
Malam yang begitu sunyi. Sudah tidak ada lagi orang-orang yang beraktifitas. Semua orang kini sibuk mengistirahatkan diri. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Entah kenaapa, Aura tiba-tiba tersadar dari tidur yang tadinya begitu lelap.
Gadis itu menyipitkan mata dengan kening tertaut. Aura memutar tubuhnya ke samping hendak memelek Faris. Namun, hanya datarnya kasur yang ia rasakan. Gadis itu sontak membuka matanya seketika.
Aura mendudukkan tubuhnya. Mata gadis itu kini tampak merajalela memperhatikan setiap sudut kamar. Mau apa lagi jika bukan mencari Faris yang sama sekali tidak Aura dapati di dalam sana. Aura merasa bingung, gadis itu jelas mengingat bahwa dua jam yang lalu pria itu juga tertidur di samping dirinya. Tapi kemana Faris sekarang?
"Kak Faris kemana?" Lirih Aura dengan kening tertaut bingung.
Aura segera beranjak bediri. Gadis itu berjalan menuju kamar mandi, Aura fikir pria itu berada di dalam sana meskipun tidak mungkin Faris bisa ke sana sendiri dengan kondisinya saat ini. Namun Aura sama sekali tidak mendapati Faris di dalam sana. Tanpa berfikir panjang, gadis itu segera berjalan keluar dari kamar.
Hingga, langkah Aura terhenti seketika tatkala dirinya melihat jelas Faris dari jarak yang tidak begitu jauh. Aura melihat dengan jelas, bahwa Faris tengah bersusah payah untuk mencoba berdiri dari kursi rodanya.
Sasaran pria itu kini adalah sofa yang ada di ruang tengah. Faris mencoba berdiri dengan bersusah payah. Aura kaget, gadis itu bahkan tidak tahu bagaimana cara suaminya itu bisa duduk di kursi roda dan kini sampai di ruang tengah, karena Aura ingat betul, barusan Faris juga sama-sama tertidur dengan dirinya.
"Kak Faris ngapain malam-malam disana?" Lirih Aura pelan dengan mata berkaca-kaca. Namun, gadis itu sangat memperkecil volume suaranya agar tidak terdengar oleh Faris.
Dari kejauhan, Aura melihat betul bagaimana Faris bersemangat untuk bisa berdiri, dan berjalan lagi.
Nafas Faris terlihat jelas bepacu dengan cepat. Pria itu ngosngosan. Keringat kini bercucuran di dahi Faris. Karena hanya tangan yang bisan Faris andalkan. Dan entah sejak kapan pria itu berada di sana. Berusaha untuk berjalan kembali tanpa sepengetahuan Aura.
Mungkin di depan Aura, Faris selalu terlihat baik-baik saja. Tapi siapa yang tahu tentang apa yang sebenarnya pria itu rasakan? Apa yang sebenarnya pria itu inginkan? Sampai kapanpun tidak akan ada yang tau!
Dari kejauhan, Aura masih memperhatikan gerak gerik Faris. Aura tak mampu lagi menahan air matanya. Sungguh, hatinya remuk. Aura tidak tega.
"Kak Faris maafin aku" Lirih gadis itu menahan tangisnya agar tidak terdengar oleh Faris. Rasanya sungguh menyesakkan.
Aura hendak melangkah menghampiri Faris, namun, langakah Aura kembali terhenti. Fikirannya seketika berubah. Aura tahu, Faris tidak akan menginginkan dirinya mengetahui hal ini.
Itulah sebabnya, Aura memutuskan untuk kembali ke dalam kamar. Gadis itu kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tidak bisa di pungkiri, air mata sedari tadi tak behenti menetes di pipi Aura.
"Kak, aku nggak tau harus ngelakuin apa lagi. Aku nggak tega liat kak Faris tersiksa" Lirih Aura.
Suara seseorang yang baru saja masuk ke dalam kamar, terdengar jelas oleh Aura. Gadis itu segera menghapus sisa aira mata yang melekat di pipinya. Aura segera memejamkan mata Agar Faris tidak curiga bahwa dirinya sudah terbangun sedari tadi.
