Aura Story

Aura Story
Bahagia



...Mohon maaf jika ada kesalahan, karena aku cuma nyari info tentang kehamilan itu dari google. Kalo ada yang salah omongin baik-baik di kolom komentar ya jangan di hujat๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™...


Aura kini sudah duduk di sofa ruang tengah rumah Sabilla. Sementara Sabilla, baru saja keluar dari kamar setelah memastikan Sanni telah tidur dan meninggalkan putrinya itu bersama suster.


"Tadi lo mau ngomong apa Wa?" Tanya Sabilla. Wanita itu kini ikut mendudukkan tubuhnya di samping Aura sembari mengambil remot dan menyalakan televisi. Kemudian ia biarkan begitu saja.


"Hmmm" Aura tampak gugup. Dia takut jika dirinya terlalu berharap.


Sabilla memperhatikan wajah tegang sahabatnya itu. "Wa, lo nggak papa kan? Lo lagi ada masalah sama kak Faris?" Tanya Sabilla menebak-nebak.


Aura segera mengangkat pandangannya. Dia tidak ingin Sabilla salah paham dan mengira bahwa dirinya tengah bertengkar bersama Faris, padahal tidak sama sekali.


"Hmm. Bukan gitu Bil. Gue nggak berantem sama kak Faris. Kita baik-baik aja" Ucap Aura masih ragu-ragu.


"Terus lo kenapa?" Tanya Sabilla penasaran..


"Hmm gini lo Bil" Aura menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Aduh apaan sih Wa. Cepetan. Gue penasaran ini" Sahut bumil yang tidak sabaran itu.


"Hm. Gue nggak mau terlalu berharap Bil. Tapi, gue mau bilang kalo gue belum datang bulan udah dua minggu ..."


Mata Sabilla membulat. "Lo serius?" Tanya Sabill antusias dan tidak percaya saat Aura belum selesai melanjutkan ucapannya.


Aura mengangguk tengkuknya ragu. "Hm. Serius Bil" Sahutnya.


"Terus lo ada ngerasain gejala gejala ibu hamil gitu nggak? Kayak mual-mual gitu atau apa? Apa lo udah coba tes kehamilan? Siapa tau lo lagi hamil juga Wa" Ucap Sabilla antusias dan penuh semangat.


Aura seketika tersadar. Dia memang tidak meraskan gejala seperti ibu hamil lainnya. Tapi gadis itu seketika teringat akan Faris. Aura mengingat bagaimana tingkah aneh suaminya belakangan ini.


"Hm. Nggak ada sih Bil. Gue nggak ngerasian apa-apa. Cuma yang anehnya tuh ya. Kak Faris belakangan ini sering mual-mual gitu. Terus makannya banyak banget, kadang maunya juga yang aneh-aneh. Tapi kak Faris nggak sakit apa-apa" Jawab Aura bingung.


"Lo beneran?" Tanya Sabilla antusias lagi, lagi dan lagi. Bumil itu benar-benar penuh semangat.


Aura kembali mengangguk ragu.


"Gue pastiin lo lagi hamil Wa. Dan kak Faris, kak Faris kaya gitu karena dia terlalu menyayangi lo. Kemaren waktu gue check up ke rumah sakit sama kak Farrel, kita juga ketemu sama ibu ibu hamil yang ngalamin kaya gitu juga."


"Yang ngerasain ngidam dan mual-mual ibu hamil itu suaminya. Kata Dokter sih kalo nggak salah itu namanya sindrom kehamilan simpatik. Dimana, hal itu terjadi karena rasa sayang suami pada istri itu dalam banget. Makannya suami yang gantiin istrinya buat ngerasain apa yang seharusnya ibu hamil rasain."


"Dan itu berarti, kak Faris benar-benar sayang banget sama lo Wa." Jelas Sabilla yang membuat mata Aura berkaca kaca. Aura benar-benar terharu saat mendengar penjelasan sahabatnya itu. Aura benar-benar bahagia jika dirinya benar-benar hamil. Namun, suatu hal terasa mengganjal oleh Aura.


"Tapi Bil, gue belum pasti hamil. Belum ada bukti fisik yang menyatakan bahwa gue hamil" Ucap Aura dengan raut wajah kecewa.


"Kita bisa buktiin sekarang. Gue akan minta tolong suster beliin test pack dulu ya" Ucap Sabilla menggenggam tangan Aura.


"Hm. Nggak usah Bil. Sebenarnya tadi gue udah beli sebelum kesini. Gue kesini karena sengaja biar minta bantuan sama lo. Gue nggak mau ke rumah Mami. Yang ada Mami juga akan kecewa jika hasilnya nggak sesuai ekspetasi" Ucap Aura sembari mengeluarkan benda tersebut dari tasnya. Hal itu membuat senyum lebar terpancar dari wajah Sabilla. Sabilla tau, bahwa sahabatnya itu sungguh berharap sekali jika dirinya benar-benar hamil.


***


Aura dan Sabilla kini tengah duduk di tepi tempat tidur kamar Sabilla. Aura sedari tadi tampak gelisah menunggu hasil test pack tersebut.


Sabilla mengangguk, mengisayaratkan pada sahabatnya itu untuk melihat hasil benda kecil tersebut ke dalam kamar mandi yang ada di kamar Sabilla.


Aura menatap mata Sabilla dalam. Sabilla mengangguk sembari menggengam tangan sahabatnya itu.


Aura perlahan berjalan menuju kamar mandi. Gadis itu semakin lama semakin mendekat ke arah wastafel. Aura masih belum berani mengalihkan pandangannya sepernuhnya pada benda kecil yang terletak di atas sana.


Aura memejamkan mata, gadis itu tampak berhitung di dalam hati sebelum membuka mata.


Hingga, jantung Aura berdetak kencang seketika. Matanya terlihat berkaca-kaca. Sungguh, Aura benar-benar merasa bahagia saat mendapati dua gadis merah di benda tersebut. Aura benar-benar meras terharu hingga gadis itu tidak mampu lagi membendung tangisannya.


Tanpa Aura sadari, bulir bening itu kini telah lolos menetes di pipinya. Aura benar-benar terharu sekaligus bahagia.


Gadis itu segera keluar dari kamar mandi. Aura menghampiri Sabilla yang duduk di tepi ranjang. Mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, Sabilla segera menoleh ke arah belakang.


Sabilla segera berdiri. "Gimana Wa?" Tanya Sabilla penasaran.


Tanpa menjawab pertanyaan Sabilla, Aura segera berhambur memeluk sahabatnya itu, namun tetap hati-hati agar tidak mengenai perut Sabilla. Aura kini menangis di pelukan sahabatnya itu.


"Gimana Wa?" Tanya Sabilla penasaran sambil mengusap punggung Aura.


"Alhamdulillah bil. Gue hamil" Ucap Aura terisak.


Mata Sabilla membulat. Sabilla benar-benar merasa bahagia mendengar kata kata yang keluar dari mulut sahabatanya itu.


"Alhamdulillah Wa. Selamat ya. Bentar lagi lo bakalan jadi ibu juga. Gue senang banget dengernya" Ucap Sabilla sembari mengelus lembut punggung sahabatanya itu.


"Gue senang banget Bil. Gue bahagia" Ucap Aura masih meneteskan air mata bahagia.


"Iya Wa. Gue tau. Gue juga bahagia liat lo bahagia kaya gini"


Aura dan Sabilla kini tengah duduk di tepi ranjang sambil menggenggam erat satu sama lain.


"Wa, dulu lo pernah bilang kan sama gue. Kalo lo juga pengen dapetin laki-laki yang sayang banget sama lo kaya kak Farrel sayang sama gue? Sekarang lo udah dapetin semuanya Wa. Lo udah nemuin orang itu. Orang yang sayang banget sama lo. Orang yang menyayangi lo melebihi dirinya sendiri. Orang yang bakal ngelakuin apapun agar lo bahagia."


"Sekarang orang itu udah jadi suami lo. Dan sebentar lagi bakal jadi ayah dari anak-anak lo Wa" Sabilla mengelus perut rata Aura.


"Gue nggak nyangka, ternyata orang itu adalah kakak ipar gue sendiri. Gue senang, gue bahagia liat lo sama kak Faris bahagia. Lo udah nemuin orang yang tepat. Dan kita adalah gadis yang beruntung bisa bertemu dengan keluarga Mama Yasmin dan Papa Asep."


"Mereka keluarga baik-baik. Gue nggak bisa ngebayangin gimana kalo dulu gue nggak mengenal mereka. Gue nggak tau sekarang hudup gue bakal seperti apa. Gue nggak tau apa gue bisa sebahagia ini atau enggak"


Mata Sabilla terlihat berkaca-kaca saat mengingat bagaimana kebaikan keluarga suaminya itu.


"Bil, gue juga bersyukur bisa ketemu sama lo. Sepertinya takdir kita udah di atur dengan indah. Meskipun gue pernah patah, tapi Tuhan menyembuhkan dengan cara yang nggak gue sangka"


"Selama ini gue sibuk mengejar yang tidak pasti, tanpa gue sadari, Tuhan udah ciptain yang terbaik di depan mata kepala gue sendiru yang dulu nggak pernah gue sadari."


"Gue bersyukur bisa ketemu sama lo Bil. Gue bersyukur punya sahabat sebaik lo. Dan karena lo juga, gue bisa bertemu dengan orang yang sangat menyayangi gue saat ini. Karena lo gue bisa mengenal kak Faris dan sekarang jadi istrinya. Gue benar-benar nggak nyangka. Sekarang gue benar-benar mencintai dia. Gue nggak mau kehilangan dia Bil"


Kedua wanita itu terhanyut dalam keterharuan. Mereka saling memeluk satu sama lain. Mengutarakan rasa syukur masing-masing. Bernostalgia mengingat masa lalu bagaimana dulu mereka di pertemukan dan bagaiamana lika liku dan tantangan hidup yang telah mereka lewati. Kini, dua wanita itu benar-benar merasa bahagia.


.


.


Crazy up nih. Jangan lupa like, komen, dan vote nya yahh. Terimakasih.. Semoga suka๐Ÿ˜