Aura Story

Aura Story
Extra Part 4



...Mohon maaf banget jika menurut kalian part ini alay. Mohon maaf juga kalo ada kesalahan karena aku belum pernah melahirkan. Aku menulis hanya bedasarkan referensi yang aku baca di google sama yang aku tonton di youtube tentang ibu melahirkan. Wkwk jadi kalo ada kesalahan mohon di kasih tau aja baik baik ya di kolom komentar. Happy Reading semoga suka💙...


...Mau berapa part lagi sebelum benar benar tamat ini cerita? Komen sebanyak banyaknya di kolom komentar ya. Hehe...


Waktu terus berjalan, hari demi hari terus berganti, dan bumi, masih berputar seperti biasanya. Hari esok, adalah hari yang sangat di nantikan oleh Aura, Faris, dan juga keluarga mereka. Dimana, malaikat kecil yang sudah Aura kandung dan Aura jaga dengan baik selama sembilan bulan, besok akan lahir ke dunia ini. Pasangan suami istri itu benar benar sudah sangat tidak sabar menanti kehadiran bayi mungil mereka itu.


Aura dan Faris sudah berada di ruangan yang akan menjadi ruang perawatan Aura selama di rumah sakit. Ruang perawatan VIP yang begitu mewah dan cukup luas. Dari ruangan tersebut juga bisa menampaki view yang indah dari balik jendela kaca ruangan tersebut. Gedung gedung menjulang tinggi juga terlihat jelas dari atas sana, menambah keindahannya apalagi jika malam sudah tiba.


Aura dan Faris memang sengaja datang lebih awal ke rumah sakit, karena besok, Aura harus di operasi. Mengingat, kondisi gadis itu tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal. Karena beberapa waktu ini, Aura selalu saja dihantui oleh ketakutan dan fikiran buruk yang ia sendiri tidak tau kenapa.


"Kamu mau makan?" Tanya Faris berjalan menghampiri sang istri yang tengah berbaring di atas brankar.


Aura menggeleng. "Nggak kak. Nanti aja" Sahutnya.


Faris menarik kursi yang ada di samping brankar Aura, kemudian pria itu mendudukkan tubuhnya di sana.


"Tadi aku udah telfon Mami, Mama dan semuanya. Mereka bilang, besok pagi mereka akan kesini" Info Faris pada Aura.


"Iya kak. Nggak papa"


"Jangan takut ya. Aku yakin, kamu pasti bisa" Faris mengelus rambut istrinya itu lembut, memberikan ciuman di puncak kepala Aura. Sementara tangan satunya lagi menggenggam tangan Aura erat. Aura tau, istinya itu kini merasa takut dan dihantui oleh fikiran buruk. Tapi Faris juga harus bisa menenangkan Aura agar istrinya itu tidak strees yang justru mempengaruhi kesehatan janin yang ada di dalam kandungannya.


"Kamu dan anak kita akan baik baik aja" Faris tersenyum kemudian mengelus perut Aura serta menciumnya cukup lama.


"Kak Faris jangan jauh jauh dari aku ya" Ucap Aura.


"Iya sayang."


"Kak Faris tidurnya disini aja. Di samping aku." Aura menepuk kasur yang ada di sampingnya. Membuat Faris terkekeh akan permintaan istrinya itu.


"Ya nggak muat lah sayang. Nanti anak kita kejepit" Canda Faris.


"Terus kak Faris tidurnya dimana?"


"Di sana. Aku kan jagain kamu kok nggak akan pergi. Tenang aja" Faris menunjuk sofa bed yang tidak berada jauh dari sana.


"Yaudah, itu sofanya di tarik kesini aja" Pinta Aura.


"Yaudah deh." Faris menurut. Pria itu segera mendorong sofa bed berwarna hitam tersebut agar bersebelahan dengan brankar Aura.


"Udah?" Tanya Faris.


"Udah"


"Awas nanti kalo anaknya udah lahir malah nyuekin aku. Sekarang aja nggak mau jauh jauh" Canda Faris. Mengacak acak rambut istrinya gemas.


