Aura Story

Aura Story
Tidak Ada Guna Lagi



Faris dan Aura baru saja sampai di halaman rumah Aura. Setelah puas melihat bayi mungil Farrel dan Sabil barusan, mereka akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah mengistirahatkan diri.


Aura dan Faris melirik satu sama lain. "Aku turun ya kak" Ucap Aura.


Faris tersenyum diiringi dengan anggukan. Aura hendak membuka pintu mobil keluar dari sana. Namun, Faris justru menarik tangan Aura kembali hingga niat gadis itu terurung. Aura kembali menoleh ke arah belakang.


"Ada apa kak?" Tanya Aura.


"Aku mau peluk kamu. Boleh?" Tanya Faris.


Kening Aura tertaut. "Kak Faris kenapa? Kalo mau peluk ya tinggal peluk aja" Sahut Aura. Gadis itu merentangkan tangannya. Faris tersenyum, tanpa berfikir panjang, pria itu memeluk tubuh Aura dengan sangat erat seakan tidak ingin ia lepaskan.


Aura sedikit merasa bingung dengan sifat Faris hari ini. Gadis itu merasa ada yang aneh. Faris terlihat canggung tidak seperti biasanya.


"Kak Faris kenapa?" Tanya Aura masih dalam pelukan Faris.


"Nggak papa kok. Aku cuma kangen kamu aja" Sahut Faris.


Aura melepaskan pelukan mereka. Gadis itu menatap lekat bola mata Faris yang kini terlihat sendu. Pria itu tampak memiliki banyak beban dan juga banyak fikiran.


Aura menangkup wajah Faris dengan kedua tangannya. Gadis itu menatap mata Faris lekat. "Kak Faris ada masalah? Masalah pekerjaan? Capek ya?" Tanya Aura menerka nerka.


Faris kembali tersenyum. "Aku nggak papa" Sahutnya mencubit gemas pipi Aura.


"Tapi mata kak Faris nggak bisa boong. Aku tau kak Faris lagi ada masalah. Kak Faris biasanya nggak kaya gini" Ucap Aura.


Faris meraih tangan Aura yang semula melekat di pipinya. Pria itu menggenggam tangan gadis itu erat. "Aku nggak papa sayang. Aku benar-benar cuma kangen aja sama kamu" Sahut Faris meyakinkan.


"Beneran?" Tanya Aura cemberut.


Kini giliran Faris menangkup pipi Aura. "Iya benar sayang" Sahut pria itu gemas.


"Kalo ada masalah bilang ya." Ucap Aura.


"Iya bawel." Sahut Faris. "Kamu juga jangan lupa makan ya habis ini, terus istirahat. Jangan kecapekan juga" Sambung Faris kemudian.


"Iya. Yaudah kalo gitu aku masuk ya. Hati-hati di jalan sayang" Ucap Aura kembali memeluk Faris, sebelum gadis itu benar-benar keluar dari dalam sana.


"Dada... Hati-hati, jangan ngebut" Sorak Aura dari luar mobil. Gadis itu memperhatikan mobil Faris yang semakin lama semakin menjauh dari jangkauan matanya. Setelah dirasa mobil Faris sudah lenyap, Aura segera melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam rumah. Namun, langkah Aura seketika terhenti tatakala dirinya menerima satu notif pesan masuk dari ponselnya.


"Kak Kevin" Bibir Aura berucap pelan, keningnya berkerut bingung saat mendapati satu notif pesan dari Kevin. Namun, Aura memilih mengabaikan, gadis itu hendak berlalu masuk ke dalam rumah. Namun, kali ini suara panggilan masuk menghentikan langkah Aura.


Aura menghembuskan nafas pasrah. Gadis itu segera menyauti panggilan yang masih menampaki nama Kevin di layar ponsel.


"Hm. Iya kak Kevin" Sahut Aura.


"Ra. Aku mau ketemu kamu sebentar" Ucap Kevin tanpa basa basi dari seberang sana.


"Aku nggak bisa kak." Sahutnya dingin. "Aku capek, aku mau istirahat" Sambung gadis itu kemudian.


"Ra, aku mohon. Aku janji setelah ini aku nggak akan ganggu kamu lagi."


Aura tampak berfikir sejenak, gadis itu terdiam. Sebelum akhirnya Aura memutuskan untuk menemui Kevin.


