Aura Story

Aura Story
Kenapa?



...Maaf jika ada typo atau kesalahan lainnya....


Sore menjelang malam. Di sebuah restoran masakan Padang tersebut, terlihat cukup ramai oleh umat manusia yang mengisi perut dengan makanan khas dari Sumatra Barat tersebut. Aura sedari tadi tak berhenti memperhatikan Faris yang benar-benar sibuk memakan makanannya dengan lahap. Sampai-sampai gadis itu belum memakan makanannya sama sekali sedari tadi.


"Kak Faris, aku lagi nggak salah liat kan?" Tanya Aura. Faris yang mendengar hal itu dengan jelas, seketika menghentikan aktifitasnya sesaat.


Pria itu menoleh ke depan, menatap sang istri yang tampak terlihat bingung.


"Salah liat apa sayang?" Tanya Faris polos.


"Itu makanannya kak Faris dari tadi udah nambah 3 kali loh kak. Di kantor juga kak Faris tadinya makan banyak. Perutnya nggak kembung apa, makan makanan sebanyak itu? Nggak biasanya kak Faris makan banyak kaya gini" Ucap Aura bingung.


Faris sejenak tersadar. Dia memperhatikan beberapa piring yang sudah kosong yang ada di atas meja. Faris baru saja menyadari bahwa sedari tadi dia tidak berhenti meminta tambah pada pelayan yang ada di sana.


"Iya ya yang. Kenapa aku makan banyak banget?" Tanya Faris balik sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Pria itu kembali memperhatikan piring-piring kosong yang ada di atas meja tersebut. Kemudian, mata Faris beralih pada piring sang istri yang masib menampaki makanan yang masih utuh.


"Lah, kamu dari tadi belum makan?" Tanya Faris.


Aura menggeleng. "Kak Faris keasyikan makan sendiri sih sampe lupa aku aja belum nyentuh makanan dari tadi" Sahut Aura kesal.


"Astaga. Maafin aku yang. Habis makanannya enak banget. Aku baru nyoba pertama kali." Sahut Faris cengengesan.


"Enak sih enak, tapi jangan sampe lupa istri juga kali" Celetuk Aura memutar bola matanya malas.


"Maaf sayang" Ucap Faris membujuk sang istri.


***


Terang sudah beranjak kelam. Matahari yang semula menerangi bumi sudah tenggelam dan di gantikan oleh sinarnya bulan yang menerangi malam. Setelah puas makan masakan Padang barusan, Faris dan Aura memutuskan untuk jalan-jalan terlebih dahulu sebelum mereka memutuskan untuk pulang ke rumah.


Pasangan suami istri itu kinu berjalan kaki beriringan dengan genggaman tangan yang tidak terlepas satu sama lain di pusat Kota. Detik kemudian, Faris tidak sengaja melihat bapak-bapak penjual cireng di pinggir jalan.


Mata pria itu membulat. Faris menelan salivanya saat melirik ke arah makanan tersebut. Faris sungguh menginginkannya. Rasanya sudah benar-benar sudah sampai di tenggorokan.


"Yang. Beli itu yuk" Ucap Faris pada Aura sambil menunjuk bapak-bapak penjual cireng tersebut.


Aura mengikuti arah jari Faris. Kening gadis itu tertaut. Sungguh, Aura benar-benar bingung dengan tingkah suaminya ini. Kenapa suaminya ini aneh sekali? Tidak biasanya Faris bersikap seperti ini.


"Kak" Panggil Aura sesaat setelah gadis itu mendongak menatap Faris.


"Hm" Faris memalingkan pandangannya ke bawah.


"Kak Faris kenapa sih?" Tanya Aura penasaran.


"Kenapa maksud kamu?"


"Ya... Kenapa beberapa hari ini sikap kak Faris aneh aja. Lebih kaya anak-anak gitu. Makan nggak bisa pelan. Maunya ada ada aja yang nggak kaya biasanya"


"Hmm. Emang iya, aku kaya gitu?" Tanya Faris.


Aura mengangguk. "Iya" Sahutnya.