***


Pukul tiga dini hari. Aura masih saja belum tertidur, gadis itu sedari tadi tampak gelisah. Tidur putar sana putar sini, mereng sana mereng sini. Aura benar benar tidak bisa tidur karena perutnya terasa keram dan punggungnya juga terasa nyeri.


"Sayang. Kamu kenapa?" Tanya Faris. Pria itu mendudukkan tubuhnya segera, menggenggam tangan Aura khawatir.


"Nggak tau punggung aku nyeri banget nggak bisa tidur kak" Sahut Aura.


"Bentar, kamu geser dulu" Faris segera naik ke atas brankar Aura. Pria itu menyandarkan Aura di tubuhnya, kemudian Faris mengelus punggung istrinya itu lembut dan dengan sabar.


Sesekali Faris juga mengusap keringat yang mengalir di dahi Aura. Pria itu juga tak henti mencium puncak kepala istrinya yang tengah bersandar di dada bidangnya itu. Faris tau, saat ini Aura tengah kesakitan. Dan hanya ini yang bisa Faris lakukan. Semoga saja bisa membantu agar istrinya lebih tenang.


"Tidur ya" Ucap Faris mengecup kening Aura dari atas. Perlahan, Aura memejamkan matanya, setelah merasa sedekit nyaman di pelukan dan di elus oleh Faris.


***


"Mi. Maafin Uwa kalo ada salah sama Mami ya. Do'ain uwa sama cucu Mami selamat." Ucap Aura pada Anita yang kini berada di hadapannya. Aura tak mampu menahan air matanya. Karena do'a dari Mami dan orang orang tersayangnya itu kini sangatlah penting dan berati buat Aura.


"Iya sayang. Mami pasti akan selalu do'ain kamu. Semangat ya. Kamu pasti bisa. Anak Mami kuat." Anita kemudian memeluk tubuh Aura erat. Wanita itu mencium putrinya itu cukup erat.


"Papi juga maafin kalo uwa ada salah sama Papi ya. Do'ain uwa ya Pi" Ucap Aura kini menggenggam erat tangan Rendy dengan air mata yang masih mengalir di pipinya setelah pelukannya terlepas dari Anita.


"Iya sayang" Rendi menghampus air mata di pipi Aura dengan ibu jarinya. "Papi akan selalu do'ain kamu" Sambungnya kemudian, lalu memeluk dan mengecup puncak kepala putrinya itu lembut.


Setelah meminta izin pada keluarga, termasuk Yasmin, Asep, Hafis sang kakak, adik adik Aura, Farrel, Sabilla, dan semuanya. Aura kemudian segera di bawa ke ruang operasi.


***


Seluruh keluarga Aura dan Faris kini tampak deg deg an menunggu Aura di depan ruangan operasi. Aura di dalam sana ditemani oleh Faris yang kini mendampingi sang istri melahirkan si buah hati.


Sedari tadi, Faris tak berhenti mencium kening Aura. Mata wanita itu tampak sayu saat dokter sedang berusaha mengeluarkan sang buah hati dari dalam perutnya.


"Kuat ya. Kamu kuat. Kamu pasti bisa" Bisik Faris di telinga sang istri. Faris tak henti menghapus setiap tetesan air mata yang keluar dari mata Aura.


Hingga beberapa saat kemudian.


Eaakkkk


Eaakkkk


Tangisan seorang bayi berjenis kelamin laki laki itu kini memecah keheningan ruang operasi. Hal itu benar benar membuat Faris menitikkan air mata. Begitu juga Aura.


Sungguh, Faris terharu, Faris bahagia, sekarang pria itu benar benar sudah menjadi seorang ayah.


"Sayang. Itu suara anak kita. Kamu dengar kan?" Bisik Faris di telinga Aura.


Aura hanya mengangguk pelan karena tubuhnya benar benar terasa lemas. Berkali kali Faris mengecup kening sang istri. Sungguh, mereka benar benar merasa bahagia saat ini. Kebahagiaan Aura dan Faris benar benar terasa sangat sempurna saat mendengar suara tangisan bayi mungil tersebut.


......Kalau suka cerita ini sama cerita Sabilla, bantu aku share ke teman teman ya. Jangan lupa juga mampir di karya baru aku yang judulnya My Cold Husband. Maksih💙💙......