tanya Faris.
Aura menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sementara Faris menoleh ke dalam kamar Tasya. Melihat Kevin memperlakukan Tasya dengan lembut dan menunggu gadis itu sadar. Detik kemudian, pandangan Faris kembali pada Aura. Pria itu melihat sorotan mata Aura yang tampak penuh kegelisahan.
"Aku cuma khawatir sama Tasya aja. Mau liatin Tasya" Sahut Aura gugup.
"Oo gitu. Yaudah kalo gitu kamu masuk aja ke dalam. Ngapain disini?" Tanya Faris.
"Enggak usah. Mending kita ke taman belakang aja yuk" Ajak Aura.
"Hm. Yakin nih nggak mau masuk?" Tanya Faris.
"Iya biarin aja Kak Kevin yang jagain Tasya." Sahut Aura gugup. Gadis itu segera mengandeng tangan Faris. Mengajak Faris segera ke taman belakang rumahnya.
***
Faris dan Aura kini duduk di kursi besi besi yang ada di taman tersebut. Pandangan Faris sedari tadi tak teralih dari Aura. Entah apa yang ada dalam fikirkan pria itu saat ini.
"Kak Faris" Panggil Aura. Gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu Faris.
"Hm" Sahut Faris tersenyum, menatap wajah cantik gadisnya itu.
"Nggak ada. I Love You" Ucap Aura cengengesan.
"Idih udah pinter" Sahut Faris tertawa. Mereka tampak bersenda gurau bahagia.
"I love you to" Sahut Faris. "Tumben banget tiba-tiba?" Tanya Faris.
"Enggak. Lagi pengen mengutarakan aja. Nggak boleh?" Sahut Aura
"Aishh Faris mengacak-acak rambut wanita itu gemas.
Kini, canda dan tawa keduanya memecah keheningan di rumah tersebut.
Rungu Kevin menangkap jelas suara itu di telinganya. Suara yang terdengar sangat nyaring hingga terdengar sampai ke kamar Tasya yang mamang letaknya tidak jauh dari sana.
Kevin beranjak berdiri. pria itu berjalan-jalan di sekitar rumah sahabatnya yang memang tidaklah asing lagi dari saat Kevin SMA. Hingga sesuatu membuat dada Kevin terasa sesak. Rasanya begitu sesak saat melihat Aura tengah bahagia bersama Faris dari jarak yang tidak terlalu jauh.
Seketika Kevin teringat masa-masa dulu. Masa-masa saat gadis centil itu selalu mengganggu dirinya, selalu membuat Kevin kesal. Kevin mengingat bagaimana canda dan tawa Aura yang dulunya sangat ceplas ceplos dan selalu mengakui bahwa Kevin miliknya.
Kevin mengingat saat-saat pria itu mengabaikan Aura. Saat Kevin lebih memilih menolong Sabilla saat Aura bertengkar dengan Diara dan saat kakinya terluka. Kevin mengingat saat mereka bertemu di mini market dan melukai hati Aura dengan perkataannya. Saat Kevin mengatakan bahwa Aura hanya pengganggu dalam hidupnya.
Kenangan itu seketika teringat kembali di memori Kevin saat melihat Aura sudah tertawa dan bahagia bersama laki-laki lain.
Hati Kevin terasa sakit saat mengingat semuanya tak lagi sama. Kevin ingat, ucapan Aura saat mereka bertemu di Coffe Shop waktu itu. Semuanya benar-benar telah berubah. Karena kini hanya tinggal sebuah penyesalan bagi Kevin yang telah mengabaikan seorang gadis yang dulunya begitu tulus mencintai dirinya.
***
Satu bulan telah berlalu. Kini, semua orang tampak berkumpul di depan ruang persalinan. Benar, hari ini, Sabilla akan melahirkan buah hatinya dan Farrel ke dunia.
Selang beberapa saat, suara tangisan seorang bayi terdengar nyaring dari luar sana. Semua orang yang menunggu di ruang tunggu itu serentak mengucap rasa syukur.
Sabilla sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Kini ruangan rawat itu penuh dengan dekorasi nan indah menyambut kedatangan sang bayi yang khususu disediakan oleh ayah sang bayi yaitu Farrel Ananda Putra. Pria itu benar-benar merasa bahagia menyambut kedatangan bayinya.
Bayi mungil Sabilla itu kini tengah tertidur lelap di pelukan Sabilla.
"Wahh cantik banget" Ucap Aura yang baru saja datang dari pintu masuk dengan antusias. Gadis itu segera mempercepat langkahnya menghampiri Sabilla dan bayiny yang terbaring di atas brankar.
"Haii anak cantik" Sapa Aura mengelus lembut pipi bayi mungil itu.
"Anak lo cantik banget sih Bil" Ucap Aura gemas.
"Yaiyalah emaknya aja nggak kalah cantik" Sahut Farrel dari belakang. Pria itu mendekat pada istri dan putrinya. "Iya kan sayang. Karena Mamanya cantik, jadi nurun ke anaknya kan?" Ucap Farrel mengajak putri kecilnya berbicara. Pria itu kemudian mengecup kening Sabil dan Sani anaknya bergantian.