"Aku juga nggak tau. Tapi kan manusia setiap hari, setiap waktu dan setiap detik bisa berubah sayang. Udah ah aku mau beli itu" Faris merangkul pundak sang istri dan kemudian berjalan menuju penjual cireng tersebut. Sementara Aura hanya bisa pasrah dan mengikuti kemauan suaminya itu meskipun ada rasa penasaran dan khawatir yang terselip di benaknya.


***


Aura dan Faris baru saja sampai di rumah mereka. Gadis itu menaruh sling bag nya di tempat semestinya. Aura mendudukkan tubuhnya di atas kasur sementara Faris berlalu menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri.


Sedari tadi, fikiran Aura melayang kemana-mana. Aura takut jika sesuatu akan terjadi pada Faris. Mengingat, sikap pria itu tidak seperti biasanya.


Namun, lamunan Aura buyar saat Faris yang baru saja keluar dari kamar mandi tiba-tiba saja mendudukkan tubuhnya di samping Aura yang membuat gadis itu merasakan adanya sedikit guncangan.


Pria yang masih menggunakan handuk sepinggang itu menatap sang istri heran dan penuh tanda tanya.


"Kamu kenapa?" Tanya Faris sembari menatap Aura lekat.


Aura menoleh. Dia menatap wajah Faris datar dengan entah apa yang ia fikirkan. "Nggak kak. Aku nggak papa. Aku mandi dulu ya kak" Elak Aura hendak berdiri dan menuju kamar mandi. Namun, Faris dengan cepat menghentikan langkah gadis itu. Faris menarik tangan Aura hingga membuat Aura kembali menoleh.


Faris berdiri dari duduknya. Pria itu mengelus pipi Aura lembut. "Aku tau kamu lagi mikirin sesuatu Ra. Jangan boong. Kamu ngomong sama aku, ada apa? Kamu lagi ada masalah?" Tanya Faris sembari menatap mata Aura dalam.


Tanpa menjawab apa-apa. Aura tiba-tiba saja berhambur memeluk Faris. "Kak, nggak tau kenapa, perasaan aku rasanya nggak enak aja. Aku takut kak Faris kenapa-napa" Ucap Aura jujur saat gadis itu menenggelamkan kepalanya di dada bidang sang suami yang masih belum dibaluti oleh sehelai kainpun.


Faris menangkup pipi Aura. Pria itu menatap Aura meyakinkan. "Ra. Aku nggak papa. Serius deh. Jangan mikir yang aneh-aneh." Bujuk Faris.


Aura mencoba mengerti. Gadis itu mengangguk sebelum kembali menenggelamkan kepalanya di dada bidang Faris.


"Yaudah. Aku mau mandi dulu kak" Pamit Aura.


Faris mengangguk. Pria itu mengecup kening sang istri sebelum melepaskan pelukannya dan sebelum Aura berlalu menuju kamar mandi.


***


Aura baru saja keluar dari kamar mandi. Raut wajah gadis itu terlihat datar dan tidak bersemangat. Faris yang melihat hal itu segera berdiri dari tempat tidur dan menghampiri sang istri.


"Yang, kamu kenapa?" Tanya Faris.


Aura mendongak. Gadis itu menatap Faris datar tanpa menjawab pertanyaan pria itu. Dan hal itu tentu saja membuat Faris semakin penasaran dan juga cemas.


"Kak..." Lirih Aura.


"Iya. Kamu kenapa? Ada apa? Jangan bikin aku panik sayang" Desak Faris yang semakin penasaran. Pria itu memperhatikan istrinya dari atas sampai ke bawah. "Kenapa? Kamu sakit? Yang mana? Apa yang sakit? Bilang sama aku" Desak Faris sambil menggenggam tangan sang istri.


.


.


Hai, aku mau nanya dong. Sampai sejauh ini, gimana sih perasaan kalian baca cerita Aura? Semakin membosankan ya? Apa harus aku cepetin aja tamatnya?


Komen dong, apa yang buat kalian bertahan dan selalu nunggu cerita Aura sampai sejauh ini?


Terus ada pesan nggak buat aku? atau buat Aura, atau buat Faris? Apa cerita ini kurang memuaskan?


Oiya, yang nanya2 MP, emang udah kok. Tapi aku nggak memperjelas scannya. Cuma angin lewat gitu aja. Aku lupa part berapa. Wkwk coba aja di baca ulang lagi. Tapi nggak akan ada adegan ++ nya. Wkkwk