
...Maaf kalo ada typo dan kata yang berulang-ulang...
Hari yang lebih menyenangkan dari hari - hari sebelumnya. Kehidupan Aura dan Faris sudah kembali seperti biasa. Aura kini tampak menyiapkan baju kerja Faris. Benar, mulai hari ini, pria itu akan kembali bekerja di kantor papanya.
Faris baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk sepinggang. Pria itu menghampiri istrinya yang tengah menyiapkan baju kerjanya di tepi tempat tidur.
Faris tiba-tiba memeluk Aura dari belakang. Aura menoleh. "Kak Faris ngapain? Ganti baju dulu sana" Ucap Aura.
"Masih sakit?" Tanya Faris.
"Udah enggak kok" Sahut Aura.
"Bagus. Nanti malam dilanjutin lagi" Ucap Faris yang seketika membuat pipi Aura merona. Gadis itu seketika mengingat bagaimana pergelumunan mereka semalam.
"Aishhh. Lama-lama udah beneran sama aja nih sama kak Farrel. Cepetan kak Faris ganti baju dulu. Aku mau ke bawah nyiapin sarapan" Elak Aura.
Faris tersenyum genit. "Bukannya sarapan udah siap dari tadi ya yang?" Tanya Faris tertawa.
Aura tidak menyauti. Gadis itu berlalu keluar kamar menuju meja makan. Sementara Faris, pria itu mengganti pakaiannya terlebih dahulu dan bersiap siap untuk ke kantor.
Beberapa saat kemudian, pria itu segera keluar dari kamar. Faris menyusul Aura ke meja makan sambil membawa dasi di tangannya.
"Yang. Pakein" Ucap Faris. Pria itu mengulurkan tangannya memberikan dasi tersebut pada Aura yang sudah duduk manis di meja makan.
Aura menoleh. Gadis itu tersenyum kemudian meraih dasi tersebut dari tangan Faris. Kini Faris tengah berdiri di depan Aura, dia mulai memasangkan dasi dengan telaten di kerah baju suaminya itu.
"Nanti di rumah jangan kerja capek capek ya. Nulis aja yang bener. Kalo capek istirahat, jangan di paksain. Ya" Ucap Faris.
Aura menghembuska nafas. "Iya kak Faris bawel" Sahutnya.
"Nggak papa aku bawel. Yang penting kamu nggak akan kenapa-napa" Sahutnya.
"Iya iya. Yaudah ayok sarapan dulu" Ajak Aura setelah selesai memasang dasi di kerah baju suaminya itu.
Cup
Faris tiba-tiba mengecup pipi istrinya itu. "Morning kiss sayang." Ucap Faris tersenyum.
"Kak Faris habis privat sama kak Farel ya? Nular banget sifatnya sekarang" Ucap Aura.
"Yaelah. Kapan coba aku sempat privat sama dia. Orang aku di rumah terus sama kamu tiap hari"
"Oiya lupa" Sahut Aura cengengesan.
"Dasar."
"Emangnya kamu nggak suka sama sifat aku yang kaya gini?" Tanya Faris. Membuat Aura menghentikan aktifitasnya sejenak. Gadis itu menatap Faris lekat. Dia tau bahwa Faris kecewa. Terlihat jelas dari raut wajah pria itu.
"Eanggak. Aku suka kak Faris kaya gini. Aku senang, aku bahagia" Ucap Aura tersenyum.
***
Faris dan Aura kini berada di teras rumah mereka.
"Aku kerja dulu ya sayang. Ingat...."
"Jangan kecapekan, jangan banyak kerja, kalo lelah istirahat" Potong Aura sebelum Faris melanjutkan ucapannya.
Faris tersenyum. Pria itu mengacak-acak rambut istrinya gemas. "Pintar"
"Yaudah. Aku berangkat" Pamit Faris.
"Iya. Hati-hati. Jangan ganjen sama cewek lain" Ucap Aura kemudian mencium punggung tangan suaminya. Begitu juga Faris yang mencium kening sang istri cukup lama sebelum masuk ke dalam mobil.
Aura melambaikan tangannya saat mobil yang dikendarai oleh sopir pribadi mereka itu dari kejauhan. Setelah dirasa mobil tersebut tidak terlihat lagi, Aura segera masuk kembali ke dalam rumah.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Aura masih saja fokus di meja kerja yang ada di kamar mereka. Gadis itu meregangkan otot-ototnya karena sedari tadi tak berpindah posisi dan fokus menulis.