Faris menjalankan kursi rodanya sendiri. Hingga kini, pria itu sudah berada di tepi tempat tidur. Faris terdiam sejenak, sebelum ia mencoba kembali untuk naik ke atas sana. Pria itu tampak bersusah payah untuk kembali naik ke atas tempat tidur dengan hati-hati. Sungguh sangat sulit, karena Faris hanya mengandalkan tangannya untuk bergerak.
Sementara Aura, ia jelas merasakan guncangan saat suaminya itu berusaha untuk naik ke atas tempat tudur. Aura sangat tahu, bahwa saat ini Faris sangat kesulitan. Sungguh, Aura tak kuasa, tapi Aura harus bisa menahannya. Gadis itu masih diam pura-pura tidak tahu apa apa dengan posisi membelakangi Faris.
Sungguh malang sekali nasib pria sebaik Faris.
Faris melirik sejenak ke arah Aura. Dia menatap istrinya itu dari belakang. Faris melamun, suatu hal kini mengganjal di fikirannya.
"Maafin aku nggak bisa jadi suami yang sempurna seperti yang lainnya Ra" Lirih Faris dengan tatapan sendu.
Aura yang jelas medengar hal itu, memutar tubuhnya ke arah belakang dengan mata terpejam masih pura-pura tidur. Gadis itu melingkarkan tangannya di tubuh Faris. Aura membenamkan kepalanya di dada bidang Faris.
Aura sengaja, ia memang sengaja memeluk Faris seperti saat ini. Menguatkan suaminya itu secara tidak langsung. Aura tau, Aura paham, pria itu sangat ingin berjalan kembali dan menjadi suami yang sempurna untuk dirinya. Tapi sungguh, Aura tidak peduli akan itu semua, bersama Faris seperti saat ini saja sebenarnya sudah membuat Aura benar-benar bahagia.
Senyuman Faris seketika mengembang saat mengamati wajah cantik Aura yang tengah tertidur lelap di pelukannya. Rasanya pria itu benar-benar merasa beruntung telah memiliki Aura di sisinya.
"Good Night Sayang. Have a nice dream" Lirih Faris mengecup puncak kepala Aura sebelum pria itu ikut memejamkan matanya.
Beberapa saat kemudian, Aura kembali membuka mata perlahan. Karena memang, sedari tadi gadis itu sama sekali belum tertidur. Aura mendongakkan kepanya ke atas. Memperhatikan raut wajah Faris dengan seksama. "Night to syang. Semoga mimpi indah juga" Lirih gadis itu pelan sebelum Aura kembali mengeratkan pelukannya.
***
Pagi hari, Aura tampak sibuk menyiapakan makanan untuk sarapan di dapur. Sementara Faris, pria itu masih tampak tertidur nyenyak di dalam kamar. Aura tidak ingin mengganggunya. Ia sengaja membiarkan Faris untuk istirahat sampai dirinya selesai menyiapkan sarapan untuk mereka.
Namun, suara bel yang terdengar jelas itu, membuat Aura segera menoleh. Gadis itu hendak berjalan membuka pintu, melihat siapa yang bertamu pagi-pagi begini. Mengingat, waktu masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Namun, Bi Anis yang juga berada di sana, yang sedari tadi hanya memperhatikan Aura memasak, menawarkan diri untuk membuka pintu.
"Biar bibi aja yang buka non" Ucap Bi Anis tersenyum.
"Oh iya deh Bi" Sahut Aura kembali tersenyum. Aura kembali melanjutkan aktivitasnya, gadis itu menata makanan yang terlihat begitu lezat di meja makan. Aura tersenyum saat meletakkan makanan terakhir yang ada di tangannya. Senyuman gadis itu mengembang melirik makan tersebut, Makanan kesukaan suaminya. Semur ayam.
"Semoga kak Faris suka" Lirih Aura.
.
.
Jangan lupa like, komen, dan vote ya. Makasih :) Udah siap pisah sama Aura Faris belum nih?