"Aduh mo meninggal gue liat yang beginian" Sindir Aura.
"Makannya cepetan nyusul. Jangan lama-lama. Keburu tua juga anak gue nanti pas anak lo lahir" Canda Sabilla.
"Bukan keburu tua sayang. Keburu lima anak kita baru anak pertama Aura lahir." Timpal Farrel.
"Appan sih" Sahut Sabilla malu-malu.
"Boleh gendong nggak?" Tanya Aura saat bayi Sabilla sudah terbangun dari tidurnya.
"Boleh dong Ounty cantik" Sahut Sabilla.
Aura mengambil alih bayi mungil itu perlahan. Gadis itu tampak bahagia menggendong bayi Sabilla. Kevin, Tasya, dan juga Yasmin yang berada di sana tak berhenti melirik ke arah Aura.
Hingga beberapa saat, entah kenapa Kevin memberanikan diri untuk berdiri. Pria itu menghampiri Aura yang kini tengah tersenyum senang sambil mengajak Sani berbicara.
"Cantik ya" Ucap Kevin.
Aura kaget. Gadis itu melirik ke arah belakang. Gadis itu terkesiap saat melihat Kevin tiba-tiba berada di belakanganya.
"Kak Kevin" Lirih Aura. Kevin tersenyum, laki-laki itu mengelus pipi bayi mungil Sabilla dengan lembut. Sungguh posisi mereka kini tampak seperti seorang suami dan istri yang tengah mengajak anak mereka berbicara.
Entah kenapa, air mata Kevin seketika mengalir saat melihat bayi mungil Sabilla. Namun, pria itu memaksakan diri untuk masih tertawa, mengajak bayi yang belum tau apa-apa itu berbicara.
Aura yang menyadari akan hal itu, mengerutkan keningnya bungung. Aura menatap Kevin. "Kak Kevin kenapa nangis?" Tanya Aura. Mereka saling menatap satu sama lain.
"Assalamu'alaikum ponakan cantik Unc...." Ucapan Faris yang baru saja datang terhenti saat melihat pemandangan yang ia rasa sungguh menyakitkan.
Faris melihat Tasya dan Yasmin tengah duduk di sofa yang ada di sana. Farrel tengah duduk di samping brankar Sabilla mendampingi istrinya. Dan, pemandangan terakhir, Pemandangan Aura dan Kevin tengah berdiri menggendong Sani layaknya sorang keluarga kecil yang bahagia. Entahlah, rasanya begitu menyesakkan.
Aura menoleh ke arah belakang. Gadis itu tersenyum melihat kedatangan Faris yang masih tampak dengan baju kerjanya. Pasalnya, pria itu memang baru saja pulang dari kantor dan langsuang ke rumah sakit menghampiri ponakan pertamanya itu.
"Kak Faris" Lirih Aura. Gadis itu tersenyum, Aura segera berjalan menggampiri Faris dengan Sani masih di dalam gendongannya, gadis itu bahakan mengabaikan Kevin begitu saja.
"Liat deh. Cantik banget kan?" Tanya Aura pada Faris.
Raut wajah Faris masih terlihat datar. "Kak Faris" Panggil Aura.
"Eh i-iya sayang" Sahut Faris.
"Cantik banget nggak sih pengen bawa pulang"
"Bikin sendiri woi, enak aja lo mau bawa-bawa anak gue. Butuh kerja keras itu bikinnya" Sahut Farrel tak terima sehingga membuat yang lain terkekeh geli melihatnya. Apalagi Sabilla yang sudah merona menahan malu.
Sementara Kevin, pria itu terdiam. "Sayang?" Lirih Kevin pelan.
"Hai Uncle" Sapa Aura menirukan suara anak kecil pada Faris.
"Hallo sayang" Sahut Faris tersenyum. Mereka kini tertawa bahagia bersama buah hati Farrel dan juga Sabilla. Sementara Kevin, fikiran pria itu masih penuh tanda tanya. Benar, selama ini Kevin memang tidak mengetahui bahwa Aura dan Faris sudah memiliki hubungan khusus dan bahkan sebentar lagi mereka akan menikah. Kevin memang tidak mengetahui apapun. Kevin fikir, selama ini kedekatan Aura dan Faris yang selalu membuatnya menyesal hanyalah sebatas adik dan kakak. Tapi ternyata..... "Sekarang semuanya benar-benar sudah terlambat." Batin Kevin.
.
.
.
Nah, gimana gimana part ini nih? Menurut kalian kenapa Kevin nangis liat bayi Sabil? wkwkwk.
Oiya sayang sayangku semua, cerita ini tu tetap cerita Aura ya zeyeng. Aku masukin part Tasya-Kevin bukan berarti mereka yang jadi peran utama. Itu tanda ada alasan tersendiri ya kenapa aku bikin part mereka. Alasannya biar cuma aku yang tau. wkwkwk. Jadi mohon bersabar ya. Cerita ini tu masih panjang. Tetap akan fokus pada Aura yang belum tentu berakhir sama siapa kok. Jadi mohon bersabar ya. Lop you semuanya😍 Jangan lupa dukung aku terus yak. Maaciw 💕