Dering ponsel Aura berdering. Gadis itu menoleh ke belakang. Aura membuka kaca mata anti radiasi yang semula melekat di wajahnya itu kemudian berjalan berjalan menuju nakas. Aura mengambil benda pipih tersebut.
Senyum Aura mengembang saat mendapati panggilan dari suami tercinta tertera di layar ponsel.
"Assalamu'alaikum sayang" Ucap Faris di seberang sana.
"Wa'alaikum salam kak" Sahut Aura.
"Kamu lagi ngapain?" Tanya Faris.
"Baru aja selesai nulis" Sahut Aura.
"Oo lagi nulis ya." Ucap Faris dengan nada suara kecewa.
"Nggak papa yang. Kamu istirahat aja. Kalo gitu aku keluar dulu ya makan siang" Ucap Faris.
Aura seketika mengerti. Dia paham kenapa suaminya itu menelfon.
"Kakak mau aku anterin makanan ke kantor?" Tanya Aura.
"Sebenarnya sih iya. Tapi..."
"Yaudah. Kakak tunggu di sana aja. Jangan keluar ya. Aku ke kantor kakak sekarang"
Tut
Aura memutuskan panggilan sepihak. Kemudian gadis itu segera berlalu menuju dapur menyiapkan makanan untuk suaminya. Manja sekali pria itu sekarang. Tapi Aura senang.
***
Aura kini sudah berada di depan kantor Faris. Gadis itu segera masuk ke dalam sana. Di sepanjang jalan, tidak sedikit karyawan memperhatikan Aura yang terlihat sangat cantik.
Mereka juga sudah jelas tau siapa wanita itu. Menantu dari bos di perusahaan mereka.
"Hai Buk Aura. Selamat siang" Sapa beberpaa karyawan.
Aura tersenyum sembari menundukkan tubuhnya sedikit sambil berjalan.
"Selamat siang mbak" Sahutnya.
"Cantik banget nggak sih istrinya Pak Faris sama Pak Farrel. Sama sama baik lagi" Ucap salah satu karyawan sambil memperhatikan punggung Aura yang semakin lama semakin menjauh dari jangkauan mata mereka.
"Iya. Buk Sabilla sama Buk Aura kan memang sahabatan" Sahut karyawan lainnya.
"Udah dasar dari keluarganya aja baik-baik semua. Makannya dapat jodoh yang baik juga. Udah nurun dari Mama Papa nya tuh kebaikan Pak Faris sama Pak Farrel"
***
Aura baru saja sampai di depan ruangan suaminya. Gadis itu tetap saja mengetuk pintu terlebih dahulu. Setelah mendengar kata masuk dari dalam sana, barulah Aura membuka pintu itu segera.
Aura melihat Faris kini sedang duduk di kursi kebangsaannya.
"Loh sayang. Kamu beneran datang kesini?" Tanya Faris bangkit dari duduknya.
"Iya." Sahut Aura cengengesan. Gadis itu berjalan menuju Faris.
Aura duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut. Gadis itu meletakkan makanan yang barusan ia bawa di sana. Faris mengikuti Aura dan mendudukkan tubuhnya di samping sang istri.
Detik kemudian, Faris memeluk gadis itu erat.
"Kangen" Ucapnya yang seketika membuat tawa Aura memecah.
"Hey, kita baru aja tadi pagi ketemu" Ucap Aura.
"Ya nggak papa dong. Bahkan satu detik aja jauh dari kamu kangen aku bakalan numpuk tau nggak yang" Ucap Faris lebay.
"Udah nggak usah gombalin aku terus. Sekarang kak Faris makan dulu. Nanti sakit perut" Ucap Aura sembari membuka makanan yang barusan ia bawa di atas meja.
"Suapin" Ucap Faris.
Aura terdiam, kemudian tertawa.
"Dasar bucin"
"Nggak papa asal bucinnya sama kamu doang."
"Iya iya" Ucap Aura. Gadis itu kemudian menyuapi suami manjanya itu seperti anak kecil.
"Kamu udah makan?" Tanya Faris.
"Udah tadi di rumah."
"Yaudah makan lagi aja disini ucap Faris"
"Aku udah kenyang kak" Sahut Aura.
"Sekali aja"
Aura pasrah. "Gadis itu kemudian menyuapi Faris dan dirinya sendiri"
.
.
Jangan lupa like, komen, dan vote ya. Makasih :)