"Hm. Baiklah" Sahut Aura dingin.


"Oke Ra. Aku tunggu kamu di Coffe Shop waktu itu" Ucap Kevin.


"Iya" Aura kemudian memutuskan sambungan telfon mereka.


Aura baru saja turun dari Taxi yang ia tumpangi. Gadis itu telah sampai di Coffe Shop tempat dirinya bertemu Kevin waktu itu. Aura memperhatikan tempat itu sejenak, sebelum gadis itu memutuskan untuk masuk ke dalam sana.


Aura memperhatikan suasana sekitar. Malam itu benar-benar terlihat ramin dan bising. Gadis itu tampak memperhatikan satu persatu meja untuk mencari keberadaan Kevin.


"Aura..." Panggil seorang pria dari pojok sana.


Aura menoleh. Gadis itu segera berjalan saat mendapati Kevin telah duduk di pojok sana.


"Kak Kevin" Ucap Aura saat gadis itu berdiri di hadapan Kevin.


"Duduk Ra. Kamu mau pesan apa?" Tanya Kevin.


"Nggak usah kak. Kak Kevin mau ngomong apa?" Tanya Aura To the poit saat gadis itu telah berhasil mendudukkan tubuhnya di depan Kevin.


Kevin terdiam. Pria itu menatap Aura dengan tatapan sendu. Semua benar-benar sudah berubah. Aura tidak seperti dulu lagi, Aura tidak menginginkannya lagi. Aura tidak peduli lagi pada apapun tentang dia. Benar, Kevin merasakan itu semua. Dan entah kenapa dadanya terasa begitu sesak. Yes, inilah yang dinamakan Karma is the real. Kevin kini merasakan apa yang dulu Aura rasakan, rasanya benar-benar menyakitkan.


Pesanan minuman Aura baru saja datang. Seorang pelayan Coffe Shop tersebut meletakkan satu gelas minuman di atas meja. Kini, Aura dan Kevin masih terdiam canggung. Kevin juga sedari tadi tak berhenti mencuri pandang pada Aura yang kini berada di depan dirinya.


"Ra..." Panggil Kevin.


"Hm." Aura menegakkan pandangannya.


"Apa perasaan kamu benar-benar udah berubah?" Tanya Kevin ragu.


"Iya, udah berubah. Sangat berubah!" Sahut Aura tersenyum miring.


"Apa nggak ada lagi tempat untuk aku di hati kamu?"


Aura menyeringai. "Kak Kevin, nggak ada gunanya lagi bahas begini. Aku juga udah bilang dari kamaren-kemaren. Semua udah berubah. Semua udah nggak sama lagi setelah Kak Kevin pergi gitu aja!" Tekan Aura.


"Apa karena kak Faris?" Tanya Kevin.


Aura tersentak. Gadis itu terdiam sesaat. "Iya, karena kak Faris.!"


"Apa kamu mencintai kak Faris?"


"Jelas! Aku mencintai kak Faris karena hanya dia satu-satunya laki-laki yang benar-benar menjaga aku seperti Papa dan Kakakku. Dia satu-satunya laki-laki yang selalu menghibur aku, selalu nenangin aku, selalu ngelakuin apapun agar aku bisa bahagia dan tersenyum, bukan membuat aku menangis" Air mata Aura seketika menetes mengingat kebodohannya pada Kevin dulu.


"Ra. Aku minta maaf..."


"Kak Kevin nggak perlu minta maaf. Aku udah pernah bilang, kita juga bukan siapa-siapa untuk bisa saling memaafkan!"


"Apa kamu udah pacaran sama kak Faris?" Tanya Kevin.


"Pacaran? Aku bahkan dua minggu lagi akan menikah sama Kak Faris!" Tegas Aura.


Deg, jantung Kevin berdetak begitu kencang. Ia tidak percaya, kali ini harapannya benar- benar tidak ada lagi. Kevin benar-benar harus mempersiapkan diri untuk kehilangan Aura seperti Sabilla dulu.


Bukan, bukan. Kehilangan Aura ini adalah kesalahannya sendiri. Kevin terlalu menyia nyiakan kesempatan yang ada dulu. Kesempatan yang mungkin saja tidak akan datang dua kali.


.


.


Jangan lupa vote yang kenceng yahh. heheh makasih😂