
"Kamu akan menikah sama kak Faris?" Tanya Kevin gugup. Pria itu tidak percaya, tapi inilah adanya.
"Iya kak. Iya! Aku bakalan menikah sama kak Faris. Maaf banget kak Kevin. Kalo pertemuan kita hanya untuk membahas hal semacam itu lagi, aku nggak ada waktu. Aku mau istirahat dulu aku. capek. Permisi kak"
Aura hendak berdiri dari duduknya, gadis itu berniat hendak pergi dari sana. Namun, dengan cepat Kevin menarik tangan Aura.
"Sebentar Ra. Sebentar aja" Ucap Kevin memohon.
Aura melirik Kevin. Aura menatap mata itu. Mata sendu yang Aura tau sungguh banyak penyesalan menumpuk di sana. Tapi semua tidak ada gunanya lagi, perasaan Aura sudah berubah, semua benar-benar sudah berubah. Kini hanya ada Faris di hatinya, hanya ada Faris di hidupnya, hanya Faris satu-satunya orang yang selalu mementingkan kebahagiaan Aura daripada kebahagiaannya sendiri.
Tapi kenapa Aura rasanya tidak tega, gadis itu kini ikut meneteskan air mata. Aura kembali duduk. Kini, Kevin menatap matanya lekat. "Aku cuma mau bilang sama kamu, kenapa waktu itu aku pergi"
"Enggak kak. Kak Kevin nggak perlu jelasin itu lagi. Aku nggak mau dengarin penjelasan apa-apa lagi dari kak Kevin. Aku nggak mau hati aku luluh hanya karena itu. Aku nggak mau nyakitin kak Faris. Aku nggak mau kak Faris terluka" Kini Aura ikut menangis terisak. Gadis itu sedari tadi sudah menahan sebisa mungkin agar air matanya agar tidak terjatuh. Tapi tetap saja tidak bisa. Situasi ini benar-benar terasa sulit bagi Aura.
Hati Aura sangat sakit menghadapi ini semua. Aura tidak ingin menyakiti siapapun, tapi dengan terpaksa ia memang akan membuat salah satu dari mereka sakit.
"Baiklah. Kalo itu mau kamu." Lirih Kevin dengan suara tidak bersemangat. "Semoga kamu bahagia sama kak Faris. Aku juga yakin, kak Faris nggak akan mungkin buat kamu nangis. Karena aku juga udah tau kak Faris dari lama. Aku tau dia laki-laki yang baik. Mungkin memang udah saatnya aku mengikhlaskan apa yang dulu aku sia-siakan" Ucap Kevin saat suaranya sudah mulai melunak.
Tangisan Aura semakin menjadi mendengar ucapan Kevin. "Aku minta maaf kak Kevin. Aku benar-benar minta maaf" Ucap Aura.
"Kamu nggak perlu minta maaf Ra. Karena disini aku yang salah. Aku yang salah sama kamu, aku yang seharusnya minta maaf. Bukan kamu!" Sahut Kevin. "Tapi apa boleh aku minta sesuatu sama kamu, sesuatu yang mungkin untuk terakhir kalinya? Karena setelah ini aku benar-benar nggak akan ganggu hidup kamu lagi" Pinta Kevin.
Aura menegakkan pandangannnya. "Kak Kevin mau apa?" Tanya Aura.
"Aku tau ini terkesan nggak sopan karena sebentar lagi kamu akan menjadi istri orang lain. Dulu aku juga ngelakuin hal yang sana sama Sabil. Aku telalu menyia nyiakan kesempatan. Apa boleh, aku peluk kamu untuk yang pertama dan rerakhir kalinya?" Tanya Kevin.
Benar, ini adalah yang pertama dan terakhie. Karena selama ini Kevin dan Aura memang tidak pernah terlalu dekat, karena pria itu selalu mengabaikan Aura hingga tak ada celah untuk mereka saling dekat. Dan hal itulah yang dari dulu membuat Aura benar-benar merasa tersiksa.
"Maaf kak, aku nggak bisa" Ucap Aura menunduk.
"Kak Kevin" Panggil Aura. Namun, Kevin sama sekali tak menghiraukan. Pria itu terus melanjutkan langkahnya keluar dari Coffe Shop tersebut. Tanpa berfikir panjang, Aura segera berdiri dari duduknya, gadis itu berlari mengejar Kevin. Aura tiba-tiba memeluk Kevin dari belakang. Aura memeluk orang yang dulu sangat ia cintai itu untuk yang pertama, mungkin juga untuk terakhir kalinya, Aura memeluk seseorang yang dulu sangat ia inginkan. orang yang dulu selalu ia harapkan bisa memeluknya saat ia terluka, orang yang dulu sering kali membuat hatinya sakit dan menangis.
Kevin juga tak mampu menahan tangisannya. Rasanya benar-benar menyakitkan saat harus ditinggal menikah untuk yang kedua kalinya. Dada Kevin benar-benar terasa sesak. Bulir bening itu juga ikut menetes di pipi Kevin.
Kevin memegang tangan Aura yang melingkar di pinggangnya. Pria itu memutar tubuhnya ke arah belakang. Kini, posisi mereka saling berhadap hadapan.
"Maafin aku ya Ra, maafin aku selama ini cuma bisa bikin kamu nangis. Maafin aku selama ini cuma bisa bikin hati kamu sakit, maafin aku nggak pernah meluk kamu saat kamu sedih. Maafin aku udah pernah ngeluarin kata kasar yang bahkan bikin kamu sakit hati. Sekarang aku sadar, aku memang nggak pantas buat kamu Ra. Laki-laki ******** kaya aku memang nggak pantas untuk perempuan sebaik kamu. Aku minta maaf ya"
"Berbahagialah setelah ini. Maafin aku, cuma bisa meluk kamu saat terkahir kaya gini. Bukan saat kamu tersiksa dulu. Maafin aku. Aku tau, aku brengsek, karena cuma kata maaf yang bisa aku ucapkan saat ini. Aku juga sadar, penyesalan juga nggak ada gunanya lagi saat semuanya udah berubah" Air mata keduanya tak lagi terbendung. Kevin memeluk Aura sangat erat. Meskipun terlambat, setidaknya pria itu telah memberikan apa yang dulu Aura pernah inginkan dari dirinya.
"Jangan nangis terus. Sekarang kamu udah bahagia. Udah bersama orang yang tepat. Aku pamit ya." Ucap Kevin menghapus air mata yang ada di pipi Aura.
Kevin perlahan melepaskan pelukan mereka. Detik kemudian, Kevin segara berlari menuju mobilnya. Pria itu masuk ke dalam sana, melepaskan tangisan dan rasa sakitnya di atas stir mobil.
Sementara Aura, gadis itu menangis terisak di parkiran yang ada di depan Coffe Shop. Sungguh, situasi ini benar-benar menyesakkan bagi Aura. Sekalipun Kevin dulu sudah menyakiti hatinya, rasanya Aura tetap saja tidak tega melihat pria itu terpuruk dalam penyesalan. Aura hanya berharap, suatu saat Kevin juga menemukan kebahagiaan.
Kevin mulai menancap gas mobilnya untuk pergi dari sana, sementara Aura, gadis itu masih memperhatikan mobil Kevin yang semakin lama semakin menjauh.
"Selamat tinggal kak Kevin. Maafkan aku." Lirih Aura.
.
.
.
Janga lupa like, komen, dan vote yang kenceng yah. Biar bisa masuk ranking atas. Hehe. Makasih banyak semuanya. Makasih yang udah selalu dukung aku dan udah ngasih vote, like, komen-komen positif dan yang udah ngasih tip koin juga. Makasih banyak ya. Jangan lupa Follow Instagram aku untuk dapat info lebih lanjut ya makasih